Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Jebakan Balik HRD
"Gue tidak pantas duduk di kursi ini?"
Riana mengulang kalimat ancaman Gideon dengan nada suara yang sangat tenang dan mematikan. Dia menatap tumpukan kardus kosong di sudut ruangan, lalu kembali menatap wajah gempal Kepala Divisi Logistik itu. Tidak ada setetes pun keringat ketakutan di wajahnya.
"Lo terlalu percaya diri untuk ukuran pria yang otaknya sebesar kacang polong, Gideon," ejek Riana terang-terangan di depan seluruh staf HRD yang sedang ternganga.
Urat di pelipis Gideon langsung menegang parah mendengarnya. "Tutup mulut lo, jalang! Layar komputer lo sudah merah semua! Bukti kegagalan lo ada tepat di depan mata gue! Lo masih mau mengelak?!"
Riana sama sekali tidak repot-repot membalas amarah musuhnya. Tangan kanannya dengan sangat rileks menyentuh layar tablet kerjanya. Jari telunjuk Riana menari di atas layar sentuh itu, memasukkan sebuah deret kata sandi alfanumerik sepanjang dua belas karakter dengan kecepatan kilat yang tidak bisa diikuti mata.
Sistem peringatan merah di monitor utama merek Zenith itu tiba-tiba berhenti berkedip. Suara alarm kecil dari pelantang suara komputer mati total. Sebuah bar pemuatan data berwarna hijau muncul mendadak dari sudut layar, melaju cepat dari angka nol hingga seratus persen hanya dalam waktu kurang dari lima detik.
Klip. Klip. Klip.
Ribuan folder dokumen yang tadinya hangus menghilang, kini bermunculan kembali mengisi layar monitor itu secara serentak. Grafik data karyawan, jadwal absensi, hingga laporan lengkap untuk tim audit negara terpampang sangat jelas dan rapi tanpa cacat seujung kuku pun.
Siska yang berdiri di samping meja kerja Riana langsung menjerit kegirangan sambil menutup mulutnya. "Data kita... data kita kembali semua, Bu Riana! Utuh sempurna seratus persen!"
Seluruh staf HRD di ruangan itu bersorak lega luar biasa seolah baru saja selamat dari hukuman gantung. Beberapa orang bahkan langsung berpelukan sambil menangis haru.
Sebaliknya, senyum kemenangan di bibir Gideon luntur seketika tak berbekas. Matanya melotot selebar piring menatap layar monitor tersebut. Dua anak buahnya di belakang saling pandang dengan raut wajah kebingungan tingkat tinggi.
"Nggak mungkin..." gumam Gideon mundur selangkah, suaranya serak dan gemetar karena gagal paham. "Peretas gue bilang server utamanya sudah dihancurkan pakai virus kelas militer... Mustahil lo bisa memulihkan data ribuan terabyte cuma dalam waktu lima detik!"
"Peretas lo itu memang amatir dan bodoh, persis seperti orang yang membayarnya," balas Riana santai, memutar posisi layar monitornya agar menghadap langsung ke arah Gideon. "Dia memang menghancurkan server utama gedung ini. Tapi dia terlalu bodoh untuk menyadari kalau gue punya cadangan otomatis di luar gedung."
Ini semua adalah bagian dari taktik jitu aliansi mematikannya bersama Jace semalam.
Di apartemen kecil itu, saat Jace selesai mandi dan meredakan rasa terkejutnya melihat luka bakar Riana, pria itu langsung menunjukkan keahlian utamanya sebagai pewaris sindikat elit.
Jace sudah hafal betul pola serangan sabotase gaya mafia. Pria tinggi itu meminjam tablet kerja Riana secara paksa. Dengan keterampilan tingkat dewa meretas sistem, Jace menanamkan sebuah pintu belakang tersembunyi (backdoor) ke dalam jaringan utama Aegis Corp lewat akses login Riana.
Dalam hitungan jam semalam suntuk, Jace berhasil menyedot diam-diam dan menyalin seluruh basis data HRD Aegis Corp, memindahkannya secara rahasia ke dalam brankas server cloud super aman milik Diwantara Group yang keamanannya setara dengan bank sentral negara.
"Data perusahaan ini terlalu berharga untuk ditaruh di keranjang murahan milik divisi IT lo," desis Riana, mengingat penjelasan Jace semalam tentang betapa bobroknya sistem keamanan Aegis akibat korupsi sana-sini. "Lo bisa hancurkan kabel dan mesin di gedung ini sesuka hati lo, Gideon. Tapi data anak buah lo sekarang tidur aman di tempat yang tidak akan pernah bisa lo sentuh."
"Lo... lo menyembunyikan data Aegis di luar tanpa izin bos?!" tuduh Gideon mulai panik mencari-cari kesalahan, telunjuknya menuding wajah Riana dengan gemetar. "Itu pelanggaran mutlak! Lo membahayakan rahasia perusahaan!"
"Menyimpan cadangan data terenkripsi ganda di server cloud eksternal adalah prosedur standar manajemen risiko sebelum audit pajak. Buku pedoman karyawan bab operasional darurat halaman lima puluh," balas Riana mutlak, menggunakan tameng birokrasi andalannya. "Bos besar pasti akan memuji gue karena berhasil menyelamatkan aset triliunan rupiah dari serangan siber yang tiba-tiba muncul dari arah... Divisi Logistik."
Mendengar tuduhan telak itu, wajah Gideon langsung memucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya yang dipenuhi bekas luka sayatan.
"A-apa maksud lo?! Gue tidak ada hubungannya sama peretas pasar gelap itu!" bantah Gideon berteriak kencang untuk menutupi kegugupannya, suaranya sedikit melengking.
"Dari mana loe tau peretas pasar gelap? Lalu kenapa lo datang ke sini lima detik setelah server kami mati, sambil menyuruh gue mengemasi barang?" Riana menyilangkan kakinya, menatap Gideon dengan sorot mata layaknya predator yang sedang bermain-main dengan mangsa kecilnya yang terluka. "Lo terlihat sangat tahu kalau servernya tidak bisa diperbaiki lagi. Insting seorang kepala gudang lo terlalu luar biasa tajam untuk urusan IT. Atau jangan-jangan, lo memang pelakunya?"
"Tutup mulut lo, jalang!" raung Gideon murka, mengangkat tangannya seolah mau menampar Riana. Dua anak buahnya sudah bersiap maju mem-back up atasan mereka.
Tapi Riana bahkan tidak berkedip sedikit pun menatap tangan besar yang melayang di udara itu. Perempuan itu dengan sangat tenang menekan tombol merah pada interkom sentral yang terhubung ke pos pengamanan lobi bawah.
"Pusat keamanan, kirim lima petugas bersenjata lengkap ke ruangan HRD sekarang juga," panggil Riana dengan suara jernih dan sangat formal, membelah suasana tegang di ruangan tersebut.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, suara derap langkah kaki sepatu bot terdengar menggema di lorong. Lima orang sekuriti internal bertubuh tegap menerobos masuk, langsung mengambil posisi siaga di belakang Gideon.
Gideon menurunkan tangannya dengan paksa, tidak berani membuat keributan fisik karena masih trauma dengan kejadian pemecatan Boni kemarin yang berakhir dengan patah tulang.
"Lo mau pamer kekuasaan pakai sekuriti rendahan ini?" ejek Gideon mendengus jijik, berusaha menjaga egonya di depan anak buahnya. "Gue ini Kepala Divisi! Mereka nggak punya wewenang buat mengusir gue dari lantai manapun di gedung ini!"
Riana mengabaikan makian itu. Dia mengetuk layar tabletnya tiga kali, lalu mendongak menatap lurus menembus bola mata Gideon.
"Peraturan perusahaan pasal lima puluh. Sabotase aset digital dan percobaan perusakan data operasional," ucap Riana dengan suara yang sangat dingin dan tidak bisa diganggu gugat. Kalimatnya bergema memantul di dinding ruangan HRD yang kedap suara.
Gideon menelan ludah dengan susah payah. Dia tahu Riana mau melakukan eksekusi hukum birokrasinya lagi.
"Pak Gideon, karena lo terbukti melakukan tindakan mencurigakan di area yang baru saja disabotase, lo resmi masuk ke dalam daftar pengawasan ketat HRD," vonis Riana mutlak tanpa ampun. "Dan sebagai bentuk hukuman administratif sementara, mulai bulan ini seluruh anggaran hiburan, bonus lembur, dan dana liburan tahunan Divisi Logistik resmi gue bekukan total."
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪