NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Promosi Dadakan dari Sang Mafia

​​"Anggaran divisi lo bekukan?!" jerit Gideon, suaranya pecah saking marahnya. Urat lehernya menonjol keluar dari balik kerah bajunya, nyaris putus karena menahan emosi yang meledak-ledak. "Lo pikir lo siapa berani potong jalur napas operasional pasukan gue?!"

​"Gue atasan lo dalam rantai administrasi perusahaan," jawab Riana dingin tanpa berkedip sedikit pun. Dia menunjuk pintu kaca. "Bawa dia keluar dari ruangan gue sekarang. Kalau dia melawan, seret paksa."

​Lima sekuriti bertubuh tegap langsung melangkah maju dan memegang kedua lengan Gideon erat-erat. Gideon memberontak liar, tapi dia sadar betul dia kalah jumlah dan kalah telak secara sistem.

​"Lo bakal nyesel berurusan sama gue, Nona Kacamata! Bakal gue bikin lo berlutut minta ampun hari ini juga!" raung Gideon memaki kasar sambil diseret mundur keluar dari pintu kaca.

​Riana sama sekali tidak repot-repot membalas makian murahan itu. Dia hanya menatap punggung gempal tersebut menghilang di balik lorong. Seluruh staf HRD di dalam ruangan menahan napas, menatap bos baru mereka dengan rasa kagum yang bercampur ngeri.

​Baru saja Riana hendak merapikan letak tablet kerjanya, telepon kabel berwarna merah di sudut mejanya berdering nyaring. Itu adalah jalur komunikasi darurat. Hanya satu orang di gedung markas mafia ini yang punya akses menelepon langsung lewat jalur merah tersebut.

​Riana mengangkat gagangnya dengan tenang. "Ruang HRD."

​"Bereskan kekacauan anak buah lo, lalu naik ke lantai puncak sekarang juga. Sendiri." Suara berat dan serak milik Bramantyo terdengar di seberang sana, lalu sambungan diputus sepihak begitu saja.

​Riana meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Dia merapikan kerah kemeja putihnya yang sedikit berantakan, memastikan kacamata tebalnya bertengger sempurna di hidung, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah mantap.

​Lift VIP melaju mulus membawa Riana ke lantai teratas gedung Aegis Corp. Pintu besi berlapis emas itu terbuka, menampilkan sebuah lorong panjang berkarpet merah tebal yang berujung pada pintu kayu mahoni raksasa. Dua pengawal bersenjata laras panjang segera menyingkir, membukakan pintu berat itu untuk Riana tanpa banyak tanya.

​Riana melangkah masuk ke dalam area kekuasaan tertinggi sang mafia.

​Ruangan ini luar biasa mewah dan mengintimidasi. Dindingnya terbuat dari kaca anti peluru setebal lima inci yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian maksimal. Di tengah ruangan, Bramantyo duduk santai di sofa kulit berwarna hitam legam sambil memutar-mutar gelas pendek berisi cairan emas.

​Sebuah layar televisi raksasa di dinding ruangan itu sedang menyala, menampilkan rekaman ulang dari kamera pengawas ruang HRD sepuluh menit yang lalu. Rekaman persis saat Gideon dipermalukan habis-habisan dan diseret keluar oleh sekuriti.

​"Duduk, Riana," perintah Bramantyo santai, tapi nadanya memancarkan otoritas yang tidak menerima penolakan sama sekali.

​Riana berjalan mendekat dan duduk di sofa tunggal berhadapan dengan sang CEO. Posturnya sengaja dia buat tetap kaku dan formal layaknya pekerja kantoran standar.

​"Gue sangat menikmati pertunjukan lo di bawah tadi," buka Bramantyo, matanya menatap tajam setiap garis wajah Riana. "Gideon itu ibarat anjing gila. Dia punya banyak pasukan, punya banyak senjata ilegal, tapi otaknya kelewat tumpul. Cara lo bikin dia  kehilangan anggaran dalam satu ketukan jari, itu sangat menghibur."

​"Pak Gideon melakukan sabotase yang bisa membahayakan masa depan bursa saham perusahaan. Saya cuma menjalankan tugas pembersihan sesuai buku pedoman," jawab Riana datar.

​Bramantyo tertawa keras. Tawa kering yang penuh kalkulasi dan kelicikan.

​"Berhenti berlindung di balik buku pedoman karyawan bodoh itu di depan gue, Riana. Kita berdua sama-sama tahu lo bukan sekadar staf tata usaha biasa yang cuma bisa menyortir kertas pendaftaran."

​Riana diam tidak merespons pancingan itu. Dia membiarkan bos besar ini mengeluarkan kartu asnya terlebih dahulu.

​Bramantyo meletakkan gelasnya di atas meja kaca dengan bunyi benturan pelan. "Boni patah tulang dan hidungnya hancur lebur. Gideon kehilangan muka dan anggarannya dibekukan total. Dalam waktu kurang dari seminggu, lo berhasil bikin dua panglima perang gue mati kutu tanpa lo perlu meneteskan keringat setetes pun."

​"Kalau Bapak merasa tindakan indisipliner saya merugikan aset tempur perusahaan, Bapak bisa memecat saya detik ini juga," tantang Riana berani, membalas tatapan tajam sang mafia.

​"Memecat lo?" Bramantyo mendengus geli. Pria berwajah penuh bekas luka sayatan itu bangkit berdiri, berjalan perlahan menuju meja kerjanya yang terbuat dari batu pualam hitam solid. "Gue justru mau kasih lo apresiasi tingkat tinggi. Perusahaan ini sudah terlalu lama diisi oleh preman otot tanpa otak. Gue butuh algojo birokrasi yang bisa memotong leher mereka pakai kertas, bukan pakai pisau berkarat."

​Bramantyo membuka laci mejanya menggunakan pemindai sidik jari. Dia mengeluarkan sebuah kartu identitas baru berbahan logam warna emas padat, lalu melemparnya ke atas meja pualam tepat di depan dada Riana.

​Riana menunduk menatap kartu emas itu. Namanya tercetak sangat jelas di sana dengan jabatan baru yang jauh lebih mengerikan dari sekadar pengurus absensi.

​"Manajer HRD itu jabatan yang terlalu sempit buat otak licik lo," ucap Bramantyo mutlak. "Mulai hari ini, jabatan lo naik. Lo resmi menjadi Direktur Kepatuhan Aegis Corp."

​Riana mengambil kartu emas yang terasa berat di tangannya itu perlahan. "Direktur Kepatuhan?"

​"Tepat sekali," angguk Bramantyo, melangkah pelan menuju rak minuman anggur di sudut ruangan. "Posisi itu memberi lo akses sandi tingkat atas. Lo punya wewenang mutlak untuk masuk ke divisi mana pun, menggeledah dokumen rahasia apa pun, dan membekukan anggaran siapapun tanpa perlu minta izin tertulis dari gue dulu. Lo adalah pedang baru gue untuk membersihkan parasit di dalam perusahaan ini."

​Bos mafia ini benar-benar masuk perangkap dengan sangat indah.

​Riana memang sengaja membuat kekacauan ekstrem di lantai bawah untuk memancing perhatian penuh dari CEO. Dengan akses mutlak dari jabatan barunya ini, rencana aliansi Riana dan Jace untuk menghancurkan Aegis Corp dari dalam akan menjadi ratusan kali lipat lebih cepat dan mematikan.

​"Saya terima promosi ini, Pak. Saya jamin tidak ada lagi tikus yang berani menggerogoti kabel server di gedung ini," ucap Riana mantap, menyelipkan kartu akses emas itu ke dalam saku kemejanya.

​Bramantyo tersenyum sangat puas. Dia mencabut gabus penutup botol anggur merah impor yang harganya mencapai ratusan juta rupiah per botol. Cairan merah pekat layaknya darah segar itu mengalir perlahan masuk ke dalam dua gelas kristal yang sangat elegan.

​Pria tinggi besar itu berjalan kembali ke arah sofa. Dia menyodorkan salah satu gelas anggur merah itu tepat ke depan wajah Riana.

​Riana menerima gelas itu dengan tenang. Ujung jarinya sama sekali tidak bergetar sedikit pun meskipun dia sedang berhadapan langsung dengan pria yang menekan tombol peledak dan membakarnya hidup-hidup enam bulan lalu.

​"Mari kita bersulang untuk jabatan baru lo," ajak Bramantyo mengangkat gelasnya hingga sejajar dengan mata. "Gue butuh taring lo bekerja secepatnya untuk target yang jauh lebih mendesak."

​Bramantyo memajukan wajahnya sedikit, menatap lurus menembus lensa kacamata tebal Riana. Hawa membunuh murni seketika menguar sangat pekat dari tatapan mata bos mafia tersebut.

​"Mulai besok, periksa seluruh rekening Frans di Divisi Keuangan. Aku curiga bajingan itu menggelapkan uangku," perintah Bramantyo dengan suara rendah yang sangat mengancam. "Gunakan wewenang baru lo. Temukan buktinya."

​Bibir Riana perlahan melengkung ke atas. Sebuah senyum miring yang sangat kejam, sadis, dan penuh kemenangan terbentuk sempurna di wajahnya. Target eksekusi selanjutnya sudah resmi dikunci, dan kali ini, bos besar sendiri yang menyerahkan leher mangsanya ke atas meja jagal.

1
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Muft Smoker: yuuuuuk ,, sbntaar yx aq ambil Pisang goreng sama teh anget dluuu ,, 😁😁😁
total 5 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
Susilawati
hiii sadis banget perintahnya, digiling sampai habis semua badan nya si Frans.
Savana Liora: iyak. jadi pakan ikan
total 1 replies
Susilawati
wah senangnya author up lagi 👍👍👍
FHR
Apakah Bramantyo akan curiga siapa Riana sebenarnya?
Savana Liora: suatu saat akan curiga
total 1 replies
hana
makasih thor akhir nya up juga🙏🙏🙏🙏
Susilawati
jaga kesehatan dan terus semangat Thor 💪, di tunggu kelanjutannya 👍
Savana Liora: siapp kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!