Sebuah kota kecil bernama Reynhaven, seorang pria ditemukan tewas di rumahnya, tepat lima menit sebelum tengah malam. Di pergelangan tangannya, ada tanda seperti lingkaran berwarna hitam yang terlihat seperti dibakar ke kulitnya. Polisi bingung, karena tidak ada tanda-tanda perlawanan atau masuk secara paksa. Ini adalah korban kedua dalam seminggu, hingga hal ini mulai membuat seluruh kota gempar dan mulai khawatir akan diri mereka.
Di lain sisi, Naya Vellin, seorang mantan detektif, hidup dalam keterasingan setelah sebuah kasus yang ia ambil telah gagal tiga tahun lalu hingga membuatnya merasa bersalah. Ketika kasus pembunuhan ini muncul, kepala kepolisian memohon pada Naya untuk kembali bekerja sama, karena keahliannya sangat diperlukan dalam kasus ini. Awalnya ia sangat ragu, hingga akhirnya ia pun menyetujuinya. Akan tetapi, dia tidak tahu bahwa kasus ini akan mengungkit masa lalunya yang telah lama dia coba lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Wahida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghadapi Masa Lalu
Hujan mengguyur jalanan kota seperti mengguyur hati Naya yang penuh keraguan. Gedung kantor polisi berdiri tegak di hadapannya, seperti raksasa yang dingin dan penuh rahasia. Naya menarik napas panjang. Dia tahu pertemuan ini tidak akan mudah, tapi permintaan Owen terlalu penting untuk diabaikan.
Tiga tahun berlalu sejak kebakaran Astra Land, tetapi kenangan itu masih hidup di benaknya. Jonas, wartawan keras kepala yang menjadi rekan dalam penyelidikan, tewas di dalam kobaran api. Sebagai detektif muda saat itu, Naya merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Jonas. Dia gagal melindunginya, sama seperti Owen, seniornya.
"Naya, bukankah, sudah saatnya untuk bertemu dengan Ravin?" ujar Owen.
"Tapi, bagaimana jika dia membenciku, senior?" ujar Naya cemas.
"Kita tidak akan tahu kalau belum mencobanya. Dan sampaikan juga maafku padanya. Kita sudah terlalu lama bersembunyi, Naya," kata Owen lirik.
Naya menganggukkan kepalanya. Sepertinya, inilah saatnya untuk menghadapi masa lalunya.
Naya berangkat ke kantor polisi, tempat Ravin bekerja. Dengan langkah ragu, Naya memasuki gedung.
Ravin duduk di meja kerjanya di tengah hiruk-pikuk kantor polisi. Dia tidak mendongak ketika Naya mendekat, meski dia sudah tahu siapa yang datang. Tatapannya tajam, dan caranya duduk memperlihatkan sikap defensif.
"Detektif Naya, kan?" Ravin bertanya tanpa ekspresi, suaranya dingin.
"Ya," jawab Naya singkat, mencoba tersenyum meskipun suasana hati Ravin jelas tidak ramah.
"Apa keperluanmu di sini?" Ravin langsung ke inti, tanpa basa-basi. Matanya mengamati Naya dengan penuh kewaspadaan, seperti sedang menilai setiap gerak-geriknya.
Naya menelan ludah. "Aku ke sini atas permintaan senior Owen. Dia ingin aku menyampaikan sesuatu... tentang Jonas."
Mendengar nama kakaknya, ekspresi Ravin mengeras. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada. "Oh, jadi dia akhirnya ingat kalau Jonas punya adik?"
Kata-kata Ravin seperti cambukan bagi Naya. Dia tahu Ravin memiliki alasan untuk marah, tetapi sarkasme itu membuat perasaan bersalahnya semakin dalam. "Aku mengerti kau marah, Ravin. Dan kau punya hak untuk marah."
"Mengerti?" Ravin menyipitkan matanya.
"Kau tidak mengerti apa pun, Detektif. Kau bahkan tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang seharusnya bisa diselamatkan."
Naya ingin membalas, tetapi menahan diri. Dia tahu percuma berdebat saat ini. "Aku tahu kau tidak menyukaiku, Ravin. Tapi tolong, beri aku waktu untuk menjelaskan."
Ravin menatapnya tajam, tetapi akhirnya dia mengangguk pelan. "Baik. Jelaskan. Tapi jangan harap aku akan bersimpati padamu."
Naya duduk di kursi di depan meja Ravin, merasa kecil di bawah tatapan dinginnya. Dia menarik napas dalam, mencoba menyusun kata-kata.
"Senior Owen menyuruhku ke sini karena dia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Jonas. Dia merasa dia tidak bisa melindungi Jonas saat itu. Dan... aku juga merasakan hal yang sama," Naya akhirnya berkata, suaranya hampir bergetar.
Ravin mengepalkan tangannya di atas meja. "Kalian merasa bersalah? Itu saja? Jonas mati, Detektif. Apa rasa bersalah kalian bisa mengembalikannya?"
"Tidak," jawab Naya cepat.
"Tapi aku ingin kau tahu, kami tidak pernah melupakan apa yang terjadi. Dan kami juga tidak pernah melupakan Jonas. Dia adalah rekan kami."
Ravin mendengus. "Rekan? Kalau kalian benar-benar peduli, kenapa dia harus mati sendirian? Kenapa kalian tidak ada di sana saat dia butuh bantuan?"
Kata-kata itu menusuk hati Naya. Dia teringat kembali malam itu, suara teriakan senior Owen melalui ponsel, mengatakan bahwa Jonas berada di kobaran api yang menelan gedung Astra Land, dan perasaan tak berdaya yang membekukan tubuhnya.
"Kami mencoba," bisiknya pelan.
"Kami mencoba mencarinya di dalam gedung itu, tetapi semuanya sudah terlambat. Aku... aku merasa gagal, Ravin. Aku tahu ini tidak cukup untuk menghapus rasa sakitmu, tapi aku juga hidup dengan rasa bersalah itu setiap hari."
Ravin menatap Naya, matanya penuh emosi. "Jadi kau ke sini untuk apa? Untuk menebus rasa bersalahmu? Atau ini hanya perintah dari detektif Owen?"
"Ini bukan hanya perintah," jawab Naya tegas.
"Aku juga ingin bertemu denganmu, Ravin. Aku ingin kau tahu bahwa kami tidak pernah berhenti mencari jawaban atas apa yang terjadi."
Ravin berdiri dari kursinya, membelakangi Naya. Dia menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. "Tiga tahun, detektif Naya. Tiga tahun aku menunggu seseorang dari tim kalian datang menemuiku. Tapi kalian memilih untuk diam."
"Aku tahu," kata Naya pelan.
"Dan aku tidak punya alasan untuk membela diri. Kami seharusnya datang lebih awal. Aku seharusnya datang lebih awal."
"Kalau begitu, kenapa baru sekarang?" Ravin berbalik, menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Apa karena detektif Owen tidak tahan lagi dengan rasa bersalahnya? Atau karena kasus ini sudah tidak penting bagi kalian?"
"Tidak ada yang tidak penting!" Naya membalas, suaranya mulai meninggi.
"Kami semua terluka oleh apa yang terjadi, Ravin. Tapi kami manusia. Kami butuh waktu untuk menghadapi rasa bersalah kami."
"Aku tidak butuh penjelasanmu, Detektif," Ravin berkata dingin.
"Jonas adalah kakakku. Dia satu-satunya keluargaku. Dan dia mati, karena kalian tidak cukup kuat untuk melindunginya."
Kata-kata itu membuat Naya terpukul. Air matanya hampir jatuh, tetapi dia menahannya. Dia tahu Ravin butuh meluapkan amarahnya, dan dia merasa itu adalah bagian dari tanggung jawabnya untuk mendengarkan.
"Aku minta maaf," kata Naya akhirnya, suaranya gemetar.
"Aku tahu permintaan maaf ini tidak cukup, tapi aku benar-benar minta maaf, Ravin."
Hening menyelimuti ruangan untuk beberapa saat. Ravin akhirnya duduk kembali, terlihat lelah. Amarah di wajahnya mulai memudar, digantikan oleh kesedihan yang dalam.
"Aku tidak membenci Jonas karena apa yang dia lakukan," Ravin akhirnya berkata, suaranya pelan.
"Dia berani mengambil risiko untuk mencari kebenaran. Tapi aku membenci diriku sendiri karena membiarkannya melakukannya sendirian."
Naya menatap Ravin, merasa ada kesamaan dalam rasa bersalah mereka. "Aku juga merasa seperti itu. Aku harusnya bisa melakukan lebih banyak, tapi aku terlalu lambat. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri untuk itu."
Ravin memandangnya, untuk pertama kalinya tanpa kemarahan. "Kau tahu, Detektif, rasanya aneh. Aku ingin membenci kalian, tapi aku tidak bisa. Karena di dalam hatiku, aku tahu Jonas memilih jalannya sendiri. Dan dia tidak akan berhenti, tidak peduli seberapa berbahayanya."
Naya mengangguk pelan. "Dia adalah orang yang luar biasa. Aku merasa terhormat pernah bekerja dengannya."
"Dan aku merasa terhormat menjadi adiknya," kata Ravin, senyum kecil muncul di wajahnya.
Percakapan mereka berlanjut hingga larut malam. Ravin akhirnya mulai terbuka, menceritakan kenangannya tentang Jonas, kakaknya yang keras kepala, tetapi penuh kasih. Di sisi lain, Naya juga berbagi pengalamannya bekerja bersama Jonas, bagaimana semangatnya dalam mencari kebenaran selalu menjadi inspirasi.
"Apa detektif Owen benar-benar merasa bersalah?" tanya Ravin tiba-tiba.
Naya mengangguk. "Dia tidak pernah berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Tapi dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi itu. Dia pikir kau akan membencinya."
"Aku tidak membenci dia," kata Ravin pelan.
"Tapi aku ingin dia datang sendiri. Aku ingin mendengar langsung darinya."
"Aku akan menyampaikan itu padanya," janji Naya.
Sebelum Naya pergi, Ravin berkata, "Dan kalau kau benar-benar ingin membuktikan rasa bersalahmu, aku punya satu permintaan."
"Apa itu?" tanya Naya.
"Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi tiga tahun lalu," kata Ravin.
"Jonas tidak mati sia-sia. Kalau ada yang bisa menemukan kebenarannya, itu kalian."
Naya mengangguk, merasa sebuah beban berat, tetapi juga sebuah tujuan baru yang mulai tumbuh di hatinya.
"Ya, kamu tenang saja. Untuk itu, aku ingin menemukan pembunuh bayangan hitam itu. Karena, aku tahu pasti, bahwa dia mengetahui banyak hal terkait proyek Astra Land itu. Kamu tenang saja, Ravin. Karena bukan hanya aku saja, Sienna, junior Jonas juga ikut membantu," jawab Naya.
"Yah, itu bagus," jawabnya singkat disertai senyuman.
Hujan masih turun saat Naya keluar dari gedung itu. Tapi kali ini, langkahnya terasa lebih ringan. Dia tahu jalan menuju kebenaran masih panjang, tapi setidaknya, dia telah mengambil langkah pertama.
Di dalam kantornya, Ravin duduk termenung, memegang foto Jonas. Meski rasa sakitnya belum hilang, dia merasa ada harapan. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dia merasa dia tidak sendirian dalam pencarian ini.
Sementara itu, di kantornya, Owen memandang foto lama tim mereka bersama Jonas. Dia tahu waktunya untuk menghadapi Ravin telah tiba. Dan dengan bantuan Naya, mungkin akhirnya dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Namun, di balik itu semua, kasus Astra Land yang belum terpecahkan mulai memanggil mereka kembali, membawa mereka ke jalan yang penuh misteri, bahaya, dan kebenaran yang mungkin lebih gelap dari yang mereka bayangkan.
...To be continue...