NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 12: Pintu yang Ditendang

​"Kunci pintunya dari dalam. Jangan sampai ada satu ekor lalat pun yang bisa keluar atau masuk ke ruangan ini."

​Suara berat dan penuh ancaman itu terdengar sangat jelas dari balik pintu kaca buram ruangan HRD. Langkah-langkah kaki berat berbalut sepatu bot taktis militer berderap serentak, mengepung area lorong lantai lima belas yang sudah sepi total. Kamera pengawas di sudut langit-langit sudah mati. Lorong itu kini sepenuhnya berada di bawah kendali Boni dan pasukan pembunuhnya.

​Brak!

​Pintu utama ruangan HRD ditendang dengan tenaga penuh dari luar. Kaca tebal anti peluru itu bergetar luar biasa hebat hingga mengeluarkan suara mendengung yang memekakkan telinga. Engsel pintu yang sebelumnya sudah retak kini benar-benar patah sebelah.

​Boni melangkah masuk ke dalam ruangan dengan rahang mengeras dan mata merah menyala. Di belakangnya, tiga orang pria berpakaian serba hitam dan memakai masker penutup wajah mengekor dengan gerakan sangat senyap. Salah satu pria itu langsung memutar tuas kunci ganda di pintu kaca, mengisolasi ruangan itu sepenuhnya dari dunia luar. Klik. Tidak ada jalan keluar lagi.

​Di balik meja kerjanya yang luas, Riana baru saja kembali dari pantri. Perempuan itu duduk tenang di kursi kulitnya. Kemeja putihnya masih sangat rapi. Cangkir kertas berisi sisa kopi hitam bertengger manis di sebelah tablet kerjanya. Riana sama sekali tidak melompat kaget atau berteriak histeris melihat empat monster dunia bawah tanah menerobos masuk ke daerah kekuasaannya. Dia hanya mendongak pelan, menatap lurus dari balik lensa kacamata tebalnya.

​"Menendang pintu fasilitas kantor hingga rusak adalah pelanggaran tingkat dua, Boni," ucap Riana dengan nada datar yang luar biasa tenang, seolah dia sedang menegur karyawan yang terlambat masuk kerja. "Gue akan potong gaji lo selama tiga bulan penuh untuk biaya perbaikan engsel pintu itu."

​Boni tertawa keras. Tawa kasar itu menggema memantul di dinding ruangan HRD yang kedap suara. Pria berwajah penuh luka sayatan itu berjalan perlahan mendekati meja kerja Riana, sementara tiga anak buahnya langsung menyebar ke sisi kiri dan kanan, menutup semua celah melarikan diri.

​"Lo benar-benar punya selera humor yang bagus buat ukuran mayat hidup, Nona Kacamata," ejek Boni dengan suara serak yang sangat mengintimidasi. "Gue akui nyali lo cukup besar. Staf kantoran biasa pasti sudah kencing di celana melihat kami masuk dengan cara seperti ini."

​"Gue Manajer HRD. Pekerjaan gue adalah mengurus sampah-sampah perusahaan yang tidak tahu aturan seperti kalian," balas Riana mutlak. Matanya menelusuri tangan kosong Boni dan ketiga anak buahnya. "Di mana senapan serbu kebanggaan divisi tempur kalian? Bukannya kalian tadi mau meratakan pelabuhan pakai peluru tajam?"

​Boni mendengus jijik. Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Riana, mencondongkan tubuh raksasanya ke depan.

​"Peluru itu terlalu berisik. Bos besar memasang sensor desibel di lobi utama. Kalau ada suara tembakan di lantai lima belas, alarm pusat akan berbunyi dan sekuriti gedung bakal langsung naik ke sini," jelas Boni dengan senyum miring yang sangat kejam. "Gue tidak mau merusak persiapan bursa saham bos besar. Gue cuma mau menyingkirkan parasit birokrasi yang berani menahan kunci mobil van pasukan gue."

​"Jadi lo mau membunuh atasan lo sendiri di ruangannya karena masalah kunci mobil?" Riana menggelengkan kepalanya pelan, seolah sedang menatap anak kecil yang sangat bodoh. "Lo pikir bos besar tidak akan mencari tahu siapa yang membunuh Manajer HRD kepercayaannya? Otak lo tertinggal di garasi parkir tadi?"

​"Tidak akan ada yang tahu kalau kami yang melakukannya," bisik Boni sangat licik. "Kamera CCTV lorong sudah gue matikan secara permanen. Mayat culun lo ini bakal kami bungkus rapat-rapat, lalu gue lempar langsung ke saluran pembuangan limbah asam di basemen terbawah. Besok pagi, perusahaan cuma tahu kalau HRD baru mereka kabur bawa lari uang kas operasional karena takut diaudit negara."

​"Skenario karangan yang sangat jelek," kritik Riana tajam tanpa ampun. "Lo pasti tidak pernah lulus kelas mengarang waktu sekolah dasar."

​Urat di pelipis Boni langsung menonjol keluar. Egonya sebagai komandan tempur paling ditakuti terasa diinjak-injak hingga rata dengan tanah. Tidak ada gunanya lagi berbicara dengan perempuan gila aturan ini. Boni menarik tubuhnya mundur, lalu memutar tangan kanannya ke bagian belakang pinggang.

​Dengan satu tarikan yang sangat mulus dan cepat, Boni mencabut sebuah pisau lempar taktis berbahan baja padat.

​Bilah pisau itu tidak berwarna perak seperti pisau pada umumnya. Mata pisaunya memancarkan kilau warna kebiruan yang sangat pekat di bawah cahaya lampu neon ruangan. Bau bahan kimia yang sangat tajam dan menyengat hidung langsung menguar memenuhi udara.

​"Pisau ini sudah gue lapisi racun saraf dosis paling tinggi," ancam Boni, memutar pisau mematikan itu di sela-sela jarinya dengan sangat lihai. "Satu goresan kecil saja di kulit lo, racun ini bakal langsung melumpuhkan otot pernapasan lo dalam hitungan detik. Lo bakal mati lemas perlahan-lahan tanpa bisa mengeluarkan suara teriakan sedikit pun."

​Tiga anak buah Boni di sisi kiri dan kanan Riana juga melakukan gerakan yang sama. Mereka mencabut pisau beracun masing-masing, bersiap menerjang dari titik buta. Riana kini benar-benar dikepung dari tiga arah sekaligus oleh senjata mematikan tanpa suara.

​"Satu goresan kecil ya?" Riana mengulang kalimat Boni dengan nada suara yang perlahan berubah. Tidak ada lagi nada formal khas orang kantoran. Suaranya kini terdengar lebih berat, dalam, dan luar biasa mematikan.

​Tangan kanan Riana bergerak pelan dan sangat tenang ke dalam laci meja kerjanya yang setengah terbuka. Jari-jarinya meraba sebuah benda logam kecil berbentuk kotak persegi panjang. Itu adalah korek api gas kesayangannya, benda yang selalu dia bawa saat masih menjadi algojo pencabut nyawa dulu.

​"Iris lehernya sekarang," perintah Boni sangat dingin kepada ketiga anak buahnya. "Jangan sampai ada darah yang muncrat ke karpet. Kita selesaikan ini dalam waktu lima detik."

​Tiga pembunuh bayaran itu langsung mengubah posisi kaki mereka. Mereka bersiap melompat menerjang meja kerja Riana secara bersamaan. Di depan mereka, Boni memegang pisau beracunnya dengan posisi terbalik, bersiap menghujamkan bilah biru itu tepat ke arah dada Riana.

​Waktu seolah berjalan sangat lambat di dalam ruangan HRD tersebut.

​Riana sama sekali tidak memundurkan kursinya untuk menghindar. Dia juga tidak mengangkat kursi atau tablet kerjanya untuk dijadikan tameng. Mata di balik kacamata tebal itu menatap tajam ke arah langit-langit ruangan, tepat ke sebuah alat detektor asap berbentuk bundar yang terpasang persis di atas meja kerjanya.

​Boni berteriak marah. Pria raksasa itu menendang kursi pengunjung hingga terpental jauh, lalu menerjang maju dengan kecepatan penuh. Pisau beracun di tangannya berkelebat membelah udara, mengincar lurus ke arah tenggorokan Riana dengan kekuatan maut yang tidak bisa dihentikan. Tiga anak buahnya melompat dari sisi kiri dan kanan pada detik yang bersamaan.

​"Pasal empat puluh. Pelanggaran keselamatan kerja tingkat akhir," desis Riana pelan.

​Tangan kanan Riana melesat keluar dari dalam laci meja secepat kilat. Ibu jarinya menekan tuas logam pada kotak korek api gas di genggamannya. Percikan api biru menyala terang di udara.

​Tanpa ragu sedikit pun, Riana melempar korek api yang sedang menyala berkobar itu lurus ke atas. Lontaran itu meluncur sangat presisi dan akurat, membentur keras tepat di bagian tengah alat detektor asap di langit-langit ruangan.

1
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Muft Smoker: yuuuuuk ,, sbntaar yx aq ambil Pisang goreng sama teh anget dluuu ,, 😁😁😁
total 5 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
Susilawati
hiii sadis banget perintahnya, digiling sampai habis semua badan nya si Frans.
Savana Liora: iyak. jadi pakan ikan
total 1 replies
Susilawati
wah senangnya author up lagi 👍👍👍
FHR
Apakah Bramantyo akan curiga siapa Riana sebenarnya?
Savana Liora: suatu saat akan curiga
total 1 replies
hana
makasih thor akhir nya up juga🙏🙏🙏🙏
Susilawati
jaga kesehatan dan terus semangat Thor 💪, di tunggu kelanjutannya 👍
Savana Liora: siapp kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!