Zavian Xanderson, memiliki kepribadian yang dingin, dan tertutup dengan sejuta pesona yang dimiliki.
Alina Angelica Kwelju. Gadis cantik, pintar dan juga kreatif. Gadis yang kerap disapa Alin atau Ina ini memiliki sebuah rahasia besar yang ia simpan bersama keluarganya.
Ini kisah sosok Zavian Xanderson, sang ketua OSIS SMA Ultraviolet dan bertemu dengan gadis segudang rahasia itu. Penasaran? Yuk baca^^
Jangan menilai sesuatu dari covernya!
Typo bertebaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Gw mau cari angin dulu," ucap Alesha. Tanpa persetujuan dari temannya, ia sudah langsung ngacir.
Niatnya ingin mencari angin sejuk untuk mendinginkan suasana hatinya, yang ia dapat hanyalah hawa panas dari teriknya matahari.
Hufftt!
Sepertinya, huuu satu hari tanpa mendengus itu tidak bisa ya. Sedari tadi ia selalu menghela nafas. Langkahnya sekarang sudah ingin melewati ruang OSIS. Alesha pun berhenti sebentar, 'Andai gw juga anggota OSIS, mungkin bisa lebih dekat dengan Kak Al'
Itulah yang ia ucapkan dalam hati.
Huftt!
Haha ... entah sudah berapa kali gadis ini menghela nafasnya sedari tadi. Saat ingin melangkah pergi dari sana, suara percakapan dari dalam menariknya untuk berhenti kembali dan menguping. Sepertinya anak OSIS yang didalam sedang membicarakannya.
"Kasian ya Alesha, gw kalau jadi dia sih lebih baik cari cowok lain yang bisa hargai dia dan bales perasaannya."
Gw? Kasian? Maksudnya?
"Ya gimana coba, namanya orang suka ya gitu. Alesha yang suka sama Bang Alfa, sedangkan disisi lain Bang Alfata sukanya sama Keira. Bahkan dari sejak SMP lagi."
Duar!
Jantungnya seakan berhenti berdetak setelah mendengar ucapan mereka.
"Cinta itu tidak bisa dipaksakan."
"Iya, ternyata seperti itulah cinta bertepuk sebelah tangan. Walaupun belum pernah ngerasain, tapi kita dilihatkan langsung dengan kisah cinta teman kita. Semoga kisah cinta gw gak seribet itu deh."
Gak bisa, gw harus pergi dari sini.
Setelah mendengar semuanya, gadis itu dengan langkahnya tergesa-gesa segera berlari dari sana. Sebisa mungkin ekspresi sedihnya ia tahan supaya orang-orang yang lewat tidak curiga kalau ia sedang menangis.
Alesha terus berlari sampai ia sekarang berada di Rooftop. Ternyata sesakit ini menyukai cowok yang suka dengan cewek lain.
Sesakit ini ya ternyata, padahal baru kenal beberapa hari belum seminggu. Bahkan misi itu pun belum selesai. Harusnya dari awal gw gak jatuh ke pesonanya. Harusnya gw jalanin misi ini tanpa melibatkan perasaan!
Alesha menangis dalam diam, hatinya terus berucap. Ia ingin berteriak menumpahkan semua isi hatinya, tetapi mulutnya terasa sangat kelu. Hanya suara tangisan yang keluar.
Selang lima menit ia menangis, akhirnya hatinya mulai tenang. Alesha mencoba untuk berpikir jernih. Tidak salahnya menyukai seseorang yang sedang menyukainya orang lain, karena mereka belum terikat sama sekali. Selagi Alfata statusnya masih sendiri dan belum berpacaran dengan Keira, ia ingin mencoba untuk mendapatkan hati Alfata terlebih dahulu.
Setidaknya ia harus berusaha untuk bisa dekat dengan seorang Alfata Vianto Franklin itulah yang Alesha ucapkan dalam hatinya.
Gw akan manfaatkan waktu 5 hari untuk misi ini buat bisa mendapatkan hati Kak Alfata. Gw harus bisa! Apapun hasilnya nanti, setidaknya gw harus coba dan berusaha sebisa mungkin. Karena, setiap usaha yang sungguh-sungguh tidak akan mengkhianati hasil.
***
Setelah melaksanakan hukuman yang diberikan oleh Zavian, Akib dan Alfata kemudian menuju keruang BK seperti yang sudah ditetapkan oleh sang Ketua.
Ruang Bimbingan dan Konseling
Mereka berdua akhirnya sampai, perlahan pintu ruangan itu dibuka oleh Akib. Terlihat Zavian sedang duduk dikursi yang sudah disediakan disana. Tatapan tajam masih mengarah ke mereka dengan tangan yang bersidekap di dada.
"Silahkan masuk!"
Kemudian mereka pun masuk dan tidak lupa mengunci ruangan itu dari dalam.
"Sudah selesai mengerjakan hukuman yang saya berikan?" tanya Zavian datar.
"Sudah," jawab mereka serempak.
"Kalau begitu, saya yakin kalian tau apa yang selanjutnya dilakukan!"
Huftt!
"Al, gw minta maaf." Akib berucap lebih dahulu. Sejujurnya, tidak ada niatan baginya untuk memulai pertengkaran dengan Alfata. Entahlah tiba-tiba saja ia tidak bisa mengontrol perkataannya mengenai Keira. Apalagi gadis itu pernah membully saudara kembarnya ketika masih SMP. Masih ingat siapa saudara kembarnya Akib? Dialah Khanza.
Dulu, Khanza tidak seberani sekarang ketika sudah bersama Astro. Sebelum bergabung dengan Astrophile, Khanza adalah gadis lugu dan culun. Dia sering menjadi bahan bully-an Keira dan teman-temannya. Meskipun Khanza adalah kakak kelasnya, tetap saja ia tidak seberani itu dengan Keira. Karena, Keira anak orang kaya. Apalagi orangtuanya sangat berpengaruh besar di sekolahnya.
Keira sempat menyukai Akib, mencoba mendekati Akib dengan cara apapun. Bahkan, tidak segan-segannya membully cewek yang dekat dengannya. Dari dulu Akib dirumorkan dekat dengan Khanza, padahal Khanza adalah saudara kembarnya. Mereka memang sengaja merahasiakan hal itu karena memang Khanza yang minta.
Karena orang-orang waktu itu menganggap Khanza adalah pacarnya Akib, Keira dan teman-temannya mulai beraksi. Ia membully habis-habisan gadis itu tanpa tau kalau Khanza adalah adiknya Akib.
Sering diteror dan diancam untuk menjauh dari Akib, tidak membuat Khanza goyah. Ia tidak mau saudaranya berpacaran dengan gadis bermuka dua itu. Akib pun menyadari ada hal aneh dari adiknya. Ia mencoba untuk mengajak Khanza bercerita tentang apa yang terjadi, tetapi Khanza tetap bungkam.
Akib tidak punya pilihan lain selain menyelidikinya sendiri. Sampai suatu hari, ia menciduk Keira beserta teman-temannya yang sedang membully Khanza sampai pingsan. Amarah pun langsung menguasai lelaki itu. Ia mencoba melaporkan kejadian itu ke pihak sekolah. Namun naas, ternyata mereka tiba-tiba menutup kasus itu seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Keluarga Keira memang luar biasa berpengaruh terhadap sekolahnya. Sehingga, Akib memutuskan untuk mengajak Khanza pindah ke sekolah lain.
"Gw juga minta maaf." Akib mengangguk mendengar balasan maaf dari Alfata. Mereka akhirnya berbaikan dengan saling berpelukan sebagai seorang lelaki.
Zavian yang melihat pemandangan didepannya, tersenyum kecil.
"Ingat kata-kata saya tadi. Jangan karena satu cewek, membuat Geng kita menjadi terpecah belah!"
"Baik!"
Kemudian Zavian menyerahkan beberapa lembar kertas ke mereka berdua.
"Teman-teman OSIS yang lain sudah mulai bekerja. Kalian segeralah ke ruang kelas yang sudah gw tunjuk tadi." Akhirnya Zavian mulai menggunakan kata 'gw' supaya tidak canggung lagi. Setelah mendapatkan daftar kosong itu, Alfata dan Akib pun berpamitan menuju kelas yang akan mereka masuki.
***
"Assalamu'alaikum."
Alfata saat ini baru saja memasuki ruang kelas Sebelas MIPA Tiga. Siswa yang ada disana terkejut terutama siswa perempuan. Mereka bahkan menjerit kesenangan karena senior ganteng masuk ke kelasnya sekarang.
Alfata melihat sekeliling. Nampak lah dari sebelah kirinya, Keira duduk berempat dengan temannya sedang tersenyum manis kearahnya.
Ingin rasanya ia membalas senyuman itu.
Kemudian, ia beralih ke sisi sebelah kanan. Disana ternyata ada Alesha, dan Bela yang duduk barengan. Alfata sesaat diam memperhatikan Alesha yang sedang menatapnya tanpa ekspresi.
Disisi lain, Keira mengerutkan dahinya ketika melihat Alfata menatap lama kearah Alesha. Ada apa dengan mereka? Apakah sudah saling kenal? Apa mereka dekat?
"Queen," panggil Yuna yang duduk disebelahnya.
"Iya?"
"Kak Alfata kenal sama Alesha, ya? Gitu kali mandangnya."
"Iya nih. Apa jangan-jangan, Kak Alfa suka lagi sama gadis bar-bar itu?" ujar Alia menimpali.
"Jangan mau kalah, Kei!"
Keira hanya diam mendengar perkataan temannya. Perlahan tangannya mengepal menahan kesal.
Gak akan gw biarin gadis itu rebut Kak Alfa! - ucapnya dalam hati.
...***...
To be continued!