Perusahaan keluarga nyaris bangkrut, keuangan menipis lantaran terbiasa hidup mewah.Nabila harus menerima takdir Siska menolak dijodohkan dengan pak tua mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. Demi keluarga dia rela berkorban, dia rela di gadaikan, dinikahkan dengan pak tua mesum ituh yang terkenal kaya raya. Namun ituh tidak menujukan dirinya, sebelum hari penikahan mereka tiba. Sosoknya yang misterius dan selali sembunyi di balik kamera,akhirnya terungkap saat ia menikahi Nabila dengan cara hormat. " Kk-kamu.... masih muda? " tanya Nabila dengan polosnya. " kamu kira saya sudah tua gituh? " Nabila menggeleng panik. " tapi kata kaka siska, kamu orang tua yang mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. "Ituh hanya rumor palsu tentang saya, kamu jangan percaya rumor sebelum kamu liat langsung sendiri buktinya. "Apakah Nabila yang selalu menderita bisa hidup bahagia setelah menikah dengan suaminya Devan? Ataukah Siska akan menjadi duri dalam penikahan Nabila dan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Nabila menatap puas pada tumpukan buku yang ada di kursi mobil bagian belakang. Dia menoleh ke arah Devan yang sedang mengemudikan mobil dengan kecepatan pelan. Tatapan suaminya fokus ke jalanan.
"Kakak hari ini baik banget, ya?" pujinya, tulus sekaligus curiga.
Devan biasanya tidak pernah mengajaknya keluar rumah, tapi hari ini, selain mengajaknya ke toko buku dan nyaris membuat Nabila tidak bisa bernapas karena malu, dia juga membawa Nabila ke toko pakaian dan membelikan beberapa pasang pakaian tidur dan pakaian santai.
Dia tidak tahu maksud suaminya apa sampai membiarkan Nabila a menghabiskan uangnya hari ini. Namun ia berharap, Devan tidak akan meminta sesuatu yang belum bisa Nabila beri.
"Rencananya, aku mau membawamu ke taman bermain," kata-kata Devan membuat Nabila memandangnya horor, "tapi Mommy mau kamu ada di rumah sebelum jam tiga sore, jadi aku harus membawamu ke sana sekarang."
"Mommy?" Nabila mengerutkan dahi. "Kita akan ke tempat Momnyy, Kak?"
"Pulang ke rumah orang tuaku lebih tepatnya. Sudah lama kamu menjadi istriku, tapi aku belum pernah mengenalkanmu pada keluargaku. Sepertinya, ini waktu yang tepat untuk membiarkanmu dekat dengan mereka." Devan berdeham pelan.
"Aku punya satu adik perempuan, dia lebih tua darimu, tapi kamu tetap harus memanggilnya adik ipar. Namanya Mika. Daddy mungkin terlalu dingin untuk seorang ayah, tapi dia orang yang baik, jangan takut padanya."
Nabila hanya menganggukkan kepala. Dia sendiri sudah mengenal Widya yang sangat menyenangkan.
Pembawaannya begitu hangat dan membuat Nabila kadang lupa bahwa Widya adalah mama mertuanya, bukannya sahabatnya. Jadi, ketika Devan mengatakan papanya lebih dingin, dia merasa ada sesuatu lengkap. Satunya begitu hangat dan satunya dingin.
Jika diingat-ingat pun, Devan cukup dingin terhadap orang lain, terutama pada keluarga angkat Nabila. Dia merasakan sebuah dinding yang sengaja Devan bangun agar tak ada satu pun keluarga angkatnya yang bisa mengusik pria itu.
Mobil berbelok memasuki pekarangan. Devan mematikan mesin dan mengajak Lilya keluar. "Tinggal saja bukunya, bawa pakaian tidur saja ke atas."
"Ta-tapi ...."
"Kenapa?" Devan berhenti membuka pintu mobil.
"Bajunya, kan, belum dicuci," katanya, malu.
"Nggak apa-apa, kamu nggak akan alergi pakai pakaian baru, kan?" tanya Devan sembari mendelik ke arahnya.
"Enggak, sih, tapi aromanya--"
"Tidak masalah, aku bisa menolerirnya. Walaupun kamu tidak mau mandi juga, aku akan menolerir aroma apa pun yang keluar dari tubuhmu."
Nabila mendelik. Dengan kata lain, Devan baru saja mengatainya jarang mandi dan bau. Kurang ajar sekali! Namun, Devan melenggang santai keluar dari mobil. Laki-laki itu bahkan repot-repot menghampiri Nabila dan membukakan pintu untuknya. Nabila mencebikkan bibirnya.
"Aku bisa sendiri," gumamnya dengan bibir maju dua senti.
"Jangan banyak protes."
Setelahnya, Devan membawa Nabila naik ke sebuah kamar yang dulu selalu ia tempati. Rumah masih sepi, adiknya biasa kelayapan ke kantor menemani kekasihnya sampai lupa jam pulang, ayahnya jelas masih bekerja, Widya pun masih di restoran. Devan hafal jadwal mereka, tapi dia tetap membawa Nabila ke sana sebelum pukul tiga, sesuai titah ibunya.
Kamar dipenuhi mainan mobil-mobilan dari segala ukuran menyapa Nabila. Nabila tertegun melihat mobil mainan yang banyak di kamar itu. Dia bahkan mengira salah masuk kamar, karena tidak mungkin, kan, Devan yang dewasa dan macho ternyata menyimpan semua koleksi mobil mainan di masa kecilnya?
"Kenapa?" tanya Devan seraya menatap Lilya yang berhenti membatu di pintu masuk kamarnya.
“Ini kamar, Kakak?"
Devan menatap mobil-mobil yang tersusun rapi dan bersih di almari, sebelum menganggukkan kepala. "Iya, ini kamarku sejak kecil." Devan kemudian mendengkus atas pemikirannya sendiri setelah Nabila melihat semua ini. "Jangan menyuruhku membuang semua mobil itu, karena aku tidak akan pernah melakukannya."
"Kenapa?" Nabila terdengar seperti seorang istri yang sedang memprotes keinginan suaminya.
"Karena lumayan. Kalau anak kita nanti laki-laki, dia pasti mau memainkan semua kenangan masa Kecilku ini. "
Lilya tertegun mendengarnya.
Anak kita nanti?
Kapan, dia melahirkan anak, jika membuatnya saja belum pernah?
Nabila menelan ludah susah payah saat Devan menatapnya penuh makna. "Otak mesummu pasti bekerja dengan baik, aku tidak meragukannya, tapi tahan pikiranmu, karena aku tidak akan menghamilimu sebelum lulus SMA."
Nabila terdiam cukup lama. Kepalanya menoleh, memandangi koleksi mobil-mobilan Devan di lemari. Dari mobil biasa sampai mobil polisi, mobil pemadam kebakaran, taksi, dan masih banyak lagi.
"Apa ... aku masih boleh kuliah, Kak?"
"Hm."
Nabila menoleh, matanya melotot melihat Devan melepas kemejanya dan membuangnya ke keranjang yang sepertinya biasa diisi pakaian kotor dengan santai. Tanpa menoleh sama sekali, Devan membuka almari, mencari sebuah kaus santai dan mengenakannya dengan gerakan yang membuat Nabila tanpa sadar menelan ludahnya susah payah.
Otot-otot punggung itu memang tidak terlalu besar seperti punya binaragawan, tapi entah mengapa itu terlihat pas. Apalagi, ini kali pertama dia melihat punggung telanjang seorang pria dewasa.
Devan menoleh, dia melihat Nabila yang tidak berkedip menatap ke arahnya. "Menikmati pemandanganmu, hm?"
Nabila tersentak, dia membuang muka, pipinya memanas, bahkan sampai seluruh wajahnya terasa terbakar.
Makan malam itu dihadiri oleh enam orang. Jika Devan tidak mengatakan bahwa adiknya seorang perempuan, maka dia akan berpikir pria yang duduk berseberangan dengannya adalah salah satu adik suaminya juga.
Nabila ingat pernah melihat pria itu di pesta pernikahannya, tapi dia merasa tidak nyaman dengan tatapan pria itu saat menatapnya. Ada sesuatu yang membuatnya gusar, bahkan di bawah pengawasan papa dan mama mertua yang sejak tadi meliriknya pun, NABILA tidak bisa menghapus kegusaran di tempat duduknya. "Maaf," gumamnya begitu pelan.
"Kenapa?" tanya Devan cepat.
"Apa kamu tidak suka makanannya?"
Nabila menggeleng cepat, takut membuat suaminya khawatir. "Mungkin, karena tidak terbiasa makan bersama seperti ini."
Devan menghela napas kasar. Tatapannya berpindah pada Gavin, tunangan adiknya yang kini tersenyum tipis sembari menelan makanannya. Bukan hanya Nabila yang merasakannya, tapi Devan yang duduk di sebelah Nabila pun merasakan hal yang sama.
Mika menyiku lengan tunangannya. "Mau nambah?"
Gavin menggeleng. "Enggak, deh, terima kasih." Dia menatap Devan dan Nabila secara bergantian dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.
Ethan berdeham untuk menarik perhatian di meja makan. "Kalian akan menginap, kan?" tanyanya. Nada suaranya memang datar, tapi Nabila bisa merasakan adanya harapan di baik kalimatnya.
"Ya, Nabila sudah membawa pakaian ganti, mungkin kami akan menginap beberapa hari," jawab Devan santai.
"Bagus, tuh!" seru Mika dengan mata berbinar-binar. "Aku mau bicara banyak hal sama kakak ipar, boleh, ya, Kak?"
Devan mengering tidak suka, tapi dia tetap menganggukkan kepala. "Kalau Nabila mau, kenapa tidak?"
"Yes!"
Kegirangan putrinya membuat Widya menatap Mika dengan tatapan tajam. "Kamu jangan macam-macam, bagaimanapun juga Nabila masih kecil."
"Nggak akan macam-macam. kok, Mom. Cuma satu macam aja, iya, nggak, Kak?" Mika mengedipkan sebelah matanya dan membuat
Nabila menatapnya dengan wajah bertanya-tanya. Apa maksud kedipan matanya itu?
"Kamu nggak lupa besok ada janji sama aku, kan?" Suara Gavin yang tiba-tiba membuat Mika meringis, lalu tersenyum masam.
"Apa nggak bisa ditunda?" tanyanya, sembari menatap tunangannya dengan wajah
memohon dengan sangat.
"Nggak." Gavin tersenyum manis.
"Kalau kamu nggak bisa pergi, aku akan ikut menemani kalian bicara di sini, bagaimana?"
Nabila menelan ludah susah payah. Apa yang direncanakan laki-laki itu padanya? Dia menatap Devan yang terlihat menatap nyalang pria yang berada berseberangan dengannya. Apakah ada sesuatu yang disembunyikan Devan soal pria itu dari keluarganya?
"Oke, deh, aku juga kangen. Kamu baru balik dari luar kota, kan? Udah lama nggak pernah ketemuan."
Devan menghela napas kasar.
Dia pun berdiri dan pamit dari meja makan, diikuti Nabila dengan langkah tergesa-gesa.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote, dan komentar yang positif. Terimakasih, kalau mau ngasih kritik dan saran juga boleh, itu bagus. Jadi saya tahu mana yang salah dan mana yang benar. Salam hangat dari saya. 🤗
Oh iya, kalau mau lebih dekat dengan sang penulis, teman-teman bisa Follow ig aku @Aisyahsnisa.07atau fb aku Aisyahanisa
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...