Rafael Hutama, sang putra sulung keluarga Hutama terjebak one night stand dengan Milea yang datang untuk mencari sang dosen pembimbing sesuai alamat yang tertera di data kampusnya. Tentu saja Rafa yang berada dibawah pengaruh obat tak bisa berpikir jernih hingga berakhir di tempat tidur bersama Milea. Sebagai pria keluarga terpandang tentu dia berniat menikahi Milea. Tapi anehnya Milea malah menolak. Bagaimana bisa dia menerima pertanggung jawaban Rafael jika yang dia cintai adalah Richard Hutama, sang adik yang juga merupakan dosennya di kampus??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sushanty areta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendekatan
"Kak ini kopimu." Ucap Milea membuat Rafael mengrenyitkan dahinya. Panggilan itu....apa Milea tak salah?
"Ehmmm...terimakasih Milly." ucapnya sambil menerima cangkir itu dari tangan Milea. Rafa bergegas menyusul dadynya yang menikmati kopi meja makan.
"Apa Zee baik-baik saja?" tanya Nando pada sang putra. Rafa menyesap kopinya sebentar sebelum meletakkan cangkirnya kembali. Zee adalah perusahaan rintisan milik Rafa yang berada dibawah naungan Hutama grup. Perusahaan yang memproduksi makanan, minuman dan kebutuhan rumah tangga itu memang baru beberapa tahun didirikan. Tapi Nando harus mengakui jika bakat bisnis Rafael amat mumpuni. Dalam kurun waktu singkat, produk mereka diterima dengan baik di pasaran. Putranya itu malah akan merambah bisnis garmen tahun ini. Benar-benar luar biasa.
"Ya, terimakasih karena dady sudah membantu mencarikan investor untukku." ucap Rafa tulus. Tak ada kesombongan disana karena dia sadar betul jika dirinya masih menggunakan nama besar ayahnya saat pertama kali masuk dunia bisnis. Nando terkekeh.
"Bukan karena dady, tapi kegigihanmulah yang membuat Zee jadi seperti sekarang. Dady hanya menunjukkan, mereka yang menilai sendiri kerja kerasmu. Good job son." ujarnya bangga. Rafa hanya tersenyum kesal. Selanjutnya dua pria beda generasi itu asyik bicara soal bisnis hingga Rafa ataupun Nando pergi ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian. Pun Sofia juga segera menyusul sang suami masuk ke kamar untuk menyiapkan keperluannya. Hanya Milea yang tertinggal ditemani ART mereka, Rena. Rena adalah anak perempuan bibi Sarla yang pensiun karena usia. Seperti ibunya dulu, Sofia menunjuknya menjadi kepala pelayan dikediaman Hutama.
"Nona tak kembali ke kamar? kami akan menyelesaikan ini." tanya Rena sopan. Milea tak tau harus melakukan apa. Ini hari pertamanya ada di rumah mertua, tak akur dengan suami pula. Dia juga tak harus pergi bekerja seperti penghuni rumah lainnya. Milea bimbang.
"Kenapa masih disini?" hampir saja Milea berjingkat kaget saat suara bariton itu tiba-tiba terdengar didekat tubuhnya. Dia berbalik sambil mengelus dada sekaligus menghembuskan nafas lega saat melihat Rafael lah yang bertanya padanya. Untuk sesaat Milly kembali dibuat terpana menatap suaminya yang terlihat gagah dalam balutan jas biru tua yang melekat pas ditubuhnya. Wajah itu...kenapa begitu mempesona dalam tampilan resmi seperti sekarang?
"Kembalilah ke kamar dan ganti bajumu. Jika ada kuliah kau bisa pergi bersamaku nanti, jika tidak kau bisa dirumah saja hari ini, tapi selalu ganti bajumu dengan yang rapi saat suamimu akan berangkat bekerja karena momy selalu melakukannya." Milea mengigit bibirnya sambil mengangguk. Rafa begitu perhatian padanya hingga selalu mengingatkannya saat dia bimbang tak tau mesti berbuat apa seperti sekarang.
Milea segera naik ke kamarnya. Hampir saja dia tergelincir karena tergesa, untunglah sebuah tangan menopangnya. Apa dia harus bahagia? bisa ya, bisa juga tidak. Dihadapannya sang pujaan hati, Richard sudah berdiri gagah dengan kemeja putihnya saat mengajar di kampus sedang memegangi tangannya.
"Hati-hatilah kakak ipar." ucap Richard seraya tersenyum simpul. Milea sampai terbatuk-batuk karenanya. Aroma parfum sang dosen bahkan sudah menyihirnya hingga tak bisa bersuara. Saat dia melirik ke bawah tanpa sengaja, sudut matanya menangkap Rafael yang mengawasi mereka tanpa ekspresi. Richard yang merasakan posisi Milea sudah aman segera melepaskannya dan menuruni tangga, menghampiri kakaknya.
"Ehummm...apa menu hari ini kak?" sapanya tanpa basa-basi seraya mengambil tempat duduk dihadapan sang kakak.
"Seperti yang kau lihat. Momy akan selalu menyiapkan menu sehat untuk kita." Richard sama sekali tak kaget dengan menu sayur dipagi hari. Juga tak kaget saat kakaknya itu bahkan masih terus membalas email masuk sembari menunggu yang lain berkumpul di meja makan.
Beberapa saat kemudian, Nando dan Sofia muncul dari kamarnya. Pria paruh baya itu terlihat lebih muda dari usianya, apalagi jika dalam setelan resmi seperti sekarang. Aura kekuasaan seorang Hutama amat kentara disana. Nando segera mengambil tempat duduknya di ujung meja, disusul Sofia disisi kirinya, tepat disamping Richard.
"Selamat pagi mom, dad..." sapa Richard ramah. Kedua orang tuanya serempak membalas sapaannya.
"Mana Milly Raf?" tanya Nando karena tak melihat menantunya itu dimeja makan.
"Masih ganti baju di kamar dad." baru saja ingin meminta tolong Rena memanggil Milea, gadis itu sudah berjalan ke meja makan dengan dres dibawah lutut berwarna biru langitnya. Semua menatap heran padanya saat gadis itu bukannya duduk disamping suaminya, tapi malah menarik kursi di sisi kiri Richard dan duduk disana.
"Milea, duduklah disamping suamimu." tegur Nando tanpa ekspresi. Sofia yang tau suaminya sedang merasa tak nyaman segera mengelus lengannya lembut.
"Tapi dad, aku ingin duduk disamping pak Richard. Kapan lagi bisa duduk dekat-dekat dengannya jika tak sekarang." balas Milea dengan sangat tak tau malunya. Tanpa malu dia bahkan melempar senyum manis saat Richard menatap ke arahnya. Tentu saja hal itu tak luput dari perhatian Rafael yang ada dihadapan mereka. Tapi pria itu hanya menatap datar saja.
"Yang kau lakukan tidak sopan Milea...kau...."
"Dady please...biarkan Milea tetap duduk disana. Kita bisa segera mulai sarapannya? aku ada meeting pagi ini." ucap Rafael lirih, namun membuat Nando urung meneruskan kalimatnya. Sofialah yang segera bangkit memutari meja dan duduk disamping Rafael. Dari tatapan mata putrnya saja Sofia tau jika pria muda itu amat berterimakasih padanya. Lagi dan lagi mereka dibuat terkesiap karena milea malah sibuk mengambilkan makanan untuk Richard dan membiarkan suaminya memgambil makanannya sendiri.
"Hubby sudahlah...ayo kita sarapan." ucap sang nyonya Hutama penuh kelembutan hingga Nando menurut, diam dan segera makan walau hatiinya diliputi kemarahan.
"Pak Richard...boleh saya nebeng ke kampus?" tanya Milea tiba-tiba usai acara makan pagi. Semua kembali dibuat tercekat karena aksi nekat sang gadis. Nando hingga harus mengeratkan rahangnya karena dipenuhi kemarahan demikian pula Sofia. Wanita itu menatap sang menantu penuh rasa tersinggung. Gadis itu benar-benar menguji kesabaran penghuni rumah dihari pertamanya tinggal. Hanya Rafa yang tetap memasang ekspresi tenang.
"Maaf kakak ipar..kau bisa minta diantar oleh suami atau sopir keluarga kami. Berdua saja denganku hanya akan menimbulkan fitnah." Milea menunduk lesu. Penolakan Richard sudah membuatnya kecewa. Dia bahkan melakukan pendekatan secara agresif, tapi ditolak juga seperti sebelumnya. Dia yang gigih mengejar dan mencari perhatian Richard selama di kampus, tapi usahanya selalu berakhir sia-sia saja. Sang dosen sepertinya bersikap tak terjadi apa-apa.
"Ini kunci mobilku. Pakailah." Rafa meletakkan kunci mobilnya di meja dekat Milea lalu beranjak diikuti ayah ibunya, juga Richard.
"Dad...bisakah aku pergi bersamamu dan momy pagi ini?" Nando dan Sofia serempak saling pandang. Padahal ada banyak mobil dirumah besar mereka, tapi anak sulungnya malah memilih pergi dengan mereka.
"Hmmmm...tentu saja. Ayo berangkat." Nando mendahului istri dan anak-anaknya, meninggalkan Milly yang masih termangu di meja makannya.
iki onok nofel kocak