Kanazya Laurels, wanita yang hidup sendiri dari kecil. Ayahnya meninggal setelah ditinggal ibunya pergi.
Dia bertemu dengan seorang pria penjual bunga yang sangat tampan hingga membuatnya terpesona. Tetapi lelaki itu ternyata tunanetra.
Tak disangka, Kana setuju menikah dengan Krishan lantaran ia terhimpit dan butuh tempat tinggal. Tetapi pesona Krishan yang luar biasa itu, membuatnya jatuh cinta.
Masalah terus berdatangan saat Kana menyadari bahwa lelaki buta yang ia nikahi bukanlah orang sembarangan.
Siapa sebenarnya Krishan? Bagaimana cara dirinya melindungi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Screwdriver, eh?
Kana masuk ke dalam rumah. Dia ingin mengatakan sesuatu pada Krishan, atau membuat perjanjian supaya Krishan tidak meninggalkannya saat lelaki itu sudah bisa melihat nanti.
Samar-sama Kana mendengar suara musik dari dalam kamar. Dia membuka pintu perlahan dan mendapati Krishan tengah olahraga.
Kana ternganga melihat sesuatu yang seksi di depannya.
"Wow." Ucap Kana tanpa suara.
Krishan tengah push up tanpa baju dan hanya memakai celana panjang hitamnya. Punggungnya membentuk dengan sempurna saat kedua lengannya menekan lantai untuk mengangkat tubuhnya yang penuh tato itu.
Kana melihati Krishan dari kepala hingga ujung kaki, benar-benar sangat seksi.
Ah.. dia tiba-tiba melemas jika mengingat Krishan yang bisa melihat nanti, pasti banyak perempuan yang akan terus menatapnya. Apalagi status mereka yang belum bisa diumumkan.
Krishan berhenti, dia bangkit dan terlihat seperti menyadari kehadiran istrinya.
"Jia?"
Kana tak menyahut, dia tengah fokus memperhatikan tubuh Krishan yang mengkilap karena keringat.
"Jia, aku tahu kau disin.."
Kana langsung mendekat, menarik tengkuk Krishan dan melummatt bibir Krishan yang terkejut dengan perlakuan Kana. Namun Krishan tak tinggal diam, dia membalas lidah Kana yang berhasil masuk ke rongga mulutnya.
Tangan Kana meraba punggung Krishan yang keras dan menekannya dari belakang supaya lelaki itu lebih merapatkan tubuhnya, lalu ia membuka tali pinggang Krishan sambil terus menikmati sentuhan Krishan di bibirnya.
Sementara Krishan langsung mengoyak deretan kancing kemeja Kana hingga membuat wanita itu terlonjak.
"Krish!!" Dia menatapi kancing-kancing yang berjatuhan ke bawah akibat ulah Krishan.
"Aaa.. ini baju kesukaankuuu.." Rengeknya pada Krishan yang sudah tidak bisa menahan gairahnya.
Krishan langsung menarik Kana, menciumi lagi bibir wanita itu sembari melangkahkan kakinya maju sampai di tepi tempat tidur, Krishan menjatuhkan tubuh Kana. Pria itu langsung membuka seluruh celananya tanpa mendengarkan rengekan istrinya yang hanya karena sebuah baju.
~
"Krish.."
Kana menoleh kebelakang. Lelaki itu tengah memejamkan mata di area tengkuk Kana, tetapi sepertinya tidak tidur.
"Jangan bergerak." Krishan menarik lagi tubuh Kana, merapatkan diri dan melengketkan bibir dan hidungnya di tengkuk Kana, tempat favoritnya.
"Krish, kau merobek baju kesukaanku!"
"Nanti kubelikan yang baru." Jawabnya enteng dan berhasil membuat Kana diam sesaat.
"Krish, kau sebelum berpacaran dengan Sherly, dengan siapa lagi? Ada berapa mantanmu?"
Krishan tak menjawab, dia memilih diam saja.
"Krish.. kau selalu begitu, tidak mau menjawab pertanyaanku."
"Tanya yang lain."
"Nah, kan. Pasti kau punya banyak mantan kekasih." Suara Kana terdengar sedih, Krishan semakin mengencangkan pelukannya.
"Aku tidak mau membahas yang lalu, karena ada kau, masa depanku."
Kana tersenyum dengan ucapan Krishan. Jika dekat dengan lelaki itu, Kana merasa nyaman dan sangat terlihat kecintaan Krishan pada dirinya.
"Kau mencintaiku, Krish?"
"Sangat, Baby." Krishan mengecup tengkuk Kana.
"Kalau misalnya kau bisa melihat, lalu ternyata wajahku tak sesuai harapanmu, apakah kau akan meninggalkanku?" Tanya Kana.
Krishan mengeratkan pelukannya. "You're so very special, Baby. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Setiap detik aku merindukan harum dan suaramu. Kemunculanmu yang tiba-tiba seperti tadi sangat menyenangkanku."
Sejenak Kana terdiam dengan ucapan terpanjang Krishan yang pernah ia dengar. "Benarkah itu, Krish?"
"Ada apa, Jia? Kemarin kau yang meyakinkanku, lalu sekarang kau yang tidak percaya padaku."
"Itu hanya ketakutanku, Krish. Aku.. tidak ingin kehilanganmu." Suara Kana tercekat, seolah hal itu akan terjadi.
"Dengarkan aku." Krishan mengecup kepala wanita itu dan mengencangkan pelukannya. "Orang pertama yang ingin kulihat adalah dirimu. Sudah banyak sekali hal yang ingin kulakukan denganmu, Jia. Aku sudah menyusun banyak rencana bersamamu, sayang. Kita akan punya anak dan hidup bahagia, kau ingin itu terjadi, kan?"
Kana mengangguk-angguk. Jawaban Krishan sangat memuaskannya. Kana membuang prasangka buruknya, karena dia pun tak ingin Krishan berpikir buruk tentang dirinya seperti kemarin.
"Baiklah Krish, ayo makan. Sudah pukul 7 malam."
Krishan tak bergerak dari posisinya.
"Kau ini, kalau sudah diposisi ini pasti malas bergerak!" Protes Kana ingin beranjak tapi dekapan Krishan amat kencang.
"Apa kau tidak lapar?" Tanya Kana lagi.
"Lapar." Ucap Krishan lalu bergerak, menumpu tubuhnya dengan kedua siku, mengungkung Kana di bawahnya.
"One more time, Babe." Tukasnya.
"Apaa!!"
Krishan langsung mencium wajah Kana disembarang tempat dan meraba dengan hidungnya hingga saat tepat di bibir istrinya..
"Krish, Kau jangan hmmpp.."
Krishan menyesap bibir Kana, membuat tubuh istrinya perlahan melemas dan memejamkan mata, menikmati ciuman Krishan yang sangat ia sukai.
Krishan menjalarkan ciumannya hingga ke leher dan dada Kana, dia mendengar erangan nikmat dari bibir istrinya.
"Mau berhenti saja?" Goda Krishan sambil meremas gundukan indah Kana.
"Aah.. No!" Jawabnya dengan suara yang seperti tengah menahan hasrat, membuat Krishan tersenyum lebar dan melanjutkan aktifitasnya.
...◇◆◇◆...
"Kana, hari ini ulang tahunku. Aku mengundang semua divisi untuk datang ke acaraku malam ini."
"Wah, selamat ulang tahun, Vivi." Ucap Kana pada ketua tim divisinya.
"Terima kasih, Kana. Kau datang, kan? Tapi aku mewajibkan semua ikut. Awas saja kalau kau berani tidak datang." Ucapnya lalu melambaikan tangan sembari melangkah.
"Kenapa mengancam segala?" Gumamnya.
"Na, datang, kan?" Tanya Bianna yang duduk di depan Kana, terpisah sekat pendek yang dijadikan Kana untuk menempel memo.
"Belum tahu. Bi, Carroline kemana, ya?" Kana celingak-celinguk, tanpa ia sadari sudah beberapa hari tidak melihat wanita pengatur itu.
"Sudah diberhentikan, memangnya kau tidak tahu?"
"Ha? Kenapa?"
"Katanya bos besar tidak suka. Aneh, padahal Carroline sudah lama sekali bekerja disini." Jelas Bianna dan Kana malah tercengang.
"Apa bos besar itu maksudmu adalah tuan David?" Tanya Kana memastikan.
"Bukan, pemilik K-Group lah. David itu hanya memimpin anak perusahaannya, bukan pemiliknya." Jelas Bianna lagi. Perempuan itu sudah lama bekerja di Shanprise, tentu dia tahu.
"Berarti tuan Yohan?" Bisik Kana dan Bianna mengangguk.
Kana menutup mulutnya yang ternganga. Mengerikan, itu artinya dia harus bekerja dengan rajin sebab atasan pasti sedang mengintai.
"Tuan Yohan mengerikan, ya?" Bisik Kana lagi tetapi Bianna menggelengkan kepalanya.
"Banyak yang bilang, dia tampan dan mempesona. Hanya saja, dia tidak suka difoto dan berita tentangnya hampir tidak ada. Setiap ada yang meliput, cepat sekali K-Group menghapus beritanya."
Kana membelalakkan matanya, tampan dan mempesona? Beda dengan yang ia dengar di pasar-pasar, sebab para preman itu selalu mengatakan bahwa mereka bawahan tuan Yohan.
Beberapa menit kemudian, Kana teringat pada suaminya. Dia mengeluarkan ponsel, menelpon Marry di rumah.
"Halo, Bi. Kalau Krishan pulang, katakan padanya aku ada acara malam ini."
"Kenapa tidak langsung pada tuan, Nona? Saya akan mengirim nomor ponselnya."
"Oh?" Kana memang pernah melihat Krishan menelepon seseorang, tetapi dia tidak teringat untuk menanyakan nomornya.
Marry mengirimkannya nomor Krishan, dengan cepat dia menelponnya, penasaran dengan suara Krishan via telepon.
"Iya, sayang." Sahut yang diseberang.
"Hee? Kok, tahu?"
"Aku suamimu, jelas aku tahu."
"Maksudku, darimana kau tahu kalau yang menelpon itu aku?"
Terdengar tawa kecil diseberang. "Aku meminta Marry menyimpankan nomormu diponselku dan membuat nada dering khusus untuk istriku."
"Aaah, Krish. Kau manis sekali." Kana tersenyum cerah, apalagi suara Krishan sangat seksi terdengar.
"Krish, aku ingin bilang, kalau malam ini teman kerjaku mengundang ke acara ulang tahunnya dan wajib datang. Boleh?"
Diseberang, Krishan tersenyum sebab Kana meminta izin padanya. Padahal wanita itu biasanya hanya melapor tanpa meminta persetujuan.
"Pergilah tapi jangan sampai mabuk dan jangan terlalu malam pulangnya."
"Ah, Krishy. Terima kasih. Muuahh.."
Krishan tersenyum cerah, seakan lupa pada pelanggan disekitarnya yang memperhatikannya.
"Wah, tuan Krishan manis sekali pada istrinya." Ucap salah satu wanita paruh baya yang berdiri sembari memegangi bunga mawar putih.
"Iya, beruntung sekali istrinya." Sahut yang lain.
"Akulah yang beruntung mendapatkan istriku." Jawab Krishan dengan penuh senyuman, membuat para Ibu-ibu itu terpana dengan senyumannya sekaan lupa bahwa Krishan sudah memiliki istri.
Krishan menjauh sebentar untuk menelepon bawahannya supaya mengikuti istrinya. Dia tidak ingin Kana digendong oleh lelaki lain lagi saat istrinya itu mabuk.
...°•°•°•°•°•...
Kana berdiri di depan nightclub yang baru pertama ia datangi. Tempatnya unik dan menurut Kana, ini tempat yang asyik buat dikunjungi apalagi bersama Alana.
"Kenapa aku baru tahu kalau ada tempat seperti ini? Kemana saja aku selama ini?" Gumamnya sendiri.
Kana duduk di tengah-tengah, memperhatikan semua teman-temannya yang berpesta pora, menari, minum, merokok, juga tentu saja berciuman tepat di depan Kana.
"Sial, untung suamiku lebih jago." Gumamnya sambil menggelengkan kepala, dia tidak terpancing sedikitpun karena Krishan yang lebih pro.
"Kau merokok?" Tanya Kana saat melihat Bianna duduk dengan rokok yang menempel di bibirnya.
Bianna menghembuskan asap rokoknya ke atas. "Ya, berat untuk berhenti."
Kana mengangguk-angguk.
"Kau terlihat polos sekali, apa tidak pernah datang ke tempat seperti ini?"
Kana menaikkan sebelah alisnya. 'Tidak pernah katanya?' Kana tertawa dalam hati.
Melihat minuman keras di atas meja membuat Kana hampir tergugah. Lagipula dia sedang ber-mood bagus, jadi tidak ada yang mendorongnya untuk mabuk-mabukan malam ini sebab Krishan tengah menunggu di rumah.
"Kana, Ayo." Ajak Bianna.
"Kemana?"
"Dancee!!!" Teriaknya lalu berjalan sambil bergoyang, menenteng rokok diantara jari-jarinya.
"Haaah.." Kana mengehela napas panjang. Rasanya kurang seru sebab tidak ada Alana, dia yang selalu membuat Kana gila.
"Screwdriver?"
Kana menoleh, Noah menyodorinya segelas minuman jeruk beralkohol yang dulu Noah kenalkan padanya hingga Kana sangat menyukainya.
"Screwdriver is no longer!"
Noah mengingat itu. Screwdriver buatannya diumpamakan cinta oleh Kana karena wanita itu mencintai Noah dan Screwdriver-nya. Saat mendengar kalimat Kana barusan, membuatnya tersenyum kecut.
Noah meletakkan Screwdriver-nya di depan Kana lalu dia duduk disebelah wanita itu.
"Aku tahu kau sangat marah. Aku menyesal dan itu dari hatiku yang paling dalam. Empat tahun bukan waktu yang sebentar, Kana. Aku baru menyadarinya setelah kau benar-benar menghilang dari pandanganku."
Kana melengos mendengar ocehan Noah. Bagaimana mungkin dia percaya, saat malam tunangan Sherly pun dia masih melihat Noah bersama perempuan lain. Perempuan itu satu divisi pula dengannya. Jangan-jangan perempuan itu juga ada disini.
Noah meletakkan rokok di depan Kana dan gadis itu langsung mengambilnya.
"Kana, kalau saja.."
"Stop it, Noah. Aku tidak ingin kembali padamu." Tukas Kana lalu menyalakan rokoknya.
"Aku tidak akan menyerah, Kana." Ucap Noah lalu menyesap rokoknya, menatap Kana yang mulai meraih gelas dan meminum sedikit apa yang Noah berikan padanya.
"Rasanya masih sama, kan?" Tanya Noah sambil tersenyum sementara Kana tidak memperdulikannya.
"Kau tahu, Kana. Aku bahkan tidak lagi melirik perempuan lain." Noah mendekat ke wajah Kana lalu berbisik, "Karena tidak ada yang semenarik dirimu." Ucapnya sambil mencium telinga Kana hingga membuat wanita itu menoleh, menatap Noah dengan tatapan nanar.
Kana langsung mengalihkan pandangan. Seketika tubuhnya terasa panas dan bulu kuduknya berdiri. Kana memegang tengkuknya, ada yang salah pada dirinya saat ini. Entah mengapa gairahnya sedikit naik.
"Kana, bibirmu. Aku merindukannya." Bisik Noah lagi dan Kana menoleh padanya hingga wajah mereka amat dekat.
"Kana, aku merindukan ciuman panas kita."
Mendengar itu, Kana meremang. Wanita itu mengipas tubuhnya dengan jarinya, lalu membuka satu kancing kemejanya karena merasa panas.
Noah tanpa basa-basi menyingkap rambut Kana lalu mencium pipi wanita itu. Seketika Kana terpancing. Noah bisa melihat keinginan Kana untuk disentuh, dia langsung mendaratkan ciuman di bibir Kana dan benar saja, Kana menerima dan membalasnya. Mereka terlihat seperti sudah terbiasa hingga membuat teman-teman kantor yang melihat, curiga kepada dua orang itu.
Sementara ditempat lain, Krishan mengepalkan tangannya. Suara decapan bibir yang tertangkap di telinganya membuat darahnya mendidih. Dia melempar earpeace yang menempel di telinganya sejak tadi. Kana sudah menggoreskan luka yang dalam di hatinya, hal yang dikhawatirkan Krishan akhirnya terjadi malam ini.
TBC
nah loohh .. bini' mu sdh angkat bicara