NovelToon NovelToon
Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: S.Lioré

Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.

Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.

Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.

Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahan… atau melepaskan?

Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gulungan Warna-Warni dalam Kardus

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 Aluna sedang menunggu Bintang sepulang sekolah di taman dekat perpustakaan. Mereka berencana akan pergi ke toko buku untuk membeli perlengkapan kelas seni. Walaupun berbeda kelas, tetapi dikarenakan materinya sama, mereka memutuskan untuk mencari barang yang dimaksud sang guru bersama. Sebenarnya, Alea akan ikut serta. Namun sayangnya, gadis itu harus segera pulang karena mendapat kabar bahwa neneknya kembali masuk rumah sakit.

 Tidak bosan menunggu, Aluna memilih buku SAINS untuk menemani kesendiriannya di sana.

 “Kak Aluna?”

 Itu Biru dan sepertinya Aluna terlalu serius membaca sehingga tidak sadar akan kedatangannya.

 “Hai, Biru?” sapa Aluna ramah.

 “Sedang menunggu Kak Bintang, ‘kan?”

 Selagi mengangguk, tarikan senyum Aluna melebar. “Dia nggak bersama kamu?” tanyanya begitu sadar tidak ada sosok yang ditunggu di sekitar mereka.

 “Iya, Kak. Kak Bintang nggak bisa datang. Dia ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. Kak Bintang juga titip salam dan minta maaf karena nggak sempat menemui Kak Aluna lebih dulu.”

 Sorot mata layu dan wajah kecewa Aluna dapat Biru lihat. Ia jadi tidak enak hati sendiri dibuatnya.

 “Oh …. Ok! Aku paham.” Kurva yang tadi hampir hilang kembali merekah.

 “Syukurlah,” ucap Biru merasa lega.

 “Baiklah, aku akan pulang sekarang.”

 “Eh? Kak?”

 Aluna yang ingin menyimpan buku dalam tas jadi urung karena panggilan itu.

 “Iya. Ada apa, Biru?” tanyanya selagi memandang pemuda yang masih berdiri di jarak yang sama.

 “Apa Kakak jadi pergi ke toko buku?”

 “Apa Biru boleh hantar Kakak? Eh?! Maksud Biru pergi dengan Kakak? Ada yang perlu Biru beli juga,” kata Biru setelah mendapat anggukan dari Aluna.

 “Oh, Ok! Ayo!” seru Aluna memberikan lampu hijau.

...***...

 Aluna dan Biru baru keluar dari toko buku terlengkap yang berjarak tiga halte dari sekolah mereka. Dengan kardus berisi beberapa gulungan kertas warna dan alat kerajinan lainnya, Biru membantu Aluna membawanya dalam dekapan. Berjalan hanya beberapa menit dari toko buku, mereka sudah sampai di halte yang mengarah ke daerah tempat tinggal Aluna.

 “Terima kasih, ya, karena sudah membantuku membawanya?” kata Aluna dan bersiap memindahkan kardus yang berukuran cukup besar itu dari tangan Biru ke tangannya.

 Namun, Biru menggeleng. Ia menjauhkan benda itu dari Aluna dan membuat kakak tingkatnya memandang bingung.

 “Biru akan hantar Kakak,” jelas Biru.

 “Terima kasih, tapi nggak perlu, Biru. Arah rumah kita berlawanan. Nanti kamu kemalaman pulangnya,” tolak Aluna secara halus. Dia jadi segan jika harus merepotkan orang lain seperti ini.

 “Nggak apa-apa, Kak Aluna. Lagian nanti Kak Aluna kesulitan karena membawa ini,” tolak yang lebih muda.

 “Nggak perlu, Biru. Kakak akan baik-baik saja,” bujuk Aluna.

 “Nggak, Kak. Biru nggak apa-apa,” ujar anak Wiratama masih berdiri di atas kemauannya.

 “Sini. Tolong berikan pada Kakak!” Aluna ingin mengambil barang yang diperselisihkan secara paksa, tetapi Biru semakin mengeratkan pegangan pada kardus itu.

 “Aah~ nggak mau! Biru mau hantar Kakak!” rengeknya masih bersikeras menghindarkan Aluna dari barangnya sendiri.

 “Lihat! Itu bus Kak Aluna, ‘kan?” tanya Biru menyadari bus dengan nomor yang biasa Aluna naiki hampir sampai di tempat mereka.

 “Jadi keputusannya … Biru akan hantar Kak Aluna pulang! Yeah~!”

 Aluna hanya bisa menghembuskan napas pasrah mendengar keputusan yang dibuat secara sepihak itu. “Baiklah! Hanya untuk kali ini saja, ya,” final Aluna.

 “Ayay, Captain!”

 Aluna menggeleng pelan, bukan karena kesal, tapi heran dengan betapa keukeuhnya Biru dengan apa yang dia mau.

Akhirnya, bus berhenti sempurna dan pintu terbuka. Aluna mempersilakan yang lebih muda masuk dulu dan syukurnya ia tidak menolak untuk yang satu ini. Begitu pintu tertutup, maka mulailah perjalanan mereka yang tidak segan-segan untuk duduk berdampingan.

...***...

 Langit kuning kemerahan itu menjadi saksi betapa akrabnya dua manusia yang belum lama mengumpulkan waktu bersama. Dengan cerita yang beragam, Biru terus bercicit ria selama perjalanan mereka. Aluna tentu saja menjadi pendengar yang dengan sabar membalas setiap perkataan pemuda dengan julukan anak beruang itu. Hal itu membuat dirinya makin bersemangat untuk berbagi kisahnya dengan anak tunggal keluarga Wicaksana tersebut.

 “Nah, sudah sampai,” ucap Aluna.

 Biru langsung mengedarkan indra penglihatannya ke sekitar.

“Rumah Kakak yang mana?” tanyanya bingung. Pasalnya, mereka berhenti di depan restoran yang masih ramai pengunjung.

“Di atas,” jawab Aluna sembari menunjuk lantai atas restoran.

Biru mengikuti arahan itu. Dia lalu mengangguk paham akan bagaimana letak tempat tinggal Aluna yang di rasa unik.

“La Luna Bistro,” gumam Biru ketika membaca plakat restoran yang berada di dinding di atas pintu masuk.

“APA?! La Luna Bistro?! Rumah Kak Aluna di atas tempat makan yang terkenal ini?!”

Mata Biru membulat sempurna. Demikian pula dengan mulutnya.

“Serius, Kak?” tanyanya masih belum percaya saat yang ditanya menjawab dengan anggukan.

“Apa ini milik keluarga Kakak?”

“Iya.”

“Wah~ Hebat!” takjubnya yang membuat Aluna tersenyum kecil.

Kedua iris berwarna coklat itu kembali memperhatikan bangunan itu.

“Apa Biru bakalan dapat makanan gratis kalau makan di sini?”

Aluna tertawa mendengarnya. “Random sekali anak ini?” batinnya.

“Tentu!”

Balasan Aluna langsung membuat kelopak mata Biru terbuka lebar dan mulutnya menganga tak percaya.

“Tapi, Biru harus cuci piring dulu sebelum pergi.”

Harapan Biru dihempaskan begitu saja oleh perkataan Aluna. Sontak saja, wajah sumringah yang berapi-api itu berubah datar kemudian.

Aluna pun tertawa terbahak.

“Hei? Kakak cuma bercanda,” kata Aluna selagi menyeka air di ujung matanya.

“Biru, Kakak hanya bercanda. Kakak minta maaf, ya,” ulang Aluna setelah Biru tidak menjawab. Wajahnya masih tertekuk dihiasi dengan bibir bebeknya.

“I am sorry.”

Aluna tidak bermaksud untuk merusak mood yang lebih muda. Ia ingin bermain-main saja.

“Kak? Kenapa wajah Kak Aluna harus kayak gitu?” tanya Biru berisikan keheranan manakala Aluna memandang dengan puppy eyes miliknya.

“Nah! Biru sudah nggak marah ke Kakak lagi, ‘kan?” tanya Aluna langsung sumringah karena dia berhasil membuat senyum di wajah Biru.

“Mana mungkin Biru marah ke Kakak?” cuit Biru.

Kedua mata Aluna menyipit begitu kedua sudut bibirnya terangkat.

“Ohya, Biru,” kata Aluna teringat sesuatu. “Bukan maksud Kakak mengusir, tapi sekarang sudah hampir malam. Cepat pulang sana! Dan satu lagi, terima kasih, ya, karena sudah tolong Kakak bawa barangnya.”

“Maaf karena buat kamu repot,” sambungnya.

Biru menggeleng. “Biru nggak merasa direpotkan, kok, Kak. Lagipula, Biru sendiri yang mau.”

Ruang kosong dalam dada yang tidak sengaja dibuat oleh Bintang tidak membuat Aluna untuk bermuram durja. Apalagi ketika teringat perjuangan Biru yang bersikeras meminjamkan tangan, membuat gadis itu tersenyum sampai ke telinga.

“Kakak paham. Terima kasih, ya.”

Biru akhirnya menyerahkan kardus tersebut.

“Goodbye, Biru. Nanti kabarin Kakak kalau sudah sampai, ya.”

Biru mengangguk ringan. “See you, Kak Aluna,” ucapnya.

Aluna terdiam sesaat dan sebuah senyuman kembali mencerminkan perasaannya yang hangat.

“See you too, Biru.”

...***...

 Getaran dari ponsel yang Biru simpan dalam saku celana tidak berhenti bahkan untuk semenit. Membuat pemuda itu jengah begitu tahu nama si penelpon yang haus akan perhatian.

 “Halo, Kak?”

 “Lama sekali lo angkat telepon dari gue?” kicau Bintang dari seberang.

 “Gue sedang sibuk. Sorry,” balas Biru.

 Netra itu memandang kakinya yang asyik berjalan di trotoar tidak jauh dari tempat tinggal Aluna.

 “Sibuk apa?”

 “Jalan-jalan.”

 Kini, langit yang memiliki rona biru tua dengan suhu warna dingin dan warna jenuh itu menjadi fokus matanya terpusat.

 “Jalan-jalan? Kemana?”

 Napas kasar Biru berhembus pelan. “Iya, Kak. Gue baru aja jalan-jalan dengan Kak Aluna.”

 “Lo antar dia pulang?” tanya Bintang terdengar terkejut.

 “Iya. Kasihan Kak Aluna karena harus membawa barang sebanyak itu. Kak Bintang nggak tahu apa kalau Kak Alea juga nggak bisa pergi? Jadi, daripada Kak Aluna nggak dapat hasil setelah menunggu Kakak, jadi gue pergi menemaninya,” jelas Biru dalam satu tarikan napas.

 “Lo … nggak lagi modus, ‘kan?”

 “Hahaha. Tentu saja nggak. Gue masih tahu batasan gue, Kak,” gelak Biru.

 “Dimana posisi lo sekarang?”

 “Di halte daerah rumah Kak Aluna.”

 “Lo naik bus?!”

 Rahang Biru mengeras, dan lagi, napas jengah itu berembus kasar. “Kenapa Kakak sangat kepo, sih?” keluhnya.

 “Iya! Gue dan Kak Aluna tadi naik bus. Apa Kakak pikir aku nggak tahu kalau pacar Kakak itu bakalan nolak gue antar kalau pakai mobil?”

 “Lagian, urusan apa, sih, yang buat Kak Bintang tega nggak nepatin janji? Buat nemuin langsung aja; nggak sempat. Sekarang malah bersikap kayak orang cemburu buta.”

 “Sudahlah, Kak. Nanti disambung lagi. Busnya sudah datang. Bye!”

 Tutt!

 Pemuda itu tanpa ragu memutuskan sambungan secara sepihak. Napas berat keluar dari kedua belah bibirnya kemudian. Dia pun segera menyimpan ponselnya begitu sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan, tepat di hadapannya. Tanpa menunggu lama, ia membuka pintu belakang dan mencari kenyamanan di kursi yang sudah menjadi spot terbaiknya.

 “Paman, maaf, ya, karena sudah merepotkan Paman,” kata Biru pada pengemudi yang tidak lain adalah supir pribadi keluarganya.

 “Sama sekali tidak merepotkan, Tuan Muda. Apa Tuan Muda ingin langsung pulang?” balas dan tanya sang supir tanpa mengurangi hormat.

 “Iya, Paman. Terima kasih.”

 Lelaki paruh baya itu terdiam sesaat lalu ia membalas, “Terima kasih kembali, Tuan Muda.”

 Begitu roda-roda itu bergerak, Biru langsung menyandarkan punggung dan hanya menatap kosong ke arah luar jendela.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Rumah Keluarga...

...Aluna Savira Wicaksana...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!