Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Di waktu dan tempat yang berbeda saat Tama baru selesai makan siang bersama Faizal, tiba-tiba Yurike datang ke kantornya. Seperti biasa, dia selalu berpakaian sexy. Seperti sengaja menunjukkan levelnya didepan karyawan Tama.
Yurike masuk ke dalam ruangan Tama tanpa mengetuk pintu.
"Mas," Katanya dengan nada menggoda,
Tama mengangkat kepalanya sekejap kemudian kembali fokus pada berkas di atas meja kerjanya.
"Lain kali ketuk pintu dulu," Ucap Tama tanpa menatap wajah lawan bicaranya,
Yurike merengut, "Memangnya kenapa ? Bukannya kamu selalu mengizinkan aku langsung masuk tanpa ketuk pintu dulu ?!" Yurike berjalan mendekat,
"Itu dulu!"
Langkah Yurike terhenti. Wanita itu membulatkan mata dengan tangan terkepal disisi tubuh.
Sedetik kemudian Yurike menarik nafasnya dalam-dalam, menata raut wajahnya agar terlihat datar. Lalu dengan anggun kembali melangkah mendekat ke kursi kebesaran Tama.
Tangannya terulur, membelai bahu Tama yang lebar, menari-nari disana sambil mencondongkan tubuh bagian depan nya ke sisi Tama.
"Mas, aku mau punya anak. Kamu ceraikan saja Liz sekarang sebelum kalian benar-benar melakukan hubungan suami istri. Aku sudah siap menjadi Ibu dari anak-anak kamu, sayang." Ucap Yurike lembut, mencoba menetralkan sisa-sisa sesak akibat ucapan Tama tadi.
Namun, jawaban selanjutnya dari Tama membuat gerakan Yurike membeku.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Elizabeth!"
Degh.
Hati Yurike seketika mencelos. Rasanya bak dihantam palu godam yang sangat berat, meninggalkan rasa sesak yang menghimpit dada. Ia tak pernah menyangka rencananya menjadikan Liz 'boneka' justru semakin memperjelas bahwa keputusan yang dia ambil adalah salah. Ini kesalahan besar.
Yurike memaksakan senyum tipis, meski matanya berkaca-kaca, "Mas, kamu jangan bercanda dong. Nggak lucu tau. Perceraian kalian kan mudah, nanti aku yang urus ya sayang. Pokoknya kamu terima beres saja. Sudah ya, aku pergi dulu. Aku akan siapkan makan malam spesial untuk kita dirumah."
Setelah itu Yurike mengambil langkah seribu, dia keluar dari ruangan Tama dengan raut wajah tegang. Keringat dingin sesekali muncul di pelipisnya. Pikirannya buntu, berputar-putar mencari celah dan siasat agar Tama tidak benar-benar mempertahankan Liz dalam bahtera rumah tangga mereka.
Tama menghubungi Faizal melalui interkom. Tak lama Faizal masuk ke ruangan Tama.
"Kau tau dimana rumah Elizabeth ?" tanya Tama yang memang tidak tau dimana Liz tinggal sebelum memutuskan menikah dengan nya.
Faizal mengangguk, "Ya. Saya tahu, Tuan."
Tama bangun dari duduknya kemudian menyambar jas nya digantungan khusus sembari berkata, "Antar aku."
Tama dan asistennya pun meninggalkan kantor sekitar pukul 2. Entah kenapa Tama memiliki firasat buruk setelah pertemuannya dengan Yurike tadi. Jika benar firasatnya, Yurike akan membocorkan soal pernikahan kontraknya dengan Liz pada Ibu Nira, maka Tama harus selangkah didepan. Dia akan mengatakan lebih dulu, menjelaskan segalanya sebelum semuanya terlambat.
Dalam perjalanan Tama memeriksa ponsel nya berkali-kali. Dia berharap Liz akan menghubungi balik atau setidaknya mengirimnya satu pesan saja. Namun ditunggu punya tunggu, pesan dan panggilan dari Liz tak pernah datang.
"Kita sudah sampai, Tuan." Kata Faizal setelah menghentikan laju mobil didaerah pinggiran kota. Letaknya sekitar satu kilometer dari tempat kerja Liz.
"Kenapa sepi sekali ?" gumam Tama sambil menatap rumah bercat kombinasi antara krem dan coklat.
"Biar saya pastikan, Tuan." Faizal hendak turun, tapi Tama langsung mencegah.
"Tidak perlu, biar saya." Tama turun dari mobil membuat Faizal menatap punggung sang Tuan dengan senyum tipis.
"Tuan, akhirnya anda kembali menjadi seperti anda yang dulu lagi dan saya sangat bahagia melihat anda memiliki semangat lagi untuk kembali melanjutkan hidup." batin sang Asisten.
Faizal tau setahun belakangan ini Tama telah menyiksa dirinya sendiri. Dia bekerja dari pagi sampai malam, dan begitu setiap hari. Tidak ada kata libur bahkan dihari yang seharusnya dipakai istirahat pun dia tetap bekerja. Itu semua Tama lakukan agar tidak selalu memikirkan tentang pengkhianatan Yurike.
Di awal mengetahui hal itu, Tama amat terpuruk. Setiap malam keluar masuk club hanya untuk minum minuman keras. Faizal tau betul betapa Tama mencintai istrinya, sampai-sampai Tama berkali-kali menyalahkan dirinya atas penghianatan itu.
Kini dengan kehadiran Liz disisi Tama, pria itu seperti menemukan kembali jiwa nya yang telah lama hilang. Sepenuhnya Faizal yakin kalau semesta sengaja mengirim Liz untuk menjadi obat bagi hidup Tama yang telah lama kosong.
"Permisi, Pak. Cari Ibu Nira atau cari Liz ?" tanya tetangga Liz yang rumahnya persis di samping rumah Liz.
"Saya mencari Ibu Nira." jawab Tama.
"Tadi pagi Liz membawa Ibu nya kerumah sakit untuk Kemo. Biasanya sih sebelum jam 12 udah pulang. Tapi ini udah mau jam 3 belum pulang juga,"
Tama mematung,
Benar. Beberapa hari ini karena kesibukannya, dia sampai lupa tentang kemoterapi yang harus dijalani sang mertua. Dan ketika Ibu Nira diperbolehkan pulang pun Tama tidak mendampingi Liz, Tama sedang di luar kota. Itu kenapa Tama tidak tahu dimana tempat tinggal Liz selama ini.
"Terimakasih." Ucap Tama pada orang itu sebelum akhirnya kembali ke mobil.
"Kita kerumah sakit tempat Ibu Nira di operasi." Titah Tama pada Faizal yang duduk di balik kemudi.
"Baik, Tuan." Faizal menginjak pedal gas dan mobil pun melaju meninggalkan daerah rumah Elizabeth.
Sampai dirumah sakit, Faizal dengan sigap menuju resepsionis untuk bertanya dimana ruang kemoterapi berada.
Setelah itu Tama dan Faizal pun menuju ruangan Dahlia.
"Tuan, bukannya itu Nyonya Yurike..." Tunjuk Faizal ke arah ujung koridor dimana Yurike sedang duduk di kursi tunggu bersama Elizabeth.
"SHIT!" umpat Tama yang langsung mengambil langkah panjang menghampiri keduanya.
"Sa-sayang, ngapain kamu kesini ?" Wajah Yurike berubah gugup saat melihat kedatangan Tama. Berbeda dengan Liz yang menatap Tama dengan tatapan dingin. Membuat Tama tiba-tiba merasakan perih.
"Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu. Sedang apa kamu disini ?" tanya Tama dengan tatapan tajam.
"Oh, itu. Tadi aku sudah bicara dengan Liz soal perceraian kalian dan Liz sudah setuju."
Tama langsung memukul tembok tepat dibelakang Yurike dengan sangat keras sehingga menimbulkan suara dentuman yang sangat keras.
BUGH!!
"Kurang ajar! Apa hak mu, Hah ?" bentak Tama dengan suara tinggi penuh emosi.
Bukan hanya Yurike yang terkejut, Liz yang berada disamping Yurike pun tak kalah shock.
Faizal memberanikan diri untuk maju.
"Tuan, tenang, Tuan."
Tama menatap nyalang ke manik mata Yurike yang mulai mengembun,
"Bawa dia pergi dari hadapanku! SEKARANG!" lanjut Tama dengan nada tegas dengan urat-urat lehernya yang menonjol, menandakan betapa marahnya Tama saat ini.
"Baik, Tuan." Jawab Faizal.
"Nyonya, ayo, sebaiknya anda pulang sekarang."
Yurike yang masih kaget dengan apa yang dilakukan Tama hanya bisa pasrah mengikuti langkah Faizal.