Namanya adalah Haidee Tsabina, wanita cantik dengan hijabnya yang merupakan istri seorang Ibrahim Rubino Hebi. Kehidupan keluarga mereka sangat harmonis. Ditambah dengan seorang anak kecil buah cinta mereka yaitu Albarra Gavino Hebi
Tapi semua berubah karena sebuah kesalahpahaman dan egois yang tinggi. Rumah tangga yang tadinya harmonis berubah menjadi luka dan air mata.
Sanggupkah Haidee dan Ibra mempertahankan keluarga kecil mereka ditengah banyaknya rintangan dan ujian yang harus mereka hadapi? Atau mereka akan menyerah pada takdir dan saling melepaskan? Yuk baca kisahnya.
Follow Ig author @nonamarwa_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Marwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa
🌹HAPPY READING🌹
Ibra dan Kevin terdiam mendengar cerita Agam. Ibra tidak menyangka jika hal ini akan terjadi pada istrinya. Ditambah lagi dengan segala kelakuannya kepada Dee saat ini. Ibra yakin Dee pasti sangat terluka.
"Mereka menyiksa Dee dan Diana bagaikan binatang. Bahkan Dee pernah memakan makanan sisa langsung dari lantai. Mereka menyiksa Dee dan Diana dengan cambukan, setrika panas dan besi panas. Mereka berdua diperlakukan seperti binatang peliharaan yang disiksa majikannya. Naura menceritakan semua ini ke gue sampai terisak, gue nggak ngebayangin gimana Dee dan juga Diana yang mengalami semua ini", lanjut Agam. Ibra menundukkan kepala menyembunyikan air matanya. badannya bergetar menahan tangisnya. Tak sanggup ia membayangkan bagaimana penderitaan isterinya didalam penjara. Ini semua tidak akan terjadi jika saja dia tidak menyuruh polisi untuk membawa Dee waktu itu.
"Dan satu yang harus Lo ketahui Ib, Dee pernah koma selama dua Minggu karena penyiksaan itu. Karena itu setelah Dee sadar dari komanya, Dee dipindahkan kedalam sel sendiri. Hingga akhirnya lo cabut kasus ini dan Dee dibebasin". Ucap Agam menghapus air matanya yang keluar tanpa izin.
"KENAPA LO NGGAK PERNAH BILANG SAMA GUE ?" Teriak Ibra marah kepada Agam.
"Lo boleh pukul gue. Gue emang salah, gue lalai ga bisa jagain Dee disini. Gue ceritain ini samua sama lo karena gue rasa Lo berhak tau", ucap Agam pasrah.
"Arrkkhh", teriak Ibra memukul tembok dinding di sampingnya. Meluapkan segala emosinya.
"Ib, Lo tenang dulu. Agam nggak sepenuhnya salah. Bahkan kalau Naura nggak cerita ke Agam mungkin selamanya kita ga bakal tahu semua ini", ucap Kevin menenangkan Ibra.
Ibra menghela nafas. "Ada yang nggak beres disini. Kasus penyiksaan seperti ini ga ada satupun dari pihak kepolisian yang tau", ucap Ibra heran memandang Agam dan Kevin.
"Gue sependapat sama lo Ib. Pasti ada yang nggak beres", ucap Kevin menimpali.
"Gue mau orang yang udah nyiksa istri gue dihukum seberat-beratnya. Gue nggak mau tau kalau bisa buat mereka merasakan mati setiap saat", ucap Ibra dengan tangan terkepal.
Agam menggeleng. Hal itu membuat Ibra dan Kevin melihat Agam heran. "Kenapa nggak bisa ?" tanya Ibra dan Kevin serentak.
"Sebelum keluar dari sini, Dee memaafkan mereka dan tidak menuntut apapun dari mereka. Tapi Lo tenang aja mereka dihukum penjara seumur hidup". jawab Ibra.
"Gue yakin ada yang nggak beres sama ini semua. Apa mereka sudah diintrogasi mengapa mereka nyiksa istri gue ?" tanya Ibra.
Agam mengangguk, "mereka hanya diam dan tidak ada yang berbicara", jawab Agam.
"Ada yang janggal disini", timpal Kevin.
"Gue mau ketemu sama orang yang udah nyiksa istri gue", jawab Ibra sambil berdiri dan diikuti Kevin dan Agam.
"ini udah malam Ib. Lagian mereka pasti juga tidur", jawab Agam.
"Gue cuman pengen liat wajah mereka".
"Oke. Lo ikutin gue", ucap Agam sambil berjalan mendahului Ibra dan Kevin yang mengikuti dari belakang.
Sedangkan ditempat lain, Dee memasuki kamar Al. Dari arah dekat Dee dapat melihat bahwa Al tidur dengan gelisah. Peluh membasahi dahinya. Tangan Dee terulur untuk mengusap lembut dahi Al. Al terus merintih memanggil-manggil Uminya.
"Al, Al, Al kenapa nak? umi ada disini ?" ucap Dee lembut mencoba membangunkan Al.
"UMIIII", Teriak Al langsung membuka matanya. Netranya menangkap sosok Dee yang duduk dihadapannya.
Al langsung beringsut mundur dan kembali merebahkan diri di sisi ranjang yang lain menghindari Dee. Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Hati Dee sakit melihat ini. Bahkan dalam keadaan setengah sadar pun anaknya tetap saja takut padanya. Tidak sanggup melihat penolakan Al, Dee berlari keluar dari kamar Al. Tubuhnya lirih di balik pintu kamar Al.
"Kenapa Al bersikap seperti ini sama Umi ? hati umi sakit nak, dada umi sesak melihat Al seperti ini. Umi sangat menyayangi Al. Umi bukan orang jahat. Cukup Abi yang jijik sama Umi, tapi Al jangan", ucap Dee dalam tangisnya. Tangannya terus menekan dadanya yang terasa sesak. Tadi dia melihat suaminya memilih pergi ketika melihat keadaan tubuhnya, kini ia harus kembali menerima penolakan dari anaknya.
Tanpa Dee ketahui, sedari tadi Al mendengar semua tangis dan ucapannya. Saat mengetahui Dee keluar dari kamarnya. Al bangun dan hendak menyusul Dee. Tapi tangannya yang akan membuka pintu terhenti karena mendengar tangis Dee.
Al terduduk di dekat pintu. Tangisnya luruh mendengar setiap ucapan Dee. Berusaha sekuat tenaga untuk menutup mulutnya dengan tangan agar tangisnya tidak terdengar oleh Dee. Mereka sama-sama bersandar di pintu dengan sisi yang berbeda.
"Maafin Al umi, Al sangat sayang sama Umi. Maaf jika Al membuat dada umi sakit", ucap Al dalam hati.
Tidak kuat menahan tangisnya, Al berlari ke kamar mandi. Mengambil foto Dee dan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk foto tersebut. Anak itu dipaksa dewasa dan berkorban besar untuk keluarganya. Tidak ada yang tahu bahwa anak ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Hanya dia dan Tuhan yang tahu alasannya mengapa ia berbuat seperti ini. Keadaan yang sulit memaksa ia mengerti dan mengorbankan perasaannya sebagai seorang anak kepada ibunya.
Sedangkan ditempat lain Ibra dan Kevin yang sudah selesai dengan urusannya nampak keluar dari kantor polisi.
"Biar gue yang bawa mobil", ucap Kevin merebut kunci mobil yang ada ditangan Ibra. Dia takut Kevin akan membawa mobil dengan menggila karena menahan emosinya.
Ibra hanya diam dan membiarkan Kevin. Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya diam larut dengan pikiran masing-masing.
"Gue mau kita cari tahu semua ini Vin. Ada yang janggal dengan ini semua. Pasti ada campur tangan orang ketiga dalam hal ini", ucap Ibra memecah keheningan diantara mereka."Besok Lo suruh Agam buat datang ke kantor. Kita bicarakan ini bertiga. Kita nggak akan libatkan pihak kepolisian. Kita urus ini sama orang-orang kita", sambung Ibra lagi.
Kevin mengangguk, "Masalah ini cukup sulit. Gue salut Dee bisa menahan ini sendirian. Entah terbuat dari apa hatinya. Tapi sayang, setelah tersiksa dipenjara dia juga harus tersiksa secara bathin oleh suaminya", ucap Kevin menyindir Ibra dengan sinis.
Ibra hanya diam Dia membenarkan semua yang diucapkan Kevin. Suami macam apa yang tidak mengetahui apa-apa tentang istrinya. Ibra merasa sangat bodoh.
Bahkan untuk saat ini ingin rasanya gue membunuh dan mengubur diri gue sendiri. Bahkan itu pun belum cukup rasanya untuk menghukum diri gue sendiri. Ucap Ibra dalam hati merutuki kebodohannya.
......................
Hai Teman-Teman, Terimakasi sudah mampir dan temani Dee menggapai kembali cinta suaminya yaa ,,,
Jangan lupa like sama komentarnya yaa teman-teman agar novel ini tambah seru lagi,,,
Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa untuk melihat ucapan ucapan mutiara author yaa.....
tapi seruuu puas bgt bacanya
terimakasih thooor
semoga karya mu selalu d gemari
berbahagialah dee
paling buat berobat Jaka 15rb tuuh beli betadine