Rafael Hutama, sang putra sulung keluarga Hutama terjebak one night stand dengan Milea yang datang untuk mencari sang dosen pembimbing sesuai alamat yang tertera di data kampusnya. Tentu saja Rafa yang berada dibawah pengaruh obat tak bisa berpikir jernih hingga berakhir di tempat tidur bersama Milea. Sebagai pria keluarga terpandang tentu dia berniat menikahi Milea. Tapi anehnya Milea malah menolak. Bagaimana bisa dia menerima pertanggung jawaban Rafael jika yang dia cintai adalah Richard Hutama, sang adik yang juga merupakan dosennya di kampus??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sushanty areta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasihat
Millea mengikuti langkah panjang Rafael menuju ruang keluarga dimana Leon dan papa mertuanya berdiri menunggu mereka. Mata Ken berkaca. Hari ini anak perempuannya menikah dan sudah jadi tanggung jawab orang lain. Dia tau Milea tak menginginkan pernikahan ini. Sebagai seorang ayah, Ken hanya ingin yang terbaik bagi putrinya. Dia dan Leon sepakat soal ini...jika hanya Rafael yang pantas untuk Milea yang amat polos dan naif.
"Papa, Milly pamit dulu." Milly memeluk erat pria paruh baya itu dengan mata berbinar. Kondisi terbalik seperti yang dialami Ken Ibrahim yang terlihat bersedih. Hanya Rafael lah yang paling tau alasan Milly bahagia seperti sekarang. Dia masih ingat alasan itu sebelum dirinya memilih istirahat di kamar Leon tadi.
"Milly jadilah istri yang baik seperti mamamu sayang. Turuti suami dan mertuamu. Jangan membuat malu papa di hadapan keluarga Hutama." nasihatnya diangguki Milly yang langsung beralih memeluk Leon penuh semangat.
"Nak Rafa, titip Milea ya. Kadang dia memang manja dan kekanakan. Tolong bersabarlah menghadapi Milly." Rafael mengangguk seraya mencium tangan mertuanya. Ken Ibarahim hingga terkejut karenanya. Tuan muda Hutama ini begitu sopan.
"Iya papa. Saya akan berusaha menjaga Milly dengan baik." Ken tersenyum lebar. Memilih Rafael sebagai menantunya atau tepatnya terpilih menjadi mertua seorang Rafael adalah kebanggan tersendiri baginya.
"Lee..kami pamit dulu." Leon segera membuka pintu dan membantu Rafa membawa tas Milly ke mobil.
"Raf...." panggil Leon saat mereka baru saja menutup bagasi mobil mewah Rafa.
"Ya."
"Aku masih berharap kau dan Milea..."
"Huallahuallam bishowab Lee. Hidup, mati, rejeki dan jodoh itu hak Allah yang sudah tertulis di luahul mahfuz." Leon terkesiap mendengar jawaban sahabatnya itu. Dia tau Rafa selalu menghadapi sesuatu dengan amat bijak. Sikapnya juga tak pernah berubah pada dirinya maupun papanya. Rafa tetap baik dan sopan walau tau seperti apa Milea.
"Setidaknya aku akan berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan kalian."
"Terimakasih Lee." Rafa menepuk lengan sahabatnya hingga Leon memeluknya erat seakan mereka akan berpisah dalam waktu lama.
"Titip adikku Raf." lirihnya diangguki Rafa sebelum membuka pintu mobil dan duduk disamping Milea. Klakson segera dibunyikan diiringi lambaian tangan Leon dan Ken yang sama -sama terlihat bersedih.
"Aku ingin membuat perjanjian denganmu tuan Rafael." Milly mulai bersuara saat mereja sudah melewati gerbang rumahnya.
"Perjanjian?" ulang Rafa seraya menatap lurus ke depan, sama sekali tak berminat menatap Milea.
"Ya. Kita tak saling cinta. Maka pernikahan ini akan harus di dasari perjanjian."
"Apa maumu?"
"Aku ingin kita tidur terpisah, tidak saling menganggu dan menghargai privasi masing-masing." ujar Milea penuh keyakinan. Rafa hanya diam, tak menanggapi hingga Milea merasa kesal karenanya.
"Tuan Rafa, aku bicara denganmu!" ketusnya hingga sopir yang mengemudikan mobil mereka berjingkat, melirik takut dari kaca depan.
"Yang kau tinggali adalah rumah orang tuaku, bukan rumahku. Jika kau minta hal itu, mintalah pada orang tuaku karena aku tak bisa membuat peraturan disana." jawab Rafa enteng seolah tak merasa berdosa. Milea mengepalkan tangannya.
"Jika kau tak sanggup membeli rumah sendiri untuk apa menikah? kau ini selalu kalah satu langkah dari pak Richard. Dia bahkan sudah punya apartemen mewah itu sebelum menikah." Rafa hanya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya berlahan. Kali ini dia harus meredam emosi dan belajar bersabar.
"Terserah kau saja."
"Jangan dekat-dekat denganku saat ada pak Richard." pintanya lagi.
"Kenapa tak sekalian minta pisah saja?"
"Tidak sekarang. Aku butuh kau untuk mendekati pak Richard." Entah harus bersikap apa menghadapi gadis seperti Milly. Apa gadis ini tak sadar jika yang dihadapinya sekarang adalah tuan muda Hutama yang bahkan punya seribu kekuasaan yang bisa menghancurkan siapa saja yang dia inginkan. Dia juga suami sah yang bahkan bisa melakukan hal buruk pada istri seperti Milea yang bahkan sudah melanggar syariah. Tak ada kata ataupun hal lain yang keluar dari bibir Rafael yang memilih diam hingga mereka memasuki kediaman keluarga Hutama.
"Turunlah." Kata Rafa setelah membuka pintu istrinya. Dia menunggu hingga Milea berada disampingnya lalu berjalan masuk ke rumah.
"Asalamualaikum.." Milea tentu saja dibuat kaget karenanya. Dia yang di didik oleh keluarga biasa saja tentu tak biasa mengucap salam saat masuk ke rumah.
"Walaikumsalam...Raf, Mil, sini masuk." Milly dibuat takjub juga oleh sambutan ibu mertuanya yang amat ramah. Diamatinya Rafa yang mencium tangan momy cantiknya hingga dia tergerak ingin mengikutinya, mencium tangan sang mertua.
"Dimana dady mom?" Tanya Rafa yang tak melihat siapapun di rumah besar itu. Sofia menyuruh seorang pelayan membawa koper dan tas milik Milea ke kamar Rafael dilantai atas.
"Dadymu sedang ke tempat tante Bella. Ada yang akan dibicarakan dengan om Alex." balas sang ibu santai.
''Ehmm...momy....bisakah saya minta kamar terpisah dari tuan Rafael?" seketika semua mata tertuju pada Milea yang terlihat resah dalam duduknya. Sofia tersenyum tipis, menoleh pada putranya yang terlihat biasa saja. Tapi Sofia tau jika Rafael kecewa.
"Tidur terpisah? apa alasannya Milly?" suara lembut Sofia seakan menghipnotis Milea hingga dia membeku. Gaya elegan Sofia yang terlihat amat santun namun terkesan cerdas membuatnya kehilangan keberanian. Mama mertuanya itu terlihat punya kharisma yang sulit dibantah. Mata Milly bergerak gelisah menatap Rafael yang kebetulan juga menoleh padanya. Mereka tidak tau jika semua itu juga tak lepas dari pengamatan Sofia.
"Saya...kami...ehh..."
"Mungkin Milly merasa tidak nyaman karena kami belum saling mengenal mom. Biar Milly tidur di kamar Rafa saja. Nanti aku akan tidur di ruang kerja." Sofia terlihat berpikir sejenak, mencoba mencerna ucapan putranya. Rafael adalah duplikat Fernando, suaminya. Penguasaan emosinya tergolong sangat baik.
"Hmmmm...baiklah. Tapi hanya untuk satu bulan saja." putus Sofia kemudian.
"Tapi mom...." Milly tentu saja keberatan dengan waktu yang diberikan Sofia. Menurutnya satu bulan itu terlalu cepat.
"Milly dengarkan momy...akan berdosa seorang istri yang menolak suaminya. Istri wajib taat pada suaminya karena surga seorang istri itu berada pada ridho suaminya. Jangan jadi wanita yang akan menjadi penghuni neraka jika kau bisa menjadi ahli surga." Nasihat Sofia lembut namun penuh penekanan. Milea hanya mengangguk pasrah.
"Baik mom." sahutnya kemudian.
"Hmmm sekarang sudah malam, kalian istirahatlah." Sofia memberi isyarat pada pelayan tadi agar mengantar Milea ke kamar Rafa.
"Selamat malam mom." pamit Milea sebelum meninggalkan ruang tamu.
"Selamat malam juga sayang, semoga mimpi indah yaa." sahut Sofia lugas. Pandangannya beralih pada putranya.
"Apa yang kau inginkan Raf?" Rafael mendekati ibunya, mengenggam tangan wanita yang melahirkannya lembut.
"Biarkan Milea nyaman dirumah ini mom. Pernikahan ini sudah membuatnya tertekan."
"Tertekan?"
"Ya. Dia....."
"Jatuh cinta pada Richard." ucap Sofia memotong keragu-raguan putra sulungnya. Seketika Rafael mendongak.
"Momy tau?"
"Ya."
"Lalu kenapa momy malah menikahkan aku dengannya? kenapa tidak menikahkannya dengan Richard agar dia bahagia?" Rafa hingga meremas tangan momynya karena perasaannya yang sedang campur aduk sekarang.
"Kenapa kau tak bertanya apa Richard mencintainya atau tidak?"
"Mom mereka..."
"Milea akan berada dalam kesulitan besar jika dia menikah dengan Richard. Adikmu itu....Ahh. Kau tau sendiri jika dia sangat terobsesi dengan Shania. Milea terlalu lemah untuk hidup dibawah bayang-bayang masa lalu orang lain."
"Lalu momy mengorbankan aku?"
"Bukan mengorbankan sayang, tapi berusaha mencarikanmu jodoh terbaik. Tak ada orang tua yang menginginkan penderitaan bagi anak-anaknya Raf. Percayalah pada momy, suatu saat kalian akan bahagia." Rafa tertegun. Apa kali ini dia harus percaya perkataan momynya?
"Rafael dengarkan momy....cukup jalani saja, biarkan takdir yang bicara. Hidup harus ikhlas nak."
iki onok nofel kocak