NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 25: Pesta Lelang Pasar Gelap

​"Kursi Direktur Keuangan sekarang resmi kosong melompong."

​Bramantyo berjalan santai mengitari meja kaca. Ujung sepatu kulit mahalnya sesekali menginjak sisa-sisa pecahan asbak kristal yang berserakan di atas karpet merah. Pria raksasa itu menatap Riana dengan sorot mata penuh perhitungan taktis.

​"Bapak mau aku buka lowongan pekerjaan eksekutif untuk posisi itu secepatnya, Pak?" balas Riana sangat tenang. Perempuan itu sama sekali tidak memedulikan noda merah yang mulai mengering di dekat ujung sepatunya.

​"Tidak perlu buang waktu mengurus rekrutmen sekarang. Ada urusan yang jauh lebih mendesak daripada mencari tukang hitung uang baru," tolak Bramantyo cepat. Dia merogoh saku jas abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu tebal berwarna hitam pekat dengan lambang tengkorak emas di sudutnya. "Frans biasanya menjadi anjing pelacak gue di luar gedung. Dia selalu mewakili Aegis Corp di acara pelelangan pasar gelap. Karena bajingan itu sudah berubah jadi pakan ikan, sekarang tugas itu turun ke tangan lo."

​Riana menangkap kartu hitam yang dilempar pelan oleh CEO tersebut. "Aku belum pernah turun ke acara lapangan sama sekali, Pak. Keahlianku  murni ada di balik layar komputer dan setumpuk buku aturan administrasi."

​Bramantyo tertawa kering mendengar alasan tersebut. Suaranya menggema memantul di dinding kaca ruang rapat.

​"Lo baru saja membuktikan kalau lo bisa mematahkan pergelangan tangan pria dewasa pakai asbak kaca tanpa berkeringat sama sekali, Riana. Jangan terus-terusan merendah di depan gue," tegur Bramantyo telak. "Gue butuh orang yang otaknya sangat dingin buat hadir di sana. Frans memang punya banyak koneksi mafia, tapi dia terlalu rakus. Lo tidak punya sifat rakus itu."

​"Aku cuma rakus sama kepatuhan aturan operasional perusahaan, Pak."

​"Sikap kaku lo itu yang gue butuhkan buat menghadapi serigala tua di luar sana," angguk Bramantyo puas. "Acara pelelangan ini sangat rahasia. Digelar eksklusif buat para petinggi sindikat kelas kakap. Bakal ada kontainer berisi senjata berat selundupan dari Eropa Timur yang dilelang malam ini. Pastikan barang itu jatuh ke tangan Aegis Corp. Jangan biarkan cecunguk dari klan Diwantara Group mengambil alih barang incaran kita."

​"Aku butuh akses dana tak terbatas kalau harus bersaing dengan mafia level atas," Riana menyebutkan syaratnya tanpa ragu-ragu.

​Bramantyo menunjuk kartu hitam di tangan Riana menggunakan dagunya. "Itu kartu kredit platinum jalur khusus milik perusahaan. Limitnya tidak ada batas. Pakai sesuka lo. Tapi ingat satu aturan mutlak ini, Riana."

​Bramantyo berjalan mendekat, mencondongkan wajahnya yang penuh luka sayatan hingga berjarak sangat dekat dengan wajah Riana. Aura intimidasi tingkat tinggi langsung menguar pekat.

​"Masuk ke sarang perkumpulan bos mafia itu ibarat berjalan masuk ke dalam kandang macan liar tanpa kandang pelindung. Lo sama sekali tidak boleh datang sendirian. Datang tanpa pengawal cuma bakal bikin lo terlihat seperti anak magang bodoh yang sangat gampang diintimidasi dan dibunuh."

​"Bapak mau aku bawa sekuriti lobi bersenjata lengkap buat mengawal di belakang?" usul Riana.

​"Bodoh. Bawa sekuriti berseragam justru mempermalukan status eksekutif lo," bentak Bramantyo pelan. "Lo harus bawa pasangan pria berkelas. Buat mereka semua percaya kalau lo memang punya perlindungan kuat dan kedudukan sangat tinggi di dalam struktur hierarki Aegis Corp. Pilih pasangan yang pantas bersanding sama jabatan baru lo."

​Riana diam sejenak, otaknya berputar cepat mencari nama-nama kandidat di dalam kepalanya. "Pasangan dari divisi mana yang bisa aku bawa?"

​"Terserah lo mau bawa siapa. Asal pastikan pria itu tahu cara memegang gelas anggur yang benar dan tidak akan langsung kencing di celana waktu melihat puluhan moncong pistol diarahkan ke kepalanya," putus Bramantyo mengakhiri percakapan tersebut. "Pergi bersiap sekarang. Acara dimulai tiga jam lagi."

***

​Suara ketukan sepatu hak tinggi Riana memecah keheningan lorong apartemen sempitnya. Perempuan itu memutar kunci pintu, melangkah masuk ke dalam ruangan yang minim perabotan tersebut, lalu melempar tas jinjing kulitnya ke atas meja makan dengan sedikit kasar.

​Helaan napas panjang keluar dari bibir Riana. Dia meletakkan kartu undangan hitam berlambang tengkorak emas itu di sebelah toples kopi. Rencana pembersihan internalnya sukses besar, tapi dia tidak menyangka akan langsung dilempar ke medan perang terbuka secepat ini oleh sang bos besar.

​"Gue butuh laki-laki yang tahu tata krama dunia mafia, bisa kelahi jarak dekat, dan tahu cara tutup mulut rapat-rapat," gumam Riana bermonolog pelan sambil melonggarkan ikatan kerah kemejanya.

​Dia mulai menghitung opsi yang tersedia di kepalanya. Boni si komandan tempur sudah patah tulang dan dipecat. Gideon si kepala logistik sedang dibekukan anggarannya dan membenci Riana setengah mati. Frans baru saja menemui ajalnya di ruang mesin pemotong daging. Benar-benar tidak ada satu pun petinggi Aegis Corp yang tersisa untuk dia jadikan tameng pelindung malam ini.

​Dari arah dapur yang menyatu dengan ruang tengah, suara langkah kaki santai terdengar mendekat.

​"Siapa yang mau lo ajak ke pesta buang-buang uang?"

​Jace berjalan keluar dari area dapur sambil memakan sebuah apel merah segar. Pria tinggi tegap itu hanya mengenakan kaus oblong putih polos dan celana panjang berbahan kain kasual. Rambutnya masih sedikit berantakan sehabis mandi.

​"Bukan urusan lo, Jace. Lo statusnya cuma sekutu bayangan yang harus diam di dalam apartemen ini," tolak Riana dingin, berjalan melewatinya menuju lemari pakaian kecil di sudut ruangan.

​"Gue dengar lo ngomong sendiri tadi," Jace menggigit apelnya hingga bersuara renyah. "Lo itu butuh pasangan pria yang paham etika meja bundar para mafia, bisa bertarung melawan preman bersenjata, dan punya tampang berkelas buat pamer di depan bos-bos besar. Kriteria lo itu sangat susah dicari di jalanan biasa, Bu Direktur."

​"Gue bisa sewa pengawal profesional dari agensi netral," Riana menarik keluar sebuah gaun malam berwarna merah marun berbahan sutra tebal dari dalam lemarinya. Gaun itu memiliki belahan tinggi di bagian paha, dirancang khusus untuk menyembunyikan pisau kecil di balik lipatan kainnya.

​"Pengawal sewaan akan langsung membocorkan identitas lo ke musuh kalau dibayar dua kali lipat lebih mahal," bantah Jace logis. Pria itu menyandarkan bahunya ke kusen pintu kamarnya. "Bawa orang luar sama saja bunuh diri secara perlahan."

​"Dan bawa pewaris takhta sindikat musuh bebuyutan jauh lebih mirip aksi bunuh diri instan," balas Riana menatap tajam ke arah Jace. "Kalau ada satu saja bos mafia di pelelangan itu yang mengenali wajah lo, kita berdua bakal langsung ditembak mati di tempat sebelum sempat minum air putih."

​"Tidak akan ada yang mengenali gue," Jace tersenyum sangat percaya diri, membuang sisa apelnya ke tempat sampah. "Keluarga Diwantara jarang mengirim pewaris sah mereka ke acara rendahan di ruang terbuka. Kami selalu bermain lewat jalur belakang. Wajah gue bersih dari radar mereka."

​Riana meletakkan gaun merahnya ke atas kasur lipat. "Lo mau menawarkan diri jadi boneka pajangan gue malam ini?"

​"Gue menawarkan perlindungan penuh sebagai balasan karena lo sudah kasih tumpangan kasur keras ini," ralat Jace dengan nada suara yang perlahan berubah semakin berat dan serius. "Gue tahu seluk-beluk lelang pasar gelap lebih baik dari siapapun di kota ini. Lo butuh insting gue buat menganalisis gerak-gerik musuh lo."

​Riana diam menimbang-nimbang risiko tersebut. Argumen Jace sangat masuk akal dan efisien. Waktunya sangat sempit, dia tidak punya kemewahan untuk menyeleksi kandidat lain.

​"Gue kasih lo waktu sepuluh menit buat ganti baju," putus Riana mutlak. "Kalau baju lo terlihat jelek atau kampungan, gue tinggal lo di sini."

​Jace tertawa renyah merespons ancaman itu. "Lo tidak akan pernah kecewa sama selera pewaris tunggal, Kara."

​Pria itu langsung berbalik badan dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Riana hanya menggelengkan kepala pelan, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian dan merias wajahnya. Dia harus memastikan penyamarannya malam ini tetap sempurna meskipun tanpa kacamata tebal yang biasa dia pakai di kantor.

​Tepat lima belas menit kemudian, Riana sudah berdiri di depan meja rias. Dia merapikan gaun merah marunnya yang membalut tubuhnya dengan sangat pas. Pisau lipat taktis sudah tersimpan aman di balik belahan gaunnya. Lipstik merah pekat menghiasi bibirnya, memberikan kesan dominan yang sangat berbahaya.

​Suara engsel pintu kamar berderit pelan.

​Riana membalikkan badannya. Matanya sedikit melebar menangkap sosok yang baru saja keluar dari ruangan sempit tersebut.

​Jace berdiri tegap di ambang pintu. Tidak ada lagi kaus oblong murahan atau seragam petugas kebersihan berwarna biru muda. Pria itu kini mengenakan setelan jas desainer mewah merek Vivaldi berwarna hitam legam yang potongannya luar biasa sempurna membungkus otot-otot di tubuhnya. Kemeja putih di bagian dalam dipadukan dengan dasi sutra berwarna senada. Rambutnya yang biasa berantakan kini ditata klimis ke arah belakang, mengekspos garis wajahnya yang teramat tegas, tampan, dan memancarkan aura buas seorang mafia sejati.

​Jace memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana kainnya, lalu menyunggingkan senyum miring yang sangat mematikan menatap Riana dari ujung kepala hingga ujung kaki.

​"Petugas kebersihan siap mendampingi Ibu Direktur menghamburkan uang malam ini."

1
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Muft Smoker: yuuuuuk ,, sbntaar yx aq ambil Pisang goreng sama teh anget dluuu ,, 😁😁😁
total 5 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
Susilawati
hiii sadis banget perintahnya, digiling sampai habis semua badan nya si Frans.
Savana Liora: iyak. jadi pakan ikan
total 1 replies
Susilawati
wah senangnya author up lagi 👍👍👍
FHR
Apakah Bramantyo akan curiga siapa Riana sebenarnya?
Savana Liora: suatu saat akan curiga
total 1 replies
hana
makasih thor akhir nya up juga🙏🙏🙏🙏
Susilawati
jaga kesehatan dan terus semangat Thor 💪, di tunggu kelanjutannya 👍
Savana Liora: siapp kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!