Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Labirin Kabut dan Isyarat yang Terabaikan
Matahari pagi menembus celah-celah ventilasi ruang kelas, memantulkan berkas cahaya yang dipenuhi partikel debu yang menari-nari. Suasana kelas masih bising oleh obrolan para mahasiswa yang baru berdatangan. Di barisan tengah, Alan, Ardi, dan Randi sudah menempati posisi mereka. Namun, pandangan ketiga pemuda itu serempak tertuju ke arah pintu masuk ketika sesosok gadis melangkah melewati ambang pintu.
Itu Rahmi. Namun, ada yang berbeda dari penampilannya pagi ini.
Rahmi berjalan dengan kepala sedikit menunduk, melangkah tergesa-gesa menuju mejanya. Gadis tomboi yang biasanya acuh tak acuh pada penampilan itu, hari ini terlihat mengenakan sapuan makeup yang sedikit lebih tebal dari biasanya—sebuah usaha keras yang ia lakukan di depan cermin kamar mandinya selama satu jam hanya untuk menyamarkan sepasang mata yang sembab, bengkak, dan memerah akibat tangisan badai semalaman. Efek sisa menangis tanpa suara itu begitu kentara, meninggalkan rona pucat di wajahnya yang coba ia tutupi dengan bedak tipis dan sedikit perona pipi yang dipaksakan.
Melihat kedatangan sang "wakil ketua geng", Ardi dan Randi langsung menghentikan kegiatan mereka dan bersorak heboh dengan nada jenaka yang khas.
"Wuiihhh! Ibu Negara tercinta kita akhirnya masuk juga!" seru Randi dengan suara lantang, menepuk-nepuk meja bagaikan menyambut kedatangan seorang pejabat penting.
"Gila, kirain lu udah pindah kewarganegaraan, Mi! Sepi banget kemarin kagak ada yang bisa kita palakin es teh manis!" timpal Ardi, terkekeh lebar memamerkan deretan giginya.
Alan yang duduk tepat di belakang kursi Rahmi, menatap jam tangan digitalnya yang menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Dosen belum masuk, namun bagi seorang Rahmi yang biasanya menjadi penunggu kelas paling awal, ini adalah sebuah anomali.
"Tumben lu telat, Mi?" tanya Alan datar, namun matanya menelisik ke arah wajah Rahmi. Ia merasa ada yang janggal dengan riasan wajah sahabatnya yang tidak biasa itu. "Muka lu juga... agak beda. Lu sakit?"
Mendengar pertanyaan Alan, jantung Rahmi serasa dihantam godam tak kasat mata. Dadanya berdenyut ngilu. Namun, dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, ia langsung menegakkan bahunya dan memasang wajah ketus, mengaktifkan mode pertahanan terbaiknya: topeng kegalakan.
"Namanya juga orang lagi PMS, bego!" semprot Rahmi dengan nada ketus yang sengaja dikeraskan, menatap Alan dengan pandangan tajam yang menghujam. "Lu cowok gak bakal pernah ngerasain gimana rasanya perut kayak diaduk-aduk sama pisau! Gak usah banyak nanya deh, pusing kepala gue!"
Alan yang mendapat semprotan pagi-pagi langsung memundurkan kepalanya, refleks mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah.
"Anjriiirrr... makin parah aja lu sewotnya!" balas Alan sambil menggeleng-gelengkan kepala, agak ngeri melihat sensitivitas Rahmi hari ini. "Iya, iya, maaf. Sensitif amat kayak bom waktu. Baru nanya gitu doang langsung meledak."
Rahmi tidak membalas lagi. Ia segera membalikkan badannya menghadap ke depan, lalu menjatuhkan dirinya ke atas kursi. Di bawah meja, kedua tangannya mengepal erat di atas pangkuannya. Ia menarik napas dalam-dalam secara perlahan, menahannya di dada, lalu mengembuskannya lewat mulut tanpa suara. Ia sedang berjuang setengah mati untuk mengatur detak jantungnya yang berdegup terlalu kencang dan tidak beraturan—bukan karena gugup yang romantis, melainkan karena rasa sesak yang teramat sangat menahan gejolak air mata yang nyaris tumpah lagi begitu melihat wajah Alan yang bersih tanpa dosa.
Waktu berlalu melintasi jam-jam kuliah yang membosankan hingga bel tanda istirahat siang berbunyi nyaring. Lorong-lorong kampus seketika dipenuhi oleh riuh rendah langkah kaki mahasiswa yang berhamburan menuju kantin.
Di sudut kantin yang biasa mereka tempati, suasana terasa riuh namun terasa hampa bagi salah satu dari mereka. Hari ini, Bunga tidak datang ke kampus karena ada urusan keluarga yang membuatnya harus absen dari kelas siang. Namun, ketidakhadiran fisik Bunga sama sekali tidak mengurangi eksistensinya di dalam hidup Alan.
Di atas meja kantin, ponsel Alan bergetar hampir setiap lima menit sekali. Sebuah obrolan intens sedang berlangsung di balik layar kaca tersebut. Alan dan Bunga saling berkirim kabar lewat pesan WhatsApp.
Rahmi, yang duduk tepat di depan Alan, terpaksa menjadi saksi bisu dari pemandangan yang paling menyayat hatinya. Setiap kali layar ponsel Alan menyala menampilkan notifikasi baru, Rahmi bisa melihat perubahan drastis pada wajah pemuda dingin itu. Setiap kali Alan membaca balasan dari Bunga, sebuah senyum tipis—namun teramat tulus dan penuh binar kebahagiaan—merekah di bibir Alan.
Itu adalah jenis senyuman yang belum pernah, dan tidak pernah sekalipun, Rahmi lihat selama lebih dari setahun mereka bersama. Jangankan senyum semanis itu, di depan Rahmi, Alan paling hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ledekan kasar atau menyeringai jahil. Alan tidak pernah memandangnya dengan kelembutan yang saat ini ia berikan pada sebuah benda mati berlayar kaca, hanya karena pesan dari wanita bernama Bunga.
Di sebelah mereka, Randi dan Ardi sama sekali tidak menyadari ketegangan udara di sekitar mereka. Kedua pemuda itu sibuk dengan tingkah konyol mereka yang biasa, saling memperebutkan potongan ayam goreng terakhir di piring saji dengan main tusuk menggunakan garpu masing-masing.
"Woy, Ndi! Ini ayam punya gue, tadi gue yang bayar patungannya lebih goceng!" teriak Ardi, menahan pergelangan tangan Randi.
"Gak bisa! Siapa cepat dia dapat! Lu udah makan tempe tiga biji ya, jatah lu udah abis!" balas Randi tak mau kalah, matanya melotot jenaka.
Suara tawa dan gaduh kedua sahabatnya itu mendadak terdengar seperti suara dengung statis di telinga Rahmi. Dunianya terasa runtuh, hancur berkeping-keping tak tersisa menjadi abu. Kepalanya terasa pening, dan dadanya terasa seperti dihimpit batu besar yang membuatnya sesak napas. Ia menatap mangkuk baksonya yang sudah mendingin tanpa selera, lalu beralih menatap Alan yang masih asyik mengetik balasan dengan ibu jarinya, wajah pemuda itu tampak begitu cerah, begitu penuh dengan energi kehidupan yang baru.
'Senyuman kamu yang itu...' ratap Rahmi dalam batinnya yang menjerit pilu, menatap garis bibir Alan yang melengkung bahagia. 'Senyuman yang gak pernah aku lihat sekalipun, Lan... bahkan disaat hari pertama kita kenal di kampus ini. Waktu kita kepanasan pas Ospek, waktu kita kehujanan bareng di halte, kamu gak pernah senyum kayak gitu ke aku. Dan kini... kamu memberikannya begitu saja kepada Bunga dengan sangat mudah. Walaupun kalian cuma berhubungan sebatas pesan singkat, Lan! Tapi efeknya ke kamu luar biasa...'
Rahmi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan agar tidak ada suara isakan yang lolos dari tenggorokannya yang mendadak tercekat. Tangannya yang memegang sendok gemetar hebat, hingga ia harus meletakkannya kembali agar tidak menimbulkan bunyi dentingan yang mencurigakan.
'Aku cinta kamu, Lan...' jerit batinnya lagi, mengulang mantra menyakitkan yang tak akan pernah bisa ia ucapkan dengan lantang. 'Aku sayang banget sama kamu, melebihi apa pun yang ada di dunia ini. Kenapa takdir sekasar ini sama gue? Kenapa persahabatan ini justru jadi penjara yang paling menyiksa, di mana gue dipaksa ngelihat lu bahagia di atas penderitaan perasaan gue yang mati-matian gue tutup pakai topeng ini?'
Alan mendongak sejenak dari ponselnya, menyadari keheningan dari arah depan. "Mi, kok gak dimakan baksonya? Keburu melar tuh mienya."
Rahmi tersentak, lalu buru-buru memalingkan wajahnya ke arah luar kantin, pura-pura memperhatikan mahasiswa yang lewat. "Gak nafsu gue. Perut gue masih kram. Lu habisin aja nih kalau mau," jawabnya dengan suara serak yang kentara.
"Oh, ya udah kalau gak mau mah," balas Alan santai, lalu kembali menunduk menatap ponselnya karena sebuah pesan baru dari Bunga kembali masuk. Senyum itu kembali hadir, dan di saat yang sama, hati Rahmi kembali robek untuk kesekian kalinya.
Waktu berjalan merangkak lambat hingga bel tanda berakhirnya seluruh jadwal perkuliahan hari itu akhirnya berbunyi. Mahasiswa berbondong-bondong meninggalkan area kampus seiring dengan langit sore yang mulai meredup, berganti semburat jingga dan keunguan.
Setelah menyelesaikan shift kerjanya di Cafe Nuansa hingga larut malam, Alan berjalan gontai menuju motornya. Biasanya, jika Alan pulang malam setelah kerja, Rahmi akan selalu setia menunggunya di kafe, ikut nongkrong atau sekadar menemani perjalanan pulang dengan mobilnya yang melaju pelan mengiringi motor tua Alan dari belakang. Namun malam ini, Rahmi tidak ikut. Gadis itu pulang duluan sejak sore dengan alasan yang sama: masih merasakan efek nyeri PMS yang parah.
Padahal kenyataan pahitnya tidak seperti itu. Rahmi berbohong. Ia hanya tidak sanggup lagi berada di lingkungan kafe. Ia teramat takut dan tidak ingin melihat kedatangan Bunga ke kafe yang mungkin saja terjadi, ia tidak ingin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Alan memperlakukan Bunga dengan penuh perhatian di tempat kerja alan. Padahal kenyataannya, malam ini pun Bunga sama sekali tidak datang ke kafe. Namun, ketakutan dan luka di hati Rahmi sudah terlanjur menguasai akal sehatnya, membuatnya memilih untuk mengurung diri di dalam kamarnya yang sunyi.
Sesampainya di rumah kosan, Alan memarkirkan motornya di halaman depan. Kosan Alan adalah sebuah bangunan dua lantai yang sederhana dengan lorong panjang yang memisahkan kamar-kamar berukuran kecil. Di sana juga tinggal Ardi dan Randi, yang kamarnya berada tidak jauh dari kamar Alan, hanya berselang dua pintu.
Ardi dan Randi yang berjalan beriringan di depan Alan tampak meregangkan otot-otot tubuh mereka yang lelah.
"Duh, encok gue kumat ngerjain tugas statistika tadi," keluh Ardi sambil memutar lehernya hingga berbunyi krek.
"Sama, Lan, Di. Gue mau langsung maraton tidur nih sampai besok subuh. Jangan ada yang bangunin gue buat mabar ya, energi gue minus," sahut Randi sambil menguap lebar.
Mereka berdua melambaikan tangan ke arah Alan saat sampai di depan pintu kamar masing-masing. "Duluan ya, Lan! Jangan lupa mandi lu, bau kopi lu menyengat banget!" seru Ardi jahil sebelum masuk ke kamarnya.
"Yo," jawab Alan singkat dengan lambaian tangan malas.
Alan membuka pintu kamarnya, masuk ke dalam ruangan berukuran 3x3 meter yang hanya berisi satu lemari pakaian, sebuah meja belajar kecil, dan sebuah kasur tipis yang terhampar langsung di atas lantai semen berubin putih. Ia meletakkan tasnya, melepaskan jaketnya, lalu segera menuju kamar mandi komunal di ujung lorong untuk membersihkan diri.
Setelah mandi dengan air dingin yang sedikit menyegarkan tubuhnya yang lelah, Alan kembali ke kamar. Ia hanya mengenakan kaos oblong putih polos dan celana pendek hitam. Ia mengunci pintu kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya yang letih di atas kasur tipis.
Alan meraih ponselnya yang diletakkan di atas bantal. Rasa lelahnya mendadak sirna ketika ia membuka aplikasi pesan. Ia mulai membalas pesan-pesan dari Bunga. Malam itu, mereka membicarakan rencana hari Minggu esok. Bunga mengirimkan beberapa rekomendasi tempat, sebuah kafe baru yang berada di daerah Dago Atas, daerah dataran tinggi yang sejuk, dikelilingi pohon-pohon pinus, jauh dari hiruk-pikuk kebisingan kota, dan memiliki suasana yang sangat tenang—sangat cocok dengan kepribadian Alan yang memang tidak menyukai keramaian.
Alan mengetik balasan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Komunikasi itu berjalan hangat hingga larut malam, sampai mata Alan mulai terasa berat dan kantuk yang luar biasa mulai menyerangnya. Ia meletakkan ponselnya di samping kepala, memejamkan mata, dan perlahan-lahan terlelap ke dalam dunia mimpi.
Suasana mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam.
Di dalam tidurnya, Alan merasa kesadarannya ditarik masuk ke dalam sebuah dimensi yang asing namun terasa sangat nyata.
Tok... Tok... Tok...
Sebuah suara ketukan pintu terdengar memecah keheningan malam. Suaranya terdengar berat, konstan, dan bergema di dalam ruangan kecilnya.
Sontak, Alan tersentak kaget di dalam mimpinya. Ia membuka mata dan langsung terduduk di atas kasurnya. Jantungnya berdegup cepat. Suasana kamarnya terasa sangat dingin, jauh lebih dingin dari biasanya, seolah seluruh udara hangat telah disedot keluar.
"Siapa?!" seru Alan dengan suara lantang, mengarahkan pandangannya ke arah pintu kayu kamarnya.
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari luar.
Alan menunggu selama beberapa detik, namun ketukan itu tidak terdengar lagi. Rasa was-was mulai merayap di tengkuknya. Ia berpikir bahwa orang yang mengetuk itu adalah ibu kosan mereka yang terkenal galak dan perfeksionis. Ibu kosan mereka memang memiliki kebiasaan aneh: selalu mengetuk pintu kamar penghuni kos dengan keras jika ada aturan yang dilanggar atau jika uang sewa telat, dan beliau hampir tidak pernah menjawab jika ditanya dari dalam kamar sebelum pintu dibuka.
Alan menghela napas, mengira dirinya melakukan kesalahan atau lupa mematikan lampu lorong. Ia beranjak dari kasur tipisnya, menapakkan kakinya ke lantai yang entah kenapa terasa sedingin es. Ia melangkah mendekati pintu, meraih grendel besi, lalu memutarnya perlahan.
Kreeek...
Pintu terbuka. Dan apa yang tersaji di depan matanya seketika membuat Alan membeku di tempat dengan mata membelalak lebar.
Itu bukan lorong kosannya yang biasa.
Pemandangan di hadapannya tampak sangat surealis dan mengerikan. Di atas lantai lorong, nampak banyak kabut putih tebal yang bergulung-gulung pelan, merayap bagaikan ular, menutupi seluruh permukaan lantai hingga semata kaki. Dan suasana di sana sama sekali tidak seperti malam hari. Lorong kosannya yang biasanya remang-remang oleh lampu kuning lima watt, kini justru begitu bersinar terang benderang dengan cahaya putih keperakan yang aneh, seolah-olah ada matahari tak terlihat yang menyinari tempat itu dari segala arah.
Di tengah-tengah gulungan kabut putih dan cahaya terang itu, berdiri sebuah sosok yang sangat familiar.
Rahmi.
Gadis itu berdiri di sana, beberapa meter di depan pintu kamar Alan. Penampilannya tampak sangat rapuh. Rambutnya berantakan, dan wajahnya dipenuhi oleh air mata yang terus mengalir deras, membasahi kedua pipinya tanpa henti. Bahunya bergetar hebat karena menahan tangis yang teramat dalam.
Alan tertegun, lidahnya mendadak kelu. "Mi...?" panggilnya lirih.
Rahmi menatap lurus ke dalam netra Alan dengan pandangan mata yang menyiratkan rasa sakit yang teramat luar biasa, sebuah tatapan keputusasaan yang terdalam. Bibir Rahmi mulai bergerak, membentuk sebuah kata.
"Aku..." ucap Rahmi.
Namun, hanya kata itu yang berhasil tertangkap oleh telinga Alan. Suara Rahmi terdengar sangat samar, tenggelam oleh suara dengung aneh yang memenuhi lorong itu. Mulut Rahmi terlihat terus bergerak, bergumam panjang lebar, menyampaikan rentetan kalimat yang tampaknya sangat penting, namun tidak ada satu pun gelombang suara yang keluar dari sana. Suaranya seolah diredam oleh dinding kabut di antara mereka.
Alan mulai panik. Langkah kakinya bergerak maju melewati batas pintu.
"Mi, lu ngomong apa?!" seru Alan, mengeraskan suaranya, mencoba menembus kesunyian yang aneh itu. "Jangan bisik-bisik dong! Gue gak kedengeran!"
Rahmi tidak berhenti. Air matanya semakin deras mengalir, membentuk kilauan di bawah cahaya perak lorong itu. Ekspresi wajahnya semakin hancur, menyiratkan penderitaan yang tak tertahankan.
"Lu kenapa, Mi?!" teriak Alan lagi, rasa khawatir yang teramat sangat tiba-tiba menyergap dadanya. Firasat buruk menghantam kepalanya.
Alan tidak bisa tinggal diam melihat sahabatnya sehancur itu. Ia mengayunkan kakinya, berjalan maju dengan cepat, berniat untuk mendekati Rahmi dan memegang kedua bahu gadis itu, menenangkannya seperti yang biasa ia lakukan jika Rahmi sedang panik.
Namun, sebuah keanehan yang mengerikan terjadi.
Setiap kali Alan mengambil satu langkah maju ke depan, jarak di antara mereka justru semakin melebar dengan cara yang tidak masuk akal. Rahmi tetap berdiri mematung di atas posisinya, kakinya tidak bergerak sama sekali, namun sosoknya seolah berjalan mundur menjauhi Alan dengan kecepatan yang sama dengan langkah kaki Alan.
Alan terkejut. Ia mempercepat langkahnya, berubah menjadi setengah berlari. "Mi!! Tunggu!!"
Tetap saja, setiap langkah kaki Alan yang menghentak lantai berlapis kabut justru membuat sosok Rahmi semakin menjauh, mengosongkan ruang di antara mereka. Cahaya perak di lorong itu semakin menyilaukan, dan kabut putih bergulung semakin tinggi, mulai naik mencapai lutut Alan.
Di kejauhan yang semakin menjauh, Rahmi tampak seperti sedang berteriak histeris dengan seluruh sisa tenaganya. Mulutnya terbuka lebar, urat-urat di lehernya menegang, menggambarkan sebuah jeritan yang sangat keras.
Namun, lagi-lagi... hanya sebagian kecil suara yang berhasil lolos menembus dimensi kabut itu.
"Alan! Aku...!" hanya kata itu yang terdengar memekakkan telinga Alan, sebuah pekikan frustrasi. Selebihnya, perkataan panjang lebar yang keluar dari mulut Rahmi menguap begitu saja menjadi kesunyian yang mencekam. Alan bisa melihat pergerakan bibirnya yang mengucapkan kalimat panjang, namun telinganya sama sekali tidak menangkap suara apa pun selain dengungan statis yang menyakitkan.
Alan panik luar biasa. Adrenalinnya melonjak drastis. Ia tidak memedulikan lagi hukum logika di tempat itu. Ia mulai berlari kencang, mengerahkan seluruh tenaganya, menerobos gulungan kabut putih yang kini terasa dingin menusuk kulit kakinya.
"Mi!! Lu kenapa?! Jangan pergi, Mi!!" teriak Alan histeris, suaranya menggema parau di lorong perak itu.
Namun, usaha Alan sia-sia. Jarak di antara mereka justru melesat menjauh dengan sangat cepat. Sosok Rahmi di ujung lorong sana perlahan-lahan mulai mengabur, terhalang oleh ketebalan kabut yang semakin pekat bergulung ke udara.
Sebelum sosoknya benar-benar menghilang dari pandangan, Rahmi terlihat mengangkat kedua tangannya, menutupi seluruh wajahnya yang basah oleh air mata, lalu tubuhnya melorot jatuh ke bawah. Ia berjongkok di atas lantai yang tertutup kabut, menekuk lututnya, dan menangis sejadi-jadinya dalam posisi meringkuk yang sangat menyedihkan—sebuah perlambang dari keputusasaan total seorang manusia yang telah menyerah pada takdirnya.
Melihat sahabatnya ambruk dalam kehancuran di depan matanya sendiri tanpa ia bisa menggapainya, dada Alan serasa robek. Rasa takut kehilangan yang teramat sangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mendadak meledak di dalam dirinya.
Dengan sisa kekuatan di tenggorokannya, Alan berteriak sekeras-kerasnya, memanggil nama gadis itu hingga suaranya pecah di udara.
"RAHMI...!!!"
Teeet... Teeet... Teeet... Teeet...
Suara pekikan alarm yang nyaring dan monoton seketika memotong jeritan Alan, menghancurkan seluruh dimensi kabut dan cahaya perak dalam sekejap mata.
Alan tersentak hebat, matanya terbuka lebar secara paksa. Ia terbangun dengan napas yang memburu, megap-megap seperti orang yang baru saja tenggelam di dasar laut yang dalam. Keringat dingin bercucuran membanjiri dahi, leher, dan seluruh permukaan kaos oblong putihnya yang kini melekat basah di tubuhnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, bertalu-talu di dalam rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan, menimbulkan rasa ngilu yang nyata.
Alan menatap sekelilingnya dengan pandangan liar dan bingung.
Dinding kamar kosannya yang kusam. Kasur tipisnya yang berantakan. Sinar matahari pagi yang samar-samar mulai masuk melewati celah ventilasi udara.
Ia tersadar. Itu hanyalah sebuah mimpi buruk. Sebuah manifestasi dari alam bawah sadarnya yang teramat mengerikan.
Alan mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin dengan kedua telapak tangannya, mencoba menenangkan sistem sarafnya yang masih tegang luar biasa akibat sisa adrenalin dari mimpi tadi. Napasnya perlahan mulai teratur, namun rasa sesak dan ngilu di dadanya entah kenapa tidak kunjung hilang.
Suara alarm dari ponselnya masih terus berbunyi nyaring di samping bantalnya. Alan mengulurkan tangannya yang masih sedikit bergetar, meraih benda persegi panjang itu, lalu menggeser layar untuk mematikan alarm yang menunjukkan pukul enam pagi tepat.
Namun, saat layar ponselnya menyala menampilkan halaman menu utama, mata Alan terpaku pada deretan bilah notifikasi yang memenuhi layarnya.
Ada banyak sekali pesan masuk. Namun, pengirimnya bukanlah orang yang ada di dalam mimpi buruknya tadi.
Bukan Rahmi. Melainkan Bunga.
Alan membuka kunci layarnya dan masuk ke dalam aplikasi WhatsApp. Di sana, tertera rentetan pesan dari Bunga yang dikirimkan sejak tengah malam tadi, berturut-turut, menunjukkan tingkat intensitas dan kepanikan kecil dari gadis itu karena pesannya tak kunjung dibalas oleh Alan yang sudah terlelap karena kelelahan kerja.
Ada total 17 pesan masuk dari Bunga, beberapa di antaranya berbunyi:
[Jadi ya hari Minggu besok?]
[Kenapa gak dibales, Lan?]
[Alan...]
[Udah tidur ya?]
[p]
[p]
[Lagi apa sih kok ilang tiba-tiba?]
[Ya udah deh, met tidur ya Alan...]
Dan di bagian atas bilah panggilan, tertera rincian yang membuat Alan sedikit meringis: ada 8 kali panggilan suara tak terjawab dari Bunga yang dilakukan dalam rentang waktu jam satu hingga jam dua dini hari. Tampaknya Bunga sangat antusias atau mungkin merasa cemas menantikan konfirmasi akhir mengenai tempat pertemuan mereka di hari Minggu nanti.
Biasanya, melihat perhatian dan keagresifan yang manis dari seorang primadona kampus seperti Bunga akan membuat hati Alan melambung tinggi, memicu senyum tipis di bibirnya seperti yang terjadi di kantin kemarin siang.
Namun pagi ini... reaksi itu sama sekali tidak muncul.
Alan duduk mematung di atas kasur tipisnya, menyandarkan punggungnya pada dinding semen kamar kosan yang dingin. Ponselnya masih menyala di genggamannya, menampilkan nama Bunga di layar. Namun, pikiran dan fokus Alan sama sekali tidak berada di sana.
Benaknya justru berputar kembali, terkunci rapat pada rekaman visual dari mimpi buruknya beberapa menit yang lalu.
Wajah Rahmi yang hancur...
Air matanya yang mengalir deras di bawah cahaya perak...
Gumaman mulutnya yang terendam kabut tebal, yang tak sempat terdengar...
Dan bagaimana sosok gadis tomboi itu perlahan menjauh dan ambruk berjongkok memeluk lututnya sendiri, menangis dalam kesunyian yang menyayat hati.
Mimpi itu terasa terlalu nyata, terlalu detail, dan terlalu menyakitkan untuk sekadar dianggap sebagai bunga tidur biasa. Ada rasa bersalah yang mendadak muncul dan mengendap di dasar hati Alan, sebuah perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika akuntansi yang biasa ia agungkan.
Alan terdiam dalam keheningan kamarnya yang mulai terang oleh sinar matahari pagi. Ia menatap kosong ke arah pintu kayunya, merenungkan setiap jengkal kejadian di dalam mimpinya, dan mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini selalu ia abaikan.
'Wajah itu... kenapa lu nangis kayak gitu di depan gue, Mi?' batin Alan bertanya-tanya, dadanya kembali berdenyut linu. 'Apa makna dari mimpi ini? Kenapa setiap kali gue coba melangkah mendekat, lu justru semakin menjauh dari gue? Apa sebenarnya yang pengen lu ucapin ke gue di balik kabut itu, Mi... yang selama ini gak pernah bisa gue denger?'
Di pagi yang cerah itu, di tengah rentetan pesan cinta yang menuntut balasan dari masa lalunya, Alan untuk pertama kalinya merasakan sebuah ketakutan yang teramat besar terhadap masa depannya—ketakutan bahwa ia mungkin saja telah mengabaikan sebuah kebenaran penting yang berada tepat di depan matanya sendiri.