Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Penyamaran yang Terancam
"Pegang pinggang gue lebih erat dan biarkan gue yang ambil alih kendali langkahnya."
Suara Riana berdesis sangat pelan tapi penuh otoritas di telinga Jace. Tanpa menunggu persetujuan dari pewaris sindikat itu, Riana langsung mengambil alih dominasi di lantai dansa. Tangan kirinya yang sejak tadi bertumpu ringan di bahu Jace kini mencengkeram kuat kerah jas hitam pria itu, menahan kepala Jace agar tetap tertunduk dan tersembunyi di perpotongan lehernya.
"Paman gue punya mata elang, Riana. Satu kesalahan putaran saja, penyamaran gue hancur berkeping-keping," bisik Jace dengan napas tertahan. Otot-otot di balik jas mahalnya menegang kaku layaknya baja. Posisi mereka kini ibarat bom waktu yang siap meledak di tengah ratusan bos mafia.
"Gue algojo, bukan penari amatir. Ikuti ritme kaki gue," balas Riana mutlak.
Riana melakukan manuver akrobatik yang luar biasa cepat. Dia memutar tubuh mereka berdua seratus delapan puluh derajat dalam satu hentakan kaki yang tajam, membuat punggung lebar Jace sepenuhnya membelakangi meja nomor tujuh. Gerakan mendadak itu membuat belahan gaun merah marun Riana tersingkap tinggi, mengekspos paha putihnya dan memancing siulan tertahan dari beberapa mafia di pinggir lantai dansa.
Riana sama sekali tidak peduli pada tatapan lapar mereka. Fokusnya murni pada keselamatan nyawa. Dia terus menyeret Jace dalam tarian memutar yang lincah dan agresif, memanfaatkan tubuhnya sendiri sebagai tameng visual untuk menutupi wajah Jace dari pandangan sang paman.
"Kita geser ke pilar beton di sudut paling gelap," instruksi Riana sambil terus melangkah mundur mengikuti ketukan musik klasik yang mengalun. "Tundukkan wajah lo pura-pura mencium leher gue. Jangan angkat kepala lo sampai kita duduk di kursi."
Jace langsung mematuhi perintah itu. Pria tegap itu menundukkan wajahnya semakin dalam, hidungnya menyentuh lembut kulit leher Riana. Hembusan napas Jace yang hangat dan sedikit memburu membuat bulu kuduk Riana meremang, menciptakan ketegangan romantis yang luar biasa pekat di tengah situasi hidup dan mati. Jari-jari besar Jace meremas pinggang Riana, memberikan isyarat bahwa dia percaya penuh pada kendali perempuan itu.
Musik klasik akhirnya berhenti mengalun. Terdengar suara tepuk tangan riuh dari para tamu.
Memanfaatkan momen pergantian acara tersebut, Riana langsung menarik Jace keluar dari lantai dansa. Mereka berdua berjalan cepat menuju sebuah meja bundar kosong yang terletak strategis di bawah bayangan pilar beton raksasa. Riana mendudukkan Jace di kursi yang membelakangi seluruh ruangan, sementara dia duduk menghadap ke arah panggung utama.
"Aman," lapor Riana singkat, melepaskan cengkeramannya dari kerah jas Jace.
Jace membuang napas panjang yang sedari tadi dia tahan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, meraih gelas air putih di atas meja, lalu meminumnya dalam satu tegukan habis.
"Gue berutang nyawa sama lo buat tarian barusan, Riana," ucap Jace dengan suara serak, mengusap wajah tampannya yang sempat memucat. "Kalau paman gue melihat gue bermesraan sama petinggi Aegis Corp, dia pasti bakal langsung lapor ke dewan tetua Diwantara. Posisi pewaris gue bisa dicabut malam ini juga."
"Simpan ucapan terima kasih lo buat nanti," potong Riana menatap lurus ke arah kerumunan tamu di depan panggung. Matanya menyipit tajam di balik kacamata tebalnya. "Kita punya masalah baru yang jauh lebih menyebalkan daripada paman lo."
Jace mengerutkan dahinya. Dia mengikuti arah pandangan Riana menggunakan pantulan kaca jendela di sebelahnya.
Di deretan meja paling depan yang terang benderang, duduk sesosok pria bertubuh gempal dengan setelan jas kebesaran. Pria itu sedang menghisap cerutu mahal sambil tertawa keras bersama beberapa bos mafia lokal.
"Gideon?" desis Jace tidak percaya. "Kepala Divisi Logistik Aegis Corp ada di sini? Bukannya lo baru saja membekukan seluruh anggaran operasionalnya tadi pagi?"
"Tikus got selalu punya jalur rahasia buat menyembunyikan uang kotor mereka," jawab Riana dingin. Tangannya merogoh tas kecilnya, memastikan kartu kredit platinum milik Bramantyo masih berada di tempat yang aman. "Dia pasti datang ke sini pakai sisa dana cadangan bayangan miliknya. Dia mau cari muka ke bos besar dengan cara membawa pulang kontainer senjata Eropa Timur itu malam ini."
"Atau lebih parahnya lagi, dia datang ke sini murni buat menghancurkan misi lo," tebak Jace tepat sasaran, insting mafianya kembali bekerja tajam. "Kalau lo gagal bawa pulang senjata itu, bos besar pasti bakal meragukan kemampuan lo sebagai Direktur Kepatuhan yang baru."
"Kita lihat saja siapa yang bakal hancur malam ini," tantang Riana, tidak gentar sedikit pun.
Lampu utama di ruang aula meredup. Cahaya sorot putih langsung menyinari panggung utama. Seorang pria berpakaian jas rapi yang bertindak sebagai pembawa acara sekaligus juru lelang melangkah maju mendekati mikrofon.
"Selamat malam, para penguasa kota," sapa juru lelang itu dengan suara menggema. "Mari kita lupakan basa-basi murahan dan langsung masuk ke hidangan utama malam ini. Satu kontainer penuh berisi senapan serbu taktis, peluru tajam penembus baja, dan pelontar granat murni langsung dari gudang militer Eropa Timur!"
Layar raksasa di belakang panggung menyala, menampilkan foto-foto peti kayu berisi senjata mematikan yang sangat menggiurkan bagi para pelaku dunia bawah tanah.
"Kita buka penawaran pertama di angka fantastis lima puluh miliar rupiah! Siapa yang berani angkat plakat pertama?!" teriak sang juru lelang antusias.
Riana mengangkat plakat nomor empat puluh lima miliknya dengan sangat tenang.
"Enam puluh miliar," ucap Riana, suaranya terdengar jernih dan tegas membelah ruangan.
Beberapa bos mafia langsung menoleh ke arah Riana, berbisik-bisik melihat wajah baru yang mewakili Aegis Corp. Namun, sebelum pembawa acara sempat mengetuk palu untuk penawaran Riana, sebuah tawa kasar dan arogan terdengar dari barisan paling depan.
"Tujuh puluh miliar!" teriak Gideon keras-keras, mengangkat plakatnya tinggi-tinggi. Pria gempal itu sengaja menoleh ke belakang, menatap Riana dengan senyum mengejek yang luar biasa memuakkan.
"Pak Gideon dari Aegis Corp menawar tujuh puluh miliar!" seru juru lelang memanaskan suasana.
Jace mendengus pelan dari balik bayangan pilar. "Dia benar-benar mengajak lo perang harga, Riana. Dia mau bikin lo terlihat bodoh di depan semua kolega mafia."
Riana sama sekali tidak terpancing emosi. Dia kembali mengangkat plakatnya dengan wajah datar. "Delapan puluh miliar."
"Sembilan puluh miliar!" balas Gideon seketika tanpa jeda, tidak peduli pada tatapan bingung dari tamu lain yang melihat dua perwakilan dari satu perusahaan yang sama saling berebut barang.
"Seratus miliar," Riana menaikkan angka penawaran tanpa ragu. Kartu hitam di tasnya tidak memiliki batas limit sama sekali, tapi dia tahu Bramantyo akan murka besar jika dia membuang uang perusahaan untuk harga yang tidak masuk akal.
Gideon tertawa semakin keras. Pria bertato itu berdiri dari kursinya, menunjuk lurus ke arah Riana menggunakan ujung cerutunya yang menyala. Ambisi dan dendam kesumat benar-benar sudah membutakan akal sehat Kepala Divisi Logistik tersebut. Dia tidak peduli lagi pada nilai asli senjata itu. Tujuannya malam ini hanya satu, yaitu membuat Riana menghabiskan limit kas utama perusahaan atau pulang dengan tangan kosong dan dibunuh oleh bos besar.
"Seratus sepuluh miliar!" teriak Gideon lantang menantang nyali Riana.
Gideon tidak berhenti sampai di situ. Dia terus menaikkan plakat lelang untuk sebuah kotak senjata murni demi memancing Riana agar menghamburkan dana perusahaan.
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪