Setelah ibunya meninggal sejak usianya tujuh tahun, kini Naira terpaksa tinggal dengan ibu serta kakak tirinya, pilihan ayahnya kali ini cukup membuat kehidupan Naira serasa di neraka.
Penyiksaan yang selalu Naira dapatkan selama ini, pada akhirnya telah membuat nya mulai berani melakukan perlawanan, dirinya sudah sangat lelah karena selalu mengalah dan terus-terusan ditindas oleh ibu serta kakak tirinya.
Suatu ketika, telah terjadi peristiwa memalukan dalam hidupnya, hingga membuat dirinya terpaksa di nikahkan dengan seorang pria misterius oleh warga satu kampung,nah loh! Kira-kira apa yang membuat mereka sampai di paksa harus menikah? Serta telah membuat warga satu kampung menjadi murka ? Mengapa pria misterius tersebut bisa datang secara tiba-tiba dalam kehidupan Naira dan malah menjadi suami dadakannya.
Lantas siapakah pria misterius tersebut?
Jangan lupa ikuti kisahnya hanya di Noveltoon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cobaan yang berat
Menjelang pagi, seperti biasa, Naira menyiapkan sarapan serta bekal makan siang untuk suami tercintanya. Suasana rumah mendadak menjadi ramai setelah kepulangan Ayah Naira beserta Ibu dan kakak tirinya tadi malam.
"Aku pamit kerja dulu ya Nai, nanti pas pulang kerja mau di bawakan apa?" tanya Sehun sembari mengusap lembut kedua pipi istrinya, Lilis yang tidak sengaja melintas, melihat adegan sepasang suami istri yang sedang bermesraan, dan telah membuatnya sangat jengah.
'Cih sial, kenapa kalian berdua bersikap seperti itu? Apakah kalian sudah saling mencintai? Tapi bagus juga sih, itu artinya aku bisa lebih leluasa untuk bisa mendekati Mas Dimas.' ucap Lilis dalam hati, ia pun bergegas menghampiri ibunya.
"Aku tidak mau di belikan apapun, cukup kamu pulang dengan selamat saja itu sudah lebih dari cukup;" sahut Naira menatap lembut suaminya.
Sehun membalas tatapan Istri tercintanya dan dengan sengaja iya malah mendekatkan wajahnya.
Kini bibir mereka saling bertemu dalam kecupan lembut, penuh cinta dan kasih sayang. Mata mereka tertutup, menikmati sensasi hangat yang mengalir di hati. Waktu terasa berhenti, hanya ada mereka berdua, terjebak dalam keintiman yang tak terucapkan.
"Emmhhh, sudah Mas! nanti kau malah minta lebih dari sekedar ini, yang ada kamu gak jadi berangkat ke proyek!" kata Naira sembari mengelap sisa noda lipstik di bibir suaminya.
"Yasudah kalau begitu aku pamit ya, tadi aku sempat pamitan sama Ayah, seperti nya setelah pulang dari kota, Ayah sakit ya Nai?" tanya Sehun terlihat khawatir.
"Iya Mas, seperti nya Ayah kelelahan, kasihan Ayah kalau kaya gitu, ibu mana mau mengurusi Ayah!" tegas Naira terlihat sangat kesal atas sikap ibu tirinya yang seperti nya tidak perduli, Naira sendiri sangat penasaran, mengapa Ayahnya di bawa ke kota oleh ibu dan kakak tirinya? Iya pun berencana akan menanyakan hal ini nanti siang setelah iya pulang dari pasar, karena rencananya besok iya akan memulai jualan lagi di kantin sekolah milik keluarganya Dimas, kali ini Naira sudah tidak peduli lagi dengan sosok Dimas, di hatinya saat ini, Dimas hanyalah masa lalunya dan kini pria yang sangat di cintanya saat ini adalah suaminya sendiri.
karena masuk kerja di proyek jam 8 pagi, Sehun pun menunggu seseorang yang kemarin menemuinya, dan Sehun ingin mengetahui mengenai jati dirinya lebih terperinci lagi kepada orang tersebut yang mengaku dirinya sebagai seorang Detektif.
Kini Sehun sengaja meminggirkan motornya di bibir jalan sambil tengok ke kanan dan ke kiri, akan tetapi ia tak kunjung menemukan sosok pria yang iya cari, namun naas ketika ia menoleh ke belakang, terdapat sebuah mobil proyek khusus mengangkut pasir yang secara tiba-tiba melaju begitu kencang menuju ke arahnya, Sehun sendiri tidak sempat menghindarinya karena lajunya mobil tersebut yang begitu cepat, sehingga dengan secepat kilat tubuh Sehun ditabrak oleh mobil tersebut, sampai-sampai tubuhnya terpental cukup jauh dan tepat di kepalanya terbentur oleh bebatuan yang berada di pinggir jalan beraspal, seketika Sehun jatuh tersungkur dengan bersimbah darah, mobil proyek pengangkut pasir pun segera tancap gas, suasana jalanan yang masih terlihat sepi tiba-tiba mendadak ramai saat terdengar bunyi dentuman seperti ban yang meledak, dan tentu saja itu adalah bunyi ledakan ban motor yang di tunggangi oleh Sehun, kondisi motor pun ringsek.
"Naira, a...aku mencintaimu!" ucap Sehun kemudian iya tidak sadarkan diri, kini tubuh nya tergeletak di atas aspal.
Naira yang sedang mengendarai sepeda motor matic miliknya merasa tidak enak hati ketika melihat segerombolan orang berhamburan di jalanan.
Lalu ia mulai memarkirkan motornya di pinggir jalan. Ketika iya melihat motor kopling yang sama persis seperti kepunyaannya, ia pun langsung berlari ke arah motor tersebut.
"Wah kebetulan sekali ada kamu Nai, suamimu Nai..!" ucap salah satu warga setempat yang pertama kalinya telah menemukan tubuh Sehun tergeletak di atas aspal
"Kenapa dengan suamiku?" tanya Naira
Kemudian iya mencoba menerobos ke arah warga yang sedang menjadi penonton seseorang yang telah menjadi korban tabrak lari
Seketika Naira terdiam saat tahu siapa yang telah menjadi korbannya.
Kini hatinya terasa tercabik, napas nya terhenti, dan matanya sampai terbelalak. iya telah melihat orang yang ia cintai tergeletak di atas aspal, darah mengalir dari tubuh pria yang sangat di cintanya itu, Naira merasakan kesadaran nya telah hilang, seolah-olah dirinya sedang bermimpi buruk. "Bangun, sayang! Jangan tinggalkan aku!" teriaknya sambil menangis.
Naira terus saja menangis bahkan sampai histeris, iya mencoba mengoyakkan tubuh Suaminya, berharap masih tersadar. Baru saja tadi iya merasakan kebahagiaan dengan suaminya, kenapa begitu cepatnya Tuhan memberikan cobaan seperti ini.
Akhirnya Sehun di bawa oleh mobil ambulans menuju rumah sakit terdekat.
Detektif Jo dan Toni datang terlambat gegara tadi sempat mengalami pecah ban ketika menuju gapura depan menuju kampung Reyot, Tony sendiri merasa ada yang sengaja melakukan hal ini, tepatnya seperti sudah di sabotase
Kemudian Detektif Jo melajukan mobilnya sampai tempat dimana kemarin iya bertemu dengan Sehun alias Nathan.
"Semoga saja Tuan Muda Nathan masih berada di sana untuk menunggu kita Ton!" kata Detektif Jo merasa cemas.
Setibanya di tempat tersebut rupanya Susananya cukup ramai, apalagi ketika Detektif Jo melihat motor yang kemarin iya lihat saat dikendarai oleh Tuan Muda Nathan kini telah berubah menjadi ringsek, akhirnya perasaan tidak enak pun mulai menyeruak, rasa cemas akan keselamatan Nathan benar membuatnya menjadi ketakutan.
lalu Detektif Jo memarkirkan mobil miliknya di bibir jalan, dan iya pun bergegas turun di susul oleh Tony.
Dengan segera Detektif Jo menanyakan apa yang telah terjadi kepada warga setempat sehingga motor tersebut menjadi ringsek.
"Maaf kalau boleh tahu bapak ini siapa? Apakah ada hubungannya sama korban pemilik motor ini?" tanya pak Hasan yang merupakan ketua RW kampung Reyot.
"Kami adalah kerabat dari pemilik motor tersebut pak!" jawab Tony
"Jadi anda ini kenal sama si Sehun? Aku kira dia sebatang kara, kasihan itu anak, tapi dia itu laki-laki pekerja keras, saat ini Sehun di bawa ke rumah sakit teratai, tidak jauh dari kampung Reyot!" ucap Pak Hasan sembari memberitahu alamat Rumah Sakit Teratai
Baik Tony dan juga Detektif Jo, mereka berdua bergegas menuju rumah sakit.
"Aarkkhhh sungguh sial, coba saja tadi kita tidak telat, aku yakin Tuan Muda tidak akan mengalami hal ini, kasihan sekali nasib Tuan Nathan." gerutu Tony sambil mengepalkan kedua tangannya, bahkan rahangnya pun sampai mengeras.
Kini Sehun berada di ruang IGD rumah sakit yang memiliki fasilitas kurang begitu memadai. Namun Dokter setempat tetap berusaha melakukan penyelamatan terhadap korban.
Naira begitu cemas memikirkan kondisi suaminya, pikiran nya begitu kacau balau, iya terus saja menangis tiada henti.
"Mas Sehun, jangan tinggalkan aku, ku mohon! Yaa Rabb...tolong selamatkan lah suamiku!" ucap Naira penuh harap.
Tidak lama kemudian Naira mendapatkan panggilan telepon dari Lilis.
Sebenarnya iya malas untuk mengangkat telepon dari kakak tirinya,namun mengingat kondisi Ayahnya yang sedang sakit, iya pun akhirnya menerima panggilan tersebut.
"Hey Nai, lama sekali kau angkat teleponnya, kau pergi ke pasar atau kemana hah? Sekarang cepatlah pulang, a..ayah sekarat Nai!" kata Lilis membuat Naira serasa di Ambar petir, bagaimana tidak di saat waktu yang bersamaan, dua pria yang sangat di cintanya itu mengalami hal yang serupa, Naira pun bingung apa yang harus iya lakukan saat ini, tetap menunggu Suaminya di Rumah Sakit atau pulang untuk menemui Ayahnya yang sedang sekarat.
Cobaanmu begitu berat untuk Naira, semoga kau bisa menghadapinya.
Bersambung...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
tentang naira
abang tiri serakah