Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Retakan yang Kian Menganga dan Sunyi di Balik Riuh
Suara benturan keras antara logam kunci mobil Eropa milik Rahmi dengan permukaan meja kayu jati di sudut kafe itu menggema cukup nyaring, mengalahkan sejenak dengung mesin espresso dan obrolan sayup-sayup para pengunjung sore itu. Rahmi mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan kasar, melipat kedua tangannya di depan dada, sementara napasnya masih memburu tipis akibat badai kecemasan yang berkecamuk di dalam dadanya.
Ardi dan Randi, yang sedari tadi sudah menempelkan mata mereka pada layar ponsel demi memburu koneksi internet gratis, seketika dikejutkan oleh tindakan impulsif sahabat perempuan mereka itu. Keduanya kompak mendongak, menengok ke arah Rahmi dengan tatapan mata yang berkedip-kedip heran, namun dasar dua manusia yang urat seriusnya sudah putus, respons yang keluar dari mulut mereka justru jauh dari kata simpatik.
Ardi meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil memandang Rahmi dengan cengiran jahil yang menghiasi wajahnya.
"Waduh, waduh... lempar kuncinya kurang kenceng itu, Kanjeng Ratu!" seloroh Ardi dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan. "Kurang ada efek dramatisnya tahu gak? Harusnya lu lempar sampai memantul ke langit-langit kafe, baru deh keliatan aura anak sultannya!"
Randi yang duduk di sebelah Ardi langsung menyenggol lengan sahabatnya itu, mengangguk-angguk setuju dengan mata yang berbinar-binar penuh kejahilan, menimpali ucapan Ardi tanpa rasa takut sedikit pun.
"Bener banget tuh, Di! Bener kata si Ardi," sahut Randi, ikut memanasi suasana. Ia menepuk meja kayu di hadapan mereka beberapa kali. "Sekalian lu hancurin aja nih mejanya sekalian, Mi! Biar Bang Hendri langsung senam jantung di lantai atas. Tanggung banget kalau cuma bunyi prak doang mah. Ayolah, unjuk gigi dikit sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis bapak lu!"
Rahmi yang suasana hatinya sudah sekusut benang rajutan tua, langsung memberikan tatapan mematikan. Matanya yang tajam melirik ke arah Ardi dan Randi secara bergantian, memancarkan aura dingin yang sanggup membuat orang asing gemetaran. Ia mendengus kasar, lalu memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja.
"Berisik lu pada, kampret!" semprot Rahmi dengan nada suara yang ditekan rendah namun penuh ancaman yang nyata. "Gak usah banyak bacot deh. Ntar semua pesanan kentang goreng, kopi blenderan, atau apa pun yang mau lu berdua pasak ke dalam perut lu sore ini gak bakal gue traktir lagi baru tahu rasa! Bayar sendiri-sendiri pakai daun kering!"
Ancaman finansial itu terbukti menjadi senjata paling ampuh di dunia bagi makhluk-makhluk model Ardi dan Randi. Seketika itu juga, raut wajah menyebalkan di wajah kedua pemuda itu lenyap, digantikan oleh ekspresi ketakutan yang dibuat-buat namun terlihat sangat kocak.
Ardi langsung mengangkat kedua tangannya di depan dada, menyatukan telapak tangannya lalu menggerakkannya naik turun dengan tubuh yang membungkuk dramatis ke arah Rahmi.
"Ampun, Kanjeng Ratu! Mohon ampun sebesarnya-besarnya!" ucap Ardi dengan suara yang dibuat memelas, bergaya seperti seorang prajurit kerajaan kuno yang sedang menghadap penguasa tiran. "Hamba khilaf, hamba tidak akan mengulangi perbuatan nista ini lagi. Tolong jangan hapus hamba dari daftar penerima bansos traktiran sore ini."
Randi tidak mau kalah. Ia bahkan menundukkan kepalanya hingga keningnya nyaris menyentuh permukaan meja kayu, meniru gaya menyembah yang super lebay untuk meluluhkan hati Rahmi.
"Mohon maafkan kami, Ibu Ratu yang agung dan budiman!" timpal Randi dengan nada yang tak kalah teatrikal. "Kami berdua hanyalah remah-remah rempeyek yang tidak ada artinya tanpa kemurahan hati Ibu Ratu. Jagat raya ini akan runtuh kalau dompet Ibu Ratu terkunci buat kami!"
Melihat tingkah laku dua sahabatnya yang bercanda dengan tingkat kelewatan yang konsisten, Rahmi tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar bola matanya jengah. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur, digantikan oleh rasa lelah menghadapi kelakuan mereka.
"Lebay lu pada, sumpah. Gak jelas banget," cibir Rahmi, meskipun di dalam hatinya ia sedikit bersyukur karena keributan konyol ini berhasil mengalihkan perhatian semua orang dari getaran cemas di tangannya.
Namun, pengalihan isu itu tidak bertahan lama. Begitu Ardi dan Randi kembali sibuk dengan ponsel mereka setelah puas bercanda, pandangan mata Rahmi secara otomatis kembali bergerak, bergeser ke arah sisi meja tempat Alan berada. Pemuda itu sedari tadi hanya duduk diam. Ia tidak ikut tertawa, tidak juga memainkan ponselnya. Ia hanya menatap kosong ke arah gelas air putih di depannya, dengan gumpalan mendung misterius yang tampak jelas menggelayuti wajahnya.
Rahmi menghela napas pendek. Rasa penasaran dan firasat buruk yang mengganjal di dadanya sejak di parkiran kampus tadi pagi kembali menuntut jawaban. Ia menatap wajah Alan dengan lekat, mencoba mencari celah di balik ekspresi kaku pemuda itu.
"Lan," panggil Rahmi lembut, namun nadanya menuntut. Alan tidak merespons, membuat Rahmi harus mengetuk meja dengan jarinya. "Lu hari ini aneh banget tahu gak. Dari subuh di kampus sampai sekarang di kafe, lu lebih banyak diem kayak patung selamat datang. Sebenernya... ada apa sih, Lan? Ada masalah yang gak lu ceritain ke kita?"
Mendengar pertanyaan Rahmi yang tiba-tiba bergeser menjadi sangat serius, Ardi yang telinganya selalu sensitif terhadap gosip langsung menyela tanpa diundang. Ia menoleh ke arah Rahmi dengan tatapan menyelidik.
"Eh, bentar deh, Mi. Kalau lu bilang si Alan aneh... lu juga hari ini aneh kali, Mi!" potong Ardi sambil menunjuk Rahmi dengan jari telunjuknya. "Lu dari tadi pagi sensian mulu kayak macan baru melahirkan. Ditanya dikit langsung nyembur, diledek dikit langsung ngancem coret traktiran. Lu berdua nih yang aneh sebenernya."
Randi yang tidak ingin ketinggalan dalam sesi analisis psikologi amatir ini ikut mengacungkan jarinya, menatap Ardi lalu menatap Alan dan Rahmi secara bergantian dengan senyum penuh arti.
"Nah! Bener banget kata lu, Di," timpal Randi dengan nada sok tahu yang tinggi. "Menurut penerawangan gue sebagai pria tampan tanpa tanda jasa... lu berdua kali yang pada aneh hari ini! Jangan-jangan lu berdua lagi ada main di belakang kita ya? Atau lagi marahan gara-gara rebutan sesuatu?"
Rahmi yang merasa privasi hatinya terancam dibongkar oleh dua manusia bermulut ember ini langsung menyalak galak untuk mempertahankan diri. Wajahnya memerah menahan kombinasi antara kesal dan panik.
"Diem lu, kampret!" bentak Rahmi, melemparkan gumpalan tisu bekas di dekatnya tepat ke arah wajah Randi. "Gak usah sok tahu jadi dukun lu! Urusin aja tuh kuota internet lu yang udah sekarat, gak usah ngurusin hidup orang!"
Melihat Randi yang terkena lemparan tisu tepat di hidungnya dan langsung mengaduh heboh, Alan yang sedari tadi tenggelam dalam lamunan mimpi buruknya akhirnya terusik. Sebuah senyum tipis, sangat tipis, muncul di sudut bibir kaku pemuda itu. Suara tawa renyah yang pendek keluar dari tenggorokannya, memecah keheningan batinnya sendiri.
"Rasain lu... disemprot kan akhirnya," ucap Alan dengan nada suara yang datar namun terselip nada puas melihat sahabatnya dinistakan oleh Rahmi.
Setelah tawa kecilnya mereda, Alan mengalihkan pandangan matanya. Maniknya kembali bertatapan langsung dengan mata Rahmi yang masih menatapnya penuh selidik dan kecemasan yang dalam. Tatapan mata Rahmi yang begitu intens membuat Alan teringat kembali pada bayangan tangis gadis itu di dalam mimpinya, menciptakan denyutan bersalah yang aneh di ulu hatinya.
Alan menarik napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan untuk meyakinkan gadis di hadapannya itu.
"Gak ada apa-apa, Mi. Sumpah," jawab Alan, mencoba membuat nada suaranya seringan mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut. Ia mengusap tengkuknya yang terasa agak kaku. "Gue cuman... cuman kurang tidur aja semalem. Tugas kuliah numpuk, ditambah pikiran gue agak penuh sama beberapa urusan kafe kemarin. Jadi ya agak lemes aja hari ini."
Alan melirik ke arah jam dinding kafe yang sudah menunjukkan waktu operasionalnya akan semakin sibuk. Ia menepuk kedua lututnya, bersiap untuk berdiri dari kursinya.
"Udah ah, gue ke ruang ganti pakaian dulu di belakang," lanjut Alan sambil beranjak berdiri, merapikan jaket hitamnya yang sedikit kusut. "Biar ntar gak ribet harus bolak-balik lagi ke ruang ganti kalau pengunjung udah makin rame. Yogi juga biar bisa cepet istirahat ganti shift."
Rahmi mematung di kursinya, matanya tak lepas menatap langkah kaki Alan yang bergerak menjauh membelah koridor kecil menuju ruang karyawan di bagian belakang kafe. Punggung lebar itu... punggung yang biasanya tegak, kokoh, dan memancarkan aura kemandirian yang tak tergoyahkan, sore ini terlihat sangat berbeda di mata Rahmi.
Di dalam keheningan batinnya yang terdalam, Rahmi berbisik dengan suara yang teramat lirih, menyuarakan rasa pedih yang tak mampu ia lisankan kepada siapa pun.
'Kenapa... kenapa hari ini punggung lu kelihatan berbeda banget, Lan?' batin Rahmi menjerit sunyi, matanya mulai terasa panas namun ia paksa untuk tetap kering. 'Punggung lu sore ini kelihatan layu, kayak lagi menahan sebuah beban yang teramat berat... beban yang sengaja lu tanggung sendirian tanpa mau bagi sedikit pun ke gue atau ke yang lain. Dan tatapan mata lu hari ini... tatapan lu dari pagi tadi di kampus... bener-bener sulit buat gue artikan, Lan. Ada apa sebenernya di dalam hati lu? Apa semua ini ada hubungannya sama dia?'
Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara batin Rahmi tanpa pernah menemukan jawaban, meninggalkan rasa sesak yang kian menghimpit rongga dadanya hingga ia harus menarik napas dalam-dalam secara diam-diam agar tidak memicu kecurigaan dua sahabat di sampingnya.
Namun, kedamaian dalam kesunyian batin Rahmi kembali dihancurkan oleh celotehan Ardi yang tak pernah menyaring kalimatnya sebelum berbicara.
Ardi yang sedang memperhatikan sekeliling kafe, tiba-tiba memajukan wajahnya ke arah Randi, berbisik namun suaranya masih sangat jelas terdengar oleh Rahmi yang duduk di seberang mereka.
"Eh, Ndi... lu ngerasa gak sih? Kayaknya beberapa hari ini... si Bunga tuh lagi ngejar-ngejar si Alan banget ya?" tanya Ardi dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu. "Gue perhatiin waktu itu di kampus, terus kemarin pas dia bela-belain dateng ke kafe ini cuma buat nemenin si Alan beres-beres shift. Gila sih, primadona kampus kayak dia bisa se-agresif itu sama cowok modelan benteng bernyawa kayak Alan."
Randi menghentikan aktivitas jemarinya di layar ponsel, mengangguk-angguk setuju dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah serius seperti seorang analis hubungan asmara profesional.
"Kelihatannya sih emang iya, Di. Tebakan lu tumben pinter," jawab Randi, mengiyakan ucapan Ardi. Ia bersandar ke kursi, melipat tangan di dada. "Tumben-tumbenan juga kan si Alan gak dingin sama wanita. Biasanya kalau ada cewek yang coba deketin dia, mau secantik apa pun, pasti langsung dikasih muka tembok atau dijawab seadanya sampai tuh cewek mundur teratur karena ngerasa dikacangin. Tapi sama si Bunga... kemarin gue liat sendiri si Alan mau-mau aja diajak ngobrol lama, bahkan mukanya agak santai. Langka banget."
Mendengar percakapan kedua temannya yang sedang mendiskusikan kedekatan Alan dan Bunga dengan begitu gamblang, hati Rahmi rasanya seperti dihantam oleh palu godam tak kasat mata. Setiap kata yang keluar dari mulut Ardi dan Randi terasa bagai sembilu yang mengiris-iris luka lama di hatinya yang belum sempat mengering.
Rasa perih itu menjalar begitu cepat, membakar seluruh keberaniannya. Namun, ego dan harga dirinya sebagai seorang wanita—serta ketakutannya yang mendalam akan hancurnya persahabatan mereka—memaksa Rahmi untuk ikut berbicara. Ia harus menguatkan topengnya. Ia harus terlihat seperti sahabat yang mendukung, bukan seorang wanita yang sedang mati-matian menahan tangis patah hati.
Dengan memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa amat sangat kaku di bibirnya, Rahmi ikut menyela pembicaraan mereka dengan nada suara yang dibuat se-kasual dan selogis mungkin.
"Ya... karena... karena ya mungkin si Alan emang udah ada perasaan sama si Bunga," ucap Rahmi, kalimatnya sempat terbata di awal karena ada rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya. Ia memalingkan wajahnya sedikit ke arah luar jendela kafe, menghindari kontak mata dengan Ardi. "Makanya... makanya dia gak dingin lagi sama Bunga. Cowok segalak atau sedingin apa pun kan pasti bakal luluh juga kalau dihadapkan sama cewek yang bener-bener dia suka, apalagi modelan Bunga yang lembut kayak gitu. Wajar aja kali."
Ardi terdiam sejenak, mencerna ucapan Rahmi. Ia mengangguk-angguk perlahan, merasa bahwa analisis dari sahabat perempuannya itu memiliki dasar kebenaran yang kuat.
"Hmm... masuk akal juga sih apa kata lu, Mi," ujar Ardi sambil mangut-mangut. "Alan juga manusia biasa, bukan robot buatan Jepang. Pasti punya rasa punya hati juga kalau dikasih perhatian terus-menerus sama cewek se-sempurna Bunga."
Randi menepuk meja sekali, menyetujui kesimpulan akhir perbincangan mereka dengan senyum lebar tanpa beban di wajahnya.
"Ya masuk akal lah! Jelas banget itu mah," seru Randi dengan nada riang, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan teka-teki silang yang sulit. "Lagian ya, menurut pendapat gue pribadi nih... mereka berdua tuh bener-bener cocok banget tahu gak. Yang satu ganteng dengan karisma misteriusnya, yang satu cantik jelita dengan kelembutannya. Ibarat sendok sama garpu, pas banget kalau dipasangin. Gue sih setuju banget kalau mereka beneran jadian nanti. Kafe ini pasti bakal makin rame karena aura cinta mereka, hahaha!"
Deg.
Dunia di sekitar Rahmi seketika runtuh menjadi kepingan abu tak berharga begitu kata "cocok" dan "gue setuju kalau mereka jadian" meluncur bebas dari bibir Randi. Suara tawa riang Randi terdengar begitu memekakkan telinga, menjelma menjadi suara dengungan mengerikan yang menusuk-nusuk gendang telinganya.
Di balik wajahnya yang masih dipaksa untuk terlihat tenang dan acuh tak acuh, di balik penampilannya yang tomboi dan tangguh... batin Rahmi saat itu sedang berteriak hebat, sebuah jeritan histeris penuh keputusasaan dan rasa sakit yang teramat sangat mendalam, memantul-mantul di dalam dinding dadanya yang sesak.
'Iya... emang bener... mereka emang cocok banget, Ndi...' jerit batin Rahmi dengan air mata spiritual yang mengalir deras, membakar jiwanya hingga hangus. 'Cocok banget... cocok buat nyakitin dan ngehancurin hati gue sampai gak tersisa sedikit pun! Cocok buat bikin gue ngerasa jadi manusia paling menyedihkan di dunia ini!'
Tangan Rahmi di dalam saku jaket jeans-nya kini terkepal sangat erat, hingga kuku-kuku jarinya memutih dan menancap kuat ke telapak tangannya sendiri, menyalurkan rasa sakit fisik demi mengalihkan rasa sakit di hatinya yang jauh lebih membunuh.
'Sakit banget, Tuhan... sakit banget harus denger orang-orang di sekitar gue memuji keserasian pria yang gue cintai setengah mati dengan wanita lain,' ratap Rahmi dalam kesunyian yang mencekam. 'Dan yang paling bikin gue hancur adalah... gue harus ikut tersenyum. Gue harus ikut mengangguk setuju atas hubungan mereka. Semua ini karena perasaan bodoh ini... perasaan yang terpaksa harus terus gue simpan, gue kubur, dan gue gembok rapat-rapat di balik topeng persahabatan sialan ini! Topeng yang bikin gue bisa ada di sebelah lu, Lan... tapi topeng ini juga yang pelan-pelan lagi ngebunuh jiwa gue secara perlahan sampai gue gak tahu lagi gimana caranya buat sekadar narik napas dengan normal...'
Rahmi memejamkan matanya selama satu detik penuh—sebuah detik yang terasa seperti keabadian penuh siksaan—sebelum akhirnya membukanya kembali, menatap dua sahabatnya yang masih asyik mengobrol tanpa pernah tahu bahwa di hadapan mereka, ada satu hati yang baru saja hancur berkeping-keping menjadi debu yang tak akan pernah bisa disatukan kembali. Topeng persahabatan itu masih terpasang kokoh di wajah Rahmi, meskipun retakannya kini sudah kian menganga, siap untuk runtuh kapan saja badai itu datang lagi.