Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Lembur Berdarah di Area Parkir
"Bos bilang kita cuma perlu patahin kakinya. Jangan sampai mati, nanti kita repot urus mayat di dalam area kantor."
"Cewek sekecil ini? Sekali pukul juga tulang keringnya hancur berantakan."
Riana menghentikan langkahnya. Sepatu hak tingginya berhenti berdetak di atas lantai beton area parkir bawah tanah. Lift di belakangnya baru saja tertutup rapat. Angka digital merah di atas pintu lift menunjukkan pukul sembilan belas nol nol. Udara di lantai dasar bawah tanah ini terasa lembap, pengap, dan sunyi.
Empat pria berbadan tegap keluar dari balik pilar-pilar beton tebal. Masing-masing membawa tongkat besi padat berkarat. Wajah mereka terlihat beringas.
Riana menghela napas panjang dan sangat berat. Dia menunduk menatap layar tablet kerja di tangan kirinya, lalu menekan tombol kunci hingga layarnya gelap gulita.
"Kalian tahu, biaya parkir inap di gedung Aegis Corp ini sangat mahal," ucap Riana dengan nada datar yang teramat lelah, seolah dia sedang menasihati anak magang yang salah fotokopi dokumen. "Kalau kalian bukan karyawan resmi, lebih baik kalian keluar sekarang sebelum sistem keamanan mendenda kalian dengan tarif progresif."
"Banyak omong lo, cewek culun!" bentak preman berjaket kulit hitam yang memimpin kelompok itu. "Bos Gideon titip salam panas buat kaki lo. Sini, biar kita selesaikan cepat. Kita juga mau makan malam sehabis gajian."
Riana mendecak sebal. Dia melipat cover pelindung tablet kerjanya dan memasukkannya ke dalam tas jinjing dengan gerakan sangat perlahan. Tangan kanannya kini merogoh ke sisi tas, mengeluarkan sebuah payung lipat berwarna hitam pekat berukuran sedang.
"Gue baru beli kemeja putih ini kemarin," keluh Riana pelan, matanya menatap tajam ke arah empat preman itu dari balik lensa kacamata tebalnya. "Gue benci banget kalau harus repot mencuci noda darah."
Pemimpin preman itu tertawa meremehkan. Dia meludah ke lantai, lalu mengayunkan tongkat besinya tinggi-tinggi. Pria beringas itu berlari menerjang, mengincar lutut Riana dengan ayunan penuh tenaga.
Gerakan Riana sangat tenang. Dia sama sekali tidak mundur untuk menghindar. Perempuan itu justru melangkah serong ke depan, memotong jarak serang dengan sangat presisi. Payung lipat hitam yang masih tertutup rapat di tangannya melesat secepat kilat.
Ujung payung yang entah kenapa bisa keras itu menghantam telak jakun preman pertama.
Terdengar suara napas yang tercekat hebat. Sebelum pria berjaket kulit itu sempat berteriak kesakitan, tangan kiri Riana sudah menangkap pergelangan tangan preman tersebut. Riana memelintirnya ke arah luar hingga terdengar bunyi patahan tulang yang mengerikan bergema di penjuru parkiran.
Krak!
"Satu," hitung Riana dengan suara tanpa emosi.
Tongkat besi jatuh ke lantai berdenting keras. Preman pertama tumbang seketika sambil memegangi tangannya yang bengkok ke arah yang salah. Dia mengerang tertahan di lantai beton.
Tiga preman lainnya terbelalak kaget. Keterkejutan mereka adalah kesalahan paling fatal jika berhadapan dengan mantan algojo pencabut nyawa terbaik.
"Serang barengan, bodoh!" teriak preman kedua yang berkepala botak.
Dua orang langsung maju menerjang dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan. Riana menunduk tepat waktu saat sebuah tongkat besi menyambar udara kosong beberapa sentimeter di atas kepalanya. Dia menggunakan ujung payungnya untuk menyodok keras ulu hati preman botak itu, membuat pria raksasa itu tersedak ludahnya sendiri dan melipat tubuh ke depan.
Tanpa jeda satu detik pun, Riana mengangkat lutut kanannya tinggi-tinggi. Dia menghantam wajah preman botak itu dengan telak. Darah segar muncrat dari hidungnya. Pria itu pingsan seketika sebelum tubuh besarnya menyentuh lantai.
"Dua," gumam Riana dingin.
Di sudut paling gelap area parkir, sebuah mobil van layanan kebersihan berwarna putih terparkir diam tanpa menyalakan lampu. Jace duduk di kursi kemudi, menatap tajam dari balik kaca film yang gelap gulita.
Mata tajam Jace mengikuti setiap gerakan Riana dengan saksama. Pewaris tunggal Diwantara Group itu menyandarkan dagunya di atas setir kemudi sambil tersenyum miring.
"Gila," bisik Jace pelan, memecah kesunyian di dalam van. "Itu teknik pertarungan jarak dekat kelas atas. Tidak ada gerakan mubazir sama sekali. Perempuan berkacamata itu murni mencari titik mematikan secepat mungkin."
Jace terkekeh pelan melihat Riana yang kini berhadapan dengan dua preman tersisa. Jelas sekali Bos Gideon salah memilih lawan. Ini bukan gertakan receh terhadap HRD kantoran. Ini adalah murni pembantaian preman jalanan oleh monster birokrasi berdarah dingin.
Di luar sana, preman ketiga berteriak marah dan menerjang membabi buta. Ayunan tongkatnya sangat serampangan. Riana memiringkan tubuhnya sedikit, membiarkan tongkat itu membentur pilar beton di belakangnya hingga memercikkan bunga api kecil.
Dengan gerakan mengalir yang mematikan, Riana membuka payung lipatnya tepat di depan wajah preman ketiga. Payung hitam itu mengembang tiba-tiba dengan suara nyaring, menutupi pandangan si preman selama satu detik penuh.
Satu detik yang langsung membawa petaka besar.
Riana menendang kuat tempurung lutut preman itu dari balik tirai payungnya. Terdengar bunyi tulang yang bergeser paksa dari sendinya. Pria itu menjerit histeris dan jatuh berlutut memegangi kakinya. Riana menutup kembali payungnya dengan santai, lalu menggunakan gagang plastik payung itu untuk memukul tengkuk pria tersebut dari belakang. Preman ketiga ambruk mencium lantai, tak sadarkan diri.
"Tiga."
Kini tersisa satu orang preman terakhir. Pria bertubuh paling kurus itu gemetar hebat. Tongkat besinya bergetar parah di tangannya yang berkeringat dingin. Dia menatap ketiga temannya yang terkapar mengenaskan di atas lantai dalam waktu kurang dari dua menit.
Riana memutar payungnya santai. Kemeja putihnya masih bersih bersinar, tidak ada noda setitik pun. Kacamata tebalnya bahkan tidak miring sama sekali di wajahnya.
"Lo mau maju, atau lo mau lari?" tanya Riana datar.
Preman kurus itu langsung membuang tongkat besinya dan berbalik badan untuk lari terbirit-birit menuju pintu keluar parkiran.
Riana mendesah pelan. "Peraturan perusahaan pasal sepuluh. Jangan pernah meninggalkan pekerjaan yang belum selesai secara tiba-tiba."
Riana melempar payung lipatnya ke depan dengan bidikan yang sangat mengerikan. Payung itu melayang berputar di udara bagaikan bumerang dan menghantam keras betis preman yang sedang berlari kencang itu. Pria kurus itu kehilangan keseimbangan, kakinya tersandung hebat, dan wajahnya menghantam kap mobil sedan terdekat dengan suara hantaman keras. Pria itu pingsan melorot ke lantai dengan hidung berdarah.
"Empat. Pekerjaan selesai."
Riana berjalan sangat santai menghampiri preman kurus itu. Dia memungut payung lipatnya dari lantai dan mengibas-ngibaskan sedikit debu yang menempel di kain hitamnya. Perempuan itu merapikan lipatan lengan kemejanya yang sama sekali tidak berantakan.
Jace yang sedari tadi menonton pertunjukan luar biasa itu hanya bisa menggelengkan kepala takjub. Dia meraih ponsel pintar dari saku seragamnya, jarinya bergerak cepat meretas sistem jaringan kamera CCTV parkiran gedung Aegis Corp. Jace menghapus seluruh rekaman pembantaian barusan hingga bersih tanpa sisa. HRD culun ini terlalu berharga jika kedoknya terbongkar sekarang oleh pihak keamanan. Secara tidak langsung, Jace sangat butuh Riana untuk terus mengacaukan sindikat musuhnya dari dalam.
Di luar sana, Riana merogoh saku rok kerjanya dan mengeluarkan ponsel pintar. Dia menekan satu tombol panggilan cepat ke nomor darurat bagian keamanan gedung. Nada sambung berbunyi dua kali sebelum terdengar jawaban bingung dari seberang sana.
"Halo, pihak keamanan gedung Aegis Corp?" suara Riana terdengar sangat tenang, datar, dan sopan seolah dia baru saja selesai meminum teh sore di kafe. Dia melirik lekat keempat tubuh preman yang bergelimpangan merintih kesakitan di lantai beton. "Ada empat orang terpeleset berjamaah di lantai dasar. Tolong panggil ambulans."
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪