Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketauan
Jam pertama kelas Clarinda ternyata kosong.
Guru sejarah sedang mewakili rapat di sekolah lain sehingga murid hanya diberi tugas.
Seperti biasa jika tiada guru...
Kelas berubah jadi pasar.
Ada yang tidur.
Ada yang selfie.
Ada yang bergosip.
Ada yang ke kantin.
Ada yang main kartu, main hp entah main apa lagi.
Clarinda memilih tetap di kelas bersama Arin sambil mengerjakan tugas meski setengah hati.
Arin melirik sahabatnya heran. “Tumben Lo nggak ke kantin.”
“Males. Udah sarapan.”
Arin mendekat sedikit. Tatapannya menyipit curiga.
“Lo ada hubungan apa sama Pak Zavian?”
Deg.
Clarinda hampir menjatuhkan pulpennya.
“Hah? Ngaco Lo.”
“Gak usah pura-pura beg0 deh.”
Arin sudah kenal Clarinda sejak SMP. Tak mudah untuk dikelabuhi. “Gue lihat tadi Lo turun dari mobil Pak Zavian.”
Clarinda langsung melotot.
“Padahal masih jauh jaraknya kok masih keliatan sih…” Gumamannya justru membuat Arin makin curiga.
“Lo amnesia apa gimana sih Cle?” Arin mencebik. “Lo berhenti di gang rumah gue.”
“Hah?!!!”
Astaga. Baru sekarang Clarinda sadar. Rumah Arin memang dekat sekolah.
Mampvs.
“Gue tadinya mau samperin Lo,” lanjut Arin. “Takut Lo pingsan berdiri. Rahasia Lo kebongkar. Makanya gue ikutin dari belakang naik motor pelan-pelan.”
Clarinda nyengir dosa.
“Eh ternyata udah keduluan Rama.”
Senyum Clarinda makin kaku.
Arin semakin mendekat sampai wajah mereka tinggal sejengkal. “Sekarang jujur sama Gue… Lo nggak ngelakuin yang aneh-aneh kan?"
“Nggak ada apa-apa kok," Clarinda masih menyangkal.
“Bohong!”
“Nggak," Clarinda mencatat lagi.
"Waktu Lo gak masuk Pak Zavian juga nggak masuk. Jangan-jangan Lo sama Pak Zavian itu..."
Clarinda reflek menjawab sambil tetap menulis. “Istrinya.”
Deg.
Dunia mendadak hening.
Suara kelas seperti menghilang.
Clarinda membeku. Pulpennya berhenti bergerak.
Pelan-pelan ia menoleh ke arah Arin. Sahabatnya juga menatapnya dengan mata membulat sempurna. Mereka saling diam.
Tik tok…
Tik tok…
Tik tok…
“Hehehe…” Clarinda tertawa kering. “Mulutku kesleso…”
“CLARINDA!!!”
Arin berdiri sambil teriak keras.
Beberapa siswa langsung menoleh.
Clarinda panik setengah mat!.
“WOI DIEM!”
“Jadi lo itu—”
Clarinda langsung membekap mulut Arin.
“Kecilkan suara Lo Rin! Bisa mampvs gue!”
“Mmmphh!!” Arin masih melotot shock.
Clarinda memaksa Arin duduk lagi.
“Dengerin gue dulu!”
Arin menepis tangan Clarinda.
“Astaga!!! Lo udah nikah Cle?" Suara Arin ditekan.
“Sssttt!”
“Lo nikah sama Pak Zavian?!” Arin begitu shock sampai suaranya seperti orang sesak nafas. "Patah hati gue, Clea," Arin dramatis sekali. Ia menepuk da-danya sendiri sambil ngos-ngosan.
“Terus kalian tinggal serumah?” Arin terus saja ngulik.
“Iya.”
“Satu kamar?!”
“NGGAK!”
“Civman?”
“ARIN... sudah ah!”
"Atau jangan-jangan... Lo... Lo... udah nggak perawan lagi Cle?"
“ARIN!!!" Clarinda mendelik. Anak-anak yang tadi cuek mulai melirik penasaran.
"Siapa yang nggak perawan woei?" Sahut salah satu siswa lelaki yang lewat bangku Clarinda dan Arin.
Clarinda ingin menangis. Ia melihat kanan kiri. "Apaan sih, ikutan aja. Ngomongi drachin kok," elak Clarinda.
Arin malah makin heboh tapi suaranya ditekan sepelan mungkin. “Gila… gila… gila… Lo Cle... Lo sudah..."
"Kejauhan mikirnya!" Clea mencubit lengan Arin. "Aw!" Rintih Arin sembari mengusap bekas cubitan Clarinda.
Clarinda menarik rambutnya frustrasi. 'Kok bisa sampai ketahuan sih,' batin Clarinda cemas. 'Sekarang masih satu besok siapa lagi?!'
“Rin please... jangan bilang siapa-siapa.”
Arin masih belum bisa memproses. “Tapi… tapi… Pak Zavian itu…”
“Iya suami gue. Puas Lo!"
Arin menutup mulutnya sendiri menahan teriak. Matanya masih membulat tak percaya.
“Sejak kapan?”
Clarinda mendesah panjang.
“Panjang ceritanya.”
“Lo dipaksa?”
“Nggak juga.”
“Terus?”
Clarinda diam beberapa detik lalu mendengus pelan. “Ya… begitulah.”
Arin tiba-tiba mencengkeram bahu Clarinda dramatis.
“Oemji... sahabat gue nikah duluan…”
“Rin… mulutmu. Dijaga ya!" Calrinda ketus.
Clarinda melihat sekitar memastikan tidak ada yang mendengar. Lalu berbisik pelan.
“Pokoknya nggak boleh ada yang tahu. Nanti Gue ceritain tapi nggak sekarang."
Arin mengangguk cepat. “Oke. Nanti ya pulang sekolah."
"Nggak bisa. Gue ada janji sama Rama."
“Serius?" Arin mendelik. "Gila Lo Cle! Itu selingkuh namanya."
Clarinda memutar bola mata malas. Lalu menatap Arin serius. "Ingat jaga mulutnya. Sampe bocor Lo bakal Gue kubur!"
"Iiihhh...sadis!" Arin lalu mengangkat tangan.
“Gue sumpah demi mie ayam, gacoan, dan spaghetti carbonara."
Clarinda memicingkan mata. “Sumpah apaan? Bilang aja Lo minta kompensasi buat tutup mulut."
Arin nyengir. "Hehehehe..."
Tiba-tiba gerombolan siswa yang berada di luar berhamburan masuk dan duduk rapi. Siswa di bangku sebelah Clarinda bahkan telfon temannya dengan segera. "Udah Lo sembunyi di toilet atau gimana kek, pokoknya jangan balik ke kelas."
Arin dan Clarinda saling pandang. Pikiran mereka sama, "Ada apaan sih?"
Seseorang masuk. Langkah pria itu tenang dan berwibawa. Aura dinginnya langsung membuat siswa mendadak diam. Zavian berdiri di depan kelas dengan wajah dingin khasnya.
Siswa perempuan menatap lekat Kepala Sekolah penuh kekaguman. Mereka tak berkedip sembari senyum-senyum tipis. Dalam hati mereka mulai berisik.
“Ya ampun Pak Zavian ganteng banget.”
“Kalau gue dihukum beliau rela sih.”
“Gila rahang nya…”
Kepala sekolah mereka masih muda.
Tampan. Tapi mengerikan. Terutama kalau marah. Bukti nyatanya Meta and the gank dan Clarinda kena skorsing. Sebelumnya juga ada siswa kelas 11 ketahuan merokok langsung dikeluarkan tanpa pengampunan. Padahal Zavian waktu itu baru sehari menjabat.
“Kelas kosong bukan berarti kalian bebas berkeliaran!" Suasana langsung hening. Tatapan Zavian menyapu seluruh kelas. Ada beberapa bangku kosong.
Clarinda refleks ikut menunduk seperti yang lain. Jantungnya mendadak deg-degan.
Apalagi setelah rahasianya baru saja bocor.
"Masih ada yang diluar?" Tanya kepala sekolah tegas.
Siswa lelaki di sebelah bangku Clarinda mengirim pesan pada temannya. Jemarinya lincah menekan huruf di bawah bangku. "Cepetan deh balik. Lari, cepet!"
"Kamu..." Zavian membuat siswa itu kaget setengah mat! baru sadar Zavian memperhatikannya. "Bangku di depanmu memang kosong?"
"Ma-maaf Pak... Anaknya lagi di toilet. Perutnya mules," alasan yang dibuat-buat.
Clarinda memicing, Pak Tua ini hobinya emang nakutin anak kecil! Tak lama kemudian lima siswa masuk. "Ma-maaf Pak. Kita dari toilet," mereka menuju bangku masing-masing sedikit gemetar. Wajah Zavian tak bersahabat.
"Ada lagi?!" Tanya Zavian lagi.
Clarinda berbisik pada Arin ia sadar ada yang kurang. "Dela mana?"
"Astaga!" Arin cemas. "Dela masih di kantin kayaknya. Gue tadi nitip tahu isi."
Clarinda menghela nafas. "Cepetan suruh balik. Pak Tua ini nggak bisa diajak bercanda."
"Pak Tua?" Arin mengernyit.
"Sudah jangan banyak nanya."
Kedua siswa yang saling berbisik itu tak luput dari mata tajam Zavian.
"Kamu Clarinda..."
Clarinda terkejut. "I-iya Pak."
"Saya paling tidak suka orang mengabaikan lawan bicara. Tidak sopan!"
Clarinda dongkol. Jika Kepala Sekolah itu bukan Zavian perasaannya biasa saja. Lah ini orang yang satu rumah dengannya. Yang setiap hari ia ajak ribut. Tapi ini di sekolah tak mungkin Clarinda melawan.
"I-iya Pak. Maafkan saya." Gak ikhlas.
"Em, teman saya Dela masih di luar Pak," ucap Clarinda setelahnya.
"Kemana?" Zavian dengan nada angkuh ia bersandar di depan meja guru melipat kedua tangannya.
"Em, ke koprasi Pak. Beli pulpen." Jelas Clarinda bohong. Tapi sepertinya Zavian percaya karena tidak tanya-tanya lagi.
Sementara Arin kembali mengirim pesan menyuruh Dela membeli pulpen di koperasi padahal tinggal dua kelas lagi Dela sampai ke kelasnya.
Pov Dela: "Oemjiiiii... Turun lagi dong gue." Nafas gadis itu ngos-ngosan berbalik menuju tangga. Koperasi ada di lantai dasar.
"Kerjakan tugas! Saya sendiri yang awasi sampai selesai!" Perintah Zavian tegas.
Para siswa itu begitu serius mengerjakan tugas yang tadi sudah diberikan. Zavian berjalan menyambangi bangku beberapa siswa melihat pekerjaan mereka.
"Suami Lo kayaknya mau kesini deh Cle," bisik Arin menyenggol lengan Clarinda. Sementara gadis itu pura-pura tidak tau tapi batinnya menggerutu. "Ngapain sih pake jalan-jalan segala. Duduk manis kan ganteng. Eh, apaan sih."
Dan beneran Clarinda melihat sepatu hitam mengkilat Zavian berhenti di bangkunya. Clarinda mendongak. Tatapan mereka bertemu.
"Apa lihat-lihat!" suara Clarinda lirih tapi ketus. Arin langsung mencubit tangan Clarinda.
"Maaf... Pak," Arin tersenyum kikuk.
Entah kenapa jam pertama pelajaran sejarah ini terasa amat lama. Clarinda ingin segera terbebas dari pengawasan Zavian.
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"