Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Serangan Siber dari Divisi Logistik
Riana menarik kerah kausnya hingga menutupi area tengkuk. Gerakannya sangat lambat tapi sarat akan peringatan keras. Perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan kepanikan walau rahasia terbesarnya baru saja terbongkar.
"Luka ini adalah harga mutlak dari sebuah kesetiaan buta," jawab Riana dingin tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. "Jangan menatap gue pakai rasa kasihan, Jace. Gue paling benci tatapan itu."
"Gue tidak kasihan." Jace meletakkan cangkir kopi plastiknya ke atas meja dengan gerakan kaku. Rahangnya masih mengeras kuat. Kilat matanya benar-benar berubah gelap. "Gue cuma memikirkan metode penyiksaan paling lambat buat menguliti bos lo hidup-hidup."
"Bramantyo adalah mangsa utama gue," potong Riana mutlak, berbalik badan menatap Jace dengan sorot mata mematikan layaknya sang algojo. "Lo urus saja bagian luar gedung sesuai kesepakatan aliansi kita. Jangan pernah ikut campur urusan eksekusi gue di dalam Aegis."
Jace mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi tanda menyerah, meski matanya masih menyiratkan amarah yang tertahan. "Oke, hak eksekusi penuh ada di tangan lo. Tapi mulai detik ini, kalau ada cecunguk Aegis Corp yang berani menyentuh lo, mereka berurusan langsung sama gue."
***
Ruangan Kepala Divisi Logistik dipenuhi asap cerutu yang sangat pekat dan mencekik. Gideon duduk di kursi kebesarannya, menghisap cerutu mahal sambil menatap layar laptop hitam di atas mejanya. Telinga kanannya terpasang alat pendengar nirkabel kecil.
Pria bertubuh gempal dan penuh tato itu tersenyum miring melihat deretan kode hijau yang mengalir deras di layarnya.
"Gue bayar lo mahal bukan buat dengar laporan tertunda, bajingan," geram Gideon pelan ke arah mikrofonnya. "Sudah tembus atau belum?"
Suara peretas dari jaringan pasar gelap terdengar statis dan serak di ujung sambungan. "Sistem pertahanan HRD sudah rata dengan tanah, Pak Gideon. Server utama mereka sudah gue susupi virus penghancur berdaya ledak tinggi. Seluruh data absensi, kontrak kerja, dan slip gaji karyawan hangus tidak tersisa detik ini juga. Server mereka sekarang cuma berisi sampah digital."
Gideon tertawa keras hingga perut buncitnya berguncang hebat. Urat-urat di lehernya menonjol keluar saking senangnya.
"Kerja sangat bagus. Boni boleh saja dipecat gara-gara cewek culun sialan itu, tapi urusan logistik dan anggaran wilayah gue tidak boleh diinjak-injak sama orang kantoran," desis Gideon penuh dendam. "Uang sisa bayaran lo gue transfer sekarang juga pakai mata uang kripto."
Gideon menutup sambungan itu dengan kepuasan tingkat tinggi. Dia mematikan ujung cerutunya di asbak kaca dengan kasar. Cewek culun bernama Riana itu pasti akan menangis darah hari ini.
Lantai lima belas bagaikan kapal pecah yang mau tenggelam ke dasar laut.
Riana baru saja melangkah masuk melewati pintu kaca utama HRD yang engselnya baru diperbaiki semalam. Kedatangannya tidak disambut sapaan selamat pagi, melainkan jeritan panik luar biasa dari belasan stafnya yang berlarian ke sana kemari.
"Bu Riana! Gawat, Bu! Tolong kami!" Siska berlari menghampiri Riana dengan wajah pucat pasi. Hidung gadis muda itu masih diperban tebal akibat tamparan bos besar tempo hari. "Sistem jaringan komputer kita mati total dari pusat!"
Riana tidak menunjukkan reaksi panik terkejut sama sekali. Perempuan berkacamata tebal itu berjalan tenang melewati staf-stafnya yang histeris menuju meja kerjanya. Dia meletakkan tas jinjingnya di lantai, lalu duduk menatap layar monitor lengkung merek Zenith miliknya. Layar raksasa itu berkedip merah terang menyilaukan mata, menampilkan deretan angka eror fatal yang berkedip-kedip cepat tanpa henti.
"Tarik napas panjang dan jelaskan situasinya secara singkat," perintah Riana datar, jari-jarinya mulai mengetik sangat cepat di atas keyboard mencari tahu kerusakan sistem.
"S-semua data karyawan dari sepuluh tahun terakhir menguap hilang, Bu!" lapor Siska dengan suara bergetar keras mau menangis. Tubuhnya gemetar hebat ketakutan. "Data absensi, jadwal piket penjagaan gudang, sampai laporan persiapan audit pajak yang bos besar minta siang ini... semuanya terhapus bersih. Kosong melompong!"
Staf laki-laki berkacamata di ujung ruangan ikut berteriak panik sambil menarik-narik rambutnya sendiri. "Kalau tim audit negara datang dan kita tidak punya rekaman data karyawan resmi, aset perusahaan bisa dibekukan hari ini juga! Bos besar pasti akan menguliti kita semua hidup-hidup!"
Kepanikan semakin tidak terkendali merusak suasana ruang kerja. Beberapa staf bahkan sudah mulai menangis histeris, merapikan barang bawaan mereka, dan bersiap kabur sebelum algojo bos besar menjemput nyawa mereka karena dianggap lalai menjaga data krusial mafia.
Di tengah kekacauan yang memekakkan telinga itu, suara tawa berat dan sangat meremehkan memotong udara dengan kasar.
Langkah kaki berat berbalut sepatu bot mahal berderap masuk. Gideon melangkah masuk ke ruang HRD dengan gaya angkuh bagaikan raja lalim yang baru saja memenangkan pertempuran besar. Dua anak buahnya yang berbadan kekar mengekor rapat di belakang sambil menyeringai lebar menatap staf HRD yang ketakutan.
"Aduh, aduh... kenapa ruangan HRD yang biasanya tenang dan sok berkuasa ini mendadak ribut menjerit-jerit seperti pasar malam?" ejek Gideon keras-keras, sengaja memancing emosi semua orang di ruangan itu.
Riana melepaskan tangannya dari keyboard pelan-pelan. Dia mendongak perlahan, menatap Gideon dari balik lensa kacamata tebalnya dengan ekspresi super datar yang tidak bisa ditebak sama sekali.
"Divisi Logistik tidak punya jadwal kunjungan maupun kepentingan operasional di lantai lima belas," tegur Riana sangat tenang. "Silakan keluar sekarang juga."
Gideon sama sekali tidak mundur. Pria bertato itu justru berjalan santai mendekati meja kerja Riana, lalu mencondongkan tubuh gempalnya ke depan menatap layar monitor Riana yang masih menampilkan peringatan warna merah tanda bahaya.
"Gue dengar sistem data lo hancur lebur terkena serangan siber dari antah berantah, Bu Manajer," bisik Gideon licik, matanya berkilat penuh kemenangan telak. "Sayang sekali. Padahal lo baru saja sok berkuasa memecat Komandan Boni dan menahan kunci mobil kami. Sekarang lihat wajah culun lo sendiri. Lo bahkan tidak bisa menjaga mesin ketik digital lo dari peretas amatiran."
"Ini murni sabotase terencana," ucap Riana menatap lurus ke dalam mata Gideon tanpa nada ragu sedikitpun.
"Oh, jangan asal menuduh orang tanpa bukti tertulis, Nona Kacamata." Gideon tertawa mengejek, wajahnya berubah menjadi sangat merendahkan dan buas. "Lo cuma staf HRD baru yang tidak becus kerja dan tidak tahu cara mengelola keamanan data kelas atas."
Gideon menggebrak meja kerja Riana dengan telapak tangannya yang besar hingga sisa alat tulis Riana melompat kecil.
"Bos besar paling benci sama orang yang bikin masalah fatal di masa genting persiapan audit pajak negara," ancam Gideon dengan nada suara yang menggema memantul ke seluruh sudut ruangan. "Kehilangan seluruh data karyawan berarti Aegis Corp gagal mutlak ikut bursa saham. Perusahaan rugi triliunan rupiah murni karena kebodohan lo menjaga server."
Gideon menegakkan tubuhnya, melipat tangannya di dada, lalu menunjuk pintu keluar ruangan dengan gerakan dagunya.
"Lo tidak pantas duduk di kursi itu sedetik pun," desis Gideon mutlak dengan senyum kemenangan yang luar biasa menyebalkan. "Kemasi barang-barang lo ke dalam kardus hari ini juga, Riana. Lo dipecat secara tidak terhormat. Kalau lo tidak mundur sukarela sekarang, gue pastikan bos besar sendiri yang akan menyeret rambut lo keluar dari gedung ini untuk dilempar ke laut."
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪