"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 DUA ORANG YANG MENERIMAKU
Tatapan mereka saling bertemu, tapi Ana berusaha menunduk dan melihat ke arah teman - temannya lagi.
Ana duduk di dekat Jeje dan ia di rangkul Jeje untuk berfoto bertiga dan Sheila yang memegang handphone untuk mereka selfie.
Ana terkejut, dalam sehari ia sudah merasakan hangatnya pertemanan.
"Ana liat sini, kamu kayak belum pernah foto deh." sahut Sheila, mengajak Ana untuk berpose bersama dengan mereka.
"Em.. Iya deh. Tapi aku malu."
"Ah, cuek aja." singkat Jeje.
"Baiklah." jawab Ana, lalu berpose dua jari.
Mereka melihat hasil fotonya, dan Ana masih penasaran apakah laki - laki itu masih memandang ke arahnya atau tidak.
Dan ternyata, laki - laki itu masih melihat dengan tatapan tajam tapi seperti penasaran kepadanya.
"Dia kenal aku atau.. dia nggak suka sama aku ya?" batin Ana yang berusaha mengabaikan tatapan laki - laki itu.
Satu orang laki - laki yang namanya Bryan, duduk disamping laki - laki itu. Dan ternyata Bryan adalah pacar Sheila.
"Bro. Jangan duduk sendirian." celetuknya.
Begitu Bryan duduk, ia disambut dengan tatapan tajam dan dingin dari laki - laki itu.
"Astaga. Kai dingin banget, kasihan pacarku yang malang." sahut Sheila sambil memberi kode pada Bryan untuk menghampirinya.
Bryan pun tidak jadi duduk disebelah Kai dan langsung menghampiri Sheila.
"Ditolak dan terus ditolak berteman dengan si kulkas 2 pintu itu ya, sayang?" tanya Sheila sambil mengelus rambut Bryan, membuat Jeje mual.
"Hum.. dia emang susah diajak gabung. Padahal dia itu cowok populer sama kayak Nathaniel kelas 12 A." keluh Bryan.
"Ouh yang tadi itu namanya Kai? Nathaniel itu siapa?"
Sheila yang cerewet, mengambil alih untuk menjelaskan kedua siswa ganteng populer itu.
"Oke. Aku bantu jelaskan, ehem. Jadi, Kai dan Nathaniel itu dulunya bersahabat tapi entah kenapa mereka itu jadi bermusuhan. Menurut rumor yang beredar sih karena keluarga. Kedua cowok itu sangat dingin dan populer. Keduanya, dulu sering balapan bersama."
"Ba-balapan?!" terkejut Ana.
"Yes. Balapan, mereka satu geng motor tapi sekarang malah jadi lawan." timpal Bryan.
"Ouh.." merinding mendengarnya.
"Udahlah. Lupakan kedua cowok gunung es itu, mending pesan makan." sahut Jeje.
Jeje diam - diam melihat ke arah Ana yang sedang mengobrol dengan Sheila dan Bryan, ia melirik juga ke arah meja sebrang, Kai yang sedang duduk mengunci pandangannya ke arah Ana.
Jeje curiga, tak pernah Kai seperti ini sebelum kedatangan Ana.
"Dia udah kayak singa yang mantau santapannya. Segitunya banget.." batin Jeje.
Kai langsung membuang muka ketika ia tahu, Jeje curiga kepadanya.
Selesai makan siang di kantin, siswa siswi pun kembali ke kelas mereka masing - masing dan kebetulan juga Ana sedang mengikuti Jeje ke perpustakaan untuk mencari buku Geografi.
"Nanti aku catat halaman apa aja, Je?" tanya Ana sambil jalan disampingnya.
"Ah, itu. Kamu tinggal catat aja yang halaman 123-125. Emang lumayan banyak sih, ta-" belum selesai Jeje menjelaskan, tiba - tiba mereka dikejutkan Kai yang berjalan mendahului mereka untuk menuju Perpustakaan dan sempat menyenggol pelan bahu Ana.
"Maaf." singkatnya, sempat menoleh tapi langsung pergi dengan tatapan dingin.
"Dia itu kenapa sih?" heran Jeje, menggeleng pelan.
Ana hanya diam, melihat punggung laki - laki itu yang semakin menjauh.
"Sikapnya aneh banget." batin Ana.
"Kamu nggak apa - apa, Na?" khawatir Jeje karena Ana melamun.
"Huh? Oh, aku nggak apa - apa kok." jawabnya lalu tersenyum.
Sesampainya di perpustakaan, Ana dibuat terkejut dengan kehadiran Kai yang entah kenapa selalu membuat jantungnya berdegup kencang.
Ternyata laki - laki itu sedang duduk membaca buku tapi ketika melihat Ana datang, tatapannya langsung tak bisa ditebak oleh Ana.
"Dia tuh lagi marah atau biasa aja? Gitu banget natapnya." Ana memelankan suaranya, nyaris tak terdengar.
"Ada apa, Na? Kamu ngomong apa?" tanya Jeje.
"Eh- nggak kok. Nggak ngomong apa - apa."jawab Ana dengan cepat.
Setelah mengambil buku Geografi, Ana dan Jeje pun akan kembali ke kelas. Tapi saat akan keluar dari perpustakaan, ternyata Kai sudah tidak ada lagi di meja perpustakaan.
"Apa yang tadi beneran si Kai??" tanya Jeje sedikit merinding.
"Ish Jeje. Jangan takut - takutin aku gitu, ah." timpal Ana, sedikit mengelus tengkuk lehernya.
"Hahaha! Bercanda kok, Na. Yaudah ayo pergi ke kelas." celetuk Jeje.
Ana hanya mengangguk dan tersenyum.
Sesampainya di kelas, ternyata benar saja Kai sudah ada di kelas.
"Lah cepet banget dia udah masuk ke kelas." sahut Jeje, membuat Ana refleks mengangguk setuju.
Ana pun duduk dikursinya, dan tak lama semua siswa dikelas itu kecuali Kai langsung berlari ke arah jendela.
"Mereka kenapa?" tanya Ana dalam hati, lalu melirik ke arah Kai yang sedang mencatat dan memandang ke arahnya.
Ana dengan cepat mengalihkan pandangan, dan beranjak dari kursi untuk melihat apa yang terjadi.
Semua orang sangat antusias seperti kedatangan artis ke Sekolah.
Ternyata..
Seorang laki - laki dengan kemeja seragam yang dikeluarkan sebelah dan potongan rambut sedikit teracak namun tampan.
Dia adalah Nathaniel, baru saja masuk setelah berlibur dari Jepang.
"Hah?! I-itu kan, orang yang rebut jepit rambut aku di Mall. Kok dia bisa disini? Apa jangan-jangan..." batin Ana, ia khawatir laki - laki itu bisa mengenali wajahnya ketika tanpa makeup dan sekarang.
Laki - laki itu tidak melihat ke arahnya, karena ia berjalan bersama teman - temen dengan tatapan yang arogan.
"Huft.. untung nggak liat kesini." celetuk Ana.
"Maksudnya, Na?" tanya Jeje bingung.
"Hah? Nggak kok hehe." terkejut Ana, ketika tiba - tiba Jeje muncul dibelakangnya.
"Dia ternyata udah pulang dari liburan ke Jepang. Pasti sebentar lagi, dia berantem dengan Kai." jelas Sheila.
"Jadi dia adalah Nathaniel yang di maksud Sheila?" batin Ana.
Pak Bambang memarahi mereka yang tidak masuk ke kelas masing - masing.
"HEY! MASUK KE KELAS KALIAN, SEKARANG!" teriak Pak Bambang.
Mereka pun pada berlarian masuk ke kelas dan yang sedang menengok ke jendela pun langsung duduk rapi dikursi masing - masing.
"Ana. Nanti pulang sekolah, kita beli dulu ke Kedai toppoki yang seberang jalan itu. Mau ya?" ajak Sheila dengan ekspresi memohon.
Ana tak sampai hati menolaknya walaupun ia juga sebenarnya mau pulang bareng adiknya, Raka.
"Baiklah. Aku mau ikut kalian."
Sheila langsung mengacungkan jempol kepada Jeje, dan Jeje hanya melempar senyum sambil menyelipkan rambut hitam lurus sebahunya.
Tak terasa sudah, pelajaran pun berakhir dan bel pulang berbunyi. Semua tampak antusias pulang, sedangkan Kai ia masih berjalan ke arah ruang guru.
"Pak, untuk Olimpiade Sains sudah ditentukan tanggal berapa?" tanya Kai tanpa ekspresi.
"Hahaha akhirnya kamu ikut serta juga. Baiklah, tanggal 11 November Olimpiade Sains-nya. Jadi kamu bisa persiapkan dari sekarang." timpal Pak Bambang, Wakil Kepala Sekolah.
#Bersambung...