Kanazya Laurels, wanita yang hidup sendiri dari kecil. Ayahnya meninggal setelah ditinggal ibunya pergi.
Dia bertemu dengan seorang pria penjual bunga yang sangat tampan hingga membuatnya terpesona. Tetapi lelaki itu ternyata tunanetra.
Tak disangka, Kana setuju menikah dengan Krishan lantaran ia terhimpit dan butuh tempat tinggal. Tetapi pesona Krishan yang luar biasa itu, membuatnya jatuh cinta.
Masalah terus berdatangan saat Kana menyadari bahwa lelaki buta yang ia nikahi bukanlah orang sembarangan.
Siapa sebenarnya Krishan? Bagaimana cara dirinya melindungi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
the meaning of Love
Kana keluar dari kamar. Hari kedua bekerja dengan baju baru membuatnya semakin semangat. Dia memakai rok pendek terakota dan kemeja lengan panjang berwarna krem.
"Wah, Nona Jia.."
Krishan menoleh pada suara Marry dan wanita paruh baya itu seolah mengerti.
"Maaf tuan, Nona Jia tidak mau dipanggil Nyonya." Ucapnya lalu meletakkan makanan di atas meja.
"Bagaimana penampilanku, Bi?" Kana berputar-putar hingga suara sepatu highheels-nya berbunyi.
"Cantik sekali, Nona. Sangat cantik." Marry memberi dua jempol pada Kana.
Gadis itu tertawa riang. "Terima kasih, Bi." Ucapnya lalu duduk di depan Krishan, mulai menyantap sarapannya.
"Kau diam saja, Krish?"
"Memangnya aku harus bilang apa? Kalau Marry bilang kau cantik, artinya memang cantik." Jawabnya dengan mengulas senyuman.
Senyuman di bibir Kana semakin terlukis mendengar pujian dari Krishan.
"Jia, apa nanti malam sibuk?"
"Sepertinya begitu, Krish. Kemarin aku pulang cepat dan meninggalkan banyak pekerjaan. Jadi, aku harus menyelesaikannya hari ini." Jawab Kana dengan mulut yang penuh makanan.
Kana langsung beranjak dari tempatnya.
"Aku pergi dulu." Ucapnya lalu menyelempangkan tasnya.
Kana mendekatkan diri pada Krishan, seperti akan mencium pipinya namun tertahan. Dia berpikir, kenapa harus melakukan itu? Rasanya aneh sekali padahal dia pernah melakukannya dengan santai mencium pipi Krishan. Tapi kali ini...
"Kenapa berhenti?"
Mata Kana membulat, Krishan mengetahui itu?
Bibir Kana bergerak untuk mencium pipi Krishan tapi laki-laki itu malah memutar wajahnya hingga Kana mencium bibir Krishan sekilas, membuat jantungnya berdegub dan aliran darah yang mengalir keseluruh tubuhnya. Kana membeku di tempatnya.
Wajah Kana yang masih berdekatan dengan wajah Krishan bisa dengan jelas melihat garis senyum yang terlukis di wajah pria itu.
Kana berdiri tegak dan langsung pergi saja tanpa melihat lagi ke arah Krishan. Entah sengaja atau tidak, untuk yang kedua kalinya dia berciuman dengan Krishan walau kali ini sangat singkat.
Krishan tersenyum sambil mengangkat kopi lalu menyesapnya. Sesuatu hal yang mungkin akan terjadi setiap hari dimulai hari ini, apakah itu menyenangkan? Krishan terus menyunggingkan senyuman.
...♧♣︎♧♣︎...
Kana melirik jam di tangannya. Sudah jam makan siang, dia menuju kantin sendirian dengan lift. Saat pintu akan tertutup, tiba-tiba kaki seseorang menahannya. Pintu terbuka lagi dan Kana terkejut melihat siapa di depannya.
"Wah, Kana? Kau bekerja disini?"
Noah langsung masuk dan menempelkan IDC nya, menekan nomor yang sama dengan Kana.
"Kau.."
"Aku kan, memang bekerja disini."
Ah, iya. Kana melupakannya.
Noah tersenyum melihat IDC yang menggantung di leher Kana. Dia membaca divisi Kana bekerja.
"Aku senang melihatmu lagi, aku harap kau mau memaafkanku."
Kana mendesah pelan, dia terus melirik nomor yang terus berganti diatas pintu lift, berharap cepat sampai di kantin.
Noah meraih tangan Kana. "Kana, aku serius. Aku sangat menyesal dengan perbuatanku. Aku terus memikirkanmu. Beri aku kesempatan dan akan kubuktikan padamu."
"Terserah padamu, Noah. Aku sudah tidak peduli." Ucapnya lalu menarik tangannya dari Noah, melangkah keluar saat pintu lift terbuka.
Kana menuju wastafel untuk mencuci tangannya sebelum memilih makanan. Dia melihat Noah yang duduk tak jauh dari westafel.
"Kana, aku sudah mengambilkan makananmu."
Kana melihat ke arah nampan di atas meja. Ya, makanan yang diambilkan oleh Noah adalah kesukaannya.
Kana duduk dan mulai menyantap makan siangnya sementara Noah terus bermain dengan ponselnya, membuat Kana merasa sebal.
"Maaf, aku tengah mengatur ulang jadwal dengan klien." Ucapnya tanpa menoleh pada Kana.
"Kau tidak makan?" Tanya Kana dan berhasil membuat Noah tersenyum.
"Aku senang kau bertanya, Kana. Aku akan makan sebentar lagi. Klien ini sungguh merepotkanku."
Noah memang begitu, selalu melewatkan jam makannya demi mencapai target penjualanan. Dia ada di tim marketing. Kana sudah hapal dengan Noah. Pacaran bertahun-tahun sudah pasti ia tahu betul lelaki itu.
"Kana, kau sekarang tinggal dimana? Aku ke rumah Alana tapi kau sudah pindah katanya." Noah menyeruput minuman di depannya.
Kana mengerutkan dahi, apa Alana tidak bilang kalau dia sudah menikah?
"Aku tidak mau memberitahumu."
Noah meliriknya. "Baiklah tidak mengapa, nanti juga akan tahu." Ucapnya dengan senyuman jahil.
"Sebentar, ya." Noah pergi entah kemana, Kana tidak memperdulikannya.
Dia kembali dengan sebuah minuman rasa wortel.
"Minum itu saat kau lelah, ya. Bekerja di tim keuangan akan membuatmu sakit mata. Percayalah." Ujarnya dengan senyum yang menawan.
Kana sedikit terenyuh dengan perhatian Noah padanya.
"Kana, aku duluan, ya. Klienku sudah menunggu. Jangan menungguku, karena aku akan lama. Hehe." Noah beranjak dengan tawanya.
"Siapa juga yang peduli padamu." Gumam Kana saat Noah sudah menghilang dari hadapannya.
Kana memperhatikan minuman yang dibeli Noah, lelaki itu tidak berubah. Dia teliti dan perhatian bahkan dengan hal-hal kecil. Entah mengapa Kana merasa merindukan masa-masa bermesraan dengan kekasih. Ingin rasanya dimanjakan lagi oleh laki-laki. Tetapi Krishan, dia apa bisa melakukannya?
Kana menepis pikirannya yang mulai menjalar kemana-mana. Dia melanjutkan makan siangnya.
...♥︎♡♥︎♡...
Krishan menunggu kepulangan istrinya. Padahal sudah pukul 7 malam tapi Kana belum juga pulang.
"Tuan, silakan makan." Ucap Marry.
Krishan belum mengangkat sendoknya.
"Telepon Jia, kenapa belum pulang juga?"
"Baik, tuan." Marry menuju meja tempat telepon itu terletak, dia mulai menelpon Kana.
Tak lama, dia balik lagi ke meja makan.
"Tuan, Nona Jia bilang, tuan makan saja dulu. Nona akan pulang lambat karena pekerjaannya masih banyak." Setelah mengatakan itu, Marry pergi dari sana.
Krishan mengambil ponselnya dan menekan lama satu yang ditandai untuk menelpon David.
"Hei, kenapa kau membuatnya banyak pekerjaan?" Suara berat Krishan membuat orang diseberang kebingungan.
"Ah, kau ini. Istrimu itu suka bekerja. Semua karyawan ditolong dan dibantu. Pekerjaannya hanya sedikit, tetapi dia bilang tidak suka hanya duduk diam di tempatnya. Jadi aku harus apa!"
Krishan menghela napas kasar lalu mematikan teleponnya. Dia menuju kamar, tidak berselera makan karena tidak bersama Kana.
Hari-hari berjalan seperti itu. Sudah tiga hari Kana pulang malam. Mereka hanya bertemu pagi, itupun sebentar karena Kana makan dengan cepat.
Hari libur ini membuat Kana tidak keluar dari kamarnya, mungkin dia tengah tidur lelap. Krishan pula tidak tega membangunkannya karena dia tahu Kana pulang tengah malam.
Krishan menunggu di ruang tengah, dia sudah bersiap untuk ke pantai, sesuai dengan yang Kana katakan beberapa hari lalu.
Pintu kamar Kana terbuka.
"Krish!"
Krishan langsung berdiri saat mendengarkan teriakan Kana yang memanggil namanya.
"Ah, disitu rupanya. Ayo, kita jadi kan, ke pantai?" Kana sudah bersiap dengan jumsuit celana pendek putih dan topi di kepalanya.
Krishan tertawa pelan, ternyata Kana tidak keluar kamar karena tengah bersiap.
"Ah, ada mobil di depan. Apa kau memesannya?"
"Iya, kita akan berangkat sekarang?" Krishan mengangkat tas ranselnya.
"Eh? Kau bawa apa?" Tanya Kana.
"Baju, kita akan menginap semalam di hotel pinggir pantai."
"Menginap kau bilang?" Kana membelalakkan matanya, "kau serius, Krish? Apakah hotel pinggir pantai??"
Krishan mengangguk tersenyum mendengar kegirangan Kana.
"Astaga, kenapa tidak bilang?" Suara langkah Kana terdengar menjauh, nampaknya dia menyusun barangnya untuk satu malam di hotel.
Krishan tak bisa menahan bahagianya, terlebih Kana yang menyukai keputusannya untuk menginap.
Mereka berangkat menuju pantai yang masih di rahasiakan Krishan, berulang kali Kana bertanya, pantai apa yang akan didatangi tetapi Krishan tidak juga memberitahunya. Membuat Kana semakin penasaran.
Beberapa jam berlalu, Kana tertidur di paha Krishan. Dengan lembut Krishan membangunkan Kana karena tujuan mereka telah sampai.
Kana bangun dan langsung melotot melihat apa yang ada di depannya. Hotel mewah dengan bonus pantai disebelahnya. Ah iya, bukan hotelnya yang menjadi bonus karena hotel itu adalah salah satu hotel termewah yang bahkan Kana tak pernah memimpikan bisa menginap disana.
"Krish, kau serius? Ini hotel mewah!"
Kana terus memandangi bangunan hotel itu. Angin pantai membuat rambutnya terbang kesana kemari.
"Ayo." Krishan mengulurkan tangannya dan Kana dengan cepat meraihnya, menggandeng Krishan masuk ke dalam hotel itu.
"Atas nama Krishan." Ucapnya pada resepsionis.
Petugas itu memberinya sebuah kunci pada Kana.
"Krish, hanya satu kamar?" Tanya Kana.
Krishan bertanya pada petugas itu. "Apa dipesan hanya satu kamar?"
"Benar, tuan. Dipesan satu kamar saja." Jawabnya dengan penuh senyum.
Ya, Krishan lupa memesan dua kamar. Doa hanya memerintahkan anak buahnya yang pasti tidak tahu dengan kondisinya saat ini. "Kalau begitu, kami pesan satu lagi." Ucap Krishan.
"Mohon maaf, tuan. Kamar sudah penuh."
Kana menghela napas, nampaknya dia harus satu kamar dengan Krishan.
"Baiklah, terima kasih." Krishan dan Kana menuju kamar mereka.
"Bagaimana?" Tanya Krishan.
"Ya sudah, mau bagaimana lagi." Jawabnya sedikit bingung. Walau sudah dua kali terbangun di kamar Krishan, bukan berarti hal itu menjadi biasa.
Kana membelalakkan matanya saat melihat ruangan presidential suite yang amat mewah dan lengkap dengan sofa dan dapur.
Krishan meletakkan tasnya di atas tempat tidur, dia terus tersenyum dengan reaksi Kana.
Gadis itu menjerit melihat keluar jendela. Pantai yang biru dan sangat indah membuat Kana terus menganga kegirangan.
"Krish, pemandangannya indah sekali! Astaga aku bisa gila kalau tidak mengabadikan ini." Ucapnya lalu memotret dirinya dan pemandangan indah itu.
Krishan berjalan perlahan menuju sumber suara.
"Kemari, Krish." Dengan cepat Kana menarik tangan Krishan dan memotret bersama.
"Kau senang?"
"Pertanyaan macam apa itu? Jelas aku sangat senang. Aku seennaangg sekali, Krish. Terima kasih." Kana memeluk Krishan, lalu dia seperti menyadari sesuatu.
"Ah, maaf.." Kana melepas pelukannya dan mulai merasa canggung.
"Oh? Ada anggur." Kana mengambil sebotol anggur di atas meja makan.
"Jangan diminum!" Tegas Krishan mengatakan itu. Dia takut Kana mabuk dan dia tidak bisa menahannya lagi.
"Kenapa? Aku ini kuat alkohol, tahu." Kana meletakkan Lagi botolnya.
"Krish, ayo keluar. Aku mau berlari di pantai.. ayo.." Kana manggandeng tangan Krishan dan mereka menuju pantai.
"Aaaaa.." Kana berlari ke pinggir pantai, dia tertawa sambil bermain air.
Krishan berjalan perlahan lalu duduk di atas pasir.
"Krish, kemarilah.."
Krishan tak menyahut, dia hanya tertawa mendengar suara angin, ombak, dan tawa Kana yang menjadi penyemangat hidupnya.
Setelah lelah bermain, Kana duduk disebelah Krishan.
"Sudah?"
"Haha, sudah. Krish, terima kasih, ya. Aku sangat senang bisa kesini. Menikmati pantai juga hotel mewah. Aku serius, aku sangat menyukainya."
Mendengar ungkapan Kana saja sudah sangat membuatnya bahagia. Tujuan Krishan berubah semenjak mengenal Kana, gadis itu benar-benar merubah dirinya.
"Permisi, apa bisa memotret saya dan istri saya?" Kana menoleh pada sumber suara.
Sepasang kakek dan nenek yang tempak bahagia bergandengan tangan.
"Ah, tentu saja." Kana berdiri lalu memotret orang tua itu.
Kana tertegun, kedua orang tua itu sangat romantis walau keduanya sudah keriput. Perlakuan keduanya masih seperti anak-anak muda yang tengah memadu kasih, membuat Kana iri.
"Terima kasih banyak, nak."
Kana tersenyum ramah.
"Apa dia suamimu?" Tanya si Nenek.
"Ah, iya, nek."
"Wah, sepertinya tengah bulan madu. Hehe" sang Kakek tertawa.
Mereka melihat tongkat di samping Krishan, membuat mereka mengetahui bahwa laki-laki itu buta.
Mereka berdua ikut duduk di atas pasir.
"Ah, aku jadi teringat bulan madu pertama kita. Iya kan, sayang?"
Si nenek tertawa. "Benar. Kau juga mengajakku ke pantai. Dan hari ini adalah anniversary pernikahan kami."
"Wah, selamat ya nek, kakek. Kalian benar-benar luar biasa." Ucap Kana ikut bahagia. "Anniversary ke berapa?"
"Ke 53 tahun."
"Wuaah.." Kana menganga. Bukankah angka itu sangat besar untuk sebuah pernikahan?
"Pernikahan kami diawal-awal sangat berat. Tetapi syukurlah wanita ini terus berada disampingku. Aku merasa bersyukur bisa menemukannya."
Kana melirik Krishan, lelaki itu tersenyum saja mendengar percakapan mereka.
"Kau sangat beruntung menikah dengannya, dia tampak seperti perempuan yang sangat baik." Ucap si kakek pada Krishan.
"Ah, tidak begitu, justru aku yang merasa beruntung." Sahut Kana langsung memegang tangan Krishan, dan lelaki itu menggenggamnya erat.
"Ah, ya ampun. Kalian luar biasa. Aku jadi iri."
"Kenapa iri? Aku kan, ada." Ucap si kakek yang ikut menggenggam tangan istrinya.
"Pernikahan itu ibarat berlayar. Pasti ada saja rintangannya. Jika ombak atau badai besar datang, teruslah berpegangan tangan. Suami dan istri diciptakan untuk saling menyanyangi, mengasihi, dan saling belajar."
"Belajar?" Tanya Kana balik.
"Ya, sebab kita harus saling memahami berbagai karakter yang berbeda dari diri kita. Banyak pasangan yang memilih berpisah karena merasa tidak cocok. Padahal, mereka hanya enggan mempelajari sifat pasangannya." Jelas sang kakek.
"Banyak orang mempermainkan pernikahan. Mereka mempunyai tujuan tertentu, tujuan yang bukan pernikahan. Mereka melakukannya karena harta, tahta, atau apalah itu. Hal yang semacam itu, tidak akan ada bahagia di dalamnya."
"Dikasih ombak sedikit saja, sudah oleng." Sambung si nenek.
Kana melirik Krishan, dia juga menikah dengan Krishan karena tujuan tertentu. Seperti tahu, Krishan mengeratkan genggaman tangan Kana.
"Kami akan berusaha supaya pernikahan kami seperti kalian." Tukas Krishan tiba-tiba dan membuat Kana terus menatapnya.
"Ah, senang mendengarnya. Kalian terlihat saling mencintai. Kuharap kalian terus bersama sampai maut memisahkan."
"Terima kasih doanya, semoga kalian sehat selalu." Ucap Krishan dengan senyuman penuh arti.
Sepasang suami istri itu pergi, sementara Kana masih diam di tempatnya. Semua kalimat orangtua itu menyangkut di pikirannya. Dia merasa amat bersalah sebab seperti mempermainkan pernikahan. Dia juga teringat ucapan Alana, tentang pernikahan normal pada umumnya.
"Aku serius dengan ucapanku, Jia."
Kana memandang Krishan disampingnya. Lelaki itu masih terus menggenggam tangan Kana dengan kedua tangannya.
"Aku ingin pernikahan ini akan terus belanjut, aku ingin kau terus disampingku, menemaniku."
Kana tak menjawab, hembusan angin terus menyapu diwajahnya.
"Aku ingin terus bersamamu. Aku sudah jatuh hati padamu. Aku ingin terus mendengar tawamu. Aku akan melakukan apapun, supaya kau mau disampingku.
Ucapan Krishan membuat Kana membeku. Lelaki itu sudah mencintainya, sementara dia? Kana masih enggan menjawab. Dia juga tidak tahu apa yang tengah ia rasakan.
"Krish, aku..." Kana tidak bisa berkata-kata. Rasanya lidahnya kelu. Ada apa dengan Krishan, kenapa tiba-tiba mengungkapkan perasaannya?
"Aku tidak akan memaksamu, Jia. Aku akan membiarkanmu memilih jalan hidupmu. Aku cukup mengerti karena aku mungkin tidak bisa melindungimu seperti laki-laki lain. Aku akan menunggumu."
"Baiklah, Krish. Ayo kembali." Ucapnya lalu membantu Krishan berdiri. Kana tidak banyak bicara lagi. Dia masih mencari jawaban di dalam hatinya. Tidak bisa dipungkiri, dia merasa nyaman bersama Krishan. Tetapi untuk hidup bersama selamanya, apakah Kana bisa menerima Krishan sepenuhnya?
TBC
nah loohh .. bini' mu sdh angkat bicara