NovelToon NovelToon
Haruskah Seperti Ini

Haruskah Seperti Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Petir di Kedai Kopi dan Runtuhnya Menara Pertahanan Rahmi

​Senja di Kota Bandung perlahan turun, menggantikan langit jingga dengan rona keunguan yang menenangkan. Lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu, mengusir bayang-bayang pepohonan yang memanjang di atas aspal. Di sudut kawasan Dago yang mulai ramai oleh hilir mudik anak muda, Cafe Nuansa berdiri dengan arsitektur industrialnya yang khas. Tembok bata ekspos, jendela kaca besar bersayap baja hitam, dan deretan lampu gantung bernuansa warm white menciptakan atmosfer yang hangat sekaligus mengundang.

​Motor sport hitam milik Alan berbelok masuk ke pelataran parkir kafe yang sudah mulai terisi setengahnya, disusul oleh motor bebek Randi yang suaranya mirip mesin jahit rusak, dan matic Ardi yang penuh stiker. Alan mematikan mesin, menghela napas panjang sejenak, lalu membantu Rahmi turun dengan memastikan motornya berdiri stabil.

​Baru saja mereka melepas helm dan merapikan rambut yang berantakan tertiup angin jalanan, sebuah suara bariton yang berat namun sarat akan nada jenaka menyambut kedatangan mereka dari arah pintu samping kafe.

​"Nah, ini dia! Pasukan kurang gizi baru nongol nih!"

​Itu adalah suara Bang Hendri. Pria berusia akhir dua puluhan dengan perawakan tegap, rambut diikat kecil di belakang, dan lengan kemeja yang digulung sebatas siku itu baru saja melemparkan sekantong besar plastik sampah hitam ke dalam tempat penampungan di sudut parkiran. Ia berjalan menghampiri mereka sambil menepuk-nepuk tangannya yang berdebu, senyum lebar menghiasi wajahnya yang sedikit brewokan.

​Randi, yang memang tidak pernah punya urat malu, langsung nyengir kuda merespons sapaan tersebut. "Iya, Bang! Biasa, nongkrong lagi kita dimari. Nyari asupan kehidupan dari pangeran kafe kita ini," sahutnya sambil menepuk pelan bahu Alan.

​Bang Hendri mendengus geli, memicingkan matanya menatap Randi dari atas sampai bawah. "Gayamu asupan kehidupan. Nongkrong apa nyari wifi gratisan lu buat download drakor bajakan?" tembaknya telak, tepat sasaran.

​Ardi yang berdiri di sebelah Randi langsung tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk wajah sahabatnya itu. "Hahaha! Bang, jangan keras-keras ngomongnya! Nanti si Randi ketahuan sama orang-orang di dalem kalau dia cuma ngincer wifi gratis doang. Gengsi dong anak ekonomi miskin kuota."

​Bang Hendri beralih menatap Ardi dengan tatapan mengejek yang sama. "Halah, lu juga sama aja kampret! Kemarin siapa yang ketiduran di pojokan sofa sampai ileran gara-gara numpang nge-charge laptop dari jam empat sore sampai jam sebelas malem? Beli es teh manis satu, nyedot listrik kafe gue seharga token mampus!"

​Tawa mereka serempak pecah memenuhi area parkiran. Randi dan Ardi saling dorong sambil memaki satu sama lain dengan bahasa kebun binatang yang akrab, sementara Bang Hendri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan dua mahasiswa absud itu.

​Di tengah keriuhan itu, Alan ikut tertawa. Sebuah tawa yang lepas, tulus, dan menampakkan deretan giginya yang rapi. Garis-garis kelelahan di sudut matanya seolah memudar, beban berat di pundaknya menguap untuk sesaat.

​Melihat tawa Alan, Rahmi tanpa sadar menghentikan gerakannya yang sedang merapikan tali tas. Matanya terpaku pada wajah pemuda itu. Hatinya menghangat, ada rasa bahagia yang membuncah memenuhi rongga dadanya. Senyum Alan adalah hal yang sangat langka di kampus, namun di sini, bersama Bang Hendri dan sahabat-sahabatnya, gunung es itu bisa mencair dengan begitu indahnya.

​'Teruslah tertawa seperti itu, Lan,' batin Rahmi lembut, sudut bibirnya ikut tertarik membentuk senyum simpul. 'Dunia ini terlalu keras untuk pundakmu. Jika aku tidak bisa mengurangi beban keluargamu secara terang-terangan, setidaknya aku ingin menjadi saksi dari setiap tawa kecilmu yang berharga ini.'

​"Udah, udah, buruan masuk sana. Di luar mulai dingin," titah Bang Hendri sambil memberi isyarat dengan kepalanya ke arah pintu masuk kaca.

​Mereka berlima pun berjalan beriringan memasuki kafe. Begitu pintu kaca didorong, lonceng kecil di atasnya berdenting pelan. Aroma kuat biji kopi robusta dan arabica yang baru saja digiling langsung menyeruak, bercampur dengan wangi mentega dari pastry yang dipanggang di dapur. Alunan musik indie folk mengalun pelan dari speaker di sudut ruangan, berpadu dengan suara dengung obrolan pelanggan yang mulai memenuhi kursi-kursi kayu.

​Sesampainya di dekat meja bar kasir, Alan berhenti sejenak dan menatap seniornya itu. "Bang, gue izin ikut nongkrong sama mereka dulu bentar ya sebelum ganti baju kerja? Baru mulai shift setengah jam lagi kan," izin Alan dengan nada sopan, tak pernah melupakan posisinya sebagai karyawan.

​Bang Hendri menepuk jidatnya pelan, lalu merangkul bahu Alan dengan akrab. "Izin, izin, lu kata lagi di barak militer? Emang gue pernah nagih bayaran sewa kursi ke elu? Kayak orang lain aja lu, Lan. Santai aja, duduk sana gabung sama cecunguk-cecunguk lu itu."

​Tak hanya itu, Bang Hendri kemudian memanggil salah satu pelayan lain yang sedang mengelap meja bar. "Ton, tolong buatin Americano dingin satu, Vanilla Latte satu, sama es teh manis dua porsi kuli. Terus bawain juga snack platter yang ukuran large. Kasih ke meja ujung sana tuh, temen-temennya Alan. Masukin ke bill gue aja."

​Alan seketika membelalakkan matanya, merasa tak enak hati. "Eh, jangan Bang. Ntar Abang bisa rugi kalau ngasih gratisan terus ke kita. Ini anak dua kalau makan gak tahu aturan. Biar gue potong gaji aja bulan ini buat bayar."

​Mendengar itu, Bang Hendri melepaskan rangkulannya dan menatap Alan dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah serius, namun matanya memancarkan kebijaksanaan seorang kakak. Ia menghela napas, bersandar di meja barisan kasir.

​"Gak apa-apa, Lan. Sekali-sekali nraktir dedengkot kampus masa bikin gue bangkrut," ujar Bang Hendri santai. "Justru gue tuh seneng banget kafe ini jadi rame, jadi hidup kalau ada kalian. Lu tahu kan, karyawan gue di sini sama di cabang bawah itu totalnya ada tiga puluh dua orang? Dari tiga puluh dua kepala itu, nyari yang otaknya bener dan jalan hidupnya jelas kayak elu tuh susahnya minta ampun."

​Bang Hendri memajukan wajahnya sedikit, memelankan suaranya namun setiap kata-katanya terdengar sangat tajam. "Rata-rata kebanyakan dari mereka itu pada main judol, judi online sialan itu. Dapet gaji UMR tiap bulan, bukannya ditabung buat masa depan, bukannya dikirim buat emaknya di kampung, eh malah didepositokan ke bandar ngarep dapet petir merah Kakek Zeus. Makan siang mie instan dibagi dua, rokok minta sebat sana-sini, giliran top up slot keluar ratusan ribu gak pakai mikir. Gaya selangit, story Instagram sok aesthetic nongkrong di kafe, padahal kosan nunggak tiga bulan."

​Alan, Ardi, Randi, dan Rahmi terdiam mendengarkan petuah itu. Perkataan Bang Hendri terdengar seperti humor satir kelas pekerja, namun realitanya menyayat hati.

​"Makanya, Lan," lanjut Bang Hendri sambil menepuk dada Alan pelan, matanya menyiratkan kebanggaan. "Gue mending duit gue habis buat ngasih makan temen-temen lu yang rakus dan gak tahu malu ini, daripada gue ngelihat bocah-bocah gue hancur masa depannya karena ngejar jackpot halu. Setidaknya gue tahu, lu kerja banting tulang dari pagi ke pagi lagi, nahan capek, nahan sakit, itu murni buat keluarga lu di kampung. Buat adik lu sekolah, buat emak bapak lu makan. Lu punya tujuan, Lan. Dan orang yang punya tujuan mulia, pantang buat gue persulit langkahnya. Ngerti lu?"

​Hati Alan terasa hangat. Matanya sedikit berkaca-kaca mendapat pengakuan dan dukungan yang begitu tulus dari sosok yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri. Ia menundukkan kepalanya sejenak, menelan gumpalan haru di tenggorokannya. "Makasih banyak, Bang. Gue gak tahu harus balas kebaikan Abang pakai apa."

​"Gak usah dibalas pakai duit, cukup kerja yang bener, jangan sampai mecahin gelas kaca gue lagi," canda Bang Hendri yang seketika mencairkan suasana haru tersebut.

​Sementara Randi dan Ardi sudah melipir duluan mencari tempat duduk ternyaman di sudut kafe dekat stop kontak, Alan masih berdiri di dekat pintu masuk bersama Bang Hendri dan Rahmi.

​Tepat pada detik itu, lonceng pintu kafe berbunyi nyaring. Seseorang baru saja mendorong pintu dari dalam untuk keluar.

​Mata Alan secara refleks menoleh ke arah sumber suara. Waktu seakan berhenti berdetak di ruang hampa. Dunia di sekelilingnya—suara musik, obrolan Bang Hendri, bahkan keberadaan Rahmi di sebelahnya—mengabur menjadi latar belakang yang tak penting. Fokusnya sepenuhnya terkunci pada sosok siluet anggun yang baru saja melangkah melewati ambang pintu.

​Siluet itu berjalan menembus cahaya senja di luar kafe. Rambut panjangnya yang tergerai indah sedikit tersibak oleh angin sore, aroma parfum floral yang lembut sempat tertinggal di udara saat ia berjalan melewati Alan tanpa menyadari keberadaan pemuda itu. Blus krem pastel dan rok plaid selututnya mempertegas lekuk tubuhnya yang proporsional. Ia berjalan diiringi tawa renyah bersama dua orang teman wanitanya, melangkah menuju area parkir dengan keanggunan seorang putri.

​Itu Bunga. Sang primadona masa lalu.

​Alan mematung. Dadanya kembali bergemuruh hebat, persis seperti reaksi yang ia rasakan siang tadi di koridor lantai dua fakultasnya. Rahangnya sedikit mengeras, matanya tak berkedip mengikuti setiap inci pergerakan wanita itu hingga punggungnya menghilang di balik deretan mobil yang terparkir. Ia menahan napas, takut jika ia menghembuskannya, ilusi indah di depan matanya itu akan menghilang.

​"Woi!"

​Sebuah tepukan keras di pundak membuyarkan lamunan panjang Alan. Bang Hendri menatapnya dengan sebelah alis terangkat, ujung bibirnya menyeringai penuh selidik.

​"Awas tuh mata lu keluar dari tempatnya, nggelinding sampai ke jalan raya nanti," goda Bang Hendri dengan tawa tertahan. "Ngeliatin anak orang sampai sebegitunya. Belum pernah lihat bidadari turun buat beli kopi susu?"

​Alan tersentak, mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menetralisir keterkejutannya. Ia salah tingkah, telinganya terasa sedikit panas. Sebuah tawa canggung dan hambar keluar dari bibirnya. Ia mengusap tengkuknya dengan gugup. "Itu... itu Bunga ya, Bang?" tanyanya dengan nada ragu, mencoba memastikan bahwa matanya tidak sedang mempermainkannya.

​Bang Hendri mengangguk santai. "Iya, itu rombongannya si Bunga dari Manajemen Informatika. Kenapa? Emang lu kenal sama dia? Tumben banget seorang Alan nanyain cewek. Biasanya ada mahasiswi cantik joget pargoy di depan meja kasir aja lu cuek bebek aja nyatet bill."

​Alan buru-buru menetralkan ekspresinya. "Kenal sih enggak, Bang. Cuman... tahu aja. Soalnya dulu kita satu sekolah pas zaman SMA."

​"Oh, anak satu SMA toh. Pantes. Cakep emang tuh anak, sopan lagi kalau mesen. Ya udah sana samperin temen-temen lu, kasihan tuh muka si Randi udah mirip kucing minta Whiskas kelaparan," suruh Bang Hendri sambil menepuk punggung Alan, mendorong pemuda itu untuk segera melangkah.

​Alan mengangguk, namun pikirannya masih tertinggal pada siluet Bunga. Ia melangkah menuju meja di sudut ruangan tempat Ardi, Randi, dan Rahmi sudah duduk menunggu. Rahmi, yang sejak tadi berdiri tak jauh dari Alan, menyaksikan seluruh adegan itu dalam diam. Tangannya tanpa sadar meremas ujung tali tasnya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya meredup, menyembunyikan badai kesedihan yang siap meledak kapan saja.

​Tak berapa lama, seorang waiter lain membawakan nampan besar berisi pesanan mereka. Alan yang merasa tidak enak langsung mengambil alih nampan itu dari tangan rekannya, mengantarkan piring-piring makanan ringan dan gelas-gelas minuman itu ke atas meja teman-temannya. Bang Hendri mengekor di belakangnya membawa secangkir kopi hitam panas untuk dirinya sendiri, lalu menarik sebuah kursi kosong dan ikut duduk berbaur dengan mereka.

​"Sikat, Bos!" seru Randi kegirangan, tangannya langsung menyambar sepotong onion ring goreng yang masih mengepul.

​Ardi tak mau kalah, ia meraih gelas es teh manisnya yang berukuran raksasa dan meminumnya dengan rakus. "Gila, emang rezeki anak saleh gak ke mana. Makasih banyak, Bang Hendri! Abang emang calon masuk surga jalur VIP."

​"Bacot lu berdua. Awas kalau IPK lu turun semester ini, gue suruh lu berdua sikat WC kafe gue selama sebulan penuh," ancam Bang Hendri sambil menyeruput kopinya dengan santai.

​Alan duduk di sebelah Rahmi. Ia mengambil gelas air putih dingin dan meneguknya tandas dalam sekali tarikan napas, mencoba memadamkan api kegelisahan di dalam dadanya. Suasana meja itu sangat riuh. Randi dan Ardi saling melempar lelucon receh dengan Bang Hendri, sesekali suara tawa mereka mendominasi sudut kafe tersebut.

​Namun, di tengah keriuhan itu, pikiran Alan melayang jauh. Otaknya tidak bisa diajak berkompromi. Wajah Bunga terus berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak. Ingatan tentang masa-masa SMA kembali menyerbu; tentang bagaimana ia sering berdiri di sudut lapangan basket hanya untuk melihat Bunga yang menjadi anggota pemandu sorak, tentang senyum Bunga yang menjadi sumber energinya untuk melewati hari-hari berat, dan tentang kesadaran pahit bahwa ia tak akan pernah pantas berdiri di sisi wanita sempurna itu. Namun sekarang, mereka berada di kampus yang sama. Mereka menghirup udara yang sama. Jarak yang membentang seolah tidak lagi tak terbatas.

​Tanpa sadar, dinding logika yang selama ini memenjarakan perasaan Alan jebol. Sebuah pertanyaan yang seharusnya tak pernah diucapkan oleh seorang pria yang dikenal sedingin es, meluncur begitu saja dari bibirnya, menembus keriuhan meja tersebut.

​"Ada yang tahu nomor Bunga gak?"

​Kalimat itu terucap pelan, namun efeknya bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.

​Keheningan seketika menyergap meja mereka. Randi yang sedang mengunyah sosis berhenti seketika dengan mulut setengah terbuka. Ardi menunda niatnya untuk meminum es tehnya kembali. Bang Hendri menghentikan cangkir kopi beberapa sentimeter dari bibirnya, matanya melirik tajam ke arah Alan dari balik kepulan uap panas.

​Namun, dari semua orang di meja itu, reaksi paling menghancurkan dialami oleh Rahmi.

​Gadis berpakaian sederhana itu terdiam kaku. Tubuhnya membeku. Jantungnya, yang baru beberapa menit lalu berdetak penuh kebahagiaan karena melihat tawa Alan, kini seolah berhenti memompa darah. Udara di sekelilingnya mendadak terasa tipis, mencekik paru-parunya. Telinganya berdenging pelan.

​Ia tidak menyangka... ia benar-benar tidak pernah menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut seorang Alan. Pria yang tak pernah sekalipun menanyakan nama, apalagi nomor kontak seorang wanita. Pria yang menolak dengan dingin pemberian Ayu si gadis pemalu dan Helena si pewaris kaya raya. Pria yang selalu menganggap wanita sebagai gangguan dalam misinya bertahan hidup dan mengangkat derajat keluarga.

​Lalu kini, hanya bermodal pertemuan sekelebat mata, hanya bermodal sebuah siluet masa lalu yang kebetulan lewat, pria sedingin es itu dengan sukarela menjatuhkan harga dirinya dan bertanya tentang seorang wanita bernama Bunga?

​Hati Rahmi menjerit, mencabik-cabik logikanya sendiri. Rentetan pertanyaan berduri mulai bermunculan dan menusuk-nusuk dinding kewarasannya. 'Kenapa, Lan? Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan nomor Bunga? Apa kamu menyukainya? Sudah berapa lama perasaan itu ada? Kenapa kamu yang tak pernah bertanya siapapun, tiba-tiba kehilangan kendali hanya karena sebuah siluet, apa dia dari masa lalumu?'

​Rahmi terdiam mematung. Matanya menatap kosong ke arah piring saji di tengah meja. Kilatan matanya sangat sulit diartikan; campuran antara keterkejutan yang amat sangat, rasa sakit yang menikam ulu hati, kekecewaan yang tak terbendung, dan keputusasaan yang melumpuhkan. Di balik kemeja flanelnya yang sederhana, ada seorang pewaris takhta miliaran rupiah yang merasa paling miskin di dunia karena tidak bisa membeli sebutir pun hati pria di sebelahnya.

​Ia telah berada di sana sejak hari pertama ospek. Ia telah menjadi garda terdepannya saat Alan jatuh sakit hingga hampir kehilangan nyawa semester lalu. Ia yang diam-diam melunasi tagihan rumah sakit, ia yang menangis diam-diam di lorong ruang rawat, ia yang membelikan ini-itu dengan dalih hadiah, ia yang merelakan status sosialnya agar bisa duduk makan siomay pinggir jalan bersama pemuda itu. Ia memberikan seluruh waktunya, perhatiannya, dan perasaannya.

​Namun, semua pengorbanan bertahun-tahun itu rupanya tak ada harganya jika dibandingkan dengan satu kemunculan Bunga yang tak melakukan apa-apa selain berjalan membelakangi mereka. Runtuh sudah menara pertahanan yang selama ini Rahmi bangun perlahan-lahan.

​Ardi adalah orang pertama yang memecah keheningan yang mencekik tersebut. Ia berdeham, mencoba mencerna apa yang baru saja telinganya dengar.

​"Eh... maksud lo Bunga yang anak Manajemen Informatika itu, Lan?" tanya Ardi dengan nada hati-hati, seolah takut salah bicara. "Oh, anak Manajemen ya? Si Randi biasanya tahu tuh dari circle anak-anak gamers-nya. Anak-anak sana kan pada buaya semua, pasti ada lah kontaknya si kembang kampus."

​Mendengar namanya disebut, Randi buru-buru menelan sosisnya dan membela diri dengan panik. Matanya membelalak tak terima.

​"Lah! Kok jadi gue sih? Gue gak tahu kampret!" protes Randi dengan suara sedikit melengking. "Gila aja lo, Bunga tuh primadona, kasta brahmana kampus bro! Mana sudi dia main sama kaum paria macem gue. Temen-temen gamers gue juga mentoknya deketin anak sastra. Gue gak punya nomornya, sumpah dah!"

​Alan tampak kecewa, bahunya sedikit merosot. "Oh... gitu ya. Ya udahlah, gak apa-apa." Pemuda itu kembali menunduk, mengaduk-aduk air es di gelasnya dengan sedotan tanpa minat.

​Ardi dan Randi saling pandang, memberikan sinyal lewat mata, bingung dengan tingkah aneh sahabat mereka. Namun mereka tidak berani bertanya lebih jauh, takut menyinggung area privasi gunung es yang tak pernah tersentuh itu.

​Di seberang meja, Bang Hendri meletakkan cangkir kopinya perlahan. Sebagai pria yang lebih dewasa dan telah melihat banyak jenis pelanggan patah hati dan jatuh cinta di kafenya, matanya terlalu jeli untuk dibohongi. Sejak Alan melontarkan pertanyaan tabu itu, pandangan Bang Hendri tak lepas dari sosok Rahmi.

​Ia melihatnya dengan sangat jelas. Ia melihat bagaimana bahu Rahmi menegang kaku, bagaimana tangan gadis itu bergetar halus di atas pangkuannya, dan bagaimana rona wajah gadis itu berubah pucat pasi. Mata Rahmi yang biasanya berbinar penuh kehangatan saat memandang Alan, kini menatap kosong dengan kepedihan yang sangat telanjang.

​Bang Hendri tahu betul perasaan rahasia Rahmi. Ia adalah orang yang dihubungi gadis itu saat Alan dirawat di rumah sakit. Ia tahu bahwa uang jutaan rupiah yang ia berikan pada pihak rumah sakit sebagai 'asuransi kafe' sejatinya adalah uang transferan dari rekening pribadi Rahmi. Ia tahu seberapa besar gadis low profile itu mencintai pegawainya yang keras kepala ini.

​Menyaksikan kehancuran Rahmi di depan matanya sendiri, Bang Hendri merasa dadanya ikut sesak. Namun ia juga sadar, ini bukan ranahnya untuk ikut campur. Cinta segitiga masa muda adalah arena gladiator di mana para pemainnya harus berdarah-darah untuk menemukan pemenangnya sendiri.

​Dengan helaan napas panjang, Bang Hendri memutuskan untuk memberikan ruang bagi mereka, atau lebih tepatnya, memberikan kesempatan bagi Rahmi untuk bernapas dan menata kembali ekspresinya tanpa merasa diawasi.

​Bang Hendri menepuk meja pelan, lalu berdiri dari kursinya. Ia merapikan celemek hitam yang terikat di pinggangnya.

​"Gue ke belakang dulu ngecek stock biji kopi," ucap Bang Hendri dengan nada sedatar mungkin, berpura-pura tidak menyadari ketegangan emosional yang sedang mencekik udara di meja tersebut. Ia melirik sekilas ke arah Alan. "Lan, lima belas menit lagi jangan lupa ganti baju. Klien VIP bentar lagi dateng pesen tempat."

​"Siap, Bang," jawab Alan singkat tanpa mengangkat kepalanya.

​Bang Hendri membalikkan badan dan berjalan menjauh menuju dapur. Sebelum benar-benar menghilang di balik tirai pembatas, ia menoleh sekali lagi ke arah meja itu. Ia menatap punggung Rahmi yang terlihat sangat kecil dan rapuh. Pria dewasa itu hanya bisa membatin pilu.

​'Garis start yang sudah kau jaga bertahun-tahun, Mi... hari ini baru saja disalip habis-habisan oleh seseorang yang bahkan tidak sadar sedang ikut berlari dalam perlombaan yang sama. Bertahanlah, gadis baik. Badai yang sebenarnya baru saja akan dimulai.'

​Dan di kursi sudut kafe itu, diiringi alunan musik indie yang terdengar ironis, Rahmi mencoba menarik udara ke dalam paru-parunya. Ia harus bertahan. Ia harus tersenyum. Karena jika ia hancur sekarang, ia akan kehilangan segalanya, termasuk posisi sebagai sahabat terdekat pria yang secara tak sengaja baru saja merobek hatinya menjadi berkeping-keping.

1
Reza Reva
kasihan Rahmi cinta tak terbalas
Yuni Uni
paling ga suka baca novel on going,,,capek nungguh up nya tp tetep nungguin kapan up nya thor
falea sezi
lanjut Thor q ksih Hadiah
falea sezi
pindah kuliah rahmi🤣 laki g tau diri emank sih dia g tahu siapa yg bantu dia kira hendri tp dia uda buang berlian demi jalang🤣
falea sezi
pergi jauh rahmi pengorbanan mu g di hargai
falea sezi
kacian bgt rahmi klo lu lebih milih bunga lu salah besar alan🤭ada yg tulus nrima lu apa adanya loh malah lirik bunga bangke
Reza Reva
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!