Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Ketika Ketulusan Membentur Dinding Harga Diri
Keheningan malam di taman kota Bandung terasa kian pekat dan menusuk. Lampu-lampu merkuri yang memancarkan cahaya kekuningan di atas kepala mereka seolah menjadi saksi bisu atas drama tak bersuara yang sedang berkecamuk di dalam dada Rahmi. Gadis tomboi itu masih memalingkan wajahnya, menolak menatap Alan yang berada tepat di sampingnya. Ia bisa merasakan dadanya naik-turun dengan tidak teratur, menahan gelombang sesak yang kian lama kian membumbung tinggi hingga ke tenggorokan.
Lalu, dalam sunyi yang mencekik itu, Rahmi terdiam. Sensasi hangat yang teramat asing—namun kini kian akrab—mulai merayap di sepanjang sudut matanya. Air hangat itu keluar begitu saja tanpa bisa ia perintah, mengalir lambat melewati pipinya yang mendadak terasa dingin dihantam angin malam.
Dinding pertahanan yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan kedok sahabat yang tangguh dan bermulut ketus, runtuh dalam sekejap hanya karena ketidakpekaan Alan yang teramat akut.
'Kenapa... kenapa air mata ini gak bisa gue tahan lagi?' ratap Rahmi dalam batinnya yang paling sunyi. Jiwanya merintih kesakitan, teriris-iris oleh kenyataan yang baru saja ia dengar dari mulut pemuda di sebelahnya. 'Setelah gue tahu apa yang dimaksud Alan... setelah gue tahu ke mana arah detak jantung kosong yang dia omongin tadi... hati gue rasanya hancur. Gue tahu yang lu maksud itu Bunga, Lan. Gue tahu cewek yang bisa bikin lu bingung, cewek yang bisa bikin jantung lu berdebat hebat sampai lu ngerasa hampa karena ngerasa gak pantes, itu Bunga. Bukan gue. Selamanya bukan gue.'
Rasa cemburu yang bercampur dengan rasa tidak berdaya meremukkan hati Rahmi menjadi serpihan terkecil. Ia tahu Bunga adalah gadis yang baik, cantik, dan berasal dari Fakultas Manajemen yang terpandang. Sangat cocok disandingkan dengan siapa saja. Namun tetap saja, melihat posisi dirinya yang selalu ada di setiap masa sulit Alan namun tak pernah bisa menggeser posisi Bunga di hati pemuda itu, membuat Rahmi merasa menjadi manusia paling malang malam ini.
Sebelum Alan menyadari kerapuhannya, Rahmi bergerak cepat. Dengan gerakan yang sengaja dibuat kasar, ia mengangkat tangan kanannya dan menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya menggunakan punggung jaket jeans-nya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menetralkan getaran di suaranya.
Sementara itu, Alan masih setia pada posisinya. Cowok itu seolah terserap masuk ke dalam dimensi lain. Matanya masih menatap lurus ke atas, memandang langit malam yang kini pekat tanpa bintang, sama sekali tidak menoleh atau melihat ke arah Rahmi yang baru saja menyeka air mata kesedihan. Otak Alan masih dipenuhi oleh kalkulasi rumit tentang masa depannya, tentang status ekonominya, dan tentang bagaimana ia harus memposisikan diri di hadapan Bunga besok.
Rahmi berdeham pelan, mencoba mengembalikan suaranya agar terdengar tegar sebelum ia membuka percakapan kembali. Ia ingin mengalihkan fokus Alan dari kegundahan yang tak berujung itu.
"Semuanya tergantung usaha lu sendiri dan gimana takdir yang membawa kita, Lan," ucap Rahmi pelan, namun sarat akan ketegasan yang dipaksakan. Ia kembali menatap jalanan di depan mereka. "Gue yakin, semua orang punya kesempatan untuk merubah masa sulit menjadi ringan di masa yang akan datang. Hidup ini roda berputar, gak selamanya lu bakal ada di bawah terus, jadi kuli di kafe terus. Dan kita emang gak tahu kapan atau gimana catatan dalam takdir itu bakal kebuka buat kita. Tugas lu sekarang cuma jalanin aja dulu, jangan banyak ngeluh."
Mendengar petuah dari sahabatnya, Alan akhirnya mengeluarkan suara dari mulutnya. Ia menarik pandangannya dari langit, meluruskan lehernya yang mulai terasa pegal, lalu menoleh sekilas ke arah Rahmi dengan senyum getir yang menghiasi bibirnya.
"Iya, Mi," sahut Alan, suaranya terdengar berat dan lelah. "Sebenarnya gue gak maksud buat ngeluh ke lu. Gue tahu ngeluh gak bakal ngerubah isi dompet gue atau bayar kosan bulan depan. Tapi... kadang gue ngerasa iri aja. Kesempatan buat gue kok kayak yang belum dateng-dateng terus, ya? Kayak takdir lagi hobi banget ngetes batas sabar gue. Tapi ya sudah lah, gak ada gunanya juga disesali."
Alan memajukan tubuhnya, menopang kedua sikunya di atas lutut, mempertemukan kedua telapak tangannya yang terasa dingin. "Sebenarnya... gue lagi cari cara buat ngumpulin modal buat buka usaha sendiri, Mi. Gue gak mau selamanya jadi pegawai. Gue pengen punya sesuatu yang bisa gue banggain, sesuatu yang bisa ngejamin hidup emak sama adik gue di kampung secara konisten. Tapi... ya sekarang masih tahap penghitungan modal juga sih, masih coret-coret di kertas buram soal berapa kebutuhan riilnya."
Rahmi terdiam, matanya tidak beralih dari wajah Alan yang kini tampak begitu serius dari samping. Di bawah cahaya lampu taman, Rahmi bisa melihat beban berat yang terpahat jelas di kening pemuda itu. Rasa sayang yang teramat besar di dalam dadanya kembali membuncah, mengalahkan rasa sakit hati yang baru saja ia rasakan.
'Gue bisa bantu lu, Lan...' bisik batin Rahmi dengan penuh ketulusan. 'Gue bisa bantu lu dalam diam gimana pun caranya. Uang tabungan gue dari bokap lebih dari cukup buat modal awal lu buka usaha apa pun yang lu mau di Bandung ini. Atau... atau gue bisa pake cara yang biasa, gue minta bantuan lagi ke Bang Hendri biar dia pura-pura nawarin kerja sama franchise atau modal usaha buat lu, jadi lu gak bakal tahu kalau duit itu dari gue. Gue tahu banget sifat lu, Lan. Kalau gue ngasih duit itu langsung ke elu, harga diri lu yang setinggi langit itu pasti bakal berontak, dan lu pasti langsung nolak duit pemberian gue karena lu gak mau ngerasa dikasihani sama cewek.'
Rahmi menimbang-nimbang keputusannya selama beberapa detik. Rasa ingin membahagiakan Alan dan meringankan bebannya saat ini begitu mendesak, hingga ia mengabaikan sejenak rasa gengsinya sendiri. Ia memutuskan untuk mencoba menawarkan bantuan itu secara langsung, meski dengan kalimat yang hati-hati.
Rahmi menarik napas, lalu mencoba berkata dengan nada sesantai mungkin, "Emang... lu butuh modal berapa, Lan? Gue bisa—"
Namun, sebelum Rahmi sempat menyelesaikan perkataannya, sebelum kata "bantu" atau "pinjemin" keluar dari bibirnya, Alan tiba-tiba memutar tubuhnya dan menatap langsung ke arah mata Rahmi. Gerakan Alan yang mendadak itu seketika memotong kalimat Rahmi di udara. Tatapan mata Alan terlihat sangat tajam, serius, dan sarat akan penolakan yang tegas.
"Gak, Mi," potong Alan dengan suara yang rendah namun telak, tidak memberikan celah sedikit pun bagi Rahmi untuk bernegosiasi. "Sekarang gue mau coba ngumpulin sendiri aja pake keringat gue. Gue gak mau ngerepotin siapa-siapa lagi, termasuk elu. Kalo emang gue punya niat buat ngandelin duit orang lain, mah dari kemarin-kemarin gue udah minjem sama elu, Randi, atau Ardi. Tapi gue gak mau kayak gitu. Gue mau usaha ini bener-bener mulai dari nol dari hasil kerja keras gue sendiri."
Kalimat Alan terdengar seperti hantaman palu yang mengunci sebuah keputusan. Rahmi seketika terdiam. Bibirnya kembali terkatup rapat.
'Sesuai dugaan gue...' desah Rahmi dalam batinnya, ada rasa kecewa namun juga rasa kagum yang getir terhadap prinsip hidup Alan. 'Lu pasti langsung nolak. Lu terlalu keras kepala kalau menyangkut harga diri lu sebagai laki-laki di depan gue. Padahal gue tulus, Lan... gue gak pernah mikir lu bakal berutang budi sama gue.'
Suasana di antara mereka kembali hening selama beberapa saat. Alan masih menatap wajah Rahmi dari jarak yang cukup dekat. Namun, setelah kepanikannya mereda dan sisa-sisa amarahnya menguap, mata Alan yang jeli mulai menangkap sesuatu yang aneh pada wajah sahabatnya itu.
Cahaya lampu taman yang kekuningan menyoroti sepasang mata Rahmi dengan jelas. Alan menyipitkan matanya, mengamati lekat-lekat area sekitar kelopak mata Rahmi yang tampak basah dan memerah, kontras dengan warna kulit wajahnya.
Alan terdiam sejenak melihat mata Rahmi yang tampak sembab itu, lalu bertanya dengan nada heran yang spontan, "Mata lu... mata lu kenapa, Mi?!"
Rahmi tersentak kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Ia panik, takut setengah mati kalau-kalau Alan menyadari bahwa dirinya baru saja menangis gara-gara memikirkan pemuda itu dan Bunga.
"Eh?!" Rahmi meraba matanya dengan gelagapan, mencoba memalingkan wajahnya lagi dengan kikuk. "Ini... ini gak apa-apa, kok! Ini tadi... mata gue kelilipan, Lan! Iya, kelilipan debu jalanan tadi pas ada motor ngebut lewat depan taman. Makanya agak perih."
Mendengar alasan Rahmi, insting protektif Alan sebagai seorang sahabat karat selama bertahun-tahun langsung keluar tanpa bisa dicegah. Tanpa berpikir panjang, dan murni didorong oleh rasa khawatir yang tulus, Alan bergerak maju mendekati posisi Rahmi.
Set.
Secara refleks, Alan mengangkat kedua tangannya. Telapak tangannya yang besar dan kasar namun terasa hangat itu menyentuh dan memegang kedua sisi wajah Rahmi dengan teramat lembut. Ibu jarinya bertumpu di bawah tulang pipi Rahmi, memosisikan wajah gadis itu agar menghadap lurus ke arahnya secara penuh.
"Pantes mata lu agak merah," ucap Alan pelan, suaranya terdengar begitu dekat. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa puluh sentimeter saja. "Sini... diem dulu, jangan kedip. Gue tiupin biar debunya keluar."
Deg.
Tubuh Rahmi seketika membeku, kehilangan seluruh daya geraknya. Ia terdiam seribu bahasa, matanya membelalak menatap lurus ke dalam manik mata Alan yang sedang memandang matanya dengan fokus tingkat tinggi. Sentuhan tangan Alan di kulit wajahnya terasa begitu nyata, begitu hangat, hingga rasanya sanggup melelehkan seluruh salju di kutub utara.
Ini adalah kali pertama dalam sejarah persahabatan mereka, Alan memegang wajah Rahmi dengan cara selembut dan seintim ini. Biasanya, interaksi fisik mereka tidak jauh dari saling tabrak bahu, menjitak kepala, atau rangkulan persahabatan yang kasar di koridor kampus bersama Randi dan Ardi. Tapi malam ini, kelembutan tangan Alan di wajahnya membuat Rahmi merasa dunianya benar-benar jungkir balik.
Rahmi menahan napasnya, tidak berani mengembuskannya karena takut hawa napasnya akan mengenai wajah Alan. Hatinya kembali berdegup dengan ritme yang menggila, memancarkan rasa manis yang teramat singkat sebelum akhirnya berubah menjadi rasa perih yang teramat dalam.
Sementara itu, Alan masih sibuk melihat-lihat dan mengamati mata Rahmi yang memerah, mencari di mana letak debu yang katanya membuat gadis itu kelilipan. Namun, seiring berjalannya detik yang terasa melambat, udara malam yang dingin bertiup melewati mereka, membawa kesadaran Alan kembali ke permukaan secara paksa.
Alan mengerjapkan matanya. Fokusnya bergeser dari pupil mata Rahmi menuju ke seluruh wajah gadis itu. Ia baru sadar bahwa ia sedang memegangi wajah Rahmi dengan kedua tangannya sendiri dengan posisi yang sangat ambigu untuk ukuran dua orang sahabat yang selalu mengaku "tidak punya perasaan".
Detik itu juga, petir kesadaran menyambar otak Alan.
'Eh... ini... ini gue kenapa megang-megang wajah si Rahmi lagi?!' pekik batin Alan dengan kepanikan luar biasa yang kembali membakar habis sisa kewarasannya malam ini. Mata Alan membelalak kaget saat menyadari posisinya. 'Sialan nih tangan! Kenapa dari tadi gak bisa gue kontrol sama sekali kalau di dekat si Rahmi?! Tadi megang tangan nempelin ke dada, sekarang malah megang muka orang kayak di film-film romantis! Gila lu, Alan! Lu bisa dianggap mesum atau aneh sama dia!'
Rasa malu yang luar biasa hebat kembali menyerang Alan, membuat warna merah di pipinya kian pekat. Dengan gerakan yang teramat kikuk dan terburu-buru, Alan menarik kembali kedua tangannya dari wajah Rahmi, lalu memundurkan tubuhnya kembali ke posisi semula dengan gelisah. Ia berdeham berkali-kali untuk menutupi kegugupannya yang sudah berada di level akut.
"Eh... s-so... sorry, Mi," ucap Alan dengan suara terbata-bata yang sangat payah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuang muka ke arah lain. "Gue... gue gak maksud apa-apa. Refleks doang tadi karena lu bilang kelilipan."
Rahmi, yang wajahnya juga sudah memerah padam hingga ke ujung telinga, mencoba mati-matian menguasai keadaan agar kecanggungan ini tidak membunuh mereka berdua di tempat. Ia mengusap wajahnya sendiri, berpura-pura mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat untuk mencairkan suasana yang sempat membeku.
"Gue... gue udah gak kelilipan kali, Lan," sahut Rahmi, suaranya diusahakan terdengar ketus dan galak seperti biasanya, meskipun getaran gugup masih tersisa di sana. Ia mendengus kasar untuk menutupi debaran jantungnya yang masih belum mau melambat. "Lama banget lu niupnya, keburu buta mata gue yang ada."
Mendengar balasan Rahmi yang kembali galak, Alan menghela napas lega dalam hati. Setidaknya sahabatnya itu tidak mengamuk atau menghajarnya karena kelancangan tangannya tadi. Suasana canggung itu perlahan mulai terkikis oleh kembalinya persona asli mereka masing-masing.
Rahmi melirik jam digital di layar ponselnya sejenak. Angka yang tertera menunjukkan bahwa waktu sudah beranjak semakin malam. Udara taman pun kian tidak ramah bagi tubuh Alan yang sudah kelelahan seharian penuh. Selain itu, ada satu kenyataan pahit lagi yang harus Rahmi sampaikan, kenyataan yang sejak sore tadi terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
"Lu mau pulang kapan, Lan?" tanya Rahmi, suaranya melembut namun menyiratkan ada rasa perih yang tertahan di sana. "Ini udah bentar lagi malem, anginnya gak bagus buat badan lu yang capek itu. Lagian... bukannya besok lu ada janji mau main sama si Bunga?"
Rahmi mengucapkan nama 'Bunga' dengan segenap kekuatan yang tersisa di dalam dadanya. Kalimat itu terasa seperti menelan duri tajam yang menyobek tenggorokannya sendiri.
'Iya, Lan...' bisik batin Rahmi dengan sangat perih, matanya menatap rumput di bawah kaki mereka dengan pandangan kosong. 'Besok lu bakal jalan sama Bunga. Lu bakal habisin waktu seharian penuh sama dia, senyum sama dia, ketawa sama dia. Dan waktu lu buat gue... waktu lu buat nongkrong gak jelas sama gue, Randi, dan Ardi besok bakal gak ada. Lu bakal sibuk di dunia lu yang baru bersama cewek yang lu taksir.'
Alan menoleh, sedikit terkejut karena Rahmi tahu soal rencana janjinya dengan Bunga besok. Namun ia segera ingat bahwa di fakultas mereka, berita atau obrolan sekecil apa pun di antara lingkaran pertemanan mereka pasti akan bocor, entah lewat Randi yang bermulut ember atau Ardi yang hobi memantau situasi.
Alan mencoba bersikap biasa saja, menyembunyikan binar bahagia yang sempat melintas di matanya saat mendengar nama Bunga disebut.
"Lah, lu sendiri juga kapan mau pulang?" balas Alan, melempar kembali pertanyaan itu pada Rahmi. "Malah nanyain gue."
Rahmi mendengus, menatap Alan dengan tatapan 'lu-bego-atau-gimana' yang biasa ia tunjukkan di kampus. "Kalo gue pulang sekarang, makanya gue tanya juga, bego! Biar sekalian barengan jalannya ke parkiran depan," semprot Rahmi dengan nada kesal yang dibuat-buat.
Alan terkekeh pelan melihat reaksi galak Rahmi yang sudah kembali 100%. "Ya sudah, gue juga mau balik ke kosan sekarang. Badan gue udah serasa mau rontok semua ini. Ngomong-ngomong... lu ke sini bawa mobil kan, Mi?"
Rahmi berdiri dari bangku taman, merapikan jaket jeans-nya yang sempat kusut karena posisi duduknya tadi. Ia menatap Alan dengan satu alis terangkat tinggi, kembali ke mode preman kampus andalannya.
"Gak, Lan. Gue ke sini bawa becak!" sahut Rahmi dengan nada sarkasme tingkat tinggi yang sukses membuat Alan menggeleng-gelengkan kepala. "Ya iya lah bawa mobil, kampret! Terus gue ke sini emangnya jalan kaki dari rumah apa? Naik angkot malam-malam gini? Mikir dong, anak Akuntansi kok logikanya eror gitu."
Alan ikut berdiri dari bangku taman, menenteng kotak makan plastiknya yang sudah kosong serta kaleng soda penyok miliknya. "Wuih... galak amat lu, Mbak. Sensitif bener kayak ibu-ibu kosan lagi nagih duitan bulanan. Ya sudah, hati-hati di jalan lu bawa mobilnya. Jangan ngebut-ngebut, Bandung kalau malam minggu gini macetnya suka gak ngotak."
Rahmi tidak membalas ejekan Alan dengan kata-kata lagi. Ia membalikkan badannya, bersiap melangkah menuju area parkir tempat mobilnya berada. Namun setelah berjalan beberapa langkah, ia menghentikan kakinya, menoleh ke belakang menatap Alan yang masih berdiri di dekat bangku taman.
"Gue duluan ya, Lan," ucap Rahmi pelan. Ia mengangkat tangan kanannya, melambaikan tangannya ke arah Alan dengan senyum tipis—senyum yang menyimpan sejuta rasa sakit yang tidak akan pernah Alan sadari.
Alan tersenyum, mengangkat tangannya yang bebas dan membalas lambaian tangan Rahmi dengan santai. "Yo! Hati-hati, Mi!" seru Alan setengah berteriak.
Rahmi berbalik sepenuhnya dan berjalan menjauh, punggungnya perlahan menghilang di balik rimbunnya pepohonan taman kota, membawa pergi seluruh debaran pahit yang menyiksanya sepanjang sore ini.
Setelah memastikan Rahmi sudah aman menuju mobilnya, Alan segera melangkah ke arah motor sport tua kesayangannya yang terparkir di sudut luar taman. Ia memakai helmnya, menyalakan mesin motor yang mengeluarkan suara menderu khas, lalu membelah jalanan kota Bandung yang mulai dipadati oleh sepasang kekasih yang ingin menikmati malam minggu.
Hanya butuh waktu beberapa puluh menit bagi Alan untuk menembus kemacetan sebelum akhirnya roda motornya berbelok memasuki gang sempit tempat kosannya berada. Kosan khusus mahasiswa berbiaya murah yang dindingnya sudah banyak yang mengelupas.
Alan memarkirkan motornya di halaman depan yang sempit, melepas helm, dan berjalan gontai menuju kamarnya yang berada di lantai satu. Namun, langkah kakinya terhenti sejenak saat melewati area tengah kosan.
Pintu kamar kos milik Randi dan Ardi yang terletak tidak jauh dari kamarnya tampak terbuka lebar. Dari dalam kamar yang berantakan dengan tumpukan buku akuntansi dan baju kotor itu, terdengar suara musik dangdut dari speaker laptop yang disetel dengan volume tidak tahu diri, berpadu dengan suara tawa membahana dari Randi dan Ardi yang tampaknya sedang asyik bermain game PES di Playstation sewaan mereka.
"Woi!!" teriak Alan dengan suara lantang dari ambang pintu, wajahnya ditekuk kesal karena kepalanya yang pusing butuh ketenangan. "Berisik, kampret! Tutup tuh pintu kamar lu pada! Berisikin tetangga sebelah aja lu pada! Ini udah malam, malam minggu bukan berarti lu bisa konser gratis di sini!"
Mendengar semprotan dari Alan, Randi langsung menoleh dari layar TV sambil memegang stik PS-nya. "Yaelah, si bos baru pulang kerja langsung sensi amat kayak perawan telat bulan! Santai napa, Lan! Sini gabung, taruhan nih gue sama si Ardi siapa yang kalah bayar mie dok-dok depan gang!"
"Gak! Gue mau tidur, capek!" tolak Alan ketus.
Ardi ikut menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Tidur apa tidur, Lan? Apa lagi mikirin jadwal nge-date besok sama si bidadari Manajemen? Hahaha! Bilang aja lu grogi!"
Alan tidak meladeni ledekan kedua sahabat somvlak-nya itu. Ia hanya mendengus kasar, lalu membalikkan badan menuju kamarnya sendiri yang berada tepat di sebelah mereka. Ia membuka pintu kamarnya, masuk ke dalam, lalu mengunci pintu itu rapat-rapat, memblokir sebagian suara bising dari kamar sebelah.
Alan meletakkan tas dan kotak makannya di atas meja belajar kecilnya yang berdebu. Tubuhnya terasa lengket dan gerah. Tanpa membuang waktu, ia mengambil handuk dan segera membersihkan diri di kamar mandi kosan yang sempit dengan air dingin Bandung yang menusuk tulang. Setidaknya, air dingin itu berhasil menyegarkan kembali tubuh dan pikirannya yang sempat korsleting di taman tadi.
Selesai mandi dan berganti pakaian kaus oblong putih polos serta celana pendek santai, Alan langsung mengempaskan tubuh lelahnya ke atas kasur lantai tipis miliknya yang sudah mulai kempes. Ia menghela napas panjang, merasakan punggungnya yang akhirnya bisa beristirahat di permukaan yang rata.
Alan meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di samping bantal. Layar ponselnya menyala, menampilkan beberapa notifikasi yang masuk sejak ia berada di motor tadi.
Mata Alan yang tadinya sayu karena mengantuk, seketika berbinar cerah saat melihat nama pengirim pesan di bilah notifikasinya.
Ada 3 pesan baru yang masuk dari satu nama: Bunga.
Alan dengan cepat membuka kunci layarnya dan membaca deretan pesan singkat bernada ceria yang dikirimkan oleh gadis itu.
***Bunga** : Lan, besok jadinya kita kumpul jam berapa?
Bunga : Jangan kesiangan yaa!
Bunga** : Oiya, Sampai ketemu besok pagi*.
Membaca pesan-pesan interaktif dari Bunga itu, senyum lebar yang teramat sangat tulus dan bahagia langsung mengembang sempurna di bibir Alan. Rasa lelah, pusing, keputusasaan soal ekonomi, hingga kejadian salah tingkah bersama Rahmi di taman kota beberapa jam yang lalu seolah menguap tak berbekas dari kepalanya. Seluruh sel di tubuhnya mendadak dipenuhi kembali oleh energi baru yang meletup-letup.
Alan memeluk ponselnya di atas dada, menatap langit-langit kamar kosnya dengan tatapan penuh angan-angan indah. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan wajah Bunga yang tersenyum manis menyambutnya besok pagi. Bagi Alan, Bunga adalah satu-satunya cahaya terang yang bersinar di tengah kegelapan hidupnya yang serba kekurangan saat ini. Dan ia tidak sabar menunggu hari esok berganti.