Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Teman Serumah Dadakan
"Punggung gue rasanya mau patah jadi dua. Ini yang lo kasih ke gue kasur lipat atau papan penggilasan cucian?"
Jace menggerutu panjang pendek sambil memegangi pinggangnya. Pria beraura bos mafia itu kini berdiri merana di tengah ruang tengah apartemen Riana yang ukurannya tidak lebih besar dari garasi mobil di rumah mewahnya. Pakaian tidur sutra hitam seharga puluhan juta yang melekat di tubuh Jace terlihat sangat salah tempat berpadu dengan kasur lantai tipis bermotif bunga-bunga pudar di bawah kakinya.
Ya. Setelah melakukan beberapa kali penolakan dan pertengkaran, akhirnya, disinilah Jace.
"Kalau lo nggak suka fasilitas di sini, karpet keset di depan pintu luar masih kosong buat lo tidur." Riana menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet kerjanya di meja makan sempit.
"Sebagai rekan aliansi yang punya dana triliunan, gue bisa beli kasur pegas ukuran paling besar detik ini juga," tawar Jace sambil berjalan gontai menuju dapur kecil yang menyatu langsung dengan ruang tengah.
"Bawa barang mewah ke apartemen pinggiran kota sama saja mengundang perampok lokal buat membobol pintu gue," tolak Riana mutlak. “Gue sedang menyamar. Dan gue sengaja pilih tempat kumuh ini supaya tidak ada intelijen Aegis Corp yang curiga Manajer HRD mereka punya uang lebih. Lo nikmati saja kasur lipat itu selama lo berstatus sebagai musuh dalam selimut yang harus gue awasi."
Jace mendesah lelah. Dia mulai membuka laci-laci lemari dapur dengan gerakan sedikit kasar.
"Di mana lo simpan biji kopi impornya? Gue butuh kafein dosis tinggi buat menetralisir rasa sakit di tulang kering gue gara-gara tendangan maut lo semalam."
"Di toples kaca ujung kanan. Dan itu bukan kopi impor mahal. Itu kopi saset beberapa ribuan dari minimarket depan gang."
Jace langsung berhenti bergerak. Tangannya yang baru saja menyentuh toples kaca itu kaku seketika. Dia menoleh menatap Riana dengan raut wajah horor yang sangat dramatis, seolah Riana baru saja menyuruhnya meminum racun serangga.
"Kopi saset? Lo kasih pewaris tunggal Diwantara Group kopi saset murah yang penuh gula buatan?" Jace menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. "Pantas saja aura lo selalu kelihatan mau membunuh orang setiap saat. Asupan lo penuh pengawet. Gue bakal pesan mesin kopi raksasa sekarang juga."
"Sentuh ponsel lo untuk pesan barang aneh-aneh ke apartemen ini, tangan lo yang sebelah kiri gue patahkan betulan." Riana meletakkan tablet kerjanya dengan cukup keras. "Seduh kopi saset itu, tuang air panas, aduk, dan tutup mulut lo. Gue mau mandi."
Riana bangkit dari kursi kayunya, berjalan cepat menuju satu-satunya pintu kamar mandi di apartemen kecil tersebut.
Jace yang melihat pergerakan itu langsung melempar toples kopi kembali ke meja. Insting kompetitifnya mendadak menyala. Dia mengambil langkah seribu, berlari kecil memotong jalur Riana tepat di depan pintu kamar mandi.
"Gue duluan," cegat Jace sambil merentangkan satu tangannya menutupi kenop pintu. "Gue harus mandi air hangat sekarang juga buat merilekskan otot punggung gue."
"Minggir, Jace. Ini apartemen gue, aturan gue," desis Riana menatap tajam pria tinggi di depannya.
"Di dunia mafia, siapa cepat dia dapat. Lo telat satu langkah, Bu Manajer." Jace membalas dengan senyum miring yang sangat menyebalkan. "Lagian, pewaris Diwantara tidak terbiasa menunggu orang lain selesai mandi."
"Di apartemen ini gelar pewaris lo tidak laku sama sekali. Lo numpang."
Riana tidak mau buang waktu berdebat. Perempuan itu langsung memiringkan tubuhnya, melayangkan sikutan cepat ke arah rusuk Jace. Jace yang sudah hafal gaya bertarung Riana langsung menangkis sikutan itu dengan telapak tangannya.
"Wah, main fisik? Otot lo belum panas, Kara," goda Jace menahan tangan Riana.
"Nama gue Riana selama lo berada di dalam radius pengawasan gue."
Pertarungan jarak sangat dekat pecah begitu saja di depan pintu kamar mandi. Keduanya saling mengunci lengan dan bertukar dorongan layaknya dua ekor harimau yang berebut wilayah kekuasaan. Jace mencoba meraih kenop pintu, tapi kaki Riana dengan lincah menjegal pergelangan kaki pria itu hingga keseimbangan Jace goyah ke samping.
Memanfaatkan celah sepersekian detik itu, Riana memutar tubuhnya, menyelusup masuk ke bawah lengan Jace, lalu menarik kenop pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam dengan suara klik yang sangat nyaring.
Jace mendengus tidak percaya mendapati dirinya kini berdiri di luar menatap pintu kayu yang tertutup rapat.
"Lo curang main jegal kaki!" protes Jace sambil mengetuk pintu kayu itu beberapa kali. "Setengah jam! Kalau lo mandi lebih dari setengah jam, gue dobrak pintu ini!"
"Dobrak saja kalau lo mau wajah lo gue siram pakai cairan pembersih kloset," ancam Riana dari dalam kamar mandi. Suara gemericik air membasuh ubin langsung menyala menderas, menenggelamkan sisa gerutuan Jace.
Pria itu akhirnya mengalah. Dia berjalan kembali ke arah dapur dengan langkah gontai. Suka tidak suka, dia harus berkompromi dengan kehidupan sederhana yang sangat jauh dari standar kemewahannya. Jace mengambil cangkir plastik, merobek dua bungkus kopi saset murah sekaligus, lalu menyeduhnya dengan air panas dari dispenser. Aroma kopi yang lumayan pekat mulai menguar memenuhi ruangan kecil itu.
Sambil menyesap kopi murahannya, otak licik Jace kembali bekerja. Aliansinya dengan Riana baru berumur belasan jam, tapi dia sudah bisa melihat betapa rapinya perempuan ini menyembunyikan masa lalunya. Aegis Corp benar-benar menciptakan monster yang salah.
Suara kunci kamar mandi diputar menghentikan lamunan Jace.
Pintu terbuka pelan. Riana melangkah keluar dari kamar mandi. Hawa hangat dan uap tipis mengekor di belakangnya. Perempuan itu sedang menggosok-gosokkan handuk kecil ke rambutnya yang basah kuyup.
Kacamata tebal yang biasanya menutupi wajahnya belum dia pakai kembali. Tanpa kacamata culun itu, kecantikan asli dan garis wajah Riana yang sangat tegas terlihat begitu jelas. Dia mengenakan sebuah kaus oblong berwarna abu-abu pudar yang ukurannya sedikit kebesaran. Kerah kaus itu cukup longgar, melorot sedikit hingga mengekspos area pinggir bahu dan bagian belakang lehernya.
"Kopi lo baunya sampai ke dalam kamar mandi," tegur Riana tanpa menoleh ke arah Jace. Dia berjalan santai membelakangi pria itu menuju meja rias kecil di sudut ruangan, masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Jace baru saja membuka mulutnya untuk melontarkan balasan sarkastis andalannya. Tapi, kata-kata itu mati seketika di tenggorokannya. Cangkir kopi plastik di tangan Jace nyaris tergelincir jatuh ke lantai.
Pandangan mata Jace terpaku mati pada area kulit leher bagian belakang Riana yang terekspos jelas akibat kerah kausnya yang melorot bebas.
Di sana, terukir sebuah bekas luka bakar yang luar biasa mengerikan.
Bukan luka gores biasa, melainkan kerusakan jaringan kulit yang sangat parah, tebal, dan berkerut-kerut dengan warna daging yang menggelap kasar. Luka itu menjalar mengerikan dari pangkal kepala bagian belakang, turun merambat hingga menyentuh area tulang belikat Riana. Bekas luka maut itu terlihat seperti pola jilatan api neraka yang pernah berusaha memangsa perempuan itu hidup-hidup.
Jace adalah pembunuh bayaran kelas atas. Dia sangat tahu jenis luka seperti apa itu. Itu bukan luka siraman air panas atau kecelakaan dapur. Itu adalah ciri khas mutlak dari kerusakan jaringan sel akibat paparan gelombang panas ledakan bahan kimia sintetis C4 jarak sangat dekat. Kulit yang terbakar habis dan menyatu kembali dengan cara yang paling menyakitkan yang bisa dibayangkan manusia.
Pikirannya langsung memutar kembali memori tentang dokumen rahasia berstempel tengkorak merah jambu yang dia temukan di ruang arsip. Operasi Pembersihan. Target: Kara. Status: Sukses.
Bramantyo, CEO Aegis Corp yang angkuh itu, benar-benar tidak memberikan ampunan sedikit pun saat mencoba menyingkirkan algojo terbaiknya. Riana memang selamat dari kobaran api di jalan tol pesisir itu, tapi bukti pengkhianatan paling kejam itu melekat permanen merusak tubuhnya, tersembunyi rapat-rapat di balik kemeja putih kantoran yang selama ini dia kenakan dengan kancing tertutup penuh.
Tawa renyah Jace menguap tak berbekas. Rahang pria itu mengeras seketika. Kilat kemarahan yang aneh mendadak muncul di dadanya.
"Luka lo..." gumam Jace pelan, suaranya terdengar sangat berat dan serak, memecah kesunyian ruangan dengan aura membunuh yang mendadak bangkit merespons masa lalu kelam sang Manajer HRD.
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪