NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Sapu Petugas Kebersihan

​​"Serahkan tas kulit lo perlahan-lahan. Kalau lo patuh, pisau ini cuma bakal merobek sedikit kulit leher lo biar kelihatan seperti korban perampokan." Pria bertato naga di depan Riana membuka suara, nadanya serak dan dipenuhi niat membunuh yang pekat.

​Riana tidak mundur selangkah pun. Hujan rintik-rintik berjatuhan menimpa payung lipat hitamnya, menciptakan melodi pelan yang kontras dengan ketegangan di gang sempit itu. Matanya di balik kacamata tebal menatap tajam ke arah kilau bilah pisau di tangan ketiga preman tersebut. Riana mulai menghitung jarak dan sudut serangan. Dua pria di belakang berjarak tiga meter. Pria bertato di depan berjarak dua meter.

​"Kalian terlalu banyak bicara untuk ukuran pembunuh bayaran jalanan," balas Riana sedingin es. Jari-jari tangan kanannya perlahan merenggang, bersiap melepaskan gagang payungnya untuk melancarkan serangan mematikan. Dia sudah merencanakan titik vital mana saja yang akan dia hancurkan lebih dulu. "Siapa yang suruh kalian mencegat gue? Frans?"

​Pria bertato itu mendecih kasar dan meludah ke aspal basah. "Orang mati tidak perlu tahu nama klien kami. Habisi dia sekarang!"

​Ketiga preman itu baru saja mengencangkan otot kaki mereka untuk menerjang maju. Namun, sebelum Riana repot-repot membuang payung atau melepas sepatu pantofelnya, sebuah kaleng minuman kosong melayang entah dari mana dan membentur keras dahi pria bertato tersebut.

​Trak!

​"Aduh! Sialan, siapa yang berani lempar sampah ini?!" raung pria bertato itu sambil memegangi dahinya yang memerah. Fokus serangan mereka hancur seketika.

​"Gang sempit ini bukan tempat yang bagus buat main keroyokan. Apalagi lawan perempuan yang lagi mau beli makan malam."

​Suara berat dan maskulin itu memecah suara rintik hujan. Dari arah sudut minimarket yang gelap, sesosok pria tinggi tegap melangkah keluar dengan sangat santai. Jace berjalan mendekat tanpa memakai payung pelindung sama sekali. Kemeja hitam yang membalut tubuh kekarnya mulai basah terkena gerimis, mencetak otot-ototnya dengan jelas. Tangan kirinya menenteng sebuah kantong plastik putih berlogo minimarket, sementara tangan kanannya memegang erat sebuah sapu lidi panjang berbahan bambu tebal yang biasanya dipakai oleh petugas kebersihan jalanan.

​Riana menaikkan sebelah alisnya melihat kemunculan rekan aliansinya yang sangat tiba-tiba. Niat membunuhnya perlahan ditarik mundur.

​"Lo ngapain bawa sapu lidi kotor malam-malam begini, Jace?" tanya Riana datar tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

​"Membersihkan sampah basah yang berserakan di jalanan," jawab Jace santai tanpa beban. Pria itu merogoh kantong plastik di tangan kirinya, mengeluarkan sekotak susu rasa cokelat dingin kemasan kecil, lalu melemparnya melengkung melewati kepala preman ke arah Riana. "Tangkap, Bu Direktur. Minum dulu sana, asupan kalsium lo kurang."

​Riana menangkap kotak susu itu dengan tangan kirinya dengan gerakan yang sangat mulus, lalu mendengus pelan melihat tingkah pewaris Diwantara Group tersebut.

​"Woi, tukang sapu! Lo jangan ikut campur kalau masih mau hidup panjang!" ancam preman kedua dari arah belakang, memutar pisaunya dengan gaya sok jagoan, merasa diremehkan karena mangsanya malah asyik mengobrol. "Maju selangkah lagi, usus lo keluar berantakan di aspal gang ini!"

​Jace tertawa renyah mendengarnya. Tawa yang terdengar luar biasa arogan. Dia meletakkan kantong plastiknya dengan hati-hati ke atas sebuah tong sampah yang tertutup di pinggir jalan.

​"Gue paling benci sama orang yang sok jagoan main ancam pakai pisau lipat murahan," ucap Jace, perlahan memutar sapu lidi di tangannya. Otot-otot lengannya mengencang sempurna. Aura pewaris mafia kelas atas yang luar biasa buas dan mendominasi meledak keluar dari tubuhnya, membuat ketiga preman itu refleks menelan ludah ketakutan.

​"Biar gue tunjukkan cara membersihkan jalanan kota yang benar," desis Jace mematikan.

​Tanpa ada aba-aba tambahan, Jace melesat maju layaknya bayangan hitam di tengah hujan lebat. Kecepatannya jauh melampaui nalar manusia biasa. Preman bertato naga di depan bahkan belum sempat mengangkat pisaunya saat ujung gagang bambu sapu lidi itu menghantam keras melesak tepat ke arah ulu hatinya.

​BUAK!

​Pria bertato itu tersedak hebat, matanya melotot nyaris keluar dari kelopaknya. Udara di paru-parunya terkuras habis dalam waktu satu detik. Tubuh gempalnya terpelanting jauh ke belakang, jatuh menabrak tumpukan kardus basah hingga hancur berantakan.

​"Bangsat! Mati lo sekarang!" Preman kedua dan ketiga langsung menerjang Jace dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan. Pisau beracun mereka berkelebat liar mengincar rusuk dan leher Jace.

​Jace tidak panik sedikit pun. Gaya bertarungnya sangat brutal namun luar biasa elegan. Pria itu menggunakan sapu lidi panjang tersebut selayaknya tongkat bela diri profesional. Dia menangkis ayunan pisau preman kedua dengan sabetan ujung lidi, memutar bambu itu seratus delapan puluh derajat di udara, lalu menghantamkan gagang tebalnya lurus membentur rahang preman ketiga.

​KRAK!

​Bunyi tulang rahang retak terdengar sangat ngilu mengalahkan suara hujan. Preman ketiga langsung pingsan di tempat sebelum tubuhnya menyentuh aspal basah. Darah segar menetes dari sudut mulutnya, bercampur dengan air genangan hujan kotor.

​Melihat dua temannya tumbang dalam waktu kurang dari lima detik, preman kedua berteriak panik luar biasa. Keberaniannya menguap. Dia menusukkan pisaunya membabi buta menembus tirai hujan ke arah dada Jace sebagai serangan putus asa.

​Jace hanya memiringkan tubuhnya sedikit, membiarkan bilah pisau mematikan itu lewat beberapa sentimeter dari kemeja hitamnya. Dengan gerakan yang sangat luwes dan penuh tenaga, tangan Jace mencengkeram pergelangan tangan preman itu dari bawah, lalu memelintirnya paksa ke arah belakang dengan kuncian maut.

​Pisau lipat itu langsung terlepas dan jatuh bergemerincing ke aspal. Sambil menahan lengan musuhnya, Jace menendang lipatan lutut preman itu keras-keras dari belakang. Pria itu langsung jatuh berlutut di atas aspal dengan jeritan kesakitan yang melengking panjang.

​Jace mengayunkan sapu lidinya menyapu genangan air, lalu mendaratkan hantaman pukulan telak tepat di tengkuk leher belakang preman tersebut. Pria itu ambruk mencium aspal basah, lumpuh dan tidak sadarkan diri.

​Semuanya selesai dalam hitungan detik. Tiga preman bayaran tumbang mengenaskan layaknya pin bowling yang baru saja dihantam bola besi tanpa ampun.

​Di bawah perlindungan payung hitamnya, Riana hanya berdiri diam di titik yang sama menonton seluruh pertunjukan tersebut. Dia sama sekali tidak terlihat kaget, takut, atau terkesan. Tangan kirinya dengan sangat santai merobek plastik sedotan, lalu menusukkannya pelan ke dalam lubang kotak susu cokelat pemberian Jace.

​Sruput.

​Suara sedotan Riana menyedot susu terdengar amat kontras dan jenaka di tengah rintik hujan serta erangan pelan preman bertato yang baru saja sadar dari pukulan di ulu hatinya tadi.

​Preman bertato naga itu memuntahkan air liur, berusaha merangkak mundur menjauh. Matanya dipenuhi teror murni menatap Jace yang kini berjalan pelan mendekatinya. Sapu lidi di tangan Jace meneteskan air hujan kotor. Pria itu terlihat seperti malaikat maut yang menyamar jadi petugas kebersihan.

​"A-ampun... ampun, Bang! Tolong jangan bunuh gue! Kami cuma disuruh..." rintih preman itu gemetar ketakutan, badannya menggigil kedinginan.

​Jace tidak memedulikan rintihan murahan itu. Dia mengangkat kakinya, lalu menginjakkan sepatu bot mahalnya tepat ke atas dada preman bertato tersebut. Tekanannya sangat keras hingga membuat pria itu megap-megap tidak bisa bernapas lega.

​"Lo bawa ponsel pribadi buat lapor ke bos lo, kan?" tanya Jace dingin. Dia tidak menunggu jawaban konfirmasi sama sekali. Tangannya langsung menggeledah paksa saku jaket kulit kumal pria itu dan menarik keluar sebuah ponsel pintar usang.

​Jace menarik sebelah tangan preman itu dengan kasar, menempelkan paksa ibu jarinya ke sensor sidik jari di layar ponsel. Kunci layar langsung terbuka. Jace membuang tangan preman itu kembali ke aspal. Dia membuka aplikasi pesan singkat dan riwayat mutasi rekening perbankan di ponsel tersebut secara cepat. Matanya memindai layar terang itu.

​Sesuai dugaannya, senyum miring yang sangat puas dan mematikan mengembang sempurna di bibir Jace. Bukti digital itu mengunci semuanya. Semua tebakan Riana soal kebusukan Direktur Keuangan Aegis Corp terbukti seratus persen benar.

​Jace melepaskan injakan kakinya dari dada preman tersebut, membiarkan pria hina itu terbatuk-batuk merebut pasokan oksigen. Jace lalu berbalik badan menatap Riana yang masih asyik meminum susu di bawah payung, seolah adegan pembantaian barusan hanyalah tontonan televisi gratis.

​Jace melangkah mendekat menghampiri Riana, membiarkan sapu lidi bambunya jatuh bergulir ke tanah. Hujan terus membasahi tubuh tegap pewaris Diwantara Group tersebut, tapi hawa bahaya dan aura dominan dari dirinya justru semakin pekat menyeruak.

​Jace memutar layar ponsel preman itu dan menyodorkannya tepat ke depan wajah Riana, persis di bawah naungan payung hitamnya agar layarnya tidak terkena tetesan hujan. Di layar ponsel murahan tersebut, terpampang jelas bukti mutasi transfer uang muka puluhan juta rupiah dari sebuah rekening rahasia yang terhubung langsung dengan nama Frans, lengkap dengan tangkapan layar pesan singkat berisi instruksi perintah eksekusi pembunuhan Nona Kacamata.

​Jace menyeringai lebar, tatapannya berkilat penuh antusias haus darah yang sejalan dengan insting pembunuh sang algojo.

​"Bukti niat pembunuhannya ada di sini. Jelas dan nyata tanpa bisa dielak lagi." Jace menatap mata Riana lekat-lekat menembus kegelapan malam. "Jadi, mau dipotong gajinya atau dipotong lehernya, Bu Direktur?"

1
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Muft Smoker: yuuuuuk ,, sbntaar yx aq ambil Pisang goreng sama teh anget dluuu ,, 😁😁😁
total 5 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
Susilawati
hiii sadis banget perintahnya, digiling sampai habis semua badan nya si Frans.
Savana Liora: iyak. jadi pakan ikan
total 1 replies
Susilawati
wah senangnya author up lagi 👍👍👍
FHR
Apakah Bramantyo akan curiga siapa Riana sebenarnya?
Savana Liora: suatu saat akan curiga
total 1 replies
hana
makasih thor akhir nya up juga🙏🙏🙏🙏
Susilawati
jaga kesehatan dan terus semangat Thor 💪, di tunggu kelanjutannya 👍
Savana Liora: siapp kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!