Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Konfrontasi di Pantry
"Gue perhatikan, lo minum kopi hitam lebih banyak daripada air putih hari ini, Bu Manajer."
Suara berat yang sengaja dibuat bernada jenaka itu menyela keheningan pantri lantai lima belas. Riana sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari mesin pembuat kopi otomatis di depannya. Tetesan cairan pekat berwarna hitam perlahan memenuhi cangkir kertasnya, menyebarkan aroma kafein yang sangat tajam dan kuat ke seluruh sudut ruangan kecil tersebut.
Jace melangkah masuk dengan langkah santai, menyandarkan gagang sapunya di dinding dekat pintu masuk pantri. Pria itu sengaja naik dari lantai delapan tepat setelah mendengar pengumuman pembatalan operasi militer tadi. Berseragam petugas kebersihan berwarna biru muda, Jace bersandar pada meja pantri, tepat di sebelah Riana. Jarak mereka berdua cukup dekat, menyisakan ruang yang sangat minim untuk ukuran dua orang rekan kerja.
"Bukan urusan lo, Jace," balas Riana datar tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya terulur mengambil cangkir kopi yang sudah penuh itu. "Tugas lo di gedung ini cuma menyapu debu dan mengepel lantai, bukan menghitung asupan cairan Manajer HRD."
Jace tertawa pelan. Tawanya terdengar renyah, tapi mata elangnya yang tersembunyi di balik poni rambut berantakan itu menatap tajam setiap inci pergerakan Riana.
Sebagai bos sindikat mafia saingan yang sedang menyusup, Jace punya insting predator yang sangat kuat. Dia tahu ada yang tidak beres dengan perempuan berkacamata tebal ini.
Keberanian Riana menantang Boni sang komandan pasukan tempur lewat pengeras suara tadi bukanlah keberanian orang kantoran biasa. Itu adalah nyali murni dari seseorang yang tahu cara membunuh.
"Galak banget sih, Bu," goda Jace tidak menyerah. Dia memajukan tubuhnya sedikit, mencoba memangkas jarak di antara mereka. "Aku cuma khawatir. Kopi hitam itu bikin debar jantung jadi tidak beraturan. Apalagi Ibu baru saja membatalkan operasi militer anak buah Pak Boni. Semua orang di gedung ini tahu kalau Pak Boni itu psikopat gila yang suka main pisau."
"Gue Manajer HRD. Gue tidak peduli dia psikopat atau malaikat. Selama dia makan gaji dari perusahaan ini, dia tunduk sama aturan gue," jawab Riana dingin. Dia meniup pelan uap panas yang mengepul dari cangkir kopinya.
Riana baru saja berniat membalikkan badan untuk keluar dari pantri, tapi Jace tiba-tiba menggeser tubuh besarnya, sengaja memblokir jalan Riana.
Ruang gerak Riana terkunci di antara meja pantri dan tubuh tegap Jace. Perempuan itu mendongak, menatap lurus ke arah Jace dengan sorot mata di balik kacamata yang mengeras dan mematikan.
"Minggir," perintah Riana dengan suara rendah yang sangat mengancam.
"Nanti dulu, Bu. Ada satu hal yang bikin aku penasaran setengah mati dari tadi," ucap Jace dengan nada suara yang perlahan berubah. Tidak ada lagi nada jenaka khas petugas kebersihan bodoh. Suara Jace kini terdengar sangat berat, dalam, dan penuh selidik.
Jace menundukkan pandangannya, menatap tajam ke arah tangan kanan Riana yang sedang memegang cangkir kopi panas tersebut.
"Tangan Ibu sangat menarik," bisik Jace memecah kesunyian pantri.
Riana tidak berkedip sama sekali. Dia membiarkan Jace berbicara tanpa berniat memotong.
"Perempuan kantoran yang kerjanya cuma mengetik di depan layar komputer, tangannya pasti halus dan lembut," lanjut Jace, jarinya menunjuk ke arah buku-buku jari Riana tanpa menyentuhnya. "Tapi tangan Ibu penuh dengan kapalan yang sangat tebal. Di pangkal jari telunjuk dan ibu jari bagian dalam. Coba tebak, pekerjaan apa yang bisa membuat telapak tangan kapalan persis di dua titik spesifik itu?"
Keheningan mutlak menyergap pantri tersebut. Udara dingin dari mesin pendingin ruangan terasa semakin menusuk tulang.
"Orang yang setiap hari memegang gagang pisau taktis dan sering menahan pelatuk pistol otomatis," jawab Jace sendiri, menjawab pertanyaannya dengan senyum miring yang sangat mematikan. "Itu bukan tangan seorang lulusan manajemen sumber daya manusia. Itu murni tangan seorang pembunuh profesional."
Riana tetap diam sekeras patung es. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda panik, terkejut, atau ketakutan karena identitas aslinya nyaris dikuliti hidup-hidup oleh seorang petugas kebersihan rendahan.
"Lo tahu apa hukuman untuk staf yang berani melecehkan atasan dengan menganalisis fisik mereka tanpa izin dan berbicara tidak sopan?" tanya Riana membalas telak, mengalihkan topik dengan menggunakan tameng birokrasinya kembali.
"Ibu mau memecat aku sekarang?" tantang Jace tertawa pelan, wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Ayo kita buktikan, Bu HRD. Buka kacamata culun itu dan tunjukkan siapa Ibu sebenarnya. Siapa monster berdarah dingin yang sedang bersembunyi di balik seragam kantoran ini."
Mendengar provokasi telak yang nyaris menguliti identitas aslinya itu, insting membunuh Riana langsung meledak di dalam darahnya. Dia tidak butuh senjata api untuk menghabisi pria lancang ini.
Riana tidak memukul, tidak menampar, dan tidak mencabut senjata apa pun. Perempuan itu hanya menatap mata Jace dengan tatapan kosong yang luar biasa mengerikan.
Dengan gerakan yang sangat santai, luwes, dan tanpa keraguan sedikit pun, Riana memiringkan cangkir kertas di tangan kanannya.
Cairan kopi hitam pekat yang baru saja mendidih di mesin pembuat kopi itu langsung tumpah membasahi celana dan sepatu bot petugas kebersihan milik Jace. Uap panas langsung mengepul dari kain celana pria itu.
"Sialan!" umpat Jace kaget, refleks melompat mundur ke belakang sambil mengibaskan celananya yang tersiram cairan mendidih. Panas kopi itu langsung menembus kain seragamnya, membakar kulit kakinya dengan rasa perih yang menyengat tajam.
Jalan keluar kini terbuka lebar. Riana merapikan kerah kemeja putihnya yang sama sekali tidak bernoda. Dia memegang cangkir kopinya yang sudah kosong separuh dengan gaya sangat elegan, lalu melangkah maju melewati Jace yang masih meringis menahan panas.
Riana berhenti sejenak tepat di samping telinga Jace.
"Tangan ini memang kasar karena gue sering menghukum karyawan rendahan yang tidak tahu batasan jarak profesional," bisik Riana sedingin es balok. "Bersihkan tumpahan kopi di lantai ini sampai mengkilap. Kalau sepatu lo rusak, potong saja dari gaji bulanan lo yang tidak seberapa itu. Jangan pernah coba-coba menguji batas kesabaran gue lagi, Jace."
Riana melangkah keluar dari pantri tanpa menoleh ke belakang lagi. Ketukan sepatu hak tingginya terdengar konstan dan menjauh, menyisakan Jace yang berdiri mematung di dalam ruangan beraroma kopi tersebut.
Jace menghentikan gerakan mengibas celananya. Rasa panas di kakinya sama sekali tidak dia pedulikan. Mata tajam pria itu menatap lekat punggung Riana yang perlahan menghilang di ujung lorong lantai lima belas. Senyum bodoh Jace langsung luntur tak berbekas, digantikan oleh raut wajah mafia yang sangat buas dan penuh perhitungan.
"She is dangerous," bisik Jace dalam bahasa Inggris, matanya berkilat penuh kekaguman sekaligus kewaspadaan tingkat tinggi. "Dia sangat berbahaya. Benar-benar monster yang sempurna."
Jace baru saja berniat mengambil gagang sapunya kembali saat telinganya yang sangat peka menangkap sebuah bunyi yang amat sangat pelan. Bunyi itu berasal dari arah luar pantri.
Mata Jace langsung menyapu cepat area lorong utama. Pandangannya tertuju pada ujung langit-langit lorong, tempat sebuah kamera pengawas keamanan terpasang menghadap ke arah ruangan HRD. Lampu indikator merah kecil yang biasanya selalu berkedip tanda merekam, mendadak mati total. Layar lensa kamera itu turun ke bawah, menandakan mesinnya baru saja dimatikan secara paksa dari sistem pusat.
Jace menyipitkan matanya. Jantungnya berdetak satu kali lebih cepat.
Kamera pengawas tidak pernah mati secara kebetulan di gedung markas mafia Aegis Corp. Mematikan sistem keamanan hanya dilakukan saat tim pembunuh elit sedang membersihkan area sebelum mereka melakukan eksekusi rahasia agar tidak ada bukti rekaman sama sekali.
Boni tidak main-main dengan ancaman balas dendamnya. Komandan pasukan tempur itu tidak berniat membiarkan targetnya bernapas lebih lama lagi. Boni menggerakkan algojo berpisau beracunnya sekarang juga, dan target utama mereka saat ini sedang duduk sendirian di dalam ruangan HRD tanpa pengawalan sama sekali.
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪