NovelToon NovelToon
Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: S.Lioré

Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.

Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.

Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.

Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahan… atau melepaskan?

Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strawberry Milkshake

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 Hari baru yang berbeda bagi Aluna. Setelah makan siang tadi, ia segera mencari tempat terbaik untuk menghabiskan waktu yang tersisa. Memilih perpustakaan untuk menikmati kesendiriannya, Aluna kembali berkutat dengan buku dan alat tulis.

 Dua puluh menit lagi sebelum kelas kembali di mulai. Namun, tepukan seseorang di pundak kanan Aluna berhasil menginterupsi fokus si cantik Aluna Savira Wicaksana dari buku yang sedang dibaca.

 “Kakak?” sebut Aluna tanpa suara sedetik ia menoleh dan paham siapa gerangan yang datang untuk menyapa.

 Siswa tersebut tersenyum hangat. Lalu melangkah untuk menempatkan diri di kursi seberang meja. Tanpa kata, ia menunjukkan layar ponsel yang menyala. Di sana tertulis: Apa kamu sibuk? Aku ingin bicara sebentar.

 Tanpa ragu, Aluna menggeleng tanpa melepas senyum simpul itu. Ia pun tidak mengulur waktu untuk mengemas barang dan berjalan berdampingan menuju pintu keluar.

 “Tadi Kakak mencarimu ke atap dan UKS. Beruntung ada yang melihatmu di sini, jadi Kakak bisa menemuimu,” ujar siswa itu setelah dirasa sudah keluar dari zona ‘HARAP TENANG’ tersebut.

 Aluna yang mendengar itu tersenyum. Niat hati ingin menjawab, tetapi ‘Kakak’-nya kembali bersuara, “Kenapa sendirian? Dimana Alea?”

 “Hari ini Alea tidak masuk sekolah. Dia sedang sakit, Kak.”

 Si pendengar mengangguk ringan.

 “Ohya, bagaimana kabar Kakak?”

 “Kakak baik. Bagaimana denganmu?” sambutnya bersamaan kepala yang menoleh. Senyumnya kian mengembang saat tatapan mereka bertemu dan melihat Aluna dengan air muka yang bahagia menggambarkan keadaannya.

 “Aluna juga baik, Kak.”

 “Syukurlah,” sambutnya lega.

 Langkah keduanya berhenti di bangku yang tidak jauh dari perpustakaan. Duduk berdampingan seakan tidak ada kecanggungan yang membersamai kala waktu mereka miliki bersama.

 Sebuah kotak berukuran 8cmx8mx3,5cm berwarna dasar putih dan maroon pada tutupnya, siswa itu keluarkan dari saku jas tidak lama setelah mereka duduk di sana.

 “Ini,” katanya bersamaan tangan terulur. “Nara membuat ini khusus untukmu,” lanjutnya menjelaskan setelah melihat Aluna terlihat bingung.

 Mendengar embel-embel ‘Nara’ , keraguan Aluna sirna begitu saja. Dengan antusias dia menerima dan mencari tahu benda apa yang disembunyikan oleh kotak kado yang diikat dengan benang putih itu.

 “Waaah …,” kagumnya begitu mendapati dua gelang manik menyapa penglihatan.

 Aluna mencuri pandang si pemberi yang masih setia mengulum senyum. Kemudian, dengan rasa bahagia ia memindahkannya pada pergelangan tangan kanan yang masih kosong.

 “Ini imut sekali. Terima kasih banyak, Kak Saka,” imbuhnya seraya memandang intens satu-satunya manik berwarna kuning dengan ‘smiley face’ di permukaan.

 “Nara bilang dia rindu kamu. Makanya, dia menyuruh Kakak memberikan ini sejak empat hari lalu. Tapi, maaf, ya, Kakak baru bisa kasihkan ke kamu sekarang.”

 Ekspresi antusias Aluna berubah seketika.

 “Aluna paham kesibukan Kakak. Kenapa Kakak nggak telepon Luna saja? Jadi, Kakak nggak perlu repot-repot mencari Luna. Pasti Nara terus bertanya ke Kakak, ‘kan, apa gelangnya sudah dikasihkan apa belum?”

 Saka tersenyum canggung. Tebakan Aluna tidaklah salah. Adik semata wayangnya memang melakukan hal yang Aluna katakan. Bagi Nara, Aluna adalah sosok kakak yang layak dia sayangi seperti kakaknya sendiri, Saka Adiwarna.

“Iya. Kamu benar, Lun,” ujar Saka membenarkan.

Senyum Aluna mengembang sempurna.

“Oh, iya! Bagaimana kalau sepulang sekolah nanti Aluna pergi menemui Nara? Boleh, ya, Kak. Mumpung Aluna tidak ada les hari ini. Please ….”

 Puppy eyes Aluna menatap tepat mata Saka. Kedua tangannya juga berada di depan dada guna memohon persetujuan.

 “Iya,” final Saka yang langsung membuat Aluna bersorak dengan nada lirih. Menambah rasa yang Saka coba tahan sekuat-kuatnya dalam dada; seorang diri, selama ini.

 “Tapi, Kakak ada latihan. Kalau Aluna mau, Aluna bisa pergi dulu,” jelas Saka.

 “Tidak apa-apa, Kak. Aluna akan tunggu Kakak.”

 “Ok!”

 Bel masuk yang berdering menjadikan pertemuan mereka harus disambung sepulang sekolah nanti. Dengan ucapan terima kasih atas pemberian dari Nara dan usaha Saka untuk menyampaikan amanah, Aluna segera pamit undur diri.

 “Bye, Kak Saka,” kata Aluna berlalu bersama lambaian serta senyuman yang tidak akan bosan Saka rindukan.

...***...

 Napas berat yang berembus dari mulut Aluna menjadi final dari lamunan petang ini. Seorang diri, dia sedang duduk di salah satu kursi penonton di tepi lapangan sepak bola sekolah guna menunggu Saka.

 Ia merasa lega, sebab jam sekolah sudah berakhir dan kemungkinan besar hanya sebagian kecil dari siswa-siswi yang masih berkeliaran di halaman sekolah. Tidak termasuk manusia yang sedang Aluna coba hindari—Bintang.

 Terbiasa meneliti akan rutinitas siswa itu, Aluna sampai hafal kapan si pemuda Atmadja akan memiliki jadwal ekstra di sekolah.

 “Hai?” sapa seseorang memasuki rungu Aluna.

 Menoleh ke kanan dan kelopak matanya melebar.

Aluna sedang menjumpai dia yang dikira sudah pulang tengah berdiri dengan senyum yang sama hangatnya dengan mentari yang sedari tadi memeluk dirinya.

 “B-Bintang?” gumamnya terkejut.

 Bintang mendekat dan duduk tidak jauh dari Aluna.

 “Ini buat lo,” kata Bintang selagi menyodorkan segelas strawberry milkshake.

 Bintang dapat merasakan keraguan yang menjadikan Aluna tidak segera mengambil pemberiannya. Lantas, dia membuka suara lagi, “Ambillah. Gue sengaja beli buat lo karena tadi gue nggak sengaja lihat lo masih di sini.”

 Enggan menolak kebaikan tersebut, Aluna pun menerima dengan jemari yang sedikit bergetar.

 “Terima kasih,” ucap Aluna seraya melingkarkan jari-jarinya pada tubuh gelas plastik pemberian Bintang.

 “Terima kasih kembali. By the way, kenapa lo belum pulang?”

 “Aku sedang menunggu Kak Saka.”

 Bintang mengarahkan pandangan menuju tim sepak bola yang masih berlatih. Lalu dia kembali melihat Aluna dengan penasaran.

 “Kalian saling kenal?”

 Yang ditanya mengangguk. “Iya. Kak Saka adalah anak sahabat ibu,” jelas Aluna.

 “Oh~” Bintang mengangguk paham.

 Aluna menunduk. Ada perasaan takut yang menggelayut dalam dada begitu dia sadar bahwa mereka masih berada di kawasan sekolah. Meski demikian, rasa bahagia juga dia rasakan ketika melihat milkshake kesukaannya tengah berada di genggaman.

 “Sebenarnya, gue cari lo dari tadi,” ungkap Bintang tak melepas pandang dari Aluna yang tertunduk.

 Mata mereka bertemu.

 “Kenapa?” telisik Aluna dengan kening berkerut.

 “Gue dengar Alea nggak masuk sekolah. Jadi, gue mau temani lo makan siang, tapi gue nggak bisa nemuin lo. Hehehe,” jelas Bintang diakhiri kekehan kecil yang disertai garukan pada tengkuk.

 Aluna membuang pandang pada tanah lapang. Dia tidak langsung menanggapi karena masih ada keraguan dalam dirinya untuk meyakini itu.

 “Oh, aku tadi diam di perpustakaan.” Senyum gadis itu membersamai jawabannya.

 “Lo nggak makan siang?” tanya Bintang cepat.

 “Maksudku, setelah makan siang tadi aku langsung ke perpustakaan,” jelas ulang Aluna.

 “Oh~ Gue paham.”

 Aluna tersenyum canggung. Namun hatinya segera menghangat begitu Bintang bilang, “Cepat lo minum milkshake-nya. Bukannya lo suka minum itu?”

 Meremas gelas plastik itu sepersekian detik, ia pun lalu berkata, “Iya. Terima kasih.”

 “Gue kira Bintang itu pacarnya Kaila,” kata seseorang dari gerombolan yang kini asyik memusatkan perhatian pada dua insan di bangku penonton.

 Kegiatan latihan begitu saja terbengkalai manakala satu dari anggota mereka menangkap interaksi Bintang dan Aluna. Begitu ia memberitahu yang lain, maka muncullah tanggapan-tanggapan penuh terkaan atas hubungan keduanya.

 “Wah?! Apa mereka pacaran?”

 “Bukankah mereka terlihat serasi?”

 “Gue nggak pernah lihat Bintang dekat dengan gadis selain Kaila.”

 “Oh, tidak! Hati gue patah lihat Aluna dengan dia.”

 “Bintang dan Aluna? Wah, itu luar biasa!”

 “Bukankah aku lebih baik dibandingkan dengan Bintang?”

 “HEI?! APA YANG KALIAN LAKUKAN?” teriak Saka selaku kapten tim ketika melihat anggotanya berhenti berlatih. “Cepat lanjutkan kegiatan!” perintahnya begitu ia melempar bola pada yang lain.

 “Baik, Kapten!” seru mereka.

 Dalam diam, Saka memandang lamat siapa yang baru saja menjadi buah bibir anggotanya. Termenung sesaat, lalu dia menjadi orang terakhir yang bergabung dengan yang lain.

...***...

 Mobil Saka berhenti di depan pagar rumah keluarga Aluna. Mencerna persona di kursi penumpang–tepat di sebelahnya–setelah mematikan mesin, Saka mengulas senyum.

 “Kak Saka, terima kasih, ya, sudah antar Aluna,” kata Aluna setelah melepas seatbelt.

 Saka menggeleng. “Seharusnya Kakak yang bilang terima kasih.”

 Aluna tersenyum simpul.

 “Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mengunjungi Nara.

 Kini, Aluna yang menggeleng. “Aluna minta maaf karena baru mengunjunginya. Semoga kedepannya Aluna bisa lebih sering lagi untuk bermain dengan Nara.”

 Saka mengangguk dan kembali merekahkan senyum.

 “Terima kasih,” katanya seraya mengusap ujung kepala Aluna.

 “Aluna turun dulu, Kak. Kakak hati-hati di jalan.”

 “Iya.”

 Begitu Aluna bergerak untuk membuka pintu, panggilan Saka menghentikannya. Kembali menghadap Saka, Aluna dapat dengan cepat mengerti kalau Saka sedang ragu untuk menyampaikan sesuatu.

 “Ada apa, Kak? Katakan saja,” pinta Aluna dengan lembut.

Netra yang memancarkan ketenangan milik Aluna membuat Saka membulatkan keberanian untuk menanyakan sesuatu yang menyita pikirannya.

“A-apa kamu dan Bintang sedang berpacaran?” tanya Saka hati-hati.

 Napas Aluna tertahan. Dia tidak menyangka bahwa satu hal yang ditakuti sudah menjadi sebuah pertanyaan di depan mata.

 Seraya mengepalkan tangan di atas paha, Aluna menjawab, “Kami hanya berteman, Kak.”

 Untuk Saka, jawaban itu sudah cukup untuk melegakan hati dan minda.

 “Hati-hati.”

 Aluna memiringkan kepala.

 “Ini pertama kalinya Kakak lihat kamu dekat dengan cowok selain Kakak. Jadi, Kakak harap kamu jaga diri baik-baik, ya.”

 Bagai pesan seorang kakak kandung untuk sang adik tersayang, Saka mengingatkan.

 “Iya, Kak Saka. Terima kasih.”

 Lagi, Saka mengangguk dan tersenyum. Dia kemudian mengusir Aluna secara halus karena malam makin larut.

 Lambaian Aluna mengiringi kepergian kuda bermesin berwarna hitam itu. Sampai hilang dari pandangan mata, barulah lambaian tersebut Aluna akhiri.

 “Aluna juga nggak tahu, Kak. Di satu sisi Aluna tidak ingin berharap, dan di sisi yang lain Aluna sangat berharap,” gumam Aluna lirih seakan sedang berbagi rasa dengan Saka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!