Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.
Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.
Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.
Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.
Bertahan… atau melepaskan?
Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beast
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“YEAAAHHH!”
Sorakan di luar sana menegakkan leher Bintang.
Dengan santai, ia meraih ponsel dan keluar mobil. Menyimpan benda pipih itu dalam saku celana bagian depan, lalu menyusup di antara kerumunan—masih dengan penyamaran.
“Lo lihat sendiri, Bintang Mahendra! Gue! Aksa Mahesa! Akhirnya malam ini sudah ngalahin lo!” seru Aksa dengan hebohnya.
Semua orang pun berteriak histeris kemudian.
“YEAH! AKSA MAHESA!” teriak salah seorang dari mereka dan fanchant atas nama Aksa mulai mengudara.
“AKSA MAHESA!”
“AKSA MAHESA!”
Aksa yang sudah terlalu bangga pada diri sendiri kini berdiri semakin pongah.
Ia lantas berjalan mendekati mobil lawannya—Bintang. Berdiri di depan dengan berkacak pinggang, ia pun berseru lantang, “Sekarang sadarkan diri lo, Bintang Mahendra! Lo bukan satu-satunya yang terbaik!”
“YEAH, AKSA!”
Sebuah seringai hiasi bibir Aksa.
Beberapa detik berlalu tanpa respons, rahang Aksa mengeras perlahan. Lalu, kedua tangannya menghantam kap mesin dengan kuat.
“LO UDAH NGGAK PUNYA NYALI, YA, SAMPAI LO NGGAK BERANI TURUN DARI MOBIL?!”
Suasana semakin memanas. Apalagi, yel-yel nama Aksa masih menggema.
Dan …,
Prok!
Prok!
Prok!
Tepukan tangan dengan jeda satu detik di setiap tepukan berhasil membisukan suasana. Seperti halnya Aksa yang menoleh dengan kening berkerut, semua menoleh pada presensi di tengah kerumunan tersebut.
Pemuda ber-hoodie yang masih asyik bertepuk tangan itu membuat Aksa melangkah mendekat.
“Lo siapa?” tanya Aksa bermatakan dingin pun tajam.
Hatinya sedikit tidak terima dikarenakan tepukan berjeda itu bagaikan sebuah ejekan baginya.
“Hai, Aksa?” sapa Bintang.
Seketika Aksa mendelik tak percaya.
“Sorry, karena sudah buat lo kaget.”
Semua terkesiap begitu Bintang menurunkan hoodie juga maskernya.
“Hei?! Apa-apaan ini?!”
Tentu Aksa tidak terima.
Dengan marah yang membalut perasaan, ia membalikkan badan dan mendapati Felix muncul dari balik pintu pengemudi mobil Bintang.
“Lo berani mempermainkan gue?!” pekik Aksa tepat di hadapan wajah Bintang setelah ia meraih hoodie putera Atmadja.
Matanya tajam bagaikan tatapan elang, rahangnya mengeras, napasnya menderu tapi tertahan, dan tangan itu masih erat mencengkeram di titik yang sama.
“Maaf.” Hanya itu yang Bintang berikan.
Gigi Aksa mengeluarkan suara gemeretak. Namun, dengan sekali dorongan yang kasar ia melepaskan cengkeraman itu.
Aksa merasa seperti menelan pil pahit. Ia kira telah berhasil mengalahkan Bintang. Namun kenyataannya, ia hanya dipermainkan.
“Kenapa?!” bentak Aksa.
“Kenapa lo lakuin ini, Bintang Mahendra?!”
Tanpa ekspresi, Bintang menatap intens Aksa.
“Maaf, Aksa ….”
Yang punya nama mengepalkan kedua tangan.
“... Gue nggak dalam kondisi yang baik. Jadi, gue minta Felix gantiin gue.”
Persetan dengan kondisi Bintang, Aksa akhirnya melemparkan satu pukulan di wajah lawan.
“DASAR PECUNDANG!”
Bintang yang tadi sempat terhuyung karena belum siap menerima pukulan, kembali berdiri tegak dan mengusap sudut bibirnya. Di sana, pada permukaan punggung tangannya, sedikit darah segar meninggalkan jejak.
Dengan telunjuk mengarah lurus pada Bintang, Aksa yang murka kembali bersuara, “Gue harap Aluna sadar kalau lo nggak sebaik itu, Tuan Bintang!”
Mendengar lagi nama Aluna disebutkan, sorot mata Bintang berubah. Ia menyeringai dan mata dingin penuh ambisi untuk membunuh itu menatap tepat pada sosok Aksa.
“Lo nggak perlu bawa-bawa dia, Aksa,” peringat Bintang.
“Kenapa? Lo takut boneka-boneka lo nanti bakalan balik serang diri lo?” sindir Aksa diiringi senyum jahatnya.
Srekkk!
Kini, posisi berbalik. Bintang sudah menarik kerah jaket Aksa. Tentu saja, pemuda itu tidak tinggal diam. Ia meronta dengan menarik tangan Bintang dari sana. Namun, karena cengkeraman itu kuat, Aksa tidak berhasil.
“Jaga bicara lo. Aksa Mahesa! Lo nggak tahu kehidupan gue. Jangan sekali-kali lo melewati batas!” desis Bintang.
Netranya menyelami bola mata Aksa seakan ia akan memangsa manusia ini sekarang juga.
“Lo … Bintang Mahendra.”
Tanpa sedikitpun bayangan takut untuk membalas tatapan Bintang, Aksa memulai konfrontasinya.
“Anak tunggal dari CEO V-Tour, Hanung Atmadja. Ace dari segala hal! Yang memiliki jutaan penggemar karena ketampanan juga keterampilan! Lo pacar Aluna Savira! Teman sekelas gue!
“Hidup sebagai anak baik-baik di sekolah, tetapi menjadi binatang buas setelah mata hari terbenam! Dengan sesuka hati, lo akan memainkan boneka-boneka bernyawa yang lo punya tanpa perasaan.”
Mata Bintang memanas. Napasnya kian menggebu; ingin segera dibebaskan dari dada yang sudah terlalu sesak. Urat-urat di punggung tangannya pun kian menampakkan diri begitu ia semakin mengeratkan kerah jaket Aksa dalam genggaman.
“Binatang buas?” monolog batin Bintang dengan tak terima.
Jari-jemari Bintang makin kuat mencengkeram kerah jaket Aksa sampai buku-buku jarinya memutih. Ia begitu ingin menghabisi pemuda di depannya ini. Menghajarnya habis-habisan sampai dia pun sadar kalau dirinya sebelas-dua belas tidak berbeda jauh dari Bintang.
Kendatipun ia sangat ingin melampiaskan semuanya …, tetapi tatapan bengis Bintang melunak secara perlahan. Cengkeraman itu pun mulai mengendur. Ia menghirup dan membuang napas lelah ketika kelopak itu terpejam sesaat. Setelah terbuka, tatapan tak bernyawa ia berikan.
Kening Aksa berkerut. Layaknya sorot mata Bintang yang memiliki makna tapi tak bisa ia artikan, Aksa tidak mengerti akan perubahan sikap Bintang yang tiba-tiba.
Bintang menghentakkan tautan tangan ke udara—ia membebaskan Aksa.
“Sudah malam, Aksa. Gue janji akan bayar kecurangan gue. Sekali lagi maaf karena sudah curang,” kata Bintang.
Aksa masih linglung. Bahkan, ketika Bintang menepuk bahu kanannya, ia hanya bisa memandang tangan Bintang yang berhenti sebentar di sana.
“Pulanglah!”
Aksa kembali menatap paras tampan Bintang yang masih setia datar dan dingin.
“Sampai jumpa besok,” lanjut Bintang.
Felix yang cemas, tetapi memilih untuk tetap berdiri tanpa mencampuri urusan mereka akhirnya berjalan mendekati Bintang yang menggerakkan kaki ke arahnya.
“Bin?”
“Nggak apa-apa,” sambar Bintang. Ia menepuk pelan bahu kiri Felix. Dengan senyum simpul, ia berkata, “Makasih, ya. Maaf sudah buat lo repot.”
Felix menggeleng, “Nggak masalah. Gue juga senang ngelakuinnya,” balas Felix masih dengan kekhawatiran yang masih terpancar dari wajahnya.
Bintang kian melebarkan senyum meski senyuman itu tidak sampai matanya.
“Lo baik-baik saja, ‘kan?” tanya Satria selagi mendekat diikuti tiga manusia lainnya.
“Yup! Hehehe,” balas Bintang seraya mengedikkan bahu. “Gue pulang dulu, ya. Sudah malam,” lanjutnya.
Seperti saat bertemu tadi, kini Bintang melakukan jabatan tangan salam perpisahan.
“Bin, gue minta maaf.”
Satria berkata demikian sebelum Bintang membuka pintu. Sebagai sepupu, ia memang suka mengejek. Namun, Satria juga masih punya hati nurani sehingga ada rasa tidak enak dalam dada ketika melihat Bintang yang berperilaku demikian.
“Jangan dipikirkan,” gelak Bintang. “Kaila, cepat pulang! Besok masih ada sekolah!” peringatnya pada satu-satunya gadis di antara mereka.
“Bye, Guys!” kata Bintang dari dalam mobil.
Tarikan kurva di wajah menjadi salam perpisahan untuk keempat temannya yang membalas dengan anggukan dan lambaian.
Tidak lama, mobil Bintang membelah kerumunan dan melaju ke jalan utama.
“Beast’s attitude,” suara Nona tiba-tiba terdengar di keheningan yang tidak benar-benar sepi.
Sontak, Bintang menggenggam kemudi dengan erat.
“Binatang buas,” timpal Aksa dan berhasil membuat nyeri ulu hati.
“Gue harap Aluna sadar kalau lo nggak sebaik itu, Tuan Bintang!”
Lagi, tangan pemuda itu mulai bergetar.
“Ayo, nikmatin waktu ini bersama,” ajakannya pada Aluna di masa lalu pun datang tanpa diminta.
“Terima kasih.”
Wajah tulus Aluna yang sedang tersenyum dan terkena sinar oranye senja seolah-olah hadir tepat di depan mata. Membuat rahang yang sudah mengatup itu kian kuat beradu kekuatan.
“DASAR PECUNDANG!”
Dan—
BOOM!
Umpatan dari Nona dan Aksa yang bercampur berhasil meledakkan emosi yang mati-matian ia tahan.
“AAAKH!”
Teriakan Bintang pecah di dalam mobil, disertai beberapa hentakan pada kemudi. Suaranya lalu tenggelam secara perlahan bersama mesin yang meraung. Dadanya terasa berat seolah runtuh oleh kenangan yang mengulang luka yang sama di setiap tarikan napas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...