NovelToon NovelToon
Bukan Cinderella Sekolah: Deal Sinting Sang Pangeran Sekolah

Bukan Cinderella Sekolah: Deal Sinting Sang Pangeran Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Si Mujur / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:113
Nilai: 5
Nama Author: Dagelan

Kayyisa nggak pernah mimpi jadi Cinderella.
Dia cuma siswi biasa yang kerja sambilan, berjuang buat bayar SPP, dan hidup di sekolah penuh anak sultan.

Sampai Cakra Adinata Putra — pangeran sekolah paling populer — tiba-tiba datang dengan tawaran absurd:
“Jadi pacar pura-pura gue. Sebulan aja. Gue bayar.”

Awalnya cuma kesepakatan sinting. Tapi makin lama, batas antara pura-pura dan perasaan nyata mulai kabur.

Dan di balik senyum sempurna Darel, Reva pelan-pelan menemukan luka yang bahkan cinta pun sulit menyembuhkan.
Karena ini bukan dongeng tentang sepatu kaca.

Ini kisah tentang dua dunia yang bertabrakan… dan satu hati yang diam-diam jatuh di tempat yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dagelan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Orang-Orang mulai terbiasa Ngelihatin Gue

 

Hari ini dimulai dengan perasaan yang… aneh. Bukan aneh yang horor kayak ada bayangan yang ngikutin ke kamar mandi, bukan juga aneh yang “aku mimpi dikejar sandal jepit gede yang bisa terbang”. Anehnya itu lebih ke. kenapa belakangan gue kebangun pagi dengan perasaan deg-degan tanpa sebab? Seperti ada lampu merah yang menyala di hati tapi gue nggak tahu apa alasannya.

Dan seperti biasa, penyebabnya cuma satu. Yaitu, Cakra.

Sudah seminggu sejak “pacaran pura-pura” dimulai. Sudah seminggu sejak dia mulai ngajak makan bakso bakar, masukin nama gue ke kelas tambahan sultan yang AC-nya dingin banget, dan ngasih gue coklat panas dengan gula pas—seolah dia tahu semua preferensi hidup gue yang gue sendiri nggak pernah ngomong sama siapa pun.

Tapi hari ini…

Rasanya beda. Lebih “terlihat” dari biasanya. Seperti semua orang udah dapet surat undangan buat perhatiin setiap gerakan gue.

Baru mau keluar kelas buat beli minum es teh manis ketika tiba-tiba ada suara ribut-ribut dari depan pintu. Kayak ada rombongan paparazzi yang nunggu artis terkenal yang baru turun pesawat.

Pas aku keluar… semua orang langsung diam. Seperti tombol jeda di film yang lagi seru. Terus matanya semua ngearah ke… aku.

“Heh?” Reaksi otomatis aku keluar dengan kualitas terbaik. muka bingung campur panik tipis yang bikin aku keliatan kayak orang yang baru kebangun dari koma seminggu.

Seorang cewek dari kelas sebelah keluar dari kerumunan, senyum manis yang bikin gue waspada banget. “Kayy~ tumben pagi-pagi Cakra jemput lo tuh…”

“HAH??!”

Gue refleks teriak sampe suara naik satu oktaf—padahal nggak merasa dijemput siapa pun hari ini! Gue aja yang jalan sendirian dari gerbang sekolah, ngunyah permen yang beli di warung!

Cewek itu angkat alis, seolah gue yang bodoh banget. “Lo tadi jalan bareng di parkiran, kan? Cakra turun motor, lewat samping lo, terus jalan ke gerbang bareng! Semua orang lihat lho!”

Aku membeku. Badan kaku kayak patung batu yang baru selesai dibuat.

Oh. Itu. Tadi pagi. GUE PIKIR ITU CUMA KEBETULAN. TERNYATA… ORANG-ORANG NGELIHATNYA NGGAK KEBETULAN. Walaupun sebenarnya itu, bakal jadi rules yang akan dikerjakan tiap hari kayaknya.

“B-bukan bareng! Cuma… kebetulan arah jalan kita sama! Kayak orang yang kebetulan mau ke warung yang sama buat beli es teh!”

Yang lain malah pada bisik-bisik makin kencang, sampe kedengeran jelas.

“Eh, dia kok defensif banget? Malu-maluin nih!”

“Pacaran kali… ini udah terbuka aja deh!”

“Gue liat Cakra tadi megangin pintu gerbang biar Kiran lewat dulu, lho! Itu mah gestur pacar asli!”

“BAH YA AMPUN, ITU MAH SUDAH OFFICIAL LAH!”

APAAN SIH. Semua orang ini jadi penulis skenario FTV aja deh! Aku kabur ke kantin secepat kilat sebelum mereka bisa nambah teori konspirasi baru—kayak “Kayyisa dan Cakra udah rencana nikah tahun depan di pantai”.

Aku duduk di pojokan paling pinggir, membuka tutup minuman dengan tangan tremor level hafalan PPKN semuanya. Baru setengah nyawa balik… ada bayangan panjang berdiri tepat di depan mejaku.

Aku langsung mendesah panjang. “Astaga… Cakra. Lo kok muncul kayak jumpscare di game horor? Kasih gue peringatan dulu dong! Gue hampir nyemplungin es teh ke muka lo!”

Dia duduk tanpa tanya izin—seperti mejanya itu punya namanya juga. “Susah nemu lo. Lo kabur?”

“Gue nggak kabur.” Ucapanku terdengar seperti dusta yang nggak niat ditutup sama sekali. “Gue cuma… menghindari stasiun berita gosip SMA kita yang ini hari lagi sibuk banget kayak kantor pos lebaran.”

Dia hanya menatap. Tatapan khas dia, datar tapi dalem, seolah dia tahu semua yang terjadi padahal nggak ada yang bilang apa-apa.

“Gara-gara pagi tadi?” tanyanya pelan.

Aku mau jawab, tapi dia sudah nyeletuk duluan: “Lo nggak suka diliatin?”

“Ya gue manusia lah! Lo pikir gue billboard iklan sabun yang harusnya dilihat semua orang? Gue bukan benda!”

Dia menahan senyum—yang otomatis bikin aku makin merinding karena jarang banget dia tersenyum terang-terangan. “Gue bisa jalan lebih dulu kalau itu bikin lo nyaman. Biar orang nggak liat kita bareng.”

Hening. Sebenernya… itu perhatian banget. Bikin hatiku terasa hangat sedikit, kayak disentuh dengan jari yang hangat. Tapi aku malah gugup karena dia kedengeran kayak… pacar yang beneran mempertimbangkan kenyamanan pasangan.

Tapi sebelum aku sempat jawab—

JRENG!

Rombongan anak kelas sebelah muncul di pintu kantin. Mereka langsung heboh sampe bikin orang lain menoleh.

“Astaga! Duduk berdua lagi! Udah official banget vibes-nya!”

“Waaa, Bang Cakra ada sini! Boleh foto bareng nggak? Buat posting di story!”

“Kak Kayyisa glowing hari ini! Udah dibuahi cinta ya?”

AKU NGGAK GLOWING. AKU PANIK SEKARANG. Pipi ku panas sampe mau meleleh kayak lilin!

Aku buru-buru berdiri. “Gue… gue balik kelas! Ada PR yang belum kelar—yang luarnya sudah kering tapi dalamnya masih kosong!”

Tapi tanganku baru bergerak sepersekian detik ketika—Cakra megang ujung lengan seragamku. Nggak erat. Nggak narik. Cuma… nahan dikit. Kecil. Pelan. Hangat.

Tapi cukup bikin jantungku salto dua kali lipat, sampe mau terjatuh.

Aku langsung memutar badan, bersuara tinggi sebentar sebelum menunduk dan berbisik pelan kearahnya. "ASTAGANAGA! Jangan buat tingkah, lowkey inget!”

Dia melepas pegangan itu seketika. Bahkan mundur sedikit, matanya turun ke lantai. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang… aku nggak tahu—tapi bukan marah. Lebih kayak… takut bikin aku nggak nyaman. Seperti anak yang takut salah pegang mainannya.

Aku langsung ngerasa bersalah. Seperti aku terlalu keras ke dia yang cuma mau nahan dikit. Aku menghembuskan napas, suara lebih lembut. “Lo kagetin gue. Itu doang. Gue bukan marah.”

Dia menatapku lagi, kali ini matanya tidak seintens biasanya. “Gue bakal hati-hati. Janji.”

Dan entah kenapa kalimat itu bikin dadaku ngilu halus. Seperti ada benang kecil yang nyentuh hati yang bikin aku mau nangis sedikit.

Waktu istirahat kedua, aku nggak sengaja lihat dari jendela kelas. Ada cowok dari kelas basket—tinggi, putih, lucu—ngobrol sama Cakra di koridor. Awalnya biasa aja, kayak cowok yang ngobrol soal pertandingan bola.

Sampai cowok itu ngelambai ke arahku. “Hei Kay! Mau bareng ke lapangan main bola voli sore nanti? Banyak temen dari IPA 5 ngajak sparing lo ...”

Cowok itu belum sempat selesai ngomong ketika Cakra menoleh pelan. Tatapannya turun ke tangan cowok itu yang ngelambai ke arahku.

Tatapan itu… bukan marah. Tapi bukan biasa juga. Itu tatapan. jangan coba-coba. Seperti memberi peringatan tanpa ngomong apa-apa, cuma pake mata.

Cowok basket itu langsung batuk gugup dan cari alasan aneh buat pergi. “Ah—gue inget PR matematika yang belum kelar! Yaudah ya, nanti deh kalo ada waktu!”

Aku keluar kelas, menatap Cakra dengan muka bingung banget. Ngedeketin dia dengan maksud mau nanya. “…Lo ngapain?”

“Dia manggil lo.”

“Emangnya kenapa? Biasa aja ngajak main.”

“Ribet kalau banyak orang ngomongin lo.”

“Ya tapi kan—”

“Dan gue nggak suka.”

Aku tersentak. Bibirku terbuka tapi nggak ada suara yang keluar. “…Lo nggak suka kenapa?”

Dia tidak jawab. Pandangan dia mengarah ke loker di ujung koridor. Diam. Kalem. Tapi aura-nya berubah. Bukan sinis. Bukan galak. Lebih kayak… posesif… kecil. Seperti anak yang takut mainannya diambil orang lain.

Yang justru bikin aku merinding bukan karena takut. Karena… aku nggak tahu lagi ini beneran akting atau bukan. Semua terasa terlalu asli.

Aku kira hari ini sudah cukup chaos. Sudah cukup bikin hidupku jadi drama FTV yang tayang setiap hari tanpa jeda. Tapi begitu aku keluar dari kelas…

Cakra udah nunggu di depan pintu. Tangan di saku, tas disampirkan, wajah santai—standar aura sultan yang bikin orang lihat.

“Lo ada waktu bentar?” tanyanya.

“…Buat apa?” Suara gue langsung waspada. Siapa tau dia mau minta gue pura-pura gandengan depan sekolah—NO THANKS, GUE BELUM SIAP SEKARANG BANGET.

Dia menundukkan kepala sedikit, nyari kontak mata dengan hati-hati. “Gue mau minta bantuan.”

“Bantuan apa?”

Dia mengeluarkan selembar kertas dari tas, dikasih ke aku dengan lembut. Aku ambil. Aku baca. Terus mataku melebar sampe kayak mangga yang matang banget.

“LO IKUT LOMBA APA INI?? LOMBA RUNNER TEAM?!”

Dia mengangguk. “Ya. Lomba lari berpasangan.”

“Terus… kenapa nama gue ada di kolom ‘partner’?!”

“Gue masukin.”

“Cakra, lo masukin gue ke list kegiatan apa lagi?! Kelas tambahan, makan bareng, sekarang lomba lari? Gue bukan asisten pribadi lo ya! Gue juga punya urusan sendiri—seperti ngurusin tanaman bunga di rumah!”

Dia menghela napas. Nada suaranya rendah, ringan, tapi jujur banget sampai bikin aku terdiam. “Karena gue mau lo ada.”

Aku terdiam. Sejenak benar-benar hilang kata-kata. Otakku cuma nampilin tulisan “APA APA APA” yang berulang-ulang.

Lalu dia bicara lagi, lebih pelan. “Kalau nggak nyaman, gue ganti. Tapi… gue pengin nyoba banyak hal yang gue nggak pernah lakuin. Sebelum…” Dia berhenti sebentar, matanya melirik langit. “Sebelum selesai SMA.”

Matanya nunduk dikit. Merendah. “Sama lo.”

Dan di detik itu… entah kenapa, dunia di belakangnya jadi kayak blur. Hanya dia yang kelihatan jelas—rambutnya yang agak berantakan, mata yang lembut, dan senyum tipis yang cuma buat gue. Aku refleks menoleh, menutupi pipi yang panas sendiri dengan lengan.

“…Gue nggak janji gue bakal menang lari. Gue bisa lari tapi cuma sampe setengah jalan doang—nanti gue pingsan, lo yang bawa pulang ya.” Itu doang yang keluar dari mulutku, bodohnya banget.

“Gue cuma butuh lo datang.”

Yasudah deh, terserah. Aku terus dibuat kaget dengan segala kegiatannya, tapi, ya kayaknya aku cuman emang nggak biasa aja.

Saat aku jalan pulang sendirian, kaki ku lambat banget. Pikiranku nggak bisa diam, melayang-layang. Ini beneran masih pacaran pura-pura? Atau… Cakra ini mulai beneran?

Tapi aku buru-buru mengibaskan pikiran itu. Berdebar-debar kayak orang gila.

TIDAK. TIDAK BOLEH.

Ini cuma kontrak. Cuma perjanjian. Cuma akting. Semua ini ada alasan uang. Ada syarat. Ada batas yang jelas.

Walaupun perilakunya belakangan ini…

…kerasa nggak kayak akting.

Aku menghela napas dalam-dalam, mengangkat tangan ke langit yang mulai gelap. “Tuhan… tolong kuatkan hamba-Mu yang hampir salfok tiap tiga menit ini. Jangan biarin gue salah paham. Jangan biarin gue lupa.”

 

✨ Bersambung...

1
Yohana
Gila seru abis!
∠?oq╄uetry┆
Gak sabar nih nunggu kelanjutannya, semangat thor!
Biasaaja_kata: Makasih banyak ya! 😍 Senang banget masih ada yang nungguin kelanjutannya. Lagi aku garap nih, semoga gak kalah seru dari sebelumnya 💪✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!