Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Audit Berdarah
"Gue pilih jalur pemutusan hubungan kerja sepihak, Jace. Lengkap dengan penyitaan aset, pembekuan rekening tanpa syarat, dan eksekusi hukuman mati yang ditandatangani langsung dari meja sang bos besar."
Riana menjawab pertanyaan Jace dengan suara datar, tanpa ada sedikit pun emosi atau rasa kasihan yang meletup di wajahnya. Perempuan itu terus memegang payung hitamnya, menyedot habis susu cokelat kemasan kotak di tangannya hingga terdengar bunyi seruputan kosong. Dia meremas kotak susu tersebut dan membuangnya ke genangan air hujan di dekat kaki preman bertato yang masih merintih memegangi ulu hatinya. Mata Riana menatap tajam layar ponsel murahan yang menyala terang di tangan Jace.
"Bereskan tiga onggokan sampah yang tergeletak pingsan ini. Jangan sampai ada polisi patroli atau warga lokal sekitar apartemen yang melihat tubuh mereka. Gue butuh semua salinan data mutasi dan pesan dari ponsel itu masuk ke jaringan server tablet kerja gue detik ini juga," lanjut Riana memberikan instruksi seolah dia hanya sedang memesan secangkir kopi pagi.
Jace terkekeh pelan mendengar betapa dinginnya perintah tersebut. Jari-jarinya bergerak luar biasa lincah di atas layar ponsel usang itu, meretas akses dan mengirimkan data tersebut lewat jalur terenkripsi tingkat tinggi milik Diwantara Group.
"Lo benar-benar monster birokrasi yang sangat mengerikan, Riana. Orang normal pasti bakal memilih menusuk balik urat nadi preman yang mau membunuh mereka di gang sempit gelap gulita ini. Tapi lo? Lo malah merencanakan audit berdarah pakai kertas cetak dari balik meja kantor ber-AC. Gaya balas dendam yang sangat brilian, tajam, dan mematikan," puji Jace terang-terangan seraya membuang ponsel usang itu kembali ke aspal basah.
***
Klik.
Suara ketukan tuas logam padat yang saling mengunci terdengar amat nyaring, seketika memecah keheningan.
Riana baru saja memutar tuas kunci ganda berbahan baja murni pada pintu kayu mahoni tersebut, mengisolasi ruang rapat VVIP di lantai puncak markas Aegis Corp dari dunia luar secara total. Tidak ada satupun pengawal pribadi berjas hitam yang diizinkan masuk melangkah ke dalam ruangan. Tidak ada kamera pengawas yang dibiarkan menyala untuk merekam. Ruangan rahasia dengan karpet merah tebal itu kini murni menjadi arena eksekusi yang sangat kedap suara.
Di ujung meja rapat panjang berbahan kaca tebal anti peluru, CEO Bramantyo duduk bersandar dengan kedua tangan bertaut kokoh di depan dagunya. Wajah pria berbekas luka sayatan itu terlihat tenang di permukaan, namun kilat matanya memancarkan hawa membunuh yang teramat pekat menyengat udara.
Di sisi kanan meja kaca, Frans berdiri mematung. Keringat dingin membanjiri dahinya sebesar biji jagung, mengucur deras tiada henti hingga membasahi kerah kemeja mahal Direktur Keuangan tersebut. Dia terus menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram ujung kemejanya untuk menutupi tangannya yang gemetar.
Riana berjalan santai mendekati meja eksekusi tersebut. Ketukan hak sepatu pantofelnya terdengar konstan, berirama lambat namun terasa seolah mengiris kesunyian ruangan. Perempuan berkacamata tebal itu menjatuhkan sebuah map plastik bening berisi tumpukan kertas foto resolusi tinggi dan cetakan mutasi rekening perbankan tepat ke hadapan sang CEO mafia.
"Sesuai perintah dari Bapak waktu itu, audit internal mendadak untuk Divisi Keuangan sudah diselesaikan sepenuhnya tanpa ada satupun angka atau koma yang terlewat," lapor Riana dengan nada suara formal, tegas, namun membawa aura kematian yang kental. "Dan hasil pembukuan neraca Direktur Keuangan kita ini benar-benar sangat mengecewakan."
Bramantyo mencondongkan tubuh raksasanya ke depan. Jari-jarinya yang dipenuhi deretan cincin batu permata membuka map tersebut secara perlahan namun pasti. Lembaran pertama yang dia tarik keluar ke atas meja adalah tangkapan layar percakapan pesanan pembunuhan kelas teri, disandingkan berdampingan dengan foto preman bertato naga yang sudah babak belur di atas aspal basah.
"Jelaskan maksud gambar sampah jalanan ini, Frans," perintah Bramantyo amat pelan, namun suaranya sedingin bongkahan es di kutub utara yang langsung membekukan darah pendengarnya.
"I-itu fitnah murni, Pak Bos! Itu hasil editan peretas komputer jalanan!" bantah Frans gelagapan, napasnya memburu sangat cepat layaknya orang yang lehernya sedang terjerat tambang. Tangan Frans menunjuk-nunjuk liar ke arah wajah Riana dengan gemetar hebat. "Direktur Kepatuhan baru ini sengaja menjebak saya secara licik! Dia jelas mau menggulingkan saya dari kursi direktur utama karena dendam pribadi!"
"Jangan pernah berani menyela saat bos besar sedang menginvestigasi laporan resmi hasil kerja keras gue," potong Riana tanpa ampun sedikit pun, melangkah maju menutup jarak.
Tangan kanan perempuan itu dengan sangat cepat menggeser lembaran kedua menyamping di atas meja kaca.
"Lembar berikutnya dijamin jauh lebih menarik, lebih mahal, dan lebih menyakitkan daripada sekadar percobaan pembunuhan murahan terhadap staf kantoran."
Mata tajam Bramantyo langsung beralih turun menatap dokumen kedua. Sedetik kemudian, urat di pelipis sang bos mafia menegang parah hingga nyaris meledak. Matanya membelalak lebar, urat kemerahannya bermunculan menahan ledakan amarah yang seketika mendidih mendobrak tulang rusuknya.
Dokumen di atas meja kaca itu adalah bukti mutasi rekening dari kas pribadi milik Bramantyo. Uang tunai bernilai fantastis yang selama ini selalu dia simpan rapat-rapat di bawah radar sebagai biaya operasional darurat dunia bawah tanah. Arus kas rahasia itu tercatat mengalir sangat mulus, sengaja dicuci melewati tiga perusahaan fiktif cangkang, sebelum akhirnya bersarang tenang di sebuah rekening anonim luar negeri di Kepulauan Swarna yang kebal hukum.
"Dua puluh miliar rupiah uang kas murni," desis Riana membacakan nominal tebal di kertas itu dengan pelafalan yang sangat tajam, presisi, dan menusuk jantung. "Uang sebanyak itu ditransfer secara bertahap selama enam bulan penuh tanpa ada laporan pajak sepeser pun ke tangan perusahaan. Uang itu masuk tepat ke rekening rahasia atas nama istri siri Frans. Sisa dana pelicin untuk kelancaran proyek Pelabuhan Mutiara Hitam sama sekali tidak pernah sampai ke tangan kontraktor lapangan kita."
Kaki Frans seketika kehilangan seluruh tenaga penyangganya. Pria paruh baya itu memundurkan langkahnya sempoyongan hingga punggungnya menabrak keras panel dinding kayu ruang rapat. Lututnya beradu kencang mengeluarkan suara gemeletuk.
Frans tahu persis aturan main mutlak di dalam hierarki sindikat ini. Mencuri uang perusahaan dari hasil bisnis legal adalah kesalahan fatal yang berujung pada hilangnya anggota tubuh, tapi berani mencuri uang kas pribadi milik Bramantyo secara langsung adalah tiket ekspres VVIP menuju kematian paling menyiksa yang pernah diciptakan manusia.
"Pak... tolong dengarkan penjelasan saya dulu... Saya mohon," Frans mengangkat kedua tangannya yang gemetar parah, memelas dengan wajah pucat pasi seperti mayat yang baru saja diangkat dari peti mati. "Uang itu cuma saya pinjam sementara buat putaran investasi properti di luar negeri! Sumpah, saya bakal kembalikan bulan depan dua kali lipat! Sumpah demi Tuhan yang di atas sana, saya sama sekali tidak ada niat merampok aset pribadi Bapak!"
"Lo berani mencuri uang dari dalam brankas gue buat memanjakan selera belanja wanita simpanan lo?!"
Nada suara Bramantyo merendah drastis menjebol titik paling mematikan yang pernah bergema di ruangan tersebut. Pria raksasa itu perlahan bangkit berdiri dari kursi kulit kebesarannya. Wajahnya menghitam pekat karena murka yang luar biasa dahsyat. Hawa panas seolah langsung membakar habis seluruh pasokan oksigen yang tersisa di dalam ruangan kedap suara itu.
Riana memundurkan langkahnya perlahan ke belakang dengan sangat tenang, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku kemeja. Tugasnya sebagai anjing pelacak penunjuk jalan sudah tuntas seratus persen. Umpan sudah digigit. Kini dia hanya perlu menyandarkan punggungnya ke pintu, membiarkan sang monster mengambil alih panggung eksekusi berdarah ini sepenuhnya.
"Panggil tim algojo bawah tanah naik ke sini sekarang juga," perintah Bramantyo kepada Riana tanpa mau repot-repot menoleh sedikit pun dari targetnya.
Mata CEO itu terus mengunci pergerakan Frans bagaikan singa yang sangat kelaparan menatap potongan daging segar.
"Siapkan mesin pemotong daging paling tumpul di area basemen terbawah. Gue mau lihat sendiri secara langsung bagaimana jari-jari pencuri sialan ini terpotong hancur satu per satu, berjatuhan ke lantai sampai habis tidak bersisa."
"T-tidak... Saya tidak mau mati!" jerit Frans putus asa.
Rasa takut yang teramat ekstrem membuat sisa-sisa akal sehat di dalam kepala Frans menguap habis ditiup angin ketakutan. Insting bertahan hidup yang paling liar, purba, dan buas kini mengambil alih kendali penuh atas sistem saraf tubuhnya. Dia tidak peduli lagi pada jabatan direktur yang disandangnya, tidak peduli pada rasa hormat, apalagi rantai makanan di dunia mafia ini. Dia hanya tidak mau tangannya dipotong.
Frans merogoh bagian dalam jas biru dongkernya dengan gerakan yang sangat kasar, panik, dan tergesa-gesa.
Dalam satu tarikan napas yang berantakan, pria berambut klimis itu mencabut sebuah pistol revolver kaliber tinggi berwarna perak mengkilap yang selama ini selalu dia sembunyikan sebagai langkah pertahanan rahasia terakhir.
Tangannya yang gemetar hebat langsung menodongkan moncong senjata api yang terisi penuh peluru tajam itu lurus membelah udara ke arah meja kaca.
Bramantyo seketika menghentikan langkah kakinya. Hentakan sepatu kulitnya tertahan di atas karpet merah tebal. Matanya menyipit sangat tajam layaknya silet, menatap lubang laras proyektil mematikan yang kini secara terang-terangan menantang nyawanya di ruangannya sendiri.
"Mundur! Jangan ada yang berani bergerak mendekat selangkah pun atau aku saat tembak kepala kalian berdua sampai hancur berkeping-keping!" ancam Frans histeris dengan suara melengking keras yang menyakitkan gendang telinga.
Moncong pistol perak di tangannya berayun sangat liar tanpa arah bidikan yang jelas. Laras itu membidik tepat ke arah dada bidang Bramantyo, lalu berpindah sangat cepat membidik dahi Riana secara bergantian tanpa jeda.
"Gue ini Direktur Keuangan! Tangan gue yang memutar dan mencuci uang kotor kalian sampai bersih selama sepuluh tahun terakhir! Kalian sama sekali tidak punya hak untuk menghakimi dan membunuh gue begitu saja seperti menyembelih binatang!"
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪