Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Harapan di Ujung Pagi dan Sesak yang Tertinggal di Senja
Suasana canggung yang bercampur dengan debaran aneh di meja pojok Cafe Nuansa itu perlahan mulai mencair, digantikan oleh embusan napas lega dari Alan yang mati-matian menetralkan detak jantungnya. Setelah insiden 'salah omong' yang nyaris membuatnya mati berdiri akibat gangguan Agus, Wawan, Dewi, dan Mira, Alan kini mencoba menata kembali sisa-sisa kewarasannya. Ia berdeham pelan, meraih cangkir kopinya yang uap panasnya sudah mulai menipis, dan menyesapnya sedikit untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering kerontang.
Di seberangnya, Bunga masih mempertahankan senyum manisnya. Gadis itu menatap Alan dengan sorot mata yang sulit diartikan oleh Alan, namun jelas memancarkan aura kehangatan yang membuat pertahanan diri pemuda itu perlahan luluh.
Mencoba mengalihkan pembicaraan dari topik 'pacaran' yang masih membuat ujung telinganya memerah, Alan meletakkan cangkirnya dan menatap Bunga dengan tatapan yang dibuat senormal mungkin. Rasa penasaran yang sedari tadi mengganjal di benaknya akhirnya kembali mencuat ke permukaan.
"Nga," panggil Alan pelan, memecah keheningan yang menyelimuti meja mereka.
Bunga menaikkan alisnya, menatap Alan dengan penuh perhatian. "Iya, Lan? Kenapa?"
Alan mengetukkan jari telunjuknya di atas meja kayu, mencoba merangkai kata. "Aku... aku dari tadi sebenernya penasaran. Emang ada urusan apa sih kamu pagi-pagi buta gini udah rapi dan datang ke kafe? Ini kan hari Sabtu, biasanya anak kuliahan kayak kita pada molor sampai siang. Ada tugas kampus yang deadline-nya mepet atau gimana?"
Mendengar pertanyaan polos dari Alan, otak cerdas Bunga langsung berputar cepat. Sepercik kilat kejahilan melintas di sepasang mata indahnya. Ia teringat kembali pada kejadian beberapa menit yang lalu, saat wajah Alan berubah menjadi sangat dingin dan datar hanya karena ia memesan dua porsi sandwich dan dua gelas Americano. Kecemburuan Alan yang tak terucap itu adalah hiburan paling manis bagi Bunga pagi ini. Dan sebagai wanita yang sedang dimabuk kepayang, Bunga merasa tidak ada salahnya sedikit menggoda pemuda kaku di hadapannya ini.
Bunga menghentikan aktivitas makannya. Ia menopang dagu dengan sebelah tangan, memiringkan kepalanya sedikit, dan menatap Alan dengan tatapan yang sengaja dibuat misterius. Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan teka-teki.
"Oh, itu..." Bunga sengaja menggantung kalimatnya, membiarkan Alan menunggu dengan cemas. Ia mengaduk sisa kopinya dengan gerakan pelan. "Nggak kok, gak ada tugas kampus yang mepet. Aku ke sini pagi-pagi... ya karena lagi nunggu seseorang aja, Lan."
Deg.
Satu kalimat sederhana, namun efeknya bagi sistem saraf Alan setara dengan hantaman palu godam. Perasaan lega dan bahagia yang baru saja terbangun di dalam dadanya hancur seketika, rata dengan tanah. Dinding es yang susah payah ia runtuhkan kembali menjulang tinggi, membeku dengan sangat cepat.
Otak Alan yang selalu diselimuti oleh insecurity tingkat tinggi langsung memberikan sinyal bahaya. Matanya yang tadi menatap Bunga dengan lembut kini berubah menjadi sedikit redup dan tegang. Rahangnya mengeras tanpa sadar.
'Nunggu seseorang?' batin Alan meronta, mengulang kembali kalimat yang pernah menghantuinya saat melihat dua porsi pesanan tadi. 'Seseorang siapa? Bukannya tadi dia bilang pesanan itu buat gue? Terus sekarang dia bilang lagi nunggu seseorang? Apa pesanan itu murni buat gue sebagai teman sarapan sementara dia nunggu... cowok lain?'
Rasa cemburu yang buta dan tidak rasional kembali mengambil alih akal sehat Alan. Harga dirinya sebagai pria miskin yang merasa tidak pantas untuk siapa pun mulai berbisik-bisik, memprovokasi hatinya yang rapuh. Tanpa bisa ditahan, mulut Alan bergerak mendahului logikanya. Nada suaranya mendadak berubah menjadi kaku, dingin, dan terselip nada interogasi yang cukup tajam.
"Siapa?" tanya Alan dengan cepat, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Bunga. "Pacar baru kamu?"
Pertanyaan bernada sinis itu meluncur begitu saja. Alan merutuki dirinya sendiri tepat setelah kata terakhir terucap, namun nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah terlanjur memperlihatkan taring kecemburuannya.
Di sisi lain meja, Bunga menahan napasnya sejenak. Matanya menyipit menyembunyikan tawa yang hampir meledak. Reaksi Alan benar-benar di luar ekspektasinya, namun sekaligus menjawab semua keraguannya.
'Ya ampun...' jerit batin Bunga dengan riang. 'Kelihatan banget ekspresinya langsung berubah seratus delapan puluh derajat pas aku bilang lagi nunggu seseorang. Matanya langsung tajem, suaranya langsung ketus gitu. Astaga, gemes banget aku, Lan, sama kamu. Gimana bisa cowok sedingin kamu berubah jadi kepiting rebus terus balik lagi jadi kulkas dua pintu cuma dalam waktu lima menit gara-gara cemburu?'
Bunga tidak ingin menyiksa Alan lebih lama. Ia tahu pemuda itu memiliki masalah kepercayaan diri yang cukup serius jika menyangkut urusan romansa dan status sosial. Bunga menurunkan tangannya dari dagu, mencondongkan tubuhnya ke depan, dan menatap Alan dengan senyum yang teramat sangat tulus dan menenangkan.
"Bukan lah, Lan. Masa pacar baru," jawab Bunga dengan nada suara yang lembut, nyaris seperti sedang membujuk anak kecil yang sedang merajuk. Ia tertawa pelan. "Aku pagi ini lagi nunggu kakak aku. Semalem dia bilang, katanya pagi ini bentar lagi mau ke sini, ada urusan di daerah sekitaran kafe ini. Makanya aku sekalian aja berangkat pagi, sarapan di sini, sambil nungguin dia dateng."
Keheningan seketika mengambil alih. Angin segar seolah berembus kencang menyapu bersih awan mendung di dalam kepala Alan.
"Kakak?" gumam Alan pelan, mengulangi kata itu seolah sedang mengeja kosakata bahasa asing yang baru pertama kali ia dengar.
Bunga mengangguk mantap. "Iya, kakak kandungku. Kenapa? Kamu mikirnya aku nungguin cowok lain ya?" goda Bunga sambil menaikkan satu alisnya.
Wajah Alan yang tadi tegang langsung mengendur seketika. Sebuah helaan napas lega yang sangat panjang, tanpa sadar, berhembus dari hidung dan mulutnya. Beban seberat puluhan ton yang menghimpit dadanya menguap tak berbekas. Rasa malu karena sudah berprasangka buruk mulai merayapi pipinya, namun rasa lega itu jauh lebih mendominasi.
"Oh... kakak kamu," jawab Alan dengan suara yang terdengar luar biasa lega. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, membuang muka sejenak untuk menyembunyikan senyum tipis yang diam-diam mengembang di bibirnya. "Ya... ya gak apa-apa. Kirain nunggu siapa. Ya udah, dihabisin dulu itu sarapannya, mumpung masih anget."
Bunga hanya tersenyum simpul melihat tingkah Alan yang salah tingkah namun jelas terlihat sangat bahagia. Keduanya pun kembali melanjutkan sarapan mereka yang tertunda. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi melodi indah yang menemani obrolan-obrolan ringan mereka selanjutnya. Topiknya beralih ke hal-hal yang lebih aman: tugas kampus, cuaca Bandung yang tidak menentu, hingga kejadian-kejadian lucu di fakultas mereka. Selama beberapa puluh menit itu, Alan benar-benar lupa pada beban hidupnya. Ia merasa menjadi manusia normal pada umumnya, seorang pemuda yang sedang menikmati sarapan pagi bersama wanita yang ia sukai.
Namun, waktu tidak bisa dihentikan. Jam dinding kafe terus berdetak, menunjukkan bahwa jam operasional kafe yang sebenarnya akan segera dimulai. Pelanggan pagi sudah mulai berdatangan satu per satu.
Alan melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, lalu menatap Bunga dengan tatapan sedikit menyesal. Ia mengambil tisu, mengelap mulutnya, lalu membereskan piring dan cangkir kotor di depannya.
"Nga," panggil Alan lembut, suaranya sudah kembali normal, tidak ada lagi nada dingin atau ketus. "Aku... aku kerja dulu ya. Udah mau masuk jam sibuk soalnya. Gak enak kalau kelamaan nongkrong di sini, ntar ditegur Bang Hendri meskipun dia baik."
Bunga meletakkan cangkirnya yang sudah kosong, menatap Alan dengan senyum penuh pengertian. Ia tahu betul bagaimana kerasnya pemuda ini bekerja untuk hidupnya.
"Iya, Lan, gak apa-apa," jawab Bunga dengan nada menyemangati. Ia mengepalkan sebelah tangannya di udara. "Semangat ya kerjanya hari ini. Jangan terlalu diforsir, ingat kesehatan juga."
Kalimat perhatian yang sangat sederhana itu sukses membuat hati Alan kembali menghangat. Ia hanya mengangguk pelan, memberikan sebuah senyuman tipis—senyuman yang sangat langka ia tunjukkan pada siapa pun—sebelum akhirnya berdiri, membawa nampan berisi piring kotor, dan berbalik menuju area bar.
Selang beberapa menit setelah Alan kembali sibuk di balik mesin espresso, pintu kaca kafe kembali berbunyi. Kali ini, sosok yang masuk bukanlah pelanggan biasa. Seorang pria bertubuh tegap, mengenakan kemeja kasual yang digulung hingga siku, melangkah masuk dengan aura kedewasaan yang kental. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan sebelum akhirnya matanya tertuju pada Bunga yang sedang asyik membaca buku di meja pojok.
Itu adalah Indra, kakak kandung Bunga.
Namun, sebelum Indra sempat menghampiri adiknya, sebuah seruan kaget bercampur bahagia terdengar dari arah tangga lantai dua.
"Woi! Indra! Kapan lu mendarat di Bandung, Bro?!" seru Bang Hendri yang baru saja turun dari ruangannya. Wajah bos kafe itu terlihat sangat cerah.
Indra menoleh, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya. "Hendri! Wah, gila, makin sukses aja nih bos kafe kita!" balas Indra setengah berteriak.
Keduanya berjalan saling mendekat di tengah-tengah kafe, lalu berpelukan ala pria dewasa dengan tepukan keras di punggung masing-masing. Mereka adalah teman lama, sahabat seperjuangan sejak zaman kuliah yang sudah lama tidak bertemu karena kesibukan bisnis Indra di luar kota.
"Kacau lu, Ndra! Ke Bandung gak ngabarin gue dulu dari semalem. Tau gitu kan gue siapin kopi specialty paling mahal buat lu," omel Bang Hendri sambil tertawa, melepaskan pelukannya.
"Sengaja gue, biar surprise," kekeh Indra. Ia melirik ke arah meja bar, lalu kembali menatap Hendri. "Eh, Hen, lu sibuk gak pagi ini? Gue ada waktu luang bentar nih sebelum meeting siang. Ngobrol di luar yuk, cari sarapan bubur ayam langganan kita zaman ngekos dulu."
"Wah, kebetulan banget! Gue juga lagi agak santai hari ini, anak-anak shift pagi pada full team," jawab Bang Hendri antusias.
Bang Hendri pun berbalik, berjalan menghampiri meja bar tempat Alan sedang merapikan tumpukan cup plastik.
"Lan," panggil Bang Hendri, menepuk bahu Alan pelan.
Alan menoleh, menghentikan aktivitasnya. "Iya, Bang? Ada pesenan?"
"Nggak, bukan pesanan," sahut Bang Hendri. "Gue mau keluar dulu sebentar ya, ada urusan penting sama temen lama gue. Sekalian nostalgia. Lu tolong handle kafe di depan ya bareng yang lain. Kalau ada apa-apa yang urgent, langsung call gue aja."
Alan melirik sekilas ke arah pria tegap yang berdiri tak jauh dari Bang Hendri. Ia ingat pria itu adalah orang yang tadi dibilang Bunga sebagai kakaknya. Pantas saja perawakannya mirip, pikir Alan.
"Siap, Bang. Beres. Aman terkendali," jawab Alan mantap dengan anggukan sopan.
Bang Hendri tersenyum puas, lalu berjalan menyusul Indra. Di saat yang bersamaan, Bunga yang sudah selesai membereskan buku-bukunya ikut berdiri dan berjalan menghampiri mereka.
"Bang Hendri, aku juga berangkat dulu ya," pamit Bunga dengan ramah, menundukkan kepalanya sedikit.
"Lho, udah mau balik, Nga? Gak nambah minum lagi?" tanya Bang Hendri.
"Nggak, Bang, makasih. Udah kenyang banget ini tadi pesen sandwich," jawab Bunga sambil tersenyum. Ia melangkah menuju pintu keluar bersama Indra dan Bang Hendri.
Namun, tepat sebelum tubuhnya melewati ambang pintu kaca, Bunga menghentikan langkahnya sejenak. Ia membalikkan badannya, menatap lurus ke arah meja bar. Di sana, Alan sedang menatapnya dalam diam.
Dengan gerakan yang sangat manis dan natural, Bunga mengangkat tangan kanannya, melambaikan tangannya ke arah Alan dengan senyum cerah yang sanggup mengalahkan cahaya matahari pagi. Matanya berbinar, memberikan isyarat perpisahan tanpa suara.
Di balik meja bar, Alan tertegun selama satu detik. Ia melihat lambaian tangan itu. Meskipun gengsinya setinggi langit, kali ini, dengan perlahan, Alan menganggukkan kepalanya sedikit dan memberikan sebuah lengkungan senyum yang tulus, membalas lambaian tangan Bunga. Sebuah interaksi bisu namun sarat akan makna di antara mereka berdua.
Namun, interaksi manis itu tidak luput dari sepasang mata elang yang sedari tadi memperhatikan dalam diam.
Indra, yang berdiri tepat di sebelah Bunga, menangkap jelas arah pandangan adiknya dan lambaian tangan yang teramat manis itu. Pria dewasa itu menyipitkan matanya, mengikuti arah pandangan Bunga, dan matanya langsung terkunci pada sosok pemuda berbaju hitam di balik meja bar yang sedang tersenyum tipis ke arah adiknya.
Insting pelindung seorang kakak laki-laki seketika berdentang keras di dalam dada Indra.
'Siapa nih bocah?' batin Indra menggeram pelan, menganalisis penampilan Alan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Meskipun penampilannya rapi, tidak bisa dipungkiri bahwa pemuda itu hanyalah seorang pelayan kafe.
'Kok si Bunga kayaknya akrab banget sama nih bocah? Tatapannya Bunga beda... lambaian tangannya juga beda. Gue kenal adik gue, dia bukan tipe cewek yang gampang senyum dan akrab sama cowok sembarangan, apalagi sama pelayan kafe yang baru dia kenal. Ada apa ini sebenernya? Sejak kapan Bunga punya kedekatan khusus sama anak ini? Kayaknya... gue harus cari tahu latar belakang anak ini. Jangan sampai Bunga salah pilih orang atau dimanfaatin.'
Berbagai pertanyaan penuh kecurigaan berputar di kepala Indra. Ia memutuskan untuk menyimpan pertanyaan itu untuk nanti. Ia tidak ingin merusak suasana paginya. Indra pun berbalik, merangkul pundak adiknya, dan berjalan keluar dari kafe menuju mobilnya, meninggalkan Alan yang kembali sibuk melayani pelanggan.
Waktu berlalu dengan sangat kejam bagi para pekerja kasar. Matahari yang tadinya bersinar cerah perlahan meredup, tenggelam ke ufuk barat, mengubah langit Kota Bandung menjadi kanvas raksasa berwarna jingga keunguan. Suara azan magrib terdengar sayup-sayup bersahutan di kejauhan, berbaur dengan deru mesin kendaraan roda dua dan roda empat yang memadati jalan raya akibat jam pulang kantor.
Di sebuah sudut taman kota yang tidak terlalu ramai, jauh dari hiruk pikuk pusat perbelanjaan, Alan Prawija duduk menyendiri.
Lampu-lampu taman bernuansa kuning temaram mulai menyala satu per satu, menyoroti tubuh Alan yang terlihat begitu ringkih akibat kelelahan yang ekstrem. Jaket hitam kebesarannya membungkus tubuhnya yang kedinginan oleh angin sore. Di pangkuannya, terdapat sebuah kotak makan plastik berisi nasi dan lauk sisa display kafe, serta sebotol minuman teh manis dingin—fasilitas makan gratis untuk karyawan shift pagi yang belum sempat ia sentuh sejak siang tadi.
Seharian berdiri melayani ratusan pelanggan, meracik kopi tanpa henti, dan mengurus stok barang di gudang telah menguras habis tenaga fisik dan mentalnya. Otot-otot betisnya terasa kram, dan tulang punggungnya serasa mau patah.
Alan membuka kotak makanannya perlahan. Bau bumbu chicken katsu yang sudah tidak hangat lagi menyeruak ke udara. Ia menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya dengan gerakan mekanis, mengunyahnya tanpa benar-benar meresapi rasanya. Matanya menatap kosong ke arah jalan raya yang macet di luar area taman.
Di saat-saat seperti inilah, ketika keheningan menyelimutinya, monster bernama 'kenyataan hidup' datang menggerogoti pikirannya tanpa ampun. Obrolan manisnya bersama Bunga tadi pagi terasa seperti mimpi indah yang sudah menguap entah ke mana, digantikan oleh realita pahit tentang angka-angka di buku tabungannya.
Alan menelan suapan terakhirnya, menutup kotak makan plastik itu, lalu menyandarkan punggungnya dengan kasar ke sandaran kursi besi taman. Kepalanya menengadah, menatap langit jingga yang perlahan mulai digerogoti oleh kegelapan malam.
Sebuah helaan napas yang teramat sangat berat dan putus asa lolos dari bibirnya yang kering.
"Kapan..." gumam Alan lirih, suaranya parau, nyaris tertelan oleh hembusan angin malam. "Kapan modal yang gue kumpulin ini cukup buat buka usaha sendiri?"
Alan memejamkan matanya erat-erat, merasakan pening yang mendera pelipisnya. Pikirannya melayang pada deretan tagihan dan tanggung jawab yang mencekiknya setiap awal bulan.
"Hidup gue harus berubah," desis Alan pada dirinya sendiri, nada suaranya bergetar menahan amarah pada nasib. "Gue gak bisa selamanya jadi pesuruh kayak gini. Apalagi dalam segi ekonomi... keluarga di kampung butuh gue. Adik gue butuh biaya praktek sekolah."
Alan memukul pelan paha kanannya dengan kepalan tangan, merutuki keadaan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
"Ngandelin jualan online sepatu bekas sekarang mulai susah, algoritmanya hancur, saingannya modal gede semua," racau Alan sendirian dalam keheningan taman. "Sedangkan kerja di kafe Bang Hendri... gajinya emang lumayan, tapi uangnya habis buat biaya hidup gue sehari-hari di kosan sama buat transfer ke kampung. Boro-boro buat nabung modal usaha, buat beli baju baru aja gue harus mikir seribu kali. Apalagi... apalagi kalau gue berani-beranian pacaran sama Bunga... gue mau ngasih dia makan apa? Makan cinta? Cinta gak bisa buat bayar parkir."
Rentetan pikiran beracun itu sukses menghancurkan mental Alan sore itu. Keputusasaan yang mendalam tergambar jelas dari postur tubuhnya yang merosot. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan dengan kasar, mencoba mengusir rasa perih di matanya yang menahan tangis.
Ia merasa sangat kesepian. Ia merasa sendirian memikul beban dunia di atas pundaknya yang belum cukup lebar.
Namun, di tengah pusaran depresi yang siap menelannya bulat-bulat, tiba-tiba... sebuah sensasi dingin yang sangat mengejutkan menyentuh kulit pipi kirinya.
"Capek ya?"
Sebuah suara perempuan yang serak, tomboi, namun sangat tidak asing terdengar mengalun tepat di samping telinga kirinya.
Alan tersentak hebat. Ia refleks mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping. Matanya melebar karena kaget. Di sana, berdiri sesosok gadis berjaket jeans pudar dengan rambut sebahu yang sedikit berantakan tertiup angin. Tangan gadis itu sedang menyodorkan sebuah minuman soda kaleng yang berembun es ke arah pipi Alan.
Itu Rahmi.
Sahabatnya. Keluarga tak sedarahnya. Orang yang entah bagaimana caranya, selalu muncul di saat Alan sedang berada di titik terendah kewarasannya.
"Eh, Mi?!" seru Alan kaget, matanya mengerjap-ngerjap mengumpulkan fokus. Ia memperbaiki posisi duduknya. "Gila lu, ngagetin aja! Ngapain lu tiba-tiba ada di sini? Bukannya hari ini lu bilang mau ngerjain revisian tugas akhir di kampus?"
Rahmi tidak langsung menjawab. Gadis itu menarik kembali tangannya, lalu menyodorkan minuman kaleng dingin itu ke depan dada Alan. Ekspresi wajah Rahmi terlihat tenang, datar, namun ada kelembutan yang tersembunyi rapat di balik sorot matanya yang tajam.
"Nih, minum," titah Rahmi singkat, nada bicaranya masih bergaya preman kampus seperti biasa. "Biar otak lu yang lagi overthinking soal duit itu gak terlalu ngebul. Panas banget tuh pala lu dari jauh keliatannya."
Meskipun masih bingung, tangan Alan secara otomatis bergerak mengambil minuman kaleng dingin tersebut dari tangan Rahmi. "Thanks," gumam Alan, merasakan hawa dingin kaleng itu perlahan menjalar ke telapak tangannya, sedikit menenangkan syarafnya yang tegang.
Rahmi kemudian berjalan memutar dan duduk di sebelah Alan, menyisakan jarak sekitar setengah meter di antara mereka. Ia membuka kaleng sodanya sendiri dengan bunyi pssh yang khas, lalu memandang ke arah lalu lintas jalan raya di depan sana.
"Emang gue suka diem di sini, Lan," jawab Rahmi dengan nada santai, menjawab pertanyaan Alan sebelumnya. Ia mengangkat tangan kirinya, menunjuk ke arah sebuah bangku kayu tua yang agak tersembunyi di bawah rimbunnya pohon beringin di sudut lain taman. "Tapi biasanya gue duduk di pojokan sana, lebih sepi, gak banyak dilewatin orang yang lagi lari sore."
Rahmi menoleh sekilas ke arah Alan, menatap sisi wajah pemuda itu yang terlihat begitu kelelahan. "Gue baru aja beres ngerjain tugas, pusing, nyari angin ke sini. Eh... kebetulan gue liat ada gembel nyasar lagi nunduk-nunduk frustrasi di sini. Ya udah, gak sengaja aja tadi liat elu, ya sekalian gue samperin. Takutnya lu kesurupan penunggu taman terus loncat ke jalan raya."
Mendengar ledekan kasar namun penuh perhatian dari sahabatnya itu, tawa renyah yang terdengar sangat lelah akhirnya meluncur dari bibir Alan. Ia membuka tutup kaleng sodanya, lalu menoleh menatap Rahmi dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa syukur yang mendalam di matanya.
"Aneh banget ya gue mikirnya, Mi," ucap Alan dengan suara yang sudah lebih tenang. Ia tersenyum tipis, menatap lurus ke arah Rahmi tanpa ada keraguan sedikit pun. "Di saat-saat kayak gini... di saat otak gue lagi kusut, di saat gue lagi ngerasa capek banget sama hidup gue sendiri... elu pasti selalu ada. Lu selalu muncul entah dari mana. Lu... kayak magnet aja buat gue, Mi."
Alan mengutarakan kalimat itu dengan murni, polos, dan tanpa tendensi romantis apa pun. Baginya, Rahmi adalah sosok sahabat paling setia, seorang 'saudara' yang kehadirannya memberikan rasa aman dan nyaman layaknya rumah. Ia bersyukur memiliki teman seperti Rahmi.
Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar sangat manis namun mematikan itu, Alan tertawa tipis, mengangkat kaleng sodanya ke udara seolah bersulang, lalu meminum minuman dingin itu dengan tegukan-tegukan panjang. Tenggorokannya terasa segar, perlahan mengusir penat di dadanya.
Namun... di sebelah Alan.
Waktu bagi Rahmi seolah berhenti berdetak.
Kalimat "lu pasti selalu ada" dan "kayak magnet aja" yang diucapkan oleh Alan dengan senyuman itu... kalimat itu masuk ke telinga Rahmi, menembus gendang telinganya, dan langsung menghujam tepat di ulu hatinya yang paling dalam, membelah organ vital itu menjadi dua bagian yang berdarah-darah.
Rahmi mematung. Matanya menatap profil samping wajah Alan yang sedang meneguk minuman. Rahangnya mengeras. Tangan kirinya yang berada di atas paha meremas ujung jaket jeans-nya hingga buku-buku jarinya memutih, menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang rongga dadanya dengan sangat brutal.
Bagi Alan, kalimat itu adalah bentuk apresiasi untuk seorang 'sahabat'.
Namun bagi Rahmi, kalimat itu adalah vonis hukuman mati.
Kalimat itu adalah penegasan mutlak bahwa sekeras apa pun Rahmi berusaha, sesering apa pun ia hadir di saat Alan hancur, sedalam apa pun pengorbanan yang ia berikan secara diam-diam, di mata Alan, ia hanyalah seorang sahabat. Seorang penyelamat paruh waktu. Bukan seorang wanita yang bisa dicintai. Bukan seorang Bunga yang bisa membuat Alan salah tingkah dan tersenyum cemburu.
Mata Rahmi mulai terasa panas. Pandangannya perlahan mengabur oleh genangan air mata yang mati-matian ia tahan agar tidak jatuh. Di bawah cahaya lampu taman yang temaram, Rahmi menatap wajah lelah Alan, menatap bulir-bulir keringat yang masih menempel di pelipis pemuda itu, menatap lingkaran hitam di bawah matanya.
Sebuah jeritan keputusasaan yang teramat sangat memilukan menggema di dalam batin gadis tomboi itu.
'Gue emang selalu ada buat lu, Lan...' batin Rahmi menangis tersedu-sedu, jiwanya merintih kesakitan di balik wajah datarnya. 'Gue selalu ada karena gue cinta sama lu. Karena gue gak bisa liat lu hancur sendirian. Ingin rasanya... Tuhan, ingin rasanya detik ini juga gue ngangkat tangan gue, mengusap keringat di pelipis lu pake tangan gue sendiri. Pengen rasanya gue narik tubuh lu, meluk lu dengan kenceng sekarang juga, nyenderin kepala lu ke bahu gue, dan bilang kalau semuanya bakal baik-baik aja karena ada gue di sini.'
Rahmi memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam secara sembunyi-sembunyi agar Alan tidak mendengar isakannya. Rasa sakit karena mencintai sendirian ini terasa semakin membunuhnya dari dalam.
'Tapi...' lanjut Rahmi dalam kesunyian yang menyayat hati, menelan pahitnya kenyataan hidup yang harus ia telan bulat-bulat. 'Tapi gue sadar diri, Lan. Tangan gue ini cuma tangan seorang sahabat di mata lu. Pelukan gue cuma bakal lu anggap sebagai pelukan seorang 'saudara laki-laki' berbodi perempuan. Dan hati lu... hati lu sekarang lagi berbunga-bunga mikirin wanita lain yang jauh lebih sempurna dari gue. Wanita yang tadi pagi sarapan bareng lu sambil senyum-senyum.'
Rahmi membuka matanya, mengerjapkan matanya cepat-cepat untuk menghilangkan embun air mata, lalu memalingkan wajahnya kembali menatap jalan raya. Ia kembali memasang topeng persahabatannya yang kokoh, topeng yang sudah retak di banyak sisi namun masih ia pakai demi bisa berada di sisi pria ini.
'Ya sudah lah...' bisik batin Rahmi, pasrah pada nasibnya yang menyedihkan. 'Biar gue yang nanggung sakitnya. Asal lu bahagia, Lan, asal lu bisa senyum, gue rela cuma jadi 'magnet' tempat lu naruh keluh kesah lu, lalu lu tinggalin saat lu udah ngerasa lega.'
Dengan gerakan yang sedikit kaku dan hati yang telah hancur berkeping-keping menjadi debu, Rahmi mengangkat kaleng soda di tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas ucapan Alan, gadis itu menempelkan ujung kaleng dingin tersebut ke bibirnya, meminum isinya yang terasa sama pahit dan dinginnya dengan realita cinta yang harus ia jalani. Di bawah langit senja yang temaram, dua anak manusia duduk berdampingan; yang satu tengah bermimpi merajut masa depan, sementara yang lainnya diam-diam menangisi harapan yang telah lama padam.