Demi mendapatkan biaya operasi sang ayah yang mengidap penyakit jantung, Nabila Kanaya terpaksa menikah dengan Sean Ibrahim, lelaki yang tak lain adalah suami dari sahabatnya.
Sandra Milea, seorang model terkenal yang
namanya sedang naik daun di dunia entertainment, terpaksa meminta sahabatnya untuk menikah dengan suami tercintanya demi mendapatkan seorang anak yang sudah lama didambakan oleh Sean dan juga mertuanya. Bukan karena Sandra tidak bisa mempunyai anak, tetapi, Sandra hanya belum siap kehilangan karirnya di dunia model jika dirinya tiba-tiba hamil dan melahirkan seorang anak.
Lalu, bagaimana nasib pernikahan Kanaya dengan suami sahabatnya itu? Akankah Kanaya menderita karena menikah tanpa cinta dan menjadi istri rahasia dari suami sahabatnya? Ataukah Kanaya justru bahagia saat mengetahui kalau suami dari sahabatnya itu ternyata adalah seseorang yang dulu pernah singgah di hatinya?
Yuk, ikutin kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Sean dan Kanaya keluar kamar hotel menemui keluarga Kanaya. Di sana, ayah dan ibu beserta dua adiknya sudah duduk di depan meja makan.
Beberapa pelayan hotel sedang melayani mereka. Kanaya tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah ayah dan ibunya. Begitupun kedua adiknya yang tampak tersenyum.
Kanaya menghela napas panjang. Ada rasa bahagia sekaligus rasa sakit. Bahagia karena saat ini ia bisa membuat keluarganya bahagia. Sakit, karena kebahagiaan yang ia berikan hanya sementara. Saat semuanya berakhir, kebahagiaan itu akan sirna.
Maafkan aku, ayah, ibu. Maafkan aku karena telah memberikan harapan semu pada kalian.
"Ada apa? Apa kamu akan menemui kedua orang tuamu dengan wajah ditekuk seperti itu?" Sean menatap Kanaya yang terlihat tidak bersemangat. Langkah perempuan itu sedikit tertatih efek dari dari perbuatannya semalam.
Sudut bibir Sean tertarik ke atas saat mengingat kembali bagaimana permainannya semalam dengan perempuan yang baru genap sehari menjadi istrinya itu.
"Tersenyumlah! Atau kamu memang sengaja ingin menunjukkan pada keluargamu jika dirimu tidak bahagia menikah denganku?" Sean melirik ke arah wajah Kanaya yang masih terlihat mendung.
Sean tidak tahu apa yang dirasakan Kanaya saat ini. Pernikahan mereka berdua memang atas dasar paksaan.
Perempuan di sampingnya itu menikah dengannya demi memenuhi janjinya pada Sandra yang telah meminjamkan uang untuk biaya operasi ayahnya.
Sementara itu, Sean sendiri menikahi Kanaya karena ingin menuruti keinginan istri yang sangat dicintainya.
Pria itu tidak ingin istrinya bersedih jika ia tidak mengikuti kemauannya. Rasa cintanya terhadap Sandra membuat Sean mau melakukan apa pun untuk perempuan itu, termasuk mengikuti keinginan wanita yang dicintainya itu untuk menikah lagi dan memberinya keturunan yang lahir dari rahim perempuan lain.
Memang tidak masuk akal jika dicerna dengan akal sehat. Akan tetapi, Sandra menganggap semuanya begitu mudah baginya.
Tidakkah Sandra berpikir, jika keputusannya menikahkan aku dengan sahabat baiknya itu adalah keputusan yang nantinya bisa menjadi boomerang untuknya sendiri?
Sean menarik napas panjang. Semenjak menyentuh Kanaya, ia merasa tidak yakin dengan perasaannya sendiri.
Baru sehari Sean. Masih ada beberapa waktu ke depan. Jangan bilang, kalau hatimu saat ini luluh setelah menyentuh perempuan itu?
Kedua netra Sean kembali melirik ke arah Kanaya. Wanita itu terlihat tersenyum cantik saat mereka berdua sudah sampai di depan kedua orang tua Kanaya.
"Selamat pagi, Ayah, Ibu." Kanaya tersenyum mendekati ayah dan ibunya. Wanita itu meraih tangan Rianti dan Danu kemudian mencium punggung tangan kedua orang itu.
Sementara, kedua adiknya, Kanaya dan Juna meraih tangan Kanaya. Mereka berdua melakukan hal yang sama seperti yang Kanaya lakukan pada ayah dan ibunya.
Sean juga mengikuti istrinya. Pria itu juga menyalami Rianti dan Danu sambil menyunggingkan senyum di wajah tampannya.
"Maaf menunggu lama." Sean menatap kedua orang tua Kanaya dengan rasa bersalah. Pria itu kemudian menarik kursi, mempersilakan istrinya duduk terlebih dahulu.
"Tidak apa-apa. Kami juga baru saja sampai di sini." Danu tersenyum ke arah menantunya.
Kedua netranya menatap Sean dan Kanaya secara bergantian. Danu sungguh merasa bahagia bisa melihat putri tercintanya bahagia.
"Ayo kita makan." Kanaya menginterupsi.
Mereka semua kemudian mulai sarapan pagi mereka. Sesekali mereka tersenyum dan tertawa. Sean tersenyum, merasakan kehangatan di tengah-tengah keluarga Kanaya. Kehangatan keluarga yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak menikah dengan Sandra.
Setelah menikah, Sean tinggal bersama Sandra. Pria itu jarang pulang ke rumah orang tuanya. Kedua orang tuanya juga sangat sibuk, sehingga mereka pun jarang meluangkan waktu untuk bersama.
Sean tersenyum menatap satu persatu orang-orang penting dalam kehidupan istri keduanya. Kanaya, wanita itu bahkan rela berkorban menikah dengannya hanya demi membiayai operasi sang ayah.
"Setelah ini, apa rencanamu selanjutnya, Nay?" Danu menatap putri pertamanya itu dengan serius. Mereka semua sudah selesai sarapan pagi.
Kini, mereka semua sedang duduk bersantai. Rencananya, sebentar lagi keluarga Kanaya akan kembali pulang ke rumah mereka. Danu dan Rianti tidak ingin mengganggu bulan madu Kanaya dan Sean. Oleh karena itu, mereka ingin segera pulang ke rumah meninggalkan hotel mewah itu.
"Apa kamu akan tetap bekerja setelah ini?" Suara Danu kembali terdengar.
"Aku ingin tetap bekerja walaupun sekarang aku sudah menikah, Ayah. Biar bagaimanapun, aku tetap harus bertanggung jawab pada kalian." Kanaya menatap satu persatu orang-orang yang dicintainya itu.
"Aku akan tetap bekerja. Kayla dan Juna masih membutuhkan biaya yang banyak untuk pendidikan mereka, Ayah."
"Tapi, Naya–"
"Ayah jangan khawatir. Sean tidak akan melarangku bekerja. Dia sangat tahu keadaan kita. Iya, 'kan, Sayang?" Kanaya menatap Sean yang langsung menatapnya saat perempuan itu memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Te–tentu saja. Ayah dan Ibu jangan khawatir. Aku akan tetap mengizinkan Kanaya bekerja asalkan dia tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri." Sean tergagap saat senyum cantik Kanaya seolah menghipnotisnya.
"Aku akan menyuruh Kanaya bekerja di kantorku agar setiap hari aku bisa bersama dia." Tidak mau kalah dengan Kanaya, Sean pun berpura-pura bersikap manis di depan Kanaya agar Danu tidak curiga.
Laki-laki itu tersenyum menatap istri keduanya itu.
"Bekerja di kantor kamu?" Kanaya sangat terkejut mendengar ucapan Sean.
Apa dia sudah gila? Menyuruh aku bekerja di kantornya? Kalau kedua orang tuanya sampai tahu, rencana Sandra pasti akan berantakan.
Kanaya melirik Sean dengan kesal. Namun, detik berikutnya senyumannya kembali terbit saat sang ayah menatapnya.
"Sayang, apa kamu tidak berlebihan?" Kanaya menatap Sean. Kedua matanya memberi isyarat pada lelaki itu. Namun, sepertinya Sean tidak paham dengan isyaratnya.
"Aku tidak berlebihan. Aku serius ingin kamu bekerja di kantorku." Sean menatap Kanaya dengan wajah serius. Entah kenapa, saat ayah Kanaya membahas tentang pekerjaan, Sean justru mempunyai ide untuk mempekerjakan Kanaya di kantornya.
"Sayang aku–"
"Kamu bekerja di perusahaan milikku yang terletak tidak jauh dari rumah kita," potong Sean saat menatap Kanaya yang tampak tidak setuju dengan keputusannya.
Wanita itu mengerutkan kening mendengar ucapan suaminya.
"Kamu hanya tinggal mengatakan setuju atau tidak. Aku akan mengatur semuanya," ucap Sean dengan serius.
"Apa tidak sebaiknya kamu menuruti keinginan suamimu, Nay?" Suara Danu terdengar membuat Kanaya menelan kembali kata-katanya.
"Tapi, Ayah–"
"Tidak baik menolak keinginan suamimu, Nay," lanjut Danu menatap sang putri sambil mengusap rambutnya.
"Ayah ...." Kanaya menatap sang ayah dengan tatapan tak terbaca.
"Ayah titip Naya sama kamu, Sean. Bimbing dia agar bisa menjadi istri yang baik." Kedua netranya beralih ke arah Sean.
"Jangan sakiti putriku. Seandainya suatu saat kamu tidak menginginkannya lagi, kamu boleh mengembalikannya pada ayah, tapi ingat, jangan sesekali kamu menyakitinya, apalagi sampai memukulnya."
"Ayah ...." Sean tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat laki-laki paruh baya itu mengucapkan sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan kecuali saat Kanaya masih menjadi istrinya.
Dalam setahun ini mungkin Sean bisa melakukan keinginan mertuanya itu. Namun, setelah Kanaya hamil dan melahirkan, dirinya sudah pasti tidak akan bisa melakukan keinginan Danu.
"Aku akan menjaga Kanaya dengan baik, Ayah. Ayah tenang saja. Aku janji, aku tidak akan pernah menyakiti putri ayah." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Sean.
Pria itu sepertinya tidak sadar dengan ucapannya.
BERSAMBUNG ....
Author bawa karya punya temen lagi nih. Yuk, kepoin!
Blurb
Meskipun ayahnya seorang kaisar, Luxia harus tetap berhati-hati demi keselamatannya dari musuh yang siap menyerang dan mengendalikan kekuatan yang dia miliki, agar tidak berubah menjadi iblis sang penghancur dunia apa yang harus Luxia lakukan?
Akan tetapi dengan kemampuan yang dia miliki, meski banyak ancaman yang datang kapan saja apakah Luxia akan berhasil menyelamatkan dirinya dari seorang yang berniat jahat?
Berhasilkah Luxia menyelamatkan dunia dan tidak harus menjadi seorang iblis penghancur?
Apakah yang akan Luxia hadapi nanti? dan bagaimana cara Luxia menyelamatkan dunia dan menjaga dirinya agar tak menjadi iblis sang penghancur? saksikan perjalanan Luxia