Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.
Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.
Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.
Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.
Bertahan… atau melepaskan?
Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenang
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Alea, kamu belum cerita ke aku tentang itu,” kata Aluna sebelum menempatkan diri di bangku kantin.
Alea yang sudah duduk di bangku seberang meja menaikkan sebelah alisnya.
“Tentang obrolanmu dengan Biru waktu kita pergi ke pantai,” jelasnya dengan mata intens menatap presensi sang sahabat di hadapan.
Alea memutar bola mata dengan malas. Ia menggeleng ringan. Lalu, tanpa merespon lebih, ia bersiap menyantap makan siang.
“Alea, kenapa diam?”
Bibir Aluna mengerucut karena diabaikan begitu saja oleh anak keluarga Kusuma.
“Nggak ada obrolan serius,” balas Alea. “Cepat makan! Nanti makananmu keburu dingin,” lanjutnya.
Aluna mengeratkan pegangan pada sendok dan garpu. Jawaban itu masih bukan yang ia inginkan.
Sejak Minggu lalu, sehari setelah acara jalan-jalan mereka, Aluna sudah bertanya. Namun, Alea tidak mau menjawab. Aluna pun menghormari keputusan itu. Tapi, Aluna tidak bisa melupakannya
Hati dan pikirannya begitu penasaran.
Bukankah Aluna akan ikut bahagia jika ada kabar baik dari dua manusia yang selalu menjadi musuh itu?
“Kenapa kamu nggak mau bilang ke aku? Apa Biru bilang kalau dia suka kamu?”
“UHUK!”
Alea seketika tersedak mendengar kalimat tanya Aluna di tengah khidmatnya menyantap makanan. Lantas, Aluna langsung beranjak dan menepuk pelan punggung Alea setelah ia meneguk jus jeruk.
“Maaf,” kata Aluna begitu Alea terlihat lebih baik.
Tuk!
Gadis pemilik nama tengah Prameswari itu mengetuk pelan dahi Aluna dengan sendok sup yang masih bersih.
Bibir Aluna semakin manyun. Ia pun mengelus perlahan dahi yang menjadi tempat mendarat benda stainless steel itu.
“Kalau ngomong, ya! Ihhh!” Alea merasa geram dan gemas secara bersamaan. “Nggak bakalan ada yang terjadi antara dia sama aku!” serunya selagi mengacungkan senjatanya di depan wajah Aluna.
“Aku, ‘kan, cuma penasaran,” gumam Aluna masih mengelus dahi.
Akhirnya, ia kembali ke tempat. Bermuka sedih. Aluna kembali mengambil sendok dan garpu.
“Aku mau minta traktiran kalau benar kalian sudah pacaran.”
Dengan bibir bebeknya, Aluna berhasil membuat Alea membulatkan mata.
Alea langsung menyambar kedua tangan Aluna dan menguncinya di atas meja dengan satu tangan. Tangan yang bebas kembali menggapai sendok yang tadi ia letakkan di atas nampan.
Dengan rasa gemas yang tertahan, Alea bertanya dengan muka marahnya, “Kamu mau aku pukul di mana? Di dahi lagi? Di pipi? Atau di bibir?”
“Cepat katakan, Aluna!”
“Atau rasakan ini!”
Aluna tertawa terbahak menahan geli ketika Alea menyerangnya di perut.
“Maaf, Alea,” mohonnya beberapa kali di tengah tawa.
Dia benar-benar tidak bisa menghindar.
“Aku benar-benar minta maaf. Haha. Tolong maafkan aku.”
Permohonan akhirnya dikabulkan.
“Masih mau membahas itu lagi?”
Seringai terbit di wajah Alea. Kedua alisnya naik-turun dengan mata tajam mengintimidasi.
Aluna menggeleng selagi tangannya menghapus air mata yang menggenang di kelopak mata. “Hehe. Tidak,” ujarnya.
“Selagi lagi dibahas, aku akan—” Alea berhenti berucap dan melanjutkannya dengan memukulkan kepala sendok dalam genggaman beberapa kali.
Sahabatnya pun hanya bisa meringis melihatnya.
Acara makan siang mereka akhirnya bisa berlangsung kembali. Suara denting alat makan menjadi satu-satunya suara di antara keduanya. Tak lama, sampai panggilan dari bocah beruang mengudara, membaur dengan berisiknya kantin.
“Kak Aluna, Kak Alea?”
Presensinya muncul dari sebelah kiri Aluna. Membuat leher kedua gadis itu tegak seketika untuk menyambut kedatangannya.
“Kok baru datang?” tanya Aluna.
“Iya, tadi kami pergi ke ruang guru sebentar.”
Aluna tahu, Biru tidak datang seorang diri. Niat hati ingin menoleh kebelakang untuk melihat ‘kekasihnya’ , tetapi pergerakannya terkunci. Dua lengan yang muncul di kedua sisi kepala menjadi penyebab Aluna gagal melakukannya.
Bahu yang terasa berat membuat Aluna refleks mendongak. Pupil matanya membesar bersamaan dengan wajah yang menegang.
“Hai?” sapa Bintang dan setia menopangkan kedua lengan bawahnya di atas bahu Aluna.
Terpaku. Bahkan, darah yang mendesir naik ke wajah sudah tidak mampu untuk mengembalikan kesadaran Aluna.
Di sisi lain, di meja yang sama, Biru dan Alea ikut termangu menyaksikan aksi Bintang yang tiba-tiba.
Malahan bukan hanya tiga manusia itu saja yang berhasil Bintang buat terkejut, puluhan siswa yang mengunjungi kantin siang itu pun berhasil ia buat terdiam.
Menyadari keadaan, Biru berdehem dan menggapai salah satu pundak Bintang.
“Kak, ayo ambil makanan dulu!” ajaknya.
Bintang mengangguk. Akhirnya, ia bergerak dan meninggalkan dua gadis itu setelah memberikan usapan lembut di pucuk kepala Aluna.
“Aluna?” panggil Alea lirih.
Perlahan, pandangan yang seolah kosong milik Aluna menyapu wajah Alea.
“Kondisikan wajahmu,” bisik Alea menggoda.
Dan hal itu sukses menarik nyawa temannya yang barusan melayang kembali dalam raga.
Aluna langsung menoleh ke sekitar dan tatapan-tatapan insan di sana menyambutnya. Ia pun cepat-cepat menggunakan kedua tangan untuk menutupi seluruh wajah. Ia merasa kacau.
“Aluna?”
Aluna menyibakkan tangannya ke kanan dan kiri. Dengan mata memelas, ia bergumam pada Alea, “Bagaimana ini?”
Alea manahan tawa. “Kenapa panik?”
Lalu, ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Aluna. Sekilas melirik ke arah antrian makanan tempat Bintang berdiri, Alea berkata, “Dia, ‘kan, hanya menyapa.”
...***...
Aluna … gadis yang mendapat princess treatment dari Bintang untuk pertama kali di lingkungan sekolah mendadak jadi pendiam. Melempar senyum beberapa kali dan menjawab jika diperlukan. Perasaan campur aduk antara senang, malu, dan takut membuatnya merasa tidak nyaman siang itu.
Apalagi, ketika ia tidak sengaja melihat siswa lain yang saling berbisik. Seberapa kuat pun ia berpura-pura untuk tidak melihat dan acuh, tidak bisa memungkiri bahwa ia tertekan dengan keadaan tersebut.
Aluna yang berjalan di samping Bintang terperanjat begitu tangan Bintang meraih tangannya untuk yang kesekian kalinya.
“Lo kenapa?” tanya Bintang selagi menelusupkan jari diantara jemari Aluna.
“Nggak kenapa-napa,” bohongnya. “Tapi, harus, ya, seperti ini?” Aluna sedikit mengangkat tautan tangan mereka dan memandangnya sejenak.
Bintang memandang sendu dan mengangguk ringan. “Soalnya nyaman.”
Gadis Wicaksana itu tidak bisa memungkiri atas kehadiran kupu-kupu dalam perutnya. Saat ini, dia sangat bahagia sampai lupa rasa takut. Dan jujur, Aluna ingin memiliki kesempatan ini lagi di hari esok dan seterusnya.
Memilih untuk membiarkan kemauan Bintang, ia tersenyum tipis.
“Kak Bintang, apa Kakak takut Kak Aluna hilang?” celetuk Biru dari arah belakang hadir diselingi tawa.
Bintang tidak bersuara, ia hanya mengangguk dan tersenyum simpul setelah menoleh pada pemuda yang berjalan di samping Alea.
Alea sontak saja memiringkan kepala sedikit. Senyum kecil muncul di bibirnya, lembut namun penuh arti, seolah ia tengah menikmati kepanikan dan malu Aluna.
“Oh … OK! OK! Silakan dilanjut, deh, tugas negaranya,” imbuh Biru dan menyenggol lengan Alea.
Lantas, keduanya terkekeh bersama.
Melihat itu, wajah Aluna kembali memerah.
Sesampainya di depan kelas, Aluna melepas genggaman Bintang perlahan. Pemuda itu sempat melihat tangan mereka yang tidak lagi bersama. Aluna yang sadar, langsung memberikan senyum terbaiknya begitu netra Bintang menatap wajahnya.
“Baiklah.” Alea menjeda. “Sampai jumpa lagi,” lanjutnya pada dua siswa itu. Tangannya kini menggandeng lengan Aluna.
“Iya. Sampai jumpa lagi, Kak!” Kedua tangan Biru melambai dengan semangatnya.
“Iya, Biru. Sampai jumpa lagi,” balas Aluna tetapi langsung mendapat protes darinya.
“Hanya untuk Biru? Untuk Kak Bintang nggak ada?” Dia bertanya dengan wajah menggoda berselubung penasaran.
Aluna tersenyum tipis yang bernilai canggung.
“Sudahlah, Biru,” sambar Bintang setelah membaca keadaan.
Biru hanya bisa mengulum bibir dan mengusap belakang kepala mendengar suara kayak sepupunya.
“Sampai jumpa lagi,” kata Bintang.
Lesung pipinya hadir juga untuk mengucapkan salam perpisahan. Dua gadis itu mengangguk.
Aluna kira ia akan segera bisa bernapas lega. Akan tetapi, ia salah. Bintang lagi-lagi membuat jantung gadisnya bekerja dengan keras begitu sebuah usapan lembut mendarat di atas kepala Aluna.
Alea menatap beberapa detik wajah Aluna yang masih merah. Perlahan senyum miring muncul di bibirnya—senyum yang terlalu nakal untuk disebut sekadar simpati melihat sang sahabat hampir pingsan karena Bintang.
“Baru disentuh sedikit saja sudah begini?” goda Alea selepas perginya dua pemuda tadi.
“Aleaaa~” geram Aluna.
Tubuh Alea digoyangkan maju mundur dan membuatnya tertawa makin terbahak.
“Kamu bukan sahabat yang baik!” ketus Aluna.
“Kok aku yang salah? Padahal itu yang kamu mau, ‘kan? Dipegang, diusap kepa—”
“Shhh!”
Jari telunjuk Aluna berdiri di depan bibir Alea.
“Berisik!”
Lembut, Alea menepis tangan itu. “Ih! Ada yang salting, nih!”
“ALEA?!” tukas Aluna.
“Kamu …,” lanjutnya selagi tangannya meraih kedua pipi Alea dan menarik-nariknya dengan gemas. “Kamu jangan lupa traktir aku, ya ….”
“Uuuu … kumu muluy lugu~”
“Aku bakal terus nagih traktiran itu!” seru Aluna.
Berhasil bebas, Alea menoleh cepat. Ia menatap nyalang syarat akan ketidak-terimaan.
“Beri aku bukti dan aku akan berhenti. Setuju?”
Anak dari keluarga Kusuma memutar malas bola mata. Ia tidak menyangka akan keadaan yang akan berbalik menyerangnya.
“Setuju! Pastikan kamu berhenti, ya.”
“Iya.” Final Aluna sedikit bangga karena berhasil membalas Alea yang telah menggodanya habis-habisan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...