NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 24: Surat Pemutusan Hidup

​"Lo pikir sebutir peluru murahan itu bisa menyelamatkan nyawa busuk lo dari gue, Frans?"

​Suara tawa Bramantyo justru menggelegar memenuhi ruang rapat VVIP tersebut. Pria raksasa itu sama sekali tidak bergeser dari posisinya berdiri. Dia tidak menunduk, tidak mencari tempat berlindung, dan sama sekali tidak memancarkan aura ketakutan walau moncong pistol perak itu tepat mengarah lurus ke jantungnya.

​"Gue kasih lo waktu tiga detik buat turunkan mainan rongsokan itu sebelum gue cabut jantung lo pakai tangan kosong," ancam Bramantyo dengan nada suara yang sangat rendah dan mematikan.

​"Jangan mendekat! Gue bilang jangan mendekat!" raung Frans semakin histeris. Wajahnya sudah seputih kertas. Air matanya mulai mengalir bercampur dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya. Tangannya yang memegang pistol revolver itu bergetar luar biasa hebat. "Gue rela mati hari ini, tapi gue pastikan lo berdua ikut turun ke neraka sama gue!"

​Di sudut ruangan, punggung Riana masih bersandar santai pada panel pintu kayu mahoni. Mata di balik kacamata tebalnya mengunci setiap pergerakan otot lengan Frans. Sebagai mantan algojo kelas atas, Riana tahu persis perbedaan antara pembunuh berdarah dingin dan pengecut yang sedang terpojok. Frans murni seorang pengecut. Pria paruh baya itu bahkan tidak meletakkan jarinya di pelatuk dengan benar. Dia butuh waktu sekitar dua detik penuh untuk menarik pelatuk itu karena jemarinya kaku ketakutan.

​Dua detik adalah waktu yang sangat lebih dari cukup bagi Riana untuk menghancurkan pria itu berkali-kali lipat.

​"Bapak Direktur Keuangan kita sepertinya butuh sedikit pelajaran tentang cara memegang senjata api yang benar," ejek Riana sengaja memecah fokus mental Frans.

​Frans langsung menolehkan kepalanya dan mengarahkan moncong pistol peraknya lurus ke arah dahi Riana.

​"Tutup mulut lo, jalang culun! Ini semua gara-gara lo! Kalau lo tidak ikut campur urusan brankas gue, gue masih duduk tenang di kursi direktur gue!"

​"Lo yang menggali kuburan lo sendiri," balas Riana sedingin bongkahan es.

​Tangan kanan Riana yang sejak tadi berada di dalam saku kemejanya perlahan keluar. Sudut matanya sudah sejak awal menangkap keberadaan sebuah asbak rokok yang terbuat dari kaca kristal padat dan sangat tebal, tergeletak manis di atas meja kecil tepat di sebelah sakelar lampu pintu masuk.

​"Mati lo, Riana!" raung Frans kehilangan sisa-sisa akal sehatnya. Jari telunjuknya mulai menekan pelatuk pistol perak itu ke dalam.

​Namun, gerakan Frans terlalu lambat dan terbaca jelas. Riana melesat jauh lebih cepat dari kedipan mata. Tangan kanannya menyambar asbak kaca tebal itu dengan gerakan yang sangat mulus dan mematikan. Tanpa membuang waktu untuk memasang kuda-kuda penuh, Riana memutar pinggangnya cepat dan melempar asbak kristal itu sekuat tenaga membelah udara ruang rapat.

​Asbak seberat hampir setengah kilogram itu meluncur layaknya bola meriam mini dengan tingkat presisi yang sangat luar biasa akurat.

​TRAK!

​"Argh!"

​Bunyi hantaman keras benda kaca padat melawan tulang terdengar sangat ngilu. Asbak kristal itu menghantam telak tepat di pergelangan tangan kanan Frans yang sedang memegang gagang pistol. Tenaga lemparan Riana yang brutal langsung mematahkan tulang pergelangan tangan Direktur Keuangan itu dalam hitungan sepersekian detik.

​Pistol revolver perak itu terpental jauh dari genggaman Frans, melayang berputar di udara, lalu jatuh berdebum menabrak lantai berkarpet merah di sudut ruangan. Asbak kristal itu sendiri hancur berkeping-keping menabrak dinding kayu setelah menuntaskan tugas mautnya.

​Frans menjerit melengking kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang kini bengkok ke arah luar dengan bentuk tidak wajar. Tubuhnya terhuyung ke belakang menabrak sandaran kursi kulitnya.

​Melihat ancaman senjata api sudah dilumpuhkan sepenuhnya, Bramantyo tidak membuang waktu satu detik pun. Bos mafia raksasa itu langsung menekan sebuah tombol merah kecil yang tersembunyi rapat di balik laci meja kaca rapatnya.

​Klik.

​Kunci ganda baja murni pada pintu kayu mahoni itu terbuka otomatis dari sistem kendali pusat. Detik berikutnya, pintu raksasa itu didobrak paksa dari luar. Delapan orang pengawal pribadi Bramantyo yang berbadan kekar dan mengenakan setelan jas hitam serba rapi menyerbu masuk ke dalam ruangan seperti sekawanan serigala buas yang kelaparan darah.

​"Hancurkan bajingan itu! Jangan sampai dia bisa berdiri lagi!" raung Bramantyo menunjuk ke arah Frans yang masih merintih kesakitan di lantai.

​Para pengawal itu tidak butuh mendengar perintah dua kali. Mereka langsung mengeroyok Frans tanpa memberikan celah ampun sedikit pun. Tendangan keras dari sepatu pantofel berlapis baja mendarat bertubi-tubi ke arah perut, dada, dan wajah Frans. Bunyi tulang dada dan rusuk yang retak terdengar bersahut-sahutan sangat mengerikan di dalam ruangan kedap suara itu.

​Frans mencoba melindungi kepalanya dengan tangan kirinya yang masih utuh, tapi semua usahanya sia-sia belaka. Salah satu pengawal berbadan paling besar menarik paksa kerah kemeja mahal Frans, mengangkat tubuh pria paruh baya itu ke udara, lalu membantingnya sangat keras ke atas meja kaca rapat hingga meja tebal itu bergetar hebat. Pengawal lainnya mendaratkan pukulan telak bertubi-tubi langsung ke wajah Frans hingga hidung dan tulang pipinya hancur berantakan.

​Darah segar muncrat ke segala arah. Noda merah pekat itu mengotori karpet mahal, membasahi dokumen mutasi rekening yang berserakan, hingga tepercik mengenai lengan jas abu-abu mahal milik CEO Bramantyo.

​Jeritan minta ampun Frans perlahan melemah, berubah menjadi erangan putus asa yang tertahan di tenggorokan akibat darah yang menyumbat saluran pernapasannya. Pria paruh baya yang dulu selalu tampil klimis dan memandang rendah semua orang itu kini tidak lebih dari sekadar onggokan daging berdarah yang tidak bisa dikenali lagi bentuk wajah aslinya.

​"Cukup."

​Satu kata datar dari mulut Bramantyo membuat kedelapan pengawal pembunuh itu serentak menghentikan pukulan mereka. Mereka melangkah mundur secara teratur, menyisakan Frans yang terkapar sekarat di atas meja rapat dengan napas tersengal-sengal meregang nyawa.

​Bramantyo merogoh saku dalam jasnya, lalu mengeluarkan selembar sapu tangan sutra berwarna putih bersih. Pria itu mengusap pelan bercak darah Frans yang tepercik mengotori lengan jas abu-abunya dengan raut wajah sangat jijik. Dia melempar sapu tangan kotor itu tepat ke atas wajah Frans yang hancur.

​"Riana," panggil Bramantyo tanpa menoleh, suaranya kembali tenang dan penuh kendali layaknya seorang raja penguasa yang baru saja menundukkan wilayah pemberontak.

​Riana melangkah maju mendekati sisi meja. Postur perempuan itu tetap tegak sempurna, wajahnya sama sekali tidak pucat melihat adegan pembantaian brutal di depan mata kepalanya sendiri.

​"Siap, Pak."

​"Turun ke ruangan HRD sekarang juga. Cetak surat pemecatan Frans secara resmi dengan alasan penggelapan dana proyek operasional. Pastikan seluruh aset pribadinya, sertifikat rumah, mobil mewah, dan rekening banknya disita penuh atas nama Aegis Corp hari ini juga. Lakukan gimana pun caranya. Gue tidak mau ada satu lembar rupiah pun yang tersisa buat keluarga pencuri ini," perintah Bramantyo memberikan vonis hukuman akhir yang tidak bisa diganggu gugat.

​"Laksanakan," angguk Riana sangat cepat, otaknya langsung mencatat instruksi birokrasi pemiskinan massal tersebut.

​Bramantyo kemudian menoleh menatap para pengawal berjas hitamnya yang masih berdiri siaga. Mata bos mafia itu berkilat memancarkan kekejaman murni tanpa dasar nurani.

​"Dan kalian semua," desis Bramantyo dengan suara serak, telunjuknya menunjuk lurus ke tubuh Frans yang masih kejang-kejang pelan menahan rasa sakit. "Seret bajingan ini ke tempat pemotongan daging di basement terbawah gedung ini. Giling seluruh tubuhnya perlahan-lahan sampai hancur menjadi pakan ikan laut. Jangan biarkan ada satupun potongan tulang yang tertinggal untuk ditemukan anjing pelacak polisi."

​"Siap, Bos Besar!" seru kedelapan pengawal itu serentak memecah kesunyian ruangan.

​Mereka langsung menarik kaki dan tangan Frans dengan gerakan yang sangat kasar, menyeret tubuh berlumuran darah itu keluar dari ruang rapat layaknya menyeret karung rongsokan basah. Jejak darah panjang dan kental tercetak sangat jelas di atas karpet merah ruangan tersebut mengikuti alur tubuh Frans diseret menuju lift barang.

​Riana menatap prosesi penyeretan itu dalam diam. Di balik bingkai kacamata tebal yang menutupi separuh wajahnya, bibir perempuan itu perlahan melengkung ke atas. Sebuah senyum tipis yang luar biasa sadis, puas, dan sangat mematikan tercetak samar di wajahnya.

​Rencana balas dendamnya berjalan jauh melampaui semua ekspektasi yang ada. Hanya dengan bermodal data mutasi rekening dan selembar bukti pesan singkat peretasan ponsel dari Jace, satu pilar kekuatan finansial paling kokoh milik Aegis Corp baru saja hancur lebur rata dengan tanah. Semuanya tuntas dieksekusi dari dalam tanpa perlu melibatkan satu pun pihak kepolisian atau penegak hukum luar.

1
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Muft Smoker: yuuuuuk ,, sbntaar yx aq ambil Pisang goreng sama teh anget dluuu ,, 😁😁😁
total 5 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
Susilawati
hiii sadis banget perintahnya, digiling sampai habis semua badan nya si Frans.
Savana Liora: iyak. jadi pakan ikan
total 1 replies
Susilawati
wah senangnya author up lagi 👍👍👍
FHR
Apakah Bramantyo akan curiga siapa Riana sebenarnya?
Savana Liora: suatu saat akan curiga
total 1 replies
hana
makasih thor akhir nya up juga🙏🙏🙏🙏
Susilawati
jaga kesehatan dan terus semangat Thor 💪, di tunggu kelanjutannya 👍
Savana Liora: siapp kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!