NovelToon NovelToon
Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: S.Lioré

Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.

Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.

Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.

Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahan… atau melepaskan?

Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bintang Mahendra Atmadja

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 Praaanggg!!!

 Suara yang dihasilkan oleh benda aluminium dan benda keras lainnya menyita semua perhatian dalam kantin. Pada satu titik, fokus mereka terarah. Yakni, siswa berwajah merah pun napas tersengal. Semua tahu bahwa ia tidak dalam kondisi yang baik. Ia murka.

 Memandang tajam siswa di hadapan, ia berseru, “Hei?! Apa lo mau jadi pahlawan kesiangan, heuh?!”

 Sang lawan menunduk. Bukan karena ia takut. Hanya saja, netra itu sedang memandang sedih atas nasib jatah makan siangnya. Bertaburan, mengurangi nilai kebersihan lantai marmer yang terpasang. Sekilas beralih pada jas almamaternya yang tak luput dari tumpahan nasi dan kuah. Dia bergeming.

 “HEI! Lo tuli, ya?!” Dalang dari keributan semakin tidak sabar.

 “Lo …” Akhirnya, suara itu keluar selagi atensinya tertuju pada si peneriak. “... berhentilah membuat masalah.”

 Dia menarik senyum remeh. “Bukan gue yang cari masalah di sini, Bintang Mahendra Atmadja! Lo sendiri yang mencampuri urusan gue!”

 “Lo anak dari salah satu donatur di sekolah ini. Tidak bisakah lo memberi contoh yang baik pada yang lain, Aksa?” Terbilang tenang, Bintang mengungkap fakta.

 Aksa bergerak cepat dan menarik kuat kerah jas Bintang. Aksinya pun berhasil membuat warga sekolah di sana terkejut. Refleks, menarik mereka untuk mendekati dua manusia yang tengah mencari pembelaan diri.

 Tatapan mereka saling bertubrukan. Tak luput dengan deru napas emosi itu. Bintang dapat merasakan hembusannya.

 “Lo pikir sebaik apa diri lo sampai berani ngatur gue, heuh?!”

 Pertanyaan sarkastik memasuki rungu Bintang. Tak goyah, persona Atmadja menggenggam kepalan tangan Aksa. Ia sedang berusaha mengakhiri tindakan konyol ini.

 “Setidaknya gue tahu di mana keberadaan gue, Aksa Mahesa.” Begitulah bisik Bintang tepat di telinga sisi kanan Aksa. Sangat lirih dan hanya manusia Aksa yang mengerti maksudnya.

 “Sialan lo, Bintaang!”

 Derap kaki mendekat. Uluran tangan mencoba untuk meraih. Separuh menutup mata dan sebagian membeku tak tahu harus berbuat apa. Kepalan tangan Aksa berhasil melayang, tetapi gagal untuk mendarat. Seruan nama itulah sang penyelamat.

 Di ambang pintu utama kantin, seorang pria berumur tengah berkacak pinggang. Semua tahu, dia adalah satu dari puluhan pengajar di sekolah ini. Dengan langkah tegap juga wajah tegas, perawakan itu mendatangi kerumunan yang secara otomatis membuka akses untuknya mencapai titik tengah.

 Tentu saja Aksa sudah membatalkan niat sejak namanya dipanggil.

 “Kalian berdua ikut saya!” perintah Pak Adnan selagi atmanya menyongsong wajah Bintang dan Aksa.

 Tanpa penolakan, keduanya mengekori figur sang guru. Demikian dengan pengunjung kantin. Mereka memulai kembali aktivitas masing-masing dengan pertanyaan Adiksimba* tentang kejadian yang baru saja mereka saksikan.

 Di sisi lain, tepat di luar kantin, langkah Aluna dan Alea terhenti kala berpapasan dengan Pak Adnan. Menyapa sekilas sebagai tanda hormat, Pak Adnan menjawab dengan anggukan.

 Masing-masing indera penglihatan mereka langsung tertuju pada Aksa yang berjalan persis di belakang Pak Adnan. Tanpa melempar tanya satu sama lain, mereka sudah paham bahwa ada hal baik baru saja terjadi.

 Namun, mereka berhasil dibuat tertegun ketika menangkap siluet si kapten basket membuntuti dua insan sebelumnya. Pasalnya, ini kali pertama Bintang mengambil bagian dari urusan keduanya yang memang sudah menjadi pengetahuan umum seberapa dekat mereka. Itu pun karena rajinnya Aksa yang tidak pernah absen untuk membuat masalah.

 “Ada apa dengan Bintang?” Itu Alea yang bertanya pada Biru yang baru keluar dari kantin.

 “Ini salahku,” timpal gadis berkacamata di sebelah Biru. Menunduk sedih juga menyalahkan diri sendiri atas kegaduhan tadi.

 “Jangan salahkan diri lo kayak gitu. Semua orang tahu kalau Kak Aksa yang mulai duluan,” kata Biru.

 Dari situ Aluna dan Alea tahu akar masalah. Pasti karena pembulian. Ditambah lagi ada bukti nyata seperti milik Bintang pada seragam siswi itu.

 “Tapi—”

 “Sudahlah, lebih baik lo bersihkan seragam lo sebelum jam masuk dimulai. Kak Bintang juga tidak akan mempermasalahkan ini lagi,” potong Biru penuh keyakinan. Akhirnya, gadis itu menuruti saran Biru. Ia pergi setelah mengucapkan terima kasih.

 “Sebenarnya ada apa?” Alea mengulangi pertanyaan untuk memastikan.

 “Biasalah. Kak Aksa membuli gadis tadi. Kak Bintang tidak tahan melihat ulahnya. Maka dari itu kakak ambil tindakan.”

 Alea ber-oh-ria. Namun, Aluna tidak demikian. Dia diam karena ia berusaha menetralkan jantung yang masih berdetak dengan tidak normalnya itu. Ketidaksengajaan matanya bertemu mata Bintang-lah penyebabnya.

 “Kak Aluna?” Biru memanggil.

 Sedikit terperanjat dan takut mereka berdua menyadari bahwa keringat dingin tengah hadir di keningnya, Aluna menjawab pelan, “I-iya?”

 “Apa Kakak baik-baik saja?”

 Oh, sialnya, Biru menyadari itu.

 “A-aku baik-baik saja,” bohongnya ditemani senyum kikuk.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

*Adiksimba: singkatan dari pertanyaan dasar: Apa, Di mana, Kapan, Siapa, Mengapa, dan Bagaimana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!