Sebuah permintaan mengejutkan dari Maria, mama Paramitha yang sedang sakit untuk menikahi Elang, kakak kandungnya yang tinggal di London membuat keduanya menjerit histeris. Bagaimana bisa seorang ibu menyuruh sesama saudara untuk menikah? padahal ini bukan jaman nabi Adam dan Hawa yang terpaksa menikahkan anak-anak kandung mereka karena tidak ada jodoh yang lain. Apa yang bisa kakak beradik itu dilakukan jika Abimanyu, sang papa juga mendukung penuh kemauan istrinya? Siapa juga yang harus dipercaya oleh Mitha tentang statusnya? kedua orang tuanya ataukah Elang yang selalu mengatakan jika dirinya adalah anak haram.
Mampukah Elang dan Mitha bertahan dalam pernikahan untuk mewujudkan bayangan dan angan-angan kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sushanty areta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi
Mitha masih menangis sesenggukan kala Gea sudah usai membersihkan etalase. Dua rekan mereka bahkan sudah pulang lebih dulu tadi. Bukannya tak pulang di jam yang sama, tapi Gea lebih memilih memperlambat tugasnya, sekalian menunggu tangis Mitha reda. Sahabatnya itu terlihat sangat terluka karena perlakuan Elang tadi. Bukan perlakuan, tapi lebih tepat dikatakan penghinaan. Elang sudah sangat menginjak harga diri Mitha.
"Minumlah." ujar Gea sambil menyodorkan minuman dingin pada Mitha. Pelan gadis itu meraih dan meminumnya. Dia tau, dirinya harus cepat tenang karena seluruh ruangan disana dipasang CCTV. Menangis mungkun bukan sebuah kesalahan, tapi mungkin bisa jadi hal memalukan.
"Udah baikan?"
"Ya."
"Bagaimana jika kita....jalan?" tanya Gea ragu.
"Ayo." tukas Mitha lalu meraih tas punggungnya. Demikian pula Gea. Mereka keluar beriringan. Mitha lalu menghubungi Zahra agar segera menyusul mereka, sedang Gea mengunci pintu toko itu. Sejak beberapa tahun lalu memang Gealah yang diserahi tanggung jawab oleh pemilik toko itu.
"Zahra nyusul Mith?"
"Ya. Katanya udah mau jalan."
"Buruan yuk." dan Mitha segera naik dijok belakang motor matic warna merah milik Mitha dan duduk manis disana. Mereka begerak menuju warung mang Asep, beberapa meter dari sana.
Warung mang Asep adalah tempat jualan kaki lima namun berada di area taman dengan tempat duduk saling berhadapan yang berbentuk kelompok. Mitha dan Gea segera memesan makanan untuk tiga orang lalu mengambil tempat duduk paling ujung agar leluasa bicara. Tinggal menunggu si lelet Zahra untuk gabung. Itulah Zahra, gadis itu selalu molor saat janjian. Kebiasaan yang kadang bikin kesal, bukankah menunggu adalah hal menjemukan? Tapi itulah Zahra. Walau lelet tapi sangat setia kawan dan super tegas diantara mereka bertiga.
Lain Zahra, lain pula Mitha dan Gea. Gea cenderung kalem dan keibuan. Mungkin sifat yang menurun dari mamanya yang memang sejak muda sudah menjadi guru TK. Gadis berkulit sawo matang itu memang pekerja keras dan ulet. Tak heran jika dia bisa membiayai sendiri kuliahnya yang memang hanya masuk hari sabtu minggu saja. Gea memang mengambil kuliah ekstension agar leluasa bekerja. Tak ada gengsi dalam kamus hidupnya.
Sedang Mitha? Putri keluarga Abimana itu menjalani hidup sesuai kata hatinya. Dia bekerja juga karena mendapat insiprasi dari seorang Gea. Mitha ingin mandiri dan gigih seperti dua sahabatnya itu. Dia yang dari segi fisik dan latar belakang memang lebih unggul dari Gea dan Zahra, namun merasa masih hijau dari faktor pengalaman hidup dibanding dua sahabatnya itu.
"Ra!" teria Gea sambil melambaikan tangan saat melihat Zahra yang baru memarkir motornya dan melepas helm pink kesukaannya. Sontak Zahra tersenyum lebar dan bergegas menghampirin keduanya.
"Hey girl..udah lama?" sapanya bersemangat.
"Girl? kau lupa dia sudah menikah?" tunjuk Gea ke arah Mitha yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"oh ..sorry madam." ralatnya lalu duduk santai dan langsung meminum es jeruk di depannya.
"Kok kalian diam? ada apa sih?" Zahra menatap dua sahabatnya yang bengong bergantian.
"Kalau minum tanya dulu kenapa sih Ra? Itu es jeruk Mitha tau!" marah Gea. Zahra hanya nyengir kuda.
"Maaf Mith. Haus sih akunya. Ntar kupesankan baru ya."
"Nggak perlu. Kita udah pesan tiga porsi kok." ujar Mitha sambil menunjuk pelayan warung yang datang membawa pesanan mereka.
"Kok sedih Mith? ada apa sih?" tanya Zahra saat melihat mata Mitha yang sembab.
"Tadi kak Elang datang."
"ke toko?"
"ya."
"terus?"
"Bu Mitha..bu Gea!" sapa seorang gadis kecil dari balik pagar taman, membuat ketiganya menoleh bersamaan.
"Kiara? sama siapa nak?" tanya Mitha lembut seraya mengelus kepalanya melewati jeruji pagar.
"Sama mama dan om Elang." seketika jantung Mitha berdetak kencang. Kenapa dunia begitu sempit? Baru beberapa menit lalu mereka bertemu, sekarang bertemu lagi dalam posisi berbeda. Semua mata mengikuti arah telunjuk si kecil Kiara yang menunjuk bangku taman dimana Elang dan mamanya terlibat pembicaraan entah apa dalam jarak dekat. Lagi-lagi wajah Mitha muram.
"Mama!!!" panggil Kiara tanpa bisa dicegah. Mitha menelan ludahnya susah payah saat Sindy dan Elang memandang ke arah mereka dan mengangguk sopan dan tersenyum manis. Spontan Gea dan Zahra melambaikan tangan mereka ramah.
"Yuk pulang!" Gea segera berdiri lebih dulu membuat Zahra bingung. Belum sempat makan, tapi sudah diajak pulang.
"Mith, Ra. Buruan!" paksanya lagi. Keduanya segera berdiri dan bersiap melangkah pergi. Hanya Zahra yang terlihat ogah-ogahan pergi.
"Ra, minta tolong mang Asep bungkus aja nasinya. Kita makan dirumah. Aku ma Mitha cabut dulu ke kosam kalian." dan Gea sudah menyeret paksa Mitha berlalu dari sana.
"Dasar aneh." runtuk Zahra kesal.
"Ohh ya Tuhan...bukannya itu suaminya Mitha ya? pantes aja Gea ngotot pergi." Zahra menepuk kepalanya. Akhir-akhir ini dia memang pelupa.