NovelToon NovelToon
Haruskah Seperti Ini

Haruskah Seperti Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Setelah Hati yang Patah, Hadirlah Kenangan yang Terlupa

​Aroma biji kopi arabika yang baru saja digiling memenuhi udara Cafe Nuansa, bercampur dengan wangi vanilla syrup dan susu yang di-steam perlahan. Suasana kafe sore itu cukup sibuk, dengan beberapa mahasiswa yang datang untuk mengerjakan tugas, pekerja kantoran yang mencari tempat singgah sementara, serta pasangan-pasangan muda yang menghabiskan waktu bersama. Di balik meja bar kayu yang panjang dan memancarkan kesan hangat, Alan berdiri tegak dengan celemek cokelat kebanggaannya.

​Ia baru saja memulai shift kerjanya. Transisi dari seorang mahasiswa jurusan akuntansi yang selalu pusing dengan neraca keuangan menjadi seorang barista yang terampil telah ia lakukan dengan sempurna. Tangan-tangannya bergerak lincah meracik minuman, menyeduh espresso, dan menyajikan piring-piring kecil berisi kudapan. Wajahnya yang biasanya kaku dan dingin, kini dihiasi oleh senyum tipis profesional yang selalu ia pasang setiap kali berhadapan dengan pelanggan. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar hobi, melainkan urat nadinya untuk bertahan hidup di kota besar dan mengirimkan uang bagi keluarganya di kampung.

​Di sudut lain kafe, Bang Hendri—pemilik sekaligus manajer operasional kafe tersebut—baru saja keluar dari ruangan belakang setelah menyelesaikan laporan stok barang mingguan. Pria paruh baya dengan rambut yang mulai menipis dan kemeja flannel yang lengannya digulung hingga siku itu mengusap wajahnya yang lelah. Matanya yang tajam dan sarat akan pengalaman mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.

​Secara insting, pandangan Bang Hendri langsung tertuju pada meja pojok di dekat jendela besar—meja VIP tak resmi yang selalu ditempati oleh Alan dan teman-temannya setiap kali mereka mampir.

​Namun, ada yang aneh. Mata Bang Hendri memicing, mencari-cari satu sosok yang ketidakhadirannya membuat suasana kafe terasa... sepi.

​Tidak ada suara tawa keras yang menggelegar. Tidak ada umpatan kasar bercanda yang biasanya terlontar. Tidak ada sosok gadis tomboi berkemeja kebesaran yang biasanya duduk dengan kaki diangkat satu ke kursi sambil memakan kentang goreng.

​Bang Hendri berjalan perlahan mendekati meja tersebut. Di sana, ia hanya melihat Ardi dan Randi yang masih asyik menyantap sisa makanan mereka dengan rakus, layaknya dua orang yang tidak makan selama seminggu.

​Tepat pada saat Bang Hendri hampir sampai di meja itu, pintu kaca kafe bergemerincing pelan. Bunga melangkah masuk dengan keanggunan yang selalu berhasil menyita perhatian siapa saja yang melihatnya. Rambut panjangnya tergerai indah, terpaan angin sore di luar sana membuat penampilannya semakin memukau. Senyum manis seketika terukir di wajah Bunga saat pandangannya langsung tertuju pada Alan yang sedang sibuk memutar milk jug di balik mesin espresso.

​Alan yang menyadari kedatangan Bunga, sempat menghentikan gerakannya sejenak. Mata mereka bertemu di udara. Senyum profesional Alan berubah menjadi senyum yang jauh lebih hangat dan tulus, senyum yang sayangnya tidak pernah ia tunjukkan pada wanita lain. Bunga membalas senyum itu dengan anggukan kecil, seolah memberi isyarat agar Alan melanjutkan pekerjaannya, sebelum akhirnya Bunga melangkah bergabung menuju meja yang ditempati oleh Ardi dan Randi.

​Bang Hendri yang berdiri tak jauh dari meja itu, menghentikan langkahnya sejenak. Ia memperhatikan interaksi tanpa suara antara barista andalannya dan gadis cantik yang baru saja datang itu. Lalu, matanya meneliti wajah Bunga dengan saksama.

​'Jadi ini yang namanya Bunga...' batin Bang Hendri bergumam. Ia memang sering mendengar nama itu disebut-sebut oleh Ardi atau Randi, atau bahkan Rahmi yang sering ngomel-ngomel sendiri saat menyinggung masa lalu Alan.

​Namun, saat Bang Hendri menatap wajah gadis itu lebih lama, keningnya berkerut dalam. Ada sesuatu yang mengusik ingatannya.

​'Tapi bentar...' pikir Bang Hendri, menyipitkan matanya. 'Wajahnya kayak familiar banget nih. Perasaan waktu kemarin-kemarin juga dia ke sini, cuman waktu itu gue lagi sibuk ngurusin mesin roasting yang ngadat, jadi gue gak terlalu merhatiin secara detail wajah si Bunga ini.'

​Bang Hendri terdiam sejenak di tengah bisingnya obrolan pelanggan lain. Ia mencoba menggali tumpukan memori di otaknya, memutar kembali rekaman-rekaman wajah orang yang pernah ia temui selama hidupnya. Wajah cantik Bunga, bentuk hidungnya, dan lengkung senyumnya seakan memiliki kemiripan dengan seseorang dari masa lalunya yang cukup jauh. Seseorang yang sangat akrab dengannya.

​Sambil masih berpikir, Bang Hendri kembali melangkah dan akhirnya sampai di meja pojok tersebut. Bunga baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi kosong, tersenyum sopan saat melihat Bang Hendri datang. Sementara itu, di balik bar, Alan terlihat semakin sibuk karena tiba-tiba rombongan anak kuliahan datang memesan berbagai macam minuman dingin, membuatnya tidak bisa ikut bergabung dengan teman-temannya.

​Bang Hendri berdiri di samping meja, menopang sebelah tangannya di sandaran kursi kosong, lalu melontarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal pikirannya.

​"Ke mana si Rahmi, Di?" tanya Bang Hendri, memandang ke arah Ardi. "Tumben banget tuh anak hilang ditelan bumi. Biasanya jam segini udah teriak-teriak minta dibikinin es leci teh. Motornya juga gak ada di parkiran depan."

​Ardi yang sedang mengunyah potongan terakhir chicken katsu-nya dengan mulut penuh, mendongak menatap Bang Hendri. Namun, sebelum Ardi sempat menelan makanannya dan menjawab, Randi yang duduk di depannya sudah lebih dulu menyahut dengan suara lantang.

​"Gak tau, Bang," jawab Randi sambil menyedot es matcha-nya hingga berbunyi nyaring. "Dia langsung pulang tadi. Katanya sih lagi PMS, perutnya sakit, terus mood-nya lagi hancur-hancuran. Biasalah, cewek kalau lagi datang bulan kan silumannya pada keluar. Senggol dikit langsung gigit."

​Bang Hendri mendengus pelan mendengar jawaban Randi. Ia menatap Randi dengan tatapan malas campur kesal, lalu menggelengkan kepalanya.

​"Ganti lah nama lu berdua, sumpah dah," keluh Bang Hendri dengan nada frustrasi yang dibuat-buat, sambil memijat pangkal hidungnya. "Gue bingung lama-lama ujung nama kalian berdua sama. Ardi, Randi. Gue nanya ke si Ardi, eh yang nyaut malah elu, Ndi. Mana kelakuan lu berdua sama-sama ajaib lagi. Pusing gue punya customer kayak lu berdua."

​Ardi yang akhirnya berhasil menelan makanannya, langsung tertawa dan menunjuk Randi dengan garpunya.

​"Ya udah dari sononya kali, Bang!" protes Ardi membela diri. "Dari emak bapak gue di kampung, kan mereka yang ngasih nama pake selamatan bubur merah bubur putih segala. Si Randi aja tuh yang ngikutin nama gue biar dikira kembar! Emang dasar fans sejati gue lu, Ndi."

​"Enak aja lu kampret!" balas Randi tak terima, melempar gumpalan tisu bekas ke arah Ardi yang dengan mudah ditepis oleh temannya itu. "Yang ada elu tuh yang ngikutin nama gue! Nama gue tuh punya history kerajaan zaman keraton, bermakna ksatria tangguh, lah nama lu mah ngambil dari singkatan 'Anak Raden Dikeluarin'. Gak level gue ngikutin lu!"

​Bunga yang duduk di antara mereka dan mendengarkan perdebatan konyol itu tak kuasa menahan tawanya. Tawa Bunga yang renyah dan merdu mengudara, membuat meja itu terasa jauh lebih hidup meskipun tanpa kehadiran Rahmi. Bunga menutupi bibirnya dengan punggung tangan, matanya menyipit karena geli melihat tingkah dua mahasiswa di hadapannya yang tak pernah kehabisan bahan untuk bertengkar.

​Mendengar tawa Bunga, Bang Hendri otomatis menoleh ke arah gadis itu. Saat Bunga tertawa lepas seperti itu, matanya yang menyipit dan ekspresi wajahnya benar-benar membuka gembok ingatan di kepala Bang Hendri secara instan.

​Mata Bang Hendri seketika membulat lebar. Ingatannya tentang masa SMA dan masa kuliahnya dulu kembali mengalir deras. Ia teringat pada sahabat karibnya, seorang pemuda jangkung yang sering ia repotkan, dan... adik perempuan sahabatnya itu yang dulu masih kecil, suka berlarian di ruang tamu dengan rambut dikepang dua, selalu mengganggu mereka saat sedang bermain PlayStation.

​Bang Hendri menunjuk ke arah Bunga dengan jari telunjuknya, wajahnya dipenuhi pencerahan yang mengejutkan.

​"Bentar, bentar..." potong Bang Hendri tiba-tiba, membuat perdebatan Ardi dan Randi seketika berhenti. Bang Hendri memicingkan matanya menatap Bunga. "Lu... Bunga adiknya si Indra kan?"

​Bunga yang tadinya sedang tertawa pelan, langsung terdiam. Matanya yang indah mengerjap beberapa kali, menatap pria paruh baya bertubuh sedikit berisi di hadapannya itu dengan ekspresi terkejut. Sangat jarang ada orang di kampus ini yang mengenali asal-usul keluarganya atau menyinggung nama kakak kandungnya secara langsung.

​"Iya, Bang..." jawab Bunga ragu-ragu, nada suaranya berubah menjadi lebih hati-hati. "Aku adiknya Kak Indra. Kok Abang bisa tahu?"

​Mendengar konfirmasi itu, senyum lebar yang sangat antusias langsung mengembang di wajah Bang Hendri. Ia menepuk jidatnya sendiri dengan keras, menyadari betapa sempitnya dunia ini.

​"Ya ampun, Gusti Nu Agung!" seru Bang Hendri kegirangan. "Masa lu lupa lagi sama gue, Nga? Ya ampun, ini gue, Hendri! Gue temennya si Indra waktu lu masih SMP kalau gak salah. Eh, bukan SMP deng, dari zaman SD akhir ke SMP! Gue temenan karib banget sama si Indra dari kita masuk SMA bareng, terus sampai kuliah di universitas yang sekarang jadi tempat lu kuliah juga!"

​Bunga masih terdiam, keningnya berkerut mengais-ngais sisa ingatannya tentang masa kecilnya.

​"Lu beneran lupa?" pancing Bang Hendri lagi, mencoba memberikan clue. "Gue yang sering banget numpang makan di rumah lu! Gue yang suka nginep di kamar atas bareng abang lu kalau besoknya ada ujian tapi kita malah begadang main game bola. Gue yang dulu sering lu panggil 'Om Gendut' gara-gara gue suka ngabisin stok es krim di kulkas lu, padahal umur gue sama abang lu sama!"

​Penjelasan panjang lebar dan detail tentang kenangan masa lalu itu akhirnya memicu reaksi di otak Bunga. Memori tentang seorang teman kakaknya yang berisik, suka bercanda, dan selalu membuat rumah mereka ramai kembali tergambar jelas di benaknya.

​Mata Bunga membesar, senyumnya kembali merekah, kali ini jauh lebih lebar karena terkejut bercampur bahagia bisa bertemu dengan sosok dari masa lalunya.

​"Astaga! Bang Hendri?!" seru Bunga tanpa sadar setengah berdiri dari kursinya. "Ya ampun, maaf, Bang, aku bener-bener lupa! Soalnya Abang sekarang kelihatan lebih... lebih dewasa dan berwibawa banget! Aku inget sekarang! Ya ampun, Abang ke mana aja selama ini? Kak Indra sering banget lho nanyain kabar Abang, katanya semenjak Abang merintis usaha kafe jadi susah dihubungin."

​"Hahaha! Dewasa bahasanya, padahal maksud lu gue makin tua dan makin melar kan?" Bang Hendri tertawa lepas, suara tawanya menggema di sudut kafe itu. "Iya nih, Nga. Semenjak gue ngurusin kafe ini dari nol, nyari supplier kopi keliling daerah, gue jadi jarang megang handphone, kontak juga banyak yang hilang pas handphone lama gue nyebur ke mesin cuci. Ya ampun, dunia emang sempit banget ya! Terakhir gue liat lu, lu masih pake seragam putih biru, rambut lu dikepang, sering nangis minta dibeliin permen kapas depan rumah. Sekarang udah jadi bidadari kampus gini! Abang lu apa kabar, Nga? Udah nikah dia?"

​Bunga kembali duduk, tawanya masih tersisa melihat antusiasme Bang Hendri.

​"Kak Indra baik banget, Bang. Bulan depan malah istrinya mau lahiran anak kedua," cerita Bunga dengan mata berbinar. "Nanti aku sampein deh salam Abang ke Kak Indra. Pasti dia kaget banget tahu aku sering nongkrong di kafenya sahabat lamanya."

​"Wajib itu! Suruh dia mampir ke mari bawa ponakan gue!" balas Bang Hendri semangat. "Gila, udah mau dua aja anak tuh curut. Gue aja nyari calon istri masih loading."

​Di seberang meja, Ardi dan Randi saling menatap satu sama lain dengan pandangan melongo. Mulut mereka sedikit terbuka. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa bos kafe tempat Alan bekerja, sekaligus tempat mereka menumpang WiFi gratis setiap hari, ternyata adalah teman lama dari kakak kandung sang primadona kampus. Dunia memang kadang memiliki selera humor yang aneh dalam mempertemukan orang-orang.

​"Buset, Bang..." gumam Ardi pelan, masih tak percaya. "Lu kenal sama abangnya Bunga? Wah, circle lu boleh juga, Bang."

​"Yoi dong! Lu kata gue cuma bisa nyeduh kopi doang?" sahut Bang Hendri bangga, membusungkan dadanya sedikit.

​Mereka berempat pun akhirnya mengobrol sejenak. Bang Hendri banyak menanyakan kabar keluarga Bunga, sementara Bunga menceritakan sedikit tentang perkuliahan dan bagaimana ia bisa kembali bertemu dengan Alan. Meski hanya sebentar, obrolan itu terasa sangat hangat, dipenuhi dengan nostalgia masa lalu yang menyenangkan.

​Namun, di tengah gelak tawa dan kehangatan reuni kecil itu, mata Bang Hendri tanpa sengaja menatap ke luar jendela kaca besar di samping meja mereka. Pandangannya menembus jalan raya, menatap ke arah area parkir di depan kafe. Area kosong tempat biasanya sebuah mobil SUV hitam mewah terparkir. Mobil milik Rahmi.

​Tiba-tiba, senyum di bibir Bang Hendri perlahan memudar. Kehangatan nostalgia yang tadi menguasai hatinya, menguap bagai embun yang disengat matahari siang, digantikan oleh sebuah perasaan sesak yang dingin.

​Sebagai pria yang lebih tua dan memiliki pengalaman hidup yang cukup banyak, Bang Hendri tidak bodoh. Ia tahu persis bagaimana dinamika pertemanan antara Alan dan Rahmi. Ia telah mengamati mereka berdua selama lebih dari setahun. Ia melihat bagaimana Rahmi selalu memandang Alan dengan tatapan yang berbeda—tatapan penuh pemujaan, kekhawatiran yang tulus, dan cinta yang ditutupi oleh sikap kasar.

​Dan kini, melihat Bunga hadir di sini... melihat bagaimana mata Alan berbinar saat menatap Bunga... Bang Hendri langsung memahami semua teka-teki tentang keanehan Rahmi hari ini.

​'Lu terlalu diam untuk masalah hati, Mi...' batin Bang Hendri bergumam pedih. Pandangannya nanar menatap kekosongan di area parkir itu, membayangkan bagaimana hancurnya perasaan gadis tomboi itu saat harus meninggalkan kafe ini tadi.

​Bang Hendri tahu, hati wanita adalah hal yang sangat rapuh.

​'Lu selalu pura-pura kuat. Lu pakai topeng cewek garang, pakai baju cowok, ngomong kasar, cuma supaya lu bisa selalu ada di samping Alan tanpa dia ngerasa canggung. Lu lakuin itu semua karena lu terlalu takut, kan, Mi? Lu terlalu takut kalau lu ngungkapin perasaan lu yang sebenarnya, persahabatan kalian yang udah lu bangun susah payah bakal hancur berkeping-keping. Lu takut Alan akan menjauh.'

​Bang Hendri menarik napas panjang, rongga dadanya terasa berat. Kehadiran Bunga yang begitu sempurna, cantik, dan anggun ini seakan menjadi cermin raksasa yang memantulkan betapa menyedihkannya perjuangan Rahmi selama ini.

​'Tapi pada akhirnya... kepengecutan lu sendirilah yang jadi pedang bermata dua buat lu, Mi,' lanjut batin pria itu, merasa sangat kasihan pada Rahmi. 'Karena lu gak pernah berani ngambil keputusan, karena lu selalu bersembunyi di balik kata "sahabat", sekarang lu harus ngebayar harga yang paling mahal. Lu harus rela menderita di atas kebahagiaan Alan. Lu harus hancur sendirian, sementara orang yang lu cintai tersenyum bahagia menyambut masa lalunya kembali. Cinta emang sekejam itu buat orang yang telat bersuara.'

​Bang Hendri mengerjap, membuyarkan lamunan menyedihkan itu. Ia tidak boleh ikut campur terlalu jauh dalam urusan hati anak-anak muda ini, tapi sebagai seseorang yang peduli pada mereka berdua, ada rasa ngilu yang tak bisa ia abaikan.

​Bang Hendri menepuk pelan meja kayu itu, mengembalikan fokus Ardi, Randi, dan Bunga yang masih membicarakan dosen mereka.

​"Ya udah," potong Bang Hendri dengan nada yang kembali dibuat santai, berusaha menyembunyikan melankolia di matanya. "Gue pulang dulu ya. Udah mau maghrib nih, gue mau mandi sekalian istirahat. Tulang gue udah pada keropos rasanya ngurusin laporan dari pagi."

​Randi yang mulutnya selalu tidak bisa disaring, langsung menyahut dengan cengiran mesumnya.

​"Iya, Bang. Hati-hati di kamar ya, Bang! Jangan lupa dikunci pintunya kalau lagi nonton yang 'iya-iya', ntar ada pegawai masuk kan berabe urusannya!" ledek Randi dengan tawa nakal.

​Bunga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum menahan malu mendengar candaan anak laki-laki itu. Sementara Ardi ikut tertawa membenarkan.

​Namun Bang Hendri sama sekali tidak tersinggung. Ia justru tertawa meremehkan, membalas ledekan itu dengan lebih telak.

​"Ngomong kayak yang udah ngerasain aja lu, Ndi, Ndi!" cibir Bang Hendri dengan senyum mengejek. "Boro-boro nonton, kuota aja lu masih numpang tethering si Ardi, eh di kafe numpang WiFi gue. Muka lu tuh muka-muka jomblo ngenes yang cuma bisa main game doang!"

​"Wah, parah damage-nya, Bang! Nembus lambung!" seru Ardi kegirangan melihat sahabatnya kena roasting. Randi hanya mencebikkan bibirnya kesal namun tak bisa membantah.

​Bang Hendri tertawa tipis menanggapi kekonyolan mereka. Ia melambaikan tangannya sekilas kepada Bunga. "Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya, Nga. Titip salam buat Indra. Gue cabut dulu."

​"Siap, Bang Hendri. Hati-hati di jalan ya, Bang," balas Bunga dengan sopan.

​Bang Hendri pun memutar tubuhnya dan melangkah pergi dari meja tersebut. Namun, ia tidak langsung menuju pintu keluar. Langkahnya berbelok menuju area bar, tempat Alan baru saja selesai meracik lima gelas frappuccino untuk pelanggannya. Alan terlihat sedang mengelap pinggiran meja bar dengan kain basah, keringat kecil mengembun di pelipisnya.

​Bang Hendri berdiri di depan bar, menatap Alan dalam diam selama beberapa detik. Ia memperhatikan garis wajah Alan yang keras, rahangnya yang tegas, dan sorot matanya yang selalu menyimpan ambisi untuk mengubah nasib keluarganya. Alan adalah pemuda yang baik, sangat pekerja keras, cerdas dalam akademis, namun nyaris memiliki kecerdasan emosional yang berada di bawah rata-rata jika sudah menyangkut perasaan wanita.

​"Lan," panggil Bang Hendri pelan, membuat Alan mendongak dari pekerjaannya. "Gue pulang duluan ya. Tolong lu handle anak-anak di depan. Kalau ada barang yang abis, catet aja di buku belakang, besok pagi gue belanja."

​Alan mengangguk patuh, meletakkan kain lapnya. "Siap, Bang. Aman. Iya, Bang, hati-hati di jalan."

​Alan bersiap untuk berbalik merapikan gelas-gelas kotor, namun suara Bang Hendri kembali menahannya. Pria paruh baya itu masih berdiri di sana, terdiam, dan menatap Alan dengan tatapan yang sangat intens dan tajam, berbeda dari tatapan santainya tadi.

​Tatapan itu membuat Alan mengerutkan kening kebingungan. "Ada apa, Bang? Ada yang lupa?"

​Bang Hendri menarik napas dalam-dalam. "Lu yang harus hati-hati, Lan."

​Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Bang Hendri dengan nada yang sangat serius. Alan tertegun.

​"Hati-hati apanya, Bang? Jalanan depan kan terang, motor gue juga baru dibenerin akinya kemaren," balas Alan, sama sekali tidak menangkap arah pembicaraan atasannya itu.

​Bang Hendri menggelengkan kepalanya pelan, menatap lurus ke dalam mata Alan, mencoba mengirimkan sinyal peringatan.

​"Bukan itu," ucap Bang Hendri pelan, suaranya nyaris seperti bisikan di tengah suara bising pengunjung kafe. "Terkadang... lu harus lebih peka terhadap sesuatu yang selalu lu anggap normal, Lan. Sesuatu yang lu pikir bakal selalu ada di sana, padahal sebenarnya rapuh banget. Sesuatu seperti..."

​Kalimat Bang Hendri menggantung di udara. Ia ingin sekali meneriakkan nama 'Rahmi' tepat di depan wajah Alan. Ia ingin mengatakan: 'Sesuatu seperti perasaan Rahmi ke lu, bego! Dia hancur gara-gara lu bawa cewek lain ke mari!'

​"Maksudnya seperti apa, Bang?" tanya Alan, keningnya semakin berkerut rapat. Ia benar-benar tidak mengerti. Otaknya mulai mencoba menganalisis apakah Bang Hendri sedang membicarakan soal laporan keuangan kafe, atau soal stok biji kopi yang hampir kadaluarsa.

​Melihat ekspresi bingung dan polos dari wajah Alan, Bang Hendri kembali terdiam. Ia menghela napas panjang dan berat. Hatinya kembali bergejolak.

​'Percuma,' batin Bang Hendri pasrah, menyadari kesia-siaan dari upayanya. 'Percuma gue ngasih tau pakai peribahasa atau kode-kodean juga. Orang sedatar tembok dan punya hati yang gak peka kayak lu bakal susah ngerti, Lan. Yang ada di otak lu dari dulu cuma angka, hitungan akuntansi, uang, keluarga, dan kemiskinan lu. Lu gak punya ruang untuk memproses rasa sakit orang lain yang gak terlihat oleh mata lu sendiri.'

​Menyadari bahwa memaksa Alan untuk mengerti saat ini hanya akan memperkeruh suasana, Bang Hendri memutuskan untuk menelan kembali kata-katanya. Ia mengubah haluan pembicaraannya di detik terakhir.

​"Seperti..." Bang Hendri mencari alasan seadanya. Ia menunjuk ke arah mesin kopi di belakang Alan. "...seperti lu nyeduh dengan racikan kopi yang istimewa itu. Lu harus hati-hati, tangannya jangan sampai tremor. Walau lu yakin hasilnya bakal enak, belum tentu racikan itu disukai sama semua pelanggan. Terkadang, kopi yang terlalu manis justru bikin orang yang suka pahit jadi muak dan ninggalin lu."

​Alan terdiam sejenak mencerna kalimat itu, lalu ia tersenyum lega. Ia mengira Bang Hendri sedang memberikan petuah soal filosofi melayani pelanggan.

​"Oh, itu maksudnya. Siap, Bang. Gue selalu nakar gulanya pas kok, gak akan kemanisan," jawab Alan dengan percaya diri, merasa berhasil menangkap 'pesan moral' sang manajer.

​Bang Hendri tersenyum getir, menatap Alan dengan pandangan setengah kasihan dan setengah jengkel.

​"Ah... udah lah," gumam Bang Hendri pelan, membuang muka. "Gue berangkat dulu, Lan. Jaga tuh mesin kopi baik-baik."

​Tanpa menunggu balasan lagi, Bang Hendri membalikkan badannya dan berjalan cepat meninggalkan meja bar, melintasi pintu kaca, dan menuju ke area parkiran tempat mobil lamanya berada. Meninggalkan kafe itu dengan membawa simpati yang mendalam untuk seorang gadis tomboi yang kini entah sedang menangis di mana.

​Sementara itu, di balik meja bar, Alan menatap kepergian bosnya dengan sebelah alis terangkat. Ia kembali mengambil kain lap basahnya dan menggosok meja dengan gerakan mekanis.

​'Aneh banget Bang Hendri hari ini omongannya,' batin Alan heran, menggelengkan kepalanya. 'Pakai bawa-bawa racikan kopi segala. Kadang gue ngerasa dia kesurupan jiwa puitis bapak-bapak.'

​Alan mengabaikan peringatan samar itu, menganggapnya sebagai angin lalu. Pikiran rasionalnya kembali mendominasi. Ia menoleh sekilas ke arah cermin kecil di sudut bar, merapikan rambutnya sedikit, lalu pandangannya melesat jauh menuju meja pojok tempat Bunga duduk tersenyum, mengobrol dengan dua sahabat konyolnya.

​Dada Alan kembali menghangat. Kepenatannya menguap. Ia merasa bahwa roda nasibnya akhirnya mulai berputar ke arah yang benar.

​'Ah, udah lah, gue gak ngerti omongan yang kayak gitu-gitu,' batin Alan memantapkan hati, menepis segala keraguan. 'Gue di sini buat kerja. Sekarang gue harus fokus kerja ngumpulin uang buat bantuin keluarga di kampung, dan...'

​Senyum kecil yang sangat jarang muncul itu kembali terukir di bibirnya saat menatap wajah ayu Bunga.

​'...dan fokus untuk masa depan gue sama Bunga. Kesempatan ini gak akan gue sia-siain lagi.'

​Di tengah kebisingan kafe, di antara aroma kopi dan harapan yang baru mekar, Alan sama sekali tidak menyadari bahwa kebahagiaan yang sedang ia bangun saat ini, kelak akan menjadi sebuah penyesalan terbesar yang akan menghantui sisa hidupnya. Penyesalan karena ia terlambat menyadari siapa yang sebenarnya selalu ada untuk memayunginya saat hujan badai menerpa.

1
Reza Reva
kasihan Rahmi cinta tak terbalas
Yuni Uni
paling ga suka baca novel on going,,,capek nungguh up nya tp tetep nungguin kapan up nya thor
falea sezi
lanjut Thor q ksih Hadiah
falea sezi
pindah kuliah rahmi🤣 laki g tau diri emank sih dia g tahu siapa yg bantu dia kira hendri tp dia uda buang berlian demi jalang🤣
falea sezi
pergi jauh rahmi pengorbanan mu g di hargai
falea sezi
kacian bgt rahmi klo lu lebih milih bunga lu salah besar alan🤭ada yg tulus nrima lu apa adanya loh malah lirik bunga bangke
Reza Reva
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!