Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.
Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.
Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.
Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.
Bertahan… atau melepaskan?
Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran Semu
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aluna dan Bintang akhirnya meninggalkan atap. Berjalan beriringan, keduanya berhasil membuat penghuni koridor memusatkan atensi hanya pada mereka. Aluna dan Bintang sudah menduga hal ini memang akan terjadi. Namun, mereka telah sepakat akan mengikuti arus dan menyesuaikan diri.
Sebelum beranjak dari tempat mereka makan tadi, Bintang bilang, “Nggak usah takut. Nggak ada yang salah dengan hubungan kita. Toh, kita nggak ngerugiin siapa-siapa.”
Mendengar itu, Aluna pun setuju atas ajakan Bintang untuk turun.
Langkah Bintang berhenti sebagaimana yang Aluna lakukan. Menoleh ke Aluna, Bintang akhirnya mengikuti kemana manik gadisnya terarah. Tidak jauh di depan sana, persona Saka Adiwarna sudah berdiri tegap memandang lamat keduanya.
“Kak Saka?” gumam Aluna lirih.
Rasa khawatir mengalir di sekujur tubuh Aluna. Ia tidak mampu membayangkan akan reaksi pemuda itu tentang rumor yang memang benar adanya.
Saka memperpendek jarak. Dengan tangan kanan yang disimpan dalam saku celana dan ekspresi datar yang secara tidak langsung seakan mengintimidasi Aluna, kakinya berhenti tepat di depan mereka.
Saka mengalihkan pandangan dingin itu pada Bintang yang bergeming. Hanya beberapa detik, lalu ia kembali menatap anak dari sahabat ibunya tersebut.
“Kamu …,”
Aluna menelan salivanya dengan gugup.
“... ternyata sudah besar.”
Aluna tidak begitu paham. Cara pikirnya masih terlalu runyam untuk mengerti langsung makna dari kalimat yang Saka lontarkan.
“Kak Saka?” panggil Aluna, tetapi tidak tahu bagaimana untuk melanjutkan.
Aluna menahan napas begitu lengan Saka terulur dan mengapung di antara dirinya dan kakaknya itu.
“Selamat,” ujar Saka disertai senyum lebar yang mengakibatkan matanya menyipit.
Aluna kira Kak Saka-nya akan marah manakala membaca sorot matanya di awal pertemuan. Namun, ternyata dugaannya keliru.
“Aluna, kenapa bengong?” tegur Saka masih tersenyum hangat.
Aluna yang sempat terdiam karena terkejut, akhirnya sadar.
Saka lalu memberinya kode agar uluran tangan itu segera dibalas. Meski ragu, Aluna akhirnya memberikan sambutan.
“Kamu nggak perlu nutupin berita gembira ini. Kakak ikut senang, kok,” lanjut Saka.
Ia melihat keduanya bergantian dengan senyum khas Saka yang terpahat elok dibibir.
“Hei, Bintang?” Saka meraih pundak adik tingkatnya dengan mantap. “Jaga Aluna baik-baik. Jangan sakiti dia!” pesannya.
“Iya, Kak Saka.”
Dua tepukan Bintang dapatkan tepat di bahu yang menjadi tumpuan telapak Saka barusan. Sedangkan Aluna, acakan kecil di kepala menjadi hadiah dari sang kakak.
“Jaga dirimu baik-baik, ya.”
Aluna mengangguk kecil dan membalas, “Iya, Kak.”
Saka langsung pamit undur diri setelah dirasa cukup untuknya berperan sebagai kakak yang dititipi amanah untuk menjaga si adik oleh Ibunda Aluna. Disertai senyuman yang memang belum disimpan, ia berbalik. Mengambil langkah demi langkah yang nyatanya melunturkan kurva yang mengembang manis di bibirnya.
Saka selalu bilang kalau Aluna sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri, tetapi melihat kebenaran postingan itu, dada Saka terasa sedikit sesak untuk bernapas.
Nyatanya … Saka patah hati.
...♡...
“KAK BINTANG?!”
Teriakan dari arah belakang Bintang dan Aluna mengubah arah pandang mereka. Setengah berlari, Biru dan teman sebayanya—Kharisma—mengikis jarak.
“Wah, gue nggak pernah nyangka hal ini bisa terjadi!” seru Biru begitu selesai menetralkan napas.
“Selamat, ya, Kak Bintang dan Kak Aluna. Gue ikut senang waktu tahu kalau berita itu nggak bohong!”
Aluna mengusap tengkuk dan tersenyum kaku. Dia bingung harus merespon dengan bagaimana atas ucapan selamat yang lagi-lagi ia dapatkan.
“Kalian jangan lupa traktirannya, ya!” kata Biru yang membuat Bintang langsung memutar malas bola matanya.
“Lo ini—”
“Kita pergi dulu, Kak. Bye~”
Biru langsung menyeret Kharisma begitu saja. Membuat sang kakak berdecak kesal, tetapi berhasil mencuri senyum Aluna.
“Dasar!” dengus Bintang. “Biru emang kayak gitu. Gue harap lo bisa maklumin dia,” jelasnya pada Aluna.
“Iya,” balas Aluna singkat.
Bintang menarik kedua ujung bibirnya ke atas mendapati Aluna tersenyum tulus sampai ke mata.
Dan tidak menunggu lama, untuk kedua kalinya nama pemuda itu mengisi udara.
Kini, tiga presensi siswi berjalan tepat ke arah mereka. Mengingat seberapa dekat hubungan salah satu siswi itu dengan Bintang, punggung Aluna terasa panas. Otaknya terbayang saat dirinya dengan Alea tempo hari ketika membicarakan seseorang akan melabrak jika tahu Bintang dekat dengannya.
“Ada apa?” tanya Bintang pada ia yang berada di tengah.
Gadis berparas cantik itu menunjukkan ekspresi dingin yang kentara. Sampai Aluna pun harus memaksa diri untuk tetap menatapnya meski sebenarnya ia takut bertemu pandang.
“Kenapa lo nggak pernah bilang kalau lo suka Aluna?”
“Emang apa hubungannya dengan lo?”
Mendengar ini, Aluna bermonolog, “Ya Tuhan, aku nggak mau ada pertikaian.”
“Hei?! Lo anggap hubungan kita sebagai apa, hueh?” tukas Kaila.
Jantung Aluna kian bergemuruh. Berakhir ia meremas kedua sisi tepi roknya, gusar.
“Ck! Lo … benar-benar tanya soalan itu?” tanya Bintang tak habis pikir dan seringaian hiasi bibir.
“Hei, Bintang Mahendra! Lo pikir gue main-main apa?!” murka Kaila.
“Hahaha ….”
Aluna langsung dibuat bingung dengan keadaan. Tawa Bintang bukan seperti meremehkan, tapi lebih ke arah candaan.
“Terusin aja sikap lo kayak gini. Nanti gue tinggal bilang ke Satria kalau ceweknya sudah setengah waras,” ancam Bintang.
Raut wajah Kaila seketika berubah datar.
Kening Aluna berkerut. Dengan seksama dalam diamnya, ia mulai mengamati.
“Lo emang nggak asyik!” protes Kaila selagi melayangkan pukulan di bahu Bintang.
Aluna termenung. Ia tersadar bahwa dirinya telah tersesat sendirian.
“Siapa suruh lo buat drama kayak gitu?!” omel Bintang.
“Gue, ‘kan, cuma mau main-main,” balas gadis itu dengan cemberut.
“Hm … ya-ya-ya. Dasar, Drama Queen!”
Teman Kaila menahan tawa begitu mendengar gelar yang Bintang sebutkan. Tentu hal itu membuat sang Ratu menoleh dan menatap tajam mereka secara bergantian.
“Nah, Aluna …,” Bintang akhirnya memberi perhatian pada Aluna yang sedari tadi masih tegang dan menyimak. “... perkenalkan, ini Rena dan Livia. Lo pasti sudah kenal mereka, ‘kan?”
Aluna mengangguk canggung.
“Dan si Drama Queen ini, Kaila Arini.”
“Bintaaang?” Lagi-lagi Kaila menaikkan oktaf.
Tawa Bintang pun kembali terdengar.
“Gue bakal aduin lo ke Satria!” Hentak kaki Kaila mengakhiri kalimat yang diikuti aksinya bersedekap.
Tak ayal, kini bukan Bintang saja yang tertawa melihat tingkah gadis di tengah mereka itu. Termasuk Aluna yang sudah lebih tenang.
“Ohya, Aluna?” panggil Kaila setelah sadar dari tingkah kekanak-kanakannya.
Aluna yang dipanggil pun memasang wajah bersiap mendengar lanjutan panggilan tersebut.
“Selamat, ya, atas berita bahagia ini. Lo jangan salah paham dengan kabar di sekitar. Bintang dan gue memang dekat, tetapi bukan pacaran. Dia itu sepupu pacar gue. Jadi, yaa … begini tingkah kami. Hehehe.”
Aluna mengangguk. “Iya. Aku mengerti, Kaila,” balas Aluna tanpa melepas senyum.
Akhirnya, Aluna benar-benar bisa bernapas lega.
“Lun, lo perlu ingat, ya, kalau sebenarnya …,” Kaila berubah untuk berbisik. “... Bintang itu sedikit kurang—”
“Hei?! Gue bisa dengar, ya!” potong Bintang dengan datar.
Kaila menghiraukannya begitu saja. Lantas, dengan tangan yang masih menghalangi bibirnya dan telinga Aluna serta tanpa menurunkan nada bicara, Kaila dengan sengaja berkata, “Bintang itu kurang akal!”
Puteri Wicaksana terperanjat mendengarnya, apalagi dengan buru-buru gadis itu menggandeng tangan dua sahabatnya dan berlari menjauh. Tawa kemenangannya menggelegar di koridor itu kemudian. Sedangkan Bintang yang sempat mendelik mendengar penuturan Kaila segera melepaskan sebelah sepatunya dan berseru,
“HEI, DRAMA QUEEN?! SINI LO!”
Dari tempat yang sudah berjarak, Kaila menjulurkan lidah selagi menarik turun kantung mata kanannya. Sebelum berlari lagi, Kaila menyempatkan diri berkata sembari melambai, “Jumpa lagi dilain waktu, Tuan Bintang!”
“Akh! Menyebalkan!” geram Bintang selagi menghempaskan sepatunya ke lantai.
Aluna tidak melepas pandang dari Bintang. Ada gemelitik lucu yang berhasil membuat bibirnya tak berhenti menampilkan senyum, meski pemuda di depannya sudah setengah frustasi atas perilaku gadis bernama Kaila itu padanya.
“Perlu lo ingat, Lun. Antara Biru dan Kaila, mereka itu nggak ada bedanya. Hobinya cuma bully gue. Apalagi kalau ada pacarnya, si Satria itu! Kaila nggak bakalan berhenti buat ganggu gue,” adu Bintang dengan bibir mengerucut pada Aluna yang dengan sabar menikmati momen yang tidak pernah dia ketahui.
“Ah, iya. Aku akan mengingatnya, Bintang,” balas Aluna.
Melihat senyum Aluna, muka Bintang yang tadi ditekuk perlahan mulai melunak. Senyuman yang justru menenangkan Aluna terbit kemudian.
“Ayo! Gue antar lo ke kelas. Bentar lagi sudah waktunya masuk,” ajak Bintang setelah menyempurnakan letak sepatu pada kakinya.
Aluna tersadar, bahwa kekhawatiran yang selama ini menggerogoti mindanya hanyalah sebuah pemikiran tak berdasar semata. Tanpa menjawab berlebihan, sebuah anggukan menjadi jawabannya untuk Bintang yang masih menunggu persetujuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Biru Pradana Wiratama🌙✨...