Aileenath gumilang seorang ibu rumah tangga yang keseharian nya mengisi waktu luang dengan menonton drama indosiar. siapa sangka kisah dalam sinetron itu kini malah menimpa dirinya.. sebagai seorang wanita yang sudah di duakan aileen bertekad membuat suami nya menyesal dengan perubahan dirinya yang dulu dekil sekarang menjadi cantik. apakah penampilan aileen sekarang mampu membungkam mulut pelakor itu?? apakah aileen dapat memikat cinta suaminya lagi ?? atau seperti akhir kisah dalam sinetron yang berujung perpisahan?? yuk baca yuk insyaalloh nagih😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aphrodhite_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eoisode 17 : Menukar Mahar2
Trap..tap..tap!! Samar-samar masih bisa kudengar Suara langkah kaki mas Abi yang mulai menjauh dari kamar ini
"Haloo?!! Ya Bu! Aku tahu ! Besok acaranya datang lah lebih awal ya Bu agar ibu bisa melihat anak ibu ini menikah! Haha iya iya Bu aku akan ingat!" Suara mas Abi sepertinya ia sedang bercengkrama dengan suara seorang wanita paruh baya yang sangat khas ditelinga ku !
"Yaalloh ibu! Rupanya ibu mertuaku selama ini juga sudah tahu tentang hubungan terlarang yang dijalin oleh mereka! Tapi kenapa ibu diam saja ? apakah ibu juga mendukung hubungan mereka! Ya Tuhan! Bagaimana bisa? Ibu seseorang yang paling aku segani dan sudah ku anggap seperti ibuku Sendiri bahkan tega menyembunyikan semua ini dari ku?! Dengan perasaan kecewa berkecamuk aku kembali menenangkan diriku ku coba untuk tegar kembali ku hirup udara banyak-banyak lalu ku hembuskan perlahan. Aku pun keluar dari tempat persembunyianku saat ini dengan keadaan gelap gulita seperti ini tentu aku tak dapat melihat secara jelas dimana mas Abi menyimpan mahar dan mas kawin tersebut lalu aku teringat dulu mas Abi selalu menaruh senter di setiap kamar rumah ini katanya untuk jaga-jaga bila ada keadaan genting mendadak seperti mati lampu lalu mata ini jeli menelisik setiap sudut ruangan
"Ah aku ingat ! dulu mas Abi sering menyimpan benda-benda penting seperti remote cadangan, dan lampu metromax di laci lemari kecil bawah televisi kamar ini "gumam ku
Aku pun mendekati lemari kayu berukuran mungil , ku gapai dan kubuka setiap laci yang terdapat padanya, dalam kondisi gelap gulita seperti saat ini aku hanya bisa mengandalkan jari - jemari tangan ku untuk meraba-raba sekitar . Setelah sekitar satu menit akhirnya aku menemukan lampu metromax yang biasa mas Abi simpan, beberapa kali ku coba menyalakannya namun lampu ini tetap tidak mau menyala! Apakah sudah rusak?! tapi aku akan tetap berusaha , tangan ku mulai meraba-raba kembali kedalam laci lemari tua ini aroma debu disertai kencing kecoa menusuk indra penciumanku mungkin karena sudah lama tidak dibersihkan, tak membutuhkan waktu lama akhirnya aku menemukan lampu mini led warna - warni
"Alhamdulillah masih menyala terimakasih ya Alloh" syukur ku
Dengan pencahayaan yang remang dan minim ini aku mulai menelisik ke setiap sudut ruangan hingga mataku menyipit menatap ke arah bingkisan yang tertata rapi dan cantik di atas nakas pojok tempat tidur
"Akhirnya aku berhasil menemukan kalung liontin itu yang seharusnya menjadi hak ku dari dulu" batinku
Buru-buru aku mengeluarkan Kantong kresek hitam yang berisikan kalung liontin kw itu kemudian dengan cepat aku menukarnya dan memasukkannya kembali ke tempat semula ku genggam erat buntelan kresek hitam ini
"Sari! Sudah ku bilang kan aku takkan membiarkan apa yang seharusnya menjadi milikku diambil oleh orang lain" batinku
Aku mengendap-endap menuju pintu ku keluarkan kunci cadangan di dalam saku gamis lusuhku ini kemudian dengan pelan dan hati-hati aku memasukkan kunci itu dan memutarnya (klek!) aku berhasil membuka kunci nya kini saat nya aku keluar tapi tunggu dulu aku harus memastikan bahwa diluar sudah Aman dulu, bagaimana nanti jikalau ada orang yang melihat? Dan jika mas Abi belum tidur dan mencariku?
"Ah aku punya ide! Otakku memang pintar selalu saja mengerti apa yang harus dilakukan saat keadaan genting seperti ini " gumamku
Dengan hati-hati aku memutar kenop pintu melangkah keluar sesekali mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri setelah dirasa aman aku langsung mengunci pintu dengan kecepatan penuh kemudian berjalan menuju pintu belakang yang letaknya disebelah dapur
Sampai di pintu belakang aku menyembunyikan buntelan kresek tersebut di bawah pot tanaman hias rencananya besok pagi pagi sekali akan aku serahkan kepada mbak nur,
"Untuk sementara biarkan saja buntelan ini ku taruh di dalam pot besar ini ku pikir jika ditimbun dengan tanah kan tak bakal ada yang tahu dan curiga kalau didalam sini ternyata ada emasnya.
Saat hendak masuk ke kamarku. rupanya mas Abi belum tidur terlihat kemeja yang dikenakannya pun lusuh!
"Lho mas kamu dari mana?" Tanya ku
"Ah d-dari ruang kerja ku kok dek!" Hemm gelagat nya mencurigakan pasti dia juga habis dari kamar Sari. ck!! tiap malam begini terus apa tidak bosan jika sudah menikah nanti dasar suami tukang kumpul kebo! pezina cocoknya memang sama pezinah. batinku geleng-geleng.
"Kamu sendiri dari mana aja dek ?! Aku cariin gak ada di kamar kita! " Kini balik aku yang gelagapan harus merespon ucapan mas Abi
"Aku habis dari dapur mas memeriksa bahan makanan apa saja yang perlu kita beli besok" jawabku santai
"Hemmm .. yakin?" Jawab mas Abi
"Ya ! " Jawabku sambil berlalu masuk ke dalam kamar
"Kok kamu sekarang jadi dingin gini sih dek!" Tanya mas Abi tiba-tiba
" Em perasaan kamu aja kali mas! Oh ya cuma mau ngingetin! Kalian belum muhrim nggak baik bila kamu terlalu dekat apalagi sampai mengunjungi nya terus menerus di malam hari" celetuk ku
Terlihat ekspresi mas Abi berubah pucat pasi
"Ah haha kamu ngomong apa sih dek! Siapa juga yang ke kamarnya Sari tiap malam! ngaco kamu! " jawab mas Abi terbata
"Aku nggak bilang ke kamar nya Sari lho mas cuma ngingetin kamu biar nggak terlalu dekat sama sering mengunjungi atau menemuinya malam² lho padahal!" Tatapku tajam ke arah mas Abi
"Ah a..aku ." Ucapnya terbata
"Lebih baik kamu hati - hati mulai sekarang mas karena aku bukan Aileen istri kamu yang bodoh seperti dulu" ucapku pelan penuh penekanan.
...
Pagi pun tiba seperti yang sudah disepakati mbak nur datang dengan alasan mau rewang di acara pernikahan mas Abi yang kedua ini setelah mendapat intruksi dariku mbak nur pun telah mendapatkan emas yang ku sembunyikan di bawah pot itu lalu ia menyimpan nya di tas rombeng nya saat mbak nur hendak pamit ke pasar tiba-tiba mobil rombongan yang dinaiki oleh ibu mertuaku datang. Ibu mertuaku sempat melotot melebarkan matanya saat melihat ke arahku dan mbak nur beginilah dari semenjak aku menjadi menantu di keluarga ini, perlakuan ibu mertuaku terhadap ku itu selalu menunjukkan sifat ketidaksukaan nya kepada ku juga keluarga ku. Entahlah apa masalah beliau dulu sehingga ia memiliki rasa dengki bila ada keluarga ku yang sekedar berkunjung. Saling bertegur sapa juga bahkan tak pernah .sekalipun kami berpapasan dijalan, sudah seperti orang asing bukan?
..
Tak lama ibu mertuaku itu turun Dengan mata yang sedikit melotot dan langkah yang tergesa - gesa ia berjalan ke arah kami
"//Plakkk!!// Bagus kamu ya! "Pipi ku terasa memanas akibat tamparan yang diberikan oleh ibu mertuaku
"Akhhh!! Teriak mbak nur kaget dengan perlakuannya terhadap ku barusan"
"Berani²nya kamu membawa keluarga mu untuk Numpang makan enak dan gratis disini! Dan kamu nurhalimah! Ngapain kamu disini hah!" Bentak ibu sambil tersenyum kecut memindai penampilan kami
"Mau sekarang jadi orang kaya pun kalo spek babu ya gini nih! Tetep aja kampungan" kini sindiran ibu ditunjukkan untuk ku,
Aku hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala saja karena sudah muak dengan drama ² wanita bodoh baik hati dan polos seperti dulu.. sedang kan mbak nur memilih diam dan melangkah pergi setelah ku beri isyarat untuk meninggalkan tempat ini
"eh eh mau kemana kamu Nurhalimah! Yang ngundang kamu kesini itu siapa?! Dandanan mu itu lho hih malu-malu in bgt! Tas udah butut sobek-sobek kaya begitu aja masih kamu pakai dasar orang miskin !" Cibir ibu mertuaku
"Saya juga mau pulang kok Ceu edoh! "Kata mbak nur sedikit gugup memang tatapan ibu yang tajam dan seakan mengintimidasi sudah menjadi ciri khasnya tersendiri baginya
"Tunggu! sini serahkan tas kamu biar aku periksa dulu apa aja sih isinya! Atau siapa tahu kamu mencuri dirumah anakku ini" cegah ibu saat mbak nur ingin pergi
Gawat kalo ibu sampai memeriksa isi tas mbak nur bisa bisa kalung liontin itu ketahuan oleh ibu! Tidak tidak! Aku harus mencari cara agar ibu tak jadi memeriksa isi tas mbak ku , ya Allah tolonglah hamba jerit batin ku
"hentikan ibu!! jangan berlebihan!! jangan melewati batas!! ini rumahku ! aku bebas mengundang siapa saja ke sini ! perlu ibu ingat bahwa rumah ini atas namaku bukan anak ibu!! itu berarti andalah! tamu yang tak di undang itu!!" kesalku ku tumpahkan semuanya
"kamu!!! benar-benar mantu kyrang ajar!! sini biar ku pukul kamu!! " ibu hendak melayangkan pukulan tas besarnya kepadaku namun tak jadi ibu mendorong keras tubuhku kesamping membuatku hampir jatuh
"minggir jangan halangi aku dasar jalang manis!" teriak ibu lalu merebut paksa tas mbak nur..
gawat!! celaka!! bagaimana ini?? tuhan tolong aku ku mohon!! degh!!
Saat ibu hendak membuka tas mbak nur tiba-tiba..
ada rombongan teman alumni se almamater dengan ibu dulu waktu SMA menghampiri ibu
Hingga akhirnya ibu pun mengembalikan tas mbak nur dengan melemparnya ke wajah kami dan tak jadi menggeledahnya
"Jeng edoh! Hay jeng apa kabar?" Sapa seorang wanita bertubuh gempal dengan gaya Hedon nya
"Eh jeng farnita, jeng Elis ,sama yang lain aku baik kok, kalian apa kabar? Ah kita ngobrol di dalam aja yuk!" Balas ibu baru kali ini aku melihat ibu bisa tersenyum seramah itu kepada orang lain namun tidak dengan ku jika bersama ku ibu selalu bersikap ketus padahal kupikir setelah kehadiran sio ibu mau menerima ku namun aku salah bagi ibu level kami tetaplah berbeda.
Setelah berbincang-bincang ibu kembali berjalan mendekati kami
"Heh kok kamu masih disini?! Sudah sana cepetan pulang! Bikin sakit mata orang yang liat aja! kamu juga aileen!! bikinin minum jangan bengong aja!" Omel ibu saat aku masih berbicara dengan mbak nur
"Ya mata nya dicopot aja Ceu! Biar nggak sakit liat yang jelek²" jawab mbak nur emosi
"Sudah mbak jangan bertengkar disini! Jangan diladeni malu nanti dilihat tamu! Sela ku
"Kurang asem kamu ya Nurhalimah!!"sentak ibu membuat beberapa pelayan juga tamu melirik ke arah sini
"Bu sudah Dong! Jangan teriak2 malu! " Ingat ku
"Bilangin ke mbak mu yang kampungan ini untuk secepatnya angkat kaki dari rumah ini!Atau aku panggilkan satpam!" Ancaman ibu
"Gak usah Ceu! Saya masih punya kaki dan hati yang normal gak kaya Ceu edoh yang gengsinya sundul langit ! Saya mah Sadar diri! " Sahut mbak nur
"Dek pesan mbak kamu harus hati-hati disini ya sama nenek Lampir! Itu" bisik mbak nur seraya terkekeh yang tentu saja masih di dengar oleh ibu
"Kurang ajar!awas ya kamu nanti kalo diluar ditanya tamu ingat jangan pernah ngaku kalo kamu adalah kakak iparnya Abi anakku bikin malu aja" ibu berkata dengan wajah merah padam nya
"Ehm! permisi Ceu! Dek mbak pulang dulu ya! Ingat Jaga kewarasan selama ada nenek lampir disini" pamit mbak nur
"Halah! Orang adik situ emang nggak waras! Abi aja yang bodoh! Mau maunya nikah sama cewek yang modelannya kaya kamu! Atau jangan-jangan dulu kamu pakai susuk ?pakai pelet ya Aileen buat dapetin abi anakku? Makanya anakku Abi sampai tergila -gila Sama kamu!" Selidiknya
"Astaghfirullah Bu! Istighfar! Tidak Pantas seorang ibu mertua menilai hina menantu nya di depan banyak orang! lain kali jaga mulut ibu!! apa pantas seorang mertua berkata seperti itu pada menantu yang selalu ia tindas!! " Aku memutar langkah hendak masuk kembali ke dalam rumah menuju dapur
"Huh kelakuan emang! Nenek lampir!" Ledek mbak nur dibelakang masih sempat ku dengar
"Diam kamu! " Bentak Ibu kemudian ia mengejar langkahku ke dalam rumah
"Heh! Aileen! Berhenti kamu! Heh kalau di suruh berhenti itu ya berhenti! dasar kamu ya berani kamu ngelawan aku hah!" Teriak ibu sambil menarik hijab rambutku secara kasar
klo msih di ksih sehat... dia akn sll berulah & tak tau diri....🙄🙄