Namanya adalah Haidee Tsabina, wanita cantik dengan hijabnya yang merupakan istri seorang Ibrahim Rubino Hebi. Kehidupan keluarga mereka sangat harmonis. Ditambah dengan seorang anak kecil buah cinta mereka yaitu Albarra Gavino Hebi
Tapi semua berubah karena sebuah kesalahpahaman dan egois yang tinggi. Rumah tangga yang tadinya harmonis berubah menjadi luka dan air mata.
Sanggupkah Haidee dan Ibra mempertahankan keluarga kecil mereka ditengah banyaknya rintangan dan ujian yang harus mereka hadapi? Atau mereka akan menyerah pada takdir dan saling melepaskan? Yuk baca kisahnya.
Follow Ig author @nonamarwa_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Marwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa
Jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman
🌹HAPPY READING🌹
Al berjalan menuju kamarnya dengan gontai. Anak kecil itu nampak tak bersemangat setelah memberikan undangan kepada Ibra. Langkah demi langkah kaki mungilnya menaiki anak tangga menuju kamar. Saat membuka kamar, Al melihat Dee yang tertidur sambil memeluk bajunya. Al berjalan mendekati Dee.
Umi selalu cantik. Umi adalah bidadali yang dikilim Allah untuk Al. Ibu gulu bilang seolang anak laki-laki halus jadi malaikat pelindung untuk Uminya. Dan Al sedang belusaha melakukannya untuk Umi. Ucap Al dalam hati memandang lekat wajah Dee dengan tatapan sendu. Tanpa membangunkan Dee, Al meletakan tasnya di atas meja belajarnya dan berlalu ke kamar mandi untuk bersiap menjenguk Omanya. Al tidak tahu jika Dee juga akan ikut bersama mereka.
Setelah selesai berpakaian Al turun kebawah untuk menemui Abinya. Al melihat Ibra duduk sambil menonton TV di ruang keluarga. Ia berjalan perlahan mendekati Ibra.
"Abi, Al udah selesai," ucap Al saat sudah berdiri di depan Ibra menghalanginya menonton TV.
"Lho Umi mana Al ?" tanya Ibra. Karena setaunya tadi Dee pergi ke kamar Al untuk menyiapkan pakaiannya.
"Umi ikut juga ?" ucap Al tanpa menjawab pertanyaan Ibra.
Ibra mengangguk, "Umi lagi sakit, kita bawa Umi ke rumah sakit. Setelah itu baru kita jenguk Nenek," ucap Ibra mengelus lembut kepala Al.
"Apa tidak apa-apa jika Umi ikut Abi ?" tanya Al.
"Memangnya kenapa ?" tanya Ibra balik.
Al hanya diam. Melihat Al yang diam, Ibra kembali berbicara, "Al kenapa jadi takut seperti itu sama Umi, Hem ? padahal dulu kan Al yang terus maksa Abi buat jenguk dan bebasin Umi karena Umi bukan orang nakal. Sekarang giliran Umi pulang kenapa malah takut sama Umi. Umi sangat menyayangi Al," ucap Ibra hati-hati memberi penjelasan pada Al.
Kalna Al takut Umi pelgi lagi Abi. Kalau Al dekat Umi nanti Umi di pukul, di tendang-tendang lagi. Al nggak mau Umi dihukum kalna Al nakal. Jawab Al dalam hati sambil tetap melihat kearah Ibra.
"Ya sudah, kalau gitu Al panggil Umi ya ?" pinta Ibra pada Al. Al menggeleng menandakan dia tidak ingin memanggil Uminya.
"Kalau gitu Al tunggu disini, biar Abi yang panggil Umi," ucap Ibra berdiri memanggil Dee dan meninggalkan Al di ruang keluarga.
Saat Kakinya sudah sampai di pertengahan tangga, Ibra menghentikan langkahnya melihat Dee yang baru keluar dari kamar Al.
"Mas, maaf Adek ketiduran. Apa Al sudah pulang ?" tanya Dee melihat Ibra yang menaiki tangga.
Ibra tersenyum, ia mengerti istrinya pasti masih mengantuk karena begadang semalam. "Al udah nunggu kita di ruang keluarga. Yuk," ucap Ibra menggandeng tangan Dee.
Sampainya diruang keluarga, Dee dan Ibra melihat Al yang fokus menonton kartun anak kembar berkepala botak itu. Ia kadang tertawa sendiri melihat tontonanya.
Bahkan kamu tidak memakai pakaian yang udah Umi siapin nak. Lirih Dee dalam hati saat memperhatikan pakaian Al. Lagi-lagi harapannya tidak sesuai dengan kenyataan.
"Al, yuk kita berangkat," ucap Ibra.
Al menoleh, "Iya, Abi." Al berdiri mematikan televisi terlebih dahulu. Setelah itu mereka berjalan keluar rumah dan menuju mobil yang telah disediakan untuk ke rumah sakit.
Di dalam mobil, Ibra dan Dee hanya sama-sama diam. Sedangkan Al anak itu sibuk menonton kartun kesayangannya lewat iPad yang selalu ia letakkan di mobil. Tak terasa mobil yang dikendarai Ibra sampai di parkiran rumah sakit. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Ibra, Dee dan Al keluar dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Sebelum memeriksakan keadaan tubuh Dee, Ibra mengajak Dee dan Al untuk menjenguk Raina terlebih dahulu. Sampainya didepan ruangan Raina Ibra melihat Naina yang baru saja keluar dari sana.
"Lho Naina, kamu disini ?" tanya Ibra heran karena ini masih jam kantor dan Naina ada di rumah sakit.
"Onty Naina," panggil Al juga melihat Naina. Sedangkan Dee hanya diam.
Naina nampak terkejut mendapati Ibra, Dee dan Al sudah ada di depan ruangan Raina, tapi ia berusaha menutupi kegugupannya, "Eh Ibra, iya aku hanya sedang rindu dengan Tante Raina makanya ke sini. Lagian di kantor kerjaan yang penting sudah aku selesaikan semua," ucap Naina menjelaskan.
Tak berselang lama, tampak Wijaya yang berjalan dari ujung lorong rumah sakit. Al yang melihat kakeknya langsung berlari menghampiri Wijaya.
"Kakek," panggil Al sambil merentangkan tangannya meminta gendong kepada Wijaya. Tanpa pikir panjang Wijaya langsung mengangkat Al kedalam gendongannya.
Wijaya mencium seluruh wajah Al rindu kepada cucunya ini. Al terkekeh geli saat Wijaya menciumnya. "Hai cucu Kakek. Mau liat Nenek ya ?" tanya Wijaya.
"Iya kek," jawab Al mengangguk.
"Kesini sama siapa ?" tanya Wijaya. Al mengarahkan telunjuknya kepada Ibra dan Dee untuk menjawab pertanyaan kakeknya.
Ibra berjalan mendekat, "Dee," panggil Wijaya saat sudah berdiri di depan anak dan menantunya.
"Papa," jawab Dee sambil menunduk takut jika Wijaya menolak kehadirannya.
Tanpa dugaannya Wijaya langsung memeluk menantunya itu dengan sayang, "Selamat datang kembali, nak," ucap Wijaya tulus. Karena sedari awal Wijaya percaya bahwa menantunya tidak mungkin mampu melakukan perbuatan tidak terpuji tersebut.
Ibra ikut tersenyum melihat kedekatan Dee dan papanya. Bahkan Wijaya lebih menyayangi Dee daripada dirinya sendiri yang sudah jelas-jelas adalah anaknya.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi di sana ada hati yang tidak menyukai pemandangan ini.
Puas saling melepas rindu dan mengucapkan kata maaf kepada menantunya, Wijaya mengajak mereka semua masuk melihat keadaan Raina. Mereka semua masuk kecuali Naina yang meminta izin untuk kembali ke kantor.
"Lihatlah mama, nak," ucap Wijaya mempersilahkan Dee mendekati Raina. Dia memberi waktu kepada Dee untuk berdua dengan Raina. Sedangkan dia, Ibra dan Al duduk di sofa yang ada diruangan. Wijaya menyulap ruang rawat istrinya menjadi kamar pribadi. Karena ini sudah menjadi rumah ke dua baginya. Dia selalu setia menemani istrinya itu yang sudah koma selama satu tahun lamanya.
Dee mengangguk dan berjalan mendekat kearah tempat tidur Raina. Dee duduk di kursi sebelah tempat tidur tersebut. Dapat Dee lihat tubuh kurus dan wajah pucat mertuanya tapi tidak menghilangkan kecantikan wanita itu. Hati Dee sakit melihat kondisi mamanya ini. Meskipun mereka memiliki hubungan menantu dan mertua yang tidak terlalu baik, tapi Dee sangat menyayangi Raina.
Tanpa sadar air mata Dee menetes melihat keadaan Raina. "Mama bangunlah," ucap Dee sendu memegang tangan Raina yang tidak di infus.
Tes
Sebutir air mata jatuh dari mata Raina, seakan ia bisa mendengar suara dan merasakan sentuhan Dee.
......................
Hai Teman-Teman, Terimakasi sudah mampir dan menyaksikan bagaimana kisah Ibra, Dee dan juga Al ,,,
Jangan lupa like sama komentarnya yaa teman-teman agar novel ini tambah seru lagi,,,
Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa untuk melihat ucapan ucapan mutiara author yaa.....
tapi seruuu puas bgt bacanya
terimakasih thooor
semoga karya mu selalu d gemari
berbahagialah dee
paling buat berobat Jaka 15rb tuuh beli betadine