Selesai membaca biasakan tekan LIKE ya.
Seorang perempuan cantik bernama Nindi harus menikah dengan pria pilihan orang tuanya yang tak lain adalah seorang pengusaha muda yang sukses.
Nindi tak bisa menolak permintaan sang papa dengan alasan balas budi, dia dengan terpaksa menerima pernikahan itu karena tak ingin membuat kedua orang tuanya bersedih.
Akankah hidup Nindi bahagia dengan pria pilihan orang tuanya itu atau justru berakhir dengan kesedihan??
Yuk simak kelanjutan kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Nindi menatap suaminya dengan canggung, dia duduk di atas ranjang, namun ekor mata nya sesekali melirik ke arah suaminya. Nindi meringis mengingat kejadian tadi pagi dimana dia menendang sang suami sampai terjatuh dari tempat tidur, Nindi melakukan itu karena terkejut bukan karena terpaksa.
Keduanya masih berada di dalam kamar, Tristan duduk di sofa fokus menatap laptop yang di kirim sang asisten tadi pagi. Ya saat ini Tristan sedang mengerjakan sisa pekerjaan kemarin yang masih belum selesai, sedari tadi Tristan bisa melihat Nindi diam-diam melirik ke arahnya.
"Apa yang dia inginkan, sedari tadi melihat ku terus menerus," batin Tristan heran melihat tingkah laku istrinya itu.
Nindi masih diam-diam melirik suaminya. "Apa dia masih marah padaku?" Batin Nindi kedua tangannya saling meremas.
"Em em Tristan...." Panggil Nindi dengan nada pelan.
"Panggil aku Mas, karena aku sudah resmi menjadi suami mu dan aku ingin kamu memanggilku dengan mas Tristan agar lebih sopan dan enak di dengar," sahut Tristan cepat agar sang istri mengubah panggilan nya saat ini.
Deg...
Nindi melotot, dia dengan cepat menetralkan rasa kagetnya.
"Mas Tristan...." Ulang Nindi dengan suara pelan dan hati-hati.
"Iya ada apa?" Tanya Tristan menatap wajah sang istri dengan raut penasaran.
"Maaf soal tadi pagi, aku em em aku kaget karena ada laki-laki yang tidur di dekat ku kan biasanya aku tidur sendiri, jadi aku reflek menendang mu tadi," jelas Nindi panjang lebar agar pria yang sudah menjadi suaminya itu tak salah paham.
"Apa kamu lupa kalau kita sudah menikah," tanya Tristan heran.
"He he he he, ya kan aku baru bangun tidur jadi lupa kalau aku sudah menikah, aku kira tadi pagi aku tidur di kamar ku sendirian," jawab Nindi mengucapkan yang ada di pikirannya saat ini.
"Hah kamu lupa sudah menikah dengan ku?" Tanya Tristan tak percaya , bagaimana bisa istrinya itu melupakan kalau sudah menikah dengan nya, sungguh ingin rasanya Tristan mengigit pipi istrinya karena gemas. Tristan menetralkan raut wajahnya, dia berpura-pura melotot menatap tajam sang istri agar istrinya itu tak mengulangi kesalahan seperti tadi pagi lagi, Tristan tak ingin mendapatkan tendangan itu lagi, cukup sekali saja. Meskipun perempuan tetapi tendangan istrinya itu cukup membuat pantatnya sakit.
"Ya itu tadi pagi, sekarang aku sudah ingat," jelas Nindi meringis melihat tatapan mata sang suami yang membuatnya takut.
"Ingat aku suami mu, awas kalau kamu sampai lupa, aku akan menghukum mu," peringatan Tristan karena kesal.
"Hah menghukum? Duh jadi semakin takut, kira-kira hukuman apa ya," batin Nindi dengan sedikit rasa penasaran, hukuman bagaimana yang akan Tristan berikan nanti.
"Iya," sahut Nindi dengan cepat tak ingin memancing kemarahan dari sang suami, wajahnya menunduk tak ingin menatap wajah suaminya yang terlihat garang itu.
"Duh kenapa aura suami ku menyeramkan begini membuat ku tak bisa berkutik," batin Nindi.
"Ya sudah,"
"Apa kamu lapar?" Tanya Tristan.
"Sedikit," jawab Nindi.
Tristan melihat pergelangan tangannya ternyata sudah menunjukkan pukul 08.00.
"Pasti yang lain sudah menunggu di bawah," batin Nindi.
"Ayo kita turun, mungkin papa dan yang lainnya sudah menunggu di restoran bawah," kata Tristan.
Nindi bersiap berdiri namun ucapan Tristan membuat Nindi mengurungkan niatnya.
"Kenapa baju mu seperti itu?" Tanya Tristan yang baru sadar baju yang di gunakan oleh istrinya itu terlihat pres body.
"Ya mana ku tahu, kan kamu yang membelikan semua ini," sahut Nindi cepat karena menang yang membelikan adalah sang asisten itupun sesuai dengan permintaan Tristan.
"Dasar si Rangga, bisa-bisanya dia membelikan baju seperti itu kepada istri ku," batinnya kesal ingin rasanya mengumpat sang asisten.
"Terus aku bagaimana?" Tanya Nindi binggung.
"Mau bagaimana lagi, cukup sekali saja kamu memakai baju seperti ini untuk keluar kalau kamu tidak menurut terpaksa aku menghukum mu. Kalau baju seperti itu untuk di kamar dan menggoda ku sih aku tidak apa-apa," jelas Tristan panjang lebar agar istrinya itu menuruti perintahnya.
"Hah bisa-bisanya dia berfikir begitu, aku sengaja menggoda dia?? Sungguh hebat suamiku berfikir aku sengaja menggoda dia," guman Nindi sedikit kesal karena dianggap begitu oleh suaminya sendiri.
"Ayo kita turun," ajak Tristan segara menutup laptopnya dan berjalan menuju ke arah Nindi dan merangkulnya dengan penuh posesif.
"Eh tunggu, aku belum ambil ponsel dan dompet ku," kata Nindi ingin menjauh dari Tristan namun dengan cepat Tristan menarik pinggang sang istri dengan cepat membuat Nindi jatuh ke pelukan sang suami.
Memang kemarin dia sempat membawa ponsel dan dompet miliknya saat dia dirias dan menitipkannya ke bunda saat acara berlangsung.
"Tidak perlu, kita cuma makan sebentar,'' kata Tristan menyela, mau tak mau Nindi hanya bisa mengangguk patuh takut suaminya itu memberikan hukuman, entah hukuman apa yang akan Nindi dapatkan.
"ayo,'' ajak Tristan menarik Nindi agar sejajar dengan drinya. Keduanya kini sudah berjalan menyusuri lorong-lorong hotel menuju restoran.
Keduanya akhirnya sampai di restoran, baik Nindi maupun Tristan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah mencari keberadaan keluarga mereka. Nindi tersenyum lega saat melihat bunda tak jauh dari sana.
"Itu Bunda?'' Tunjuk Nindi.
"Ayo kita kesana,'' Tristan masih menarik sang istri, rangkulan itu masih belum terlepas membuat Nindi sedikit risih karena beberapa orang menatap ke arah mereka. Sedangkan Tristan menatap para pria yang ketahuan melirik istrinya itu dengan tatapan tajam mengisyaratkan kalau ini istri ku kalau kamu berani menatapnya akan ku congkel mata mu, itulah arti tatapan Tristan membuat para pria itu menciut dan buru-buru mengubah arah pandangan mereka dengan cepat.
Akhirnya mereka berdua sampai di depan meja di mana keluarga besar mereka berkumpul, ada bunda, pak Andre , jeng Sinta , opa, oma dan pak Hendra hendra tentunya.
"Wah pengantin baru keluar nih,'' goda oma membuat Nindi memerah wajahnya.
"Iya, lihat saja dari tadi tangan Tristan masih memeluk istrinya itu takut Nindi hilang. Ha ha ha ha ha ha....'' Seloroh jeng Sinta semakin membuat Nindi menundukkan wajahnya karena malu.
"Wah anakku sudah menemukan pawangnya,'' sahut Pak Hendra ikut menggoda sang anak.
Sedangkan Tristan menampilkan wajah datarnya karena jengah dengan keluarganya yang selalu saja memojokkan dirinya, berbeda dengan pak Andre yang merasa lega ternyata menantunya itu benar-benar menepati janjinya.
"Bunda senang ternyata Tristan memperlakukan Nindi dengan baik,'' bisik bunda di telinga sang suami.
"Sudah jangan kalian goda cucu menantuku," kini giliran opa yang angkat bicara karena kasihan melihat menantunya itu malu.
"Mari sayang sini,'' kata Bunda mempersilahkan putrinya itu duduk di dekat dirinya, kebetulan ada kursi yang masih kosong.
Bersambung...