Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, menepi dari kepadatan pusat kota. Lalu melewati jalanan yang masih terasa asri dengan pepohonan yang rimbun dikedua sisinya.
Sesampainya mereka dirumah, Nenek Zalia langsung menyambut kedatangan Liz dan Tama.
"Nenek tidak tau kalau kalian akan pulang bersama," Kata Nenek dengan wajah sumringah.
Tama menyampirkan jas dibahunya, "Aku mandi dulu." Tama berlalu begitu saja, sama sekali tidak berniat menanggapi ucapan Neneknya.
"Dasar cucu durhaka. Neneknya lagi bicara malah ditinggal." Omel nenek yang tentu saja sampai ke telinga Tama sebab Tama masih disekitar mereka.
"Asal kamu tau ya, Liz. Tama itu nggak pernah pulang kerja jam segini. Dia itu workaholic. Mana ingat waktu dia untuk pulang, kadang makan aja harus Faizal yang ingetin."
Mendengar itu membuat Liz reflek memandang Tama yang punggungnya mulai hilang dari pandangan dengan tatapan yang penuh arti.
"Yasudah, kamu juga mandi gih, sebentar lagi kita makan malam."
Liz mengangguk, "Kalau begitu Liz permisi, Nek."
Dikamar utama...
"Loh. Kok kamu udah pulang ?" tanya Yurike yang nampak kaget melihat Tama masuk ke kamar.
"Memang kenapa ? Ada masalah ?"
Yurike bangkit dari duduknya secara perlahan. Dia melangkah pelan mendekati Tama.
"Bukan begitu, Mas. Kan nggak biasanya kamu pulang jam segini,"
Tama menatap Yurike dengan wajah tenang, nyaris tanpa ekspresi.
"Aku mau mandi," Tama langsung menghindar ketika Yurike hampir sampai padanya. Tama enggan disentuh lagi oleh tangan Yurike. Perselingkuhan itu membuat Tama yang dulu begitu bucin kini hilang rasa seutuhnya.
Wanita itu tertegun. Tangannya yang sempat terulur, perlahan turun. Ia menghembuskan nafas pelan. Senyumnya masih ada, tapi tipis. Rapuh. Terlihat lebih menyakitkan bahkan dimatanya sendiri.
Yurike beralih menatap tempat tidur, yang menjadi tempat dia dan Tama memadu cinta. Kini terasa dingin. Tidak ada lagi kehangatan yang tercipta. Tidak ada lagi desahan nikmat saat mereka sama-sama sampai di puncak. Yurike bahkan sudah lupa kapan terakhir mereka melakukan hubungan suami istri. Itu sudah lama. Lama sekali.
Sekarang hatinya merasakan hampa. Seperti tidak ada kebahagiaan lagi.
Yurike menyambar ponselnya, menghubungi seseorang..
Yurike 📞 Temui aku ditempat biasa. Iya sekarang. Aku butuh pelampiasan!
.....
Sambungan pun berakhir.
Yurike segera mengganti pakaiannya. Tanpa pamit pada Tama yang masih di kamar mandi, Yurike pergi begitu saja.
Di lantai bawah.
"Mau kemana kamu malam-malam begini ?" tanya Nenek yang memergoki Yurike hendak melangkah keluar.
"Ada urusan, Nek." Jawab Yurike berusaha menjaga nada bicaranya.
"Kamu ini gimana mau punya anak, suami baru pulang kerja bukannya dilayani kebutuhannya malah ditinggal,"
Ingin sekali Yurike mengatakan pada Nenek kalau Tama sekarang berubah. Sikapnya dingin mengalahkan dinginnya es dikutub utara. Tapi dia urungkan. Karena Yurike yakin Nenek pasti akan selalu membela cucunya.
"Maaf, Nek. Aku buru-buru, permisi."
Yurike terus berjalan meski suara Nenek Zalia yang mengomelinya masih terdengar.
"Nek, ada apa ?" Liz tergopoh-gopoh menghampiri Nenek karena tadi mendengar suara Nenek yang sedang memarahi seseorang.
Yurike masuk ke dalam mobil, "Teruslah cari muka, Liz. Sebentar lagi aku yakin kau akan naik tahta. Dari si miskin lalu berubah menjadi OKB,"
Mobil Yurike pun bergerak meninggalkan rumah utama.
Sementara Liz sudah membawa Nenek Zalia masuk ke dalam rumah lagi.
"Ini nek, minum dulu." Liz menyodorkan segelas air hangat untuk Nenek.
Nenek menerima nya lalu meminum air pemberian Liz.
"Panggil Tama, kita makan malam sekarang." Titah Nenek sedikit ketus, mungkin masih terbawa emosi.
Liz diam saja, membuat suara nenek naik satu oktaf, "Liz, kamu nggak denger Nenek tadi ngomong apa ?"
"Ma-maaf, Nek. Apa nggak sebaiknya dipanggil sama Mbok Surti aja ?"
Muka Nenek berubah merah, maklum, kalau sudah tua memang sulit mengendalikan emosi.
"Kalau saya minta kamu, ya kamu, Liz. Kenapa nyuruh pembantu ?"
"Sekali lagi maaf Nek, bukan maksud saya membantah perintah Nenek, tapi saya dan Tama kan hanya menikah kontrak, tidak etis jika saya mendatangi kamar dia dan istrinya. Saya tidak mau, Nek. Maaf."
Nenek menatap Liz dengan senyum simpul yang sulit di artikan.
"Surti," Panggil Nenek kemudian,
"Dalem, Nya ?"
"Panggil Den Tama. Katakan Nenek dan Liz sudah menunggu di meja makan."
"Baik, Nya."
"Maafkan Nenek, Liz. Nenek jadi menumpahkan kemarahan Nenek pada Yurike ke kamu." Nenek langsung menyadari kesalahannya.
Liz tersenyum, "Gapapa, Nek. Nggak masalah. Liz mengerti," Sahut Liz tanpa sedikitpun menyimpan dendam.
Setelah itu Nenek mengajak Liz ke meja makan.
"Bagaimana keadaan Ibumu ?" tanya Nenek
"Ibu sudah siuman, tapi belum bisa melakukan aktifitas apapun, Nek. Dokter mengatakan pasca operasi harus memastikan keadaan Ibu selama sepekan kedepan."
"Besok pagi kamu mau berangkat lebih awal lagi untuk melihat keadaan Ibu mu ?" tanya Nenek
Liz mengangguk pelan, "Iya, Nek. Liz mau lihat keadaan Ibu."
"Kalau begitu besok Nenek ikut ya. Nenek ingin kenal dengan Ibu-mu. Meski kamu dan Tama hanya menikah kontrak, tapi di mata agama pernikahan kalian tetap sah, dan Ibu-mu tau itu. Nenek akan menganggap Ibu-mu bagian dari keluarga ini sampai kontrak kalian berakhir nanti."
"Baik, Nek. Terimakasih," Ucap Liz dengan mata berkaca-kaca,
Tak berselang lama Tama datang. Liz tertegun sejenak. Setiap kali melihat rambut Tama yang basah serta wajahnya yang segar habis mandi, membuat jantung Liz berdebar-debar tak karuan. Tama terlihat sangat berbeda jika sedang dirumah. Wibawa serta keprofesionalitasan-nya ditanggalkan. Yang ada hanya seorang cucu laki-laki yang ingin di manja meski tidak sepenuhnya dia tunjukkan.
"Tam, tadi Yurike pergi, apa kamu tidak mencegahnya ?" tanya Nenek di sela-sela makan malam mereka.
"Dia pergi saja aku tidak tau, Nek. Bagaimana mau mencegah," Sahut Tama tanpa beban. Seolah kepergian Yurike bukan sesuatu yang harus diributkan.
"Loh. Memang dia tidak izin ?"
Tama mengedikkan kedua bahunya,
Dipercakapan itu Liz hanya bisa menyimak. Dia tidak ingin ikut campur dalam masalah rumah tangga Tama dan Yurike.
Selesai makan, Tama mengurung diri diruang kerja, sementara Liz duduk sendirian di halaman belakang.
Liz mendongak ke atas, menatap langit malam yang kian mendung. Pelan gerimis mulai turun. Liz membiarkan wajahnya basah kena tetesan air hujan.
Perkataan Yurike tadi siang terus terngiang sampai sekarang. Bahkan tatapan meremehkan nya pun masih menempel dalam ingatannya.
"Yurike, kenapa kamu bisa berubah secepat ini ? Apa persahabatan kita selama ini tidak ada artinya lagi untuk mu ?" Liz membatin.
Liz tidak tau bagaimana harus bersikap pada Yurike ketika nanti mereka bertemu lagi. Sejujurnya Liz ingin memaki, memarahi serta menyalahkan Yurike karena sudah membawanya masuk kedalam rumah tangga nya yang toxic.
Tapi Liz ingat lagi, awalnya memang kesalahan Yurike, tapi pada akhirnya Liz mengambil keuntungan juga dari tawaran ini.
"Masuk,"
Suara bariton seseorang membuat Liz menoleh ke sumber suara.
Tama.
Pria itu berdiri di sampingnya sambil memegang payung.
Liz mendongak. Menatap Tama yang tinggi menjulang dari kursinya.
"Jangan sampai kamu sakit dan menyusahkan semua orang yang ada dirumah ini!"
Liz membuang muka, "Kamu masuk saja, aku masih mau disini,"
Tama tidak bergeming, "Masuk sekarang atau aku denda sepuluh juta setiap kali kamu membantah ?!"