Rafael Hutama, sang putra sulung keluarga Hutama terjebak one night stand dengan Milea yang datang untuk mencari sang dosen pembimbing sesuai alamat yang tertera di data kampusnya. Tentu saja Rafa yang berada dibawah pengaruh obat tak bisa berpikir jernih hingga berakhir di tempat tidur bersama Milea. Sebagai pria keluarga terpandang tentu dia berniat menikahi Milea. Tapi anehnya Milea malah menolak. Bagaimana bisa dia menerima pertanggung jawaban Rafael jika yang dia cintai adalah Richard Hutama, sang adik yang juga merupakan dosennya di kampus??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sushanty areta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alergi
Momy Sofia dan dady Fernando segera masuk kembali ke dalam rumahnya setelah mengantar sang besan hingga ke mobilnya. Sofia yang memang amat dermawan hingga harus memaksa Ken Ibrahim membawa buah tangan dari kediaman Hutama meski sudah ditolak karena sungkan. Mereka baru berhenti berdebat saat Fenando berkata jika Ken dan Leon harus membawanya pulang. Siapa berani membantah seorang Fernando? berkata dengan nada lirihpun sudah dirasa seperti memerintah seseorang. Terpaksa Ken dan Leon membawanya pulang.
"Hubby, ada baiknya kita tak ikut campur masalah rumah tangga anak-anak kita." ucap Sofia saat mereka sudah sampai di ruang keluarga yang memang di desain luas dan nyaman. Nando memberi isyarat agar Sofia mendekat dan masuk ke dalam pelukannya. Usia yang makin menua hingga paruh bayapun tak menghilangkan kesan romantis pada diri mereka. Sofia segera menyandarkan dirinya ke dalam pelukan sang suami.
"Aku sangat tau itu sayang. Kita juga tak akan ikut campur andai Ken dan Leon tak datang kesini." Sofia menganggukkan kepalanya. Dia dan Nando bukan orang-orang kolot yang menekan anak-anak mereka dengan berbagai aturan dan keinginan.
"Kita yang menjodohkan mereka Sofia. Sudah kewajiban kita untuk membuat mereka berdua saling mencintai. Jika kitapun lepas tangan...siapa yang akan menanggung dosa pada perjodohan ini?" lanjut Nando kemudian.
"Andai Milea tau betapa bahagianya dicintai seseorang seperti Rafael, mungkin dia tak akan jatuh cinta pada Richard. Membayangkan putra kita ditolak wanita saja sudah membuatku kecewa hubby." kecewa? tentu saja Sofia merasakannya. Bagaimanapun Rafael adalah putra pertama mereka. Dari dirinyalah cinta Fernando pertama kali bersemi untuknya. Lagi pula tak ada yang salah dari diri Rafael yang pekerja keras, tampan dan religius. Kenapa orang yang dia persunting malah amat mengharapkan Richard yang berwatak mirip dadynya saat muda? dingin dan arogan.
"Dia akan segera tau betapa manisnya Rafael kita seperti aku yang tau betapa berharganya kau untukku sayang." dan sebuah kecupan mendarat di pelipis Sofia bersamaan dengan datangnya Rafael yang akan kembali ke ruang kerjanya.
"Raf, sebaiknya makan malam sekalian. Mbak Rena sudah menyiapkannya di meja makan. Rivhard akan segera sampai ke rumah sepuluh menit lagi."
"Bagaimana dengan Milea momy?" Rafael teringat pada istrinya yang tadi diantarkan momy Sofia ke kamarnya. Pasti wanita muda itu belum sempat makan malam. Sofia menepuk dahinya dan tersenyum lucu.
"Momy hampir saja lupa. Ehhmm...bagaimana jika kau lihat dia di kamarnya. Jika masih terjaga, ajak Milly makan bersama." Rafael diam di tempatnya, menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Kenapa? apa harus dady atau momymu yang kesana?" ketus Nando saat melihat Rafa tak juga beranjak dari duduknya.
"Ehhm.....aku akan segera ke sana dad." Tergesa, Rafa bangkit dari duduknya lalu menaiki tangga. Nando menggerutu juga saat melihat aksi penghuni rumah itu. Sudah terang dibuatkan lift khusus, tapi malah sibuk naik turun lewat tangga. Apa gunanya kotak ajaib itu dirumah ini?
Pintu diketuk Rafa berulang hingga Milly muncul membuka pintu. Gadis itu terlihat salah tingkah. Pasti dia mengira Rafa akan memarahi atau menyalahkannya. Tangannya saling meremas dilanda kegugupan.
"Syukurlah kau belum tidur. Momy menyuruhmu turun untuk makan malam. Richard juga akan segera tiba dirumah untuk bergabung di meja makan." Mata Milea melebar. Suaminya itu sama sekali tak menunjukkan kemarahan atau muak padanya. Datar dan amat biasa saja.
"I...iya kak..aku akan segera turun." Rafa segera berbalik meninggalkan kamarnya saat Milly usai menjawab. Milea hanya bisa melihat punggung lebar sang suami kembali menuruni tangga.
Milealah orang yang terakhir kali bergabung bersama keluarga Hutama di meja makan. Sofia masih berdiri karena Nando meminta air putih di ujung meja. Sofia mengambilkannya karena Nando tak mau siapapun mengambilkan makanan atau minumannya selain istrinya. Lamban Milea mendekat, mengambil tempat duduk di sisi Rafael. Semua mata menatapnya sekilas. Sofia segera mengambilkan makanan untuk Nando, juga untuk dirinya. Rafael hendak mengisi piringnya saat Milea sudah lebih dulu mengangsurkan piring makanan padanya. Tanpa suara pria itu menerimanya.
"Kak...itu...." Richard yang melirik isi piring kakaknya sedikit terkejut.
"Tak apa Rich, everything's ok." lirih Rafa diikuti nafas panjang sang adik, juga momy dan dadynya. Milea juga segera mengisi piringnya diikuti Richard. Mereka makan dalam diam.
"Sudahlah, biar mereka yang membersihkan semuanya." Rafa segera berkata kala melihat istrinya ikut membawa piring kotor ke dapur.
"Iya Milly, lain kali saja kau bantu mereka. Sekarang pergilah ke kamarmu." ujar Sofia lembut lalu mengikuti suaminya yang sudah lebih dulu meninggalkan meja makan.
"Kak...."
"Ehmmmm...."
"Itu wajahmu...." Milea yang melihat wajah tampan suaminya berubah merah tak tahan untuk tak merasa terkejut. Rafa hanya mengangkat bibirnya sekilas lalu pergi ke ruang kerjanya.
"Itu karena kau memberinya udang. Kakak alergi udang." ucap Richard acuh seraya menyesap minumannya. Mendengar kata alergi seketika membuat Milea panik. Apa yang telah dia lakukan? tergesa dia mengetuk pintu ruanh kerja suaminya lalu menerobos masuk tanpa menunggu dibukakan dari dalam.
Iris kecoklatan Milea melebar. Di dalam sana Rafael yang bertelanjang dada juga tak kalah kagetnya dari dirinya. Kaos yang hendak dipakainya juga sudah jatuh ke lantai karena tak mengira Milly akan menerobos masuk begitu saja.
"Ohh..aahh...itu...kak..maafkan aku." Ucap Milea sambil menundukkan kepalanya. Bagaimana dia tak malu? Dada bidang suaminya terekspose sempurna mengingatkannya pada kejadian dimana dirinya di perkosa oleh sang pria. Jika dulu dia tak sempat melihatnya, maka sekarang dia harus dibuat terpana oleh pahatan sempurna pada tubuh suaminya. Amat gagah, bahkan posturnya jauh lebih gagah dari Richard yang memang hanya berpostur orang Asia kebanyakan.
"Ada apa?"
"Itu...aku..tadi aku...memberikan udang di piring kakak. Aku sungguh tak tau jika kakak alergi udang." Lagi dan lagi Mile meremas tangannya gugup.
"Tak apa, aku baik-baik saja."
"Tapi tubuh kakak merah-merah semua." terpaksa Milly mendongak dan menunjuk bagian tubuh Rafa yang memang merah semua.
"Aku sudah minum obat Milea, jangan khawatir."
"Kenapa kakak tak menolaknya tadi?" lirih Milea penuh penyesalan.
"Ini pertama kalinya istriku mengambilkan makann malamku. Aku tak akan menolak semua pemberiannya. Sekarang pergilah istirahat Milly." Milea terhenyak. Istri?? bahkan Rafa masih menyebut kata istri padanya setelah perkataan menyakitkan yang dia lontarkan kemarin. Terbuat dari apa hati pria itu sebenarnya?
"Kak...maaf."
"Aku sudah memaafkanmu Milea."
"A ..aku...a...apa kakak butuh sesuatu? aku akan mengambilkannya." Milea seolah enggan beranjak dari ruang kerja suaminya. Hatinya harus dibuat kecewa setelah Rafa menggelengkan kepalanya.
iki onok nofel kocak