Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Retaknya Sang Gunung Es dan Rahasia di Balik Lensa Jendela
Dengungan kipas angin yang menempel di langit-langit ruang kelas terasa seperti melodi pengantar tidur yang paling mematikan bagi puluhan mahasiswa Akuntansi siang itu. Udara bulan Mei di Bandung mulai terasa gerah, menyusup melalui ventilasi jendela yang terbuka separuh. Di depan kelas, suara bariton Pak Budi yang sedang menjelaskan tentang neraca saldo dan arus kas terdengar mendengung, datar tanpa intonasi, bagaikan siaran radio AM yang kehilangan sinyal. Sebagian besar mahasiswa sudah menyerah pada gravitasi; ada yang menopang dagu dengan mata setengah terpejam, ada yang sibuk mencoret-coret buku catatan dengan gambar abstrak, dan ada pula yang diam-diam membalas pesan di bawah laci meja.
Namun, tidak dengan Alan. Pemuda itu duduk tegak di barisan ketiga, matanya fokus menatap papan tulis putih yang penuh dengan angka-angka rumit. Tangannya dengan cekatan mencatat poin-poin penting. Baginya, setiap detik di ruang kelas ini adalah investasi. Ia tidak punya kemewahan untuk bersantai atau mengulang mata kuliah. Di benaknya, deretan angka di papan tulis itu bukanlah sekadar teori akuntansi, melainkan kalkulasi nyata tentang berapa banyak sisa gajinya dari Cafe Nuansa yang bisa ia kirimkan ke kampung halaman bulan ini.
Tepat saat jarum jam dinding menunjuk ke angka dua belas lewat lima belas menit, sebuah suara yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh penghuni kampus akhirnya bergema memecah keheningan yang menyiksa.
Kriiiiing!
Bel istirahat berbunyi nyaring, menjalar ke seluruh penjuru gedung fakultas. Pak Budi menghentikan spidolnya di udara, menghela napas panjang melihat raut wajah para mahasiswanya yang mendadak cerah seolah baru saja mendapat pengampunan dosa. "Baiklah, kita cukupkan materi hari ini sampai di sini. Jangan lupa pelajari bab empat untuk kuis minggu depan," tutupnya, yang langsung dijawab dengan paduan suara "Baik, Pak!" yang sarat akan ketidaksabaran.
Belum sempat Pak Budi melangkah keluar dari ambang pintu, sebuah siluet melesat dengan kecepatan kilat dari barisan belakang. Ardi, yang sejak sepuluh menit lalu sudah memasukkan semua bukunya ke dalam tas secara diam-diam, melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya.
Randi, yang masih sibuk menguap lebar sambil meregangkan otot-otot lengannya yang kaku, menatap punggung Ardi yang menghilang di belokan koridor dengan tatapan mencemooh. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis.
"Tuh bocah kebiasaan banget, kaya kebelet aja," gerutu Randi sambil menyampirkan tas selempangnya yang sudah buluk. "Urusan perut aja nomor satu, giliran disuruh ngerjain tugas kelompok otaknya loading setengah jam."
Rahmi, yang duduk tepat di depan Randi, membalikkan badannya sambil merapikan alat tulisnya ke dalam kotak pensil berbahan kanvas. Ia mendengus pelan mendengar keluhan Randi. "Lu juga sama aja, Ndi! Gak usah sok suci deh," balas Rahmi dengan nada sarkas yang bersahabat. "Kemarin siapa yang ninggalin gue sama Alan ngerjain makalah gara-gara denger ada promo ayam geprek di kantin ujung? Coba ngaca dulu sana di spion motor."
Randi hanya memamerkan cengirannya yang lebar tanpa dosa. "Ya namanya juga mahasiswa kosan, Mi. Kesempatan diskon itu ibarat anugerah yang pantang ditolak. Ya gak, Lan?"
Alan, yang baru saja selesai merapikan catatannya dan memasukkannya ke dalam ransel pudar miliknya, hanya merespons dengan gumaman tak jelas. Ia bangkit dari kursinya, menyisir rambut depannya ke belakang dengan jari—sebuah kebiasaan kecil yang sering kali membuat mahasiswi di kelas itu mencuri pandang ke arahnya. Ia sama sekali tidak peduli, atau lebih tepatnya, ia memilih untuk tidak mempedulikan pandangan-pandangan memuja itu. Alan selalu memasang tembok tebal tak kasatmata di sekelilingnya. Teman-teman satu angkatan bahkan sering menjulukinya "kulkas dua pintu" atau "gunung es" berjalan. Kharismanya kuat, senyumnya tipis dan jarang, namun auranya selalu memancarkan ketenangan yang membuat orang segan sekaligus penasaran.
"Ayo buruan," ucap Alan singkat, memimpin jalan keluar kelas. "Sebelum si Ardi ngabisin jatah kursi kita dan malah ditongkrongin anak fakultas hukum."
Ketiganya berjalan beriringan menyusuri koridor lantai dua fakultas ekonomi yang mulai padat merayap. Percampuran aroma parfum yang beragam, bau keringat, dan aroma kertas dari buku-buku tebal menguar di udara. Obrolan riuh rendah menggema, dipantulkan oleh dinding-dinding keramik putih.
Kampus mereka ini memang unik secara arsitektur. Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis bersebelahan langsung dengan Gedung Fakultas Manajemen Informatika. Kedua gedung raksasa ini hanya dipisahkan oleh sebuah pelataran luas berbentuk taman terbuka yang dihiasi pepohonan rindang dan jalan setapak berbatu sikat. Dari balkon lantai dua koridor ekonomi, siapa pun bisa melihat dengan jelas hiruk-pikuk mahasiswa dari gedung seberang, begitu pula sebaliknya.
Mereka berjalan menuju arah tangga turun yang mengarah ke kantin utama kampus. Alan berjalan sedikit di depan, langkahnya panjang dan mantap. Rahmi dan Randi mengekor di belakangnya, masih asyik berdebat soal game apa yang semalam membuat Ardi begadang sampai matanya menyerupai panda.
Tiba-tiba, langkah Alan terhenti secara mendadak. Begitu tiba-tiba, hingga Randi nyaris menabrak punggung tegap sahabatnya itu.
"Eh, Kampret! Ngapain ngerem mendadak sih, Lan?" protes Randi sambil mengusap hidungnya. Namun, keluhan Randi menguap ke udara saat ia melihat Alan mematung.
Alan berdiri membeku di dekat pagar pembatas koridor lantai dua. Tangan kirinya mencengkeram erat besi pembatas yang dingin. Tatapannya lurus, tajam, dan memancarkan sesuatu yang sangat asing—sebuah emosi yang belum pernah dilihat oleh Randi maupun Rahmi sebelumnya. Sorot mata yang biasanya datar bak permukaan danau yang membeku itu kini bergetar, memancarkan keterkejutan yang begitu dalam, berbaur dengan kepingan masa lalu yang seolah meledak di dalam kepalanya.
Pandangan Alan terkunci pada pemandangan di seberang sana. Di lantai dasar gedung Manajemen Informatika, berjalan menyusuri pelataran taman yang bermandikan cahaya matahari siang, terdapat segerombolan mahasiswi. Dan di tengah-tengah gerombolan itu, berjalan sesosok perempuan yang seketika membuat dunia Alan berhenti berputar.
Dia adalah Bunga.
Waktu seakan melambat di mata Alan. Angin siang yang hangat bertiup lembut, mempermainkan rambut hitam legam milik Bunga yang tergerai indah sebatas punggung. Bunga mengenakan blus berwarna krem pastel yang dipadukan dengan rok selutut bermotif plaid, penampilannya begitu rapi, elegan, dan memancarkan aura primadona yang tak terbantahkan. Ia sedang menoleh ke arah salah satu temannya, tertawa lepas hingga mata indahnya menyipit membentuk bulan sabit. Tawa itu, senyum itu, dan cara perempuan itu menyelipkan rambut ke belakang telinganya... semuanya masih sama. Sama persis seperti ingatan terakhir Alan tentangnya tiga tahun yang lalu di koridor sekolah menengah atas mereka.
Dada Alan bergemuruh hebat. Bunga? Di sini? Di universitas ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berdengung di dalam tengkoraknya bak kawanan lebah. Bagaimana mungkin selama tiga semester penuh ia berkuliah di sini, menghirup udara yang sama, berjalan di bawah langit kampus yang sama, tapi ia tidak pernah menyadari bahwa perempuan dari masa lalunya itu ada di seberang gedung jurusannya? Alan merasa dadanya sesak oleh sebuah perasaan nostalgik yang menghantamnya tanpa ampun. Bunga bukanlah sekadar teman satu sekolah dulu. Bunga adalah pusat tata surya di sekolah mereka, pujaan hati setiap siswa, dan bagi Alan... ia adalah sebuah melodi yang belum selesai dimainkan, sebuah lukisan indah yang hanya bisa ia pandangi dari kejauhan karena sadar diri akan status sosialnya yang jauh berbeda.
Melihat Bunga tertawa di seberang sana, gunung es di dalam diri Alan seketika retak.
Di belakang Alan, Rahmi menyadari keanehan sahabatnya. Rahmi menautkan alisnya, merasa ada yang tidak beres dengan postur tubuh Alan yang mendadak kaku bak patung batu.
"Lan?" panggil Rahmi pelan.
Tidak ada respons. Alan masih terpaku, matanya tak berkedip, seolah takut jika ia berkedip, sosok di seberang sana akan menghilang seperti fatamorgana di tengah padang pasir.
Rahmi melangkah maju sejajar dengan bahu Alan. "Woi, Lan!" tegurnya sedikit lebih keras, kali ini sambil menepuk pundak pemuda itu.
Sentuhan Rahmi menarik Alan kembali ke realita secara paksa. Ia tersentak pelan, bahunya menegang sebelum kembali rileks. Ia menoleh ke arah Rahmi dengan ekspresi sedikit kebingungan, sebuah raut wajah yang sangat langka untuk seorang Alan yang selalu penuh perhitungan dan kendali.
"A.. apa, Mi?" jawab Alan dengan nada suara yang sedikit bergetar, mencoba menyembunyikan kekacauan badai di dalam dadanya. Ia buru-buru membuang muka, mengalihkan pandangannya dari arah gedung seberang, dan kembali menatap ujung sepatu kets-nya.
Rahmi memicingkan matanya. Ia menangkap kegugupan itu. Ia menangkap nada suara yang bergetar itu. Dan insting perempuannya mendadak membunyikan alarm bahaya dengan volume maksimal.
"Lu liat apaan sih dari tadi bengong di mari?" tanya Rahmi, mencoba mempertahankan nada suaranya agar terdengar biasa saja, santai, dan tidak menuntut. "Tuh curut udah nungguin di kantin dari tadi. Keburu habis dipesen orang ntar siomay langganan kita."
Alan berdeham pelan, mencoba menjernihkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Ia memasang kembali topeng ketenangannya, membangun kembali lapisan es yang sempat mencair sepersekian detik yang lalu.
"Enggak, bukan apa-apa," jawab Alan datar. "Tadi cuma ngeliat ada orang yang kayaknya gue kenal, tapi ternyata salah lihat. Udah, ayo buruan ke kantin."
Tanpa menunggu balasan dari Rahmi maupun Randi yang masih garuk-garuk kepala kebingungan, Alan membalikkan badannya dan melangkah mendahului mereka menuju tangga turun. Langkahnya lebih cepat dari biasanya, seolah ia sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu. Atau mungkin, melarikan diri dari perasaannya sendiri.
Sementara Alan mulai menuruni anak tangga, Rahmi tidak langsung menyusul. Ia tetap berdiri di tempat Alan berpijak tadi. Perlahan, Rahmi memutar kepalanya, mengikuti garis imajiner dari arah pandangan Alan beberapa detik yang lalu. Mata Rahmi menyapu area taman di bawah sana, lalu beralih ke pelataran gedung Manajemen Informatika.
Di sana, di tengah kerumunan mahasiswa yang berlalu-lalang, mata Rahmi menangkap sosok yang mencolok. Seorang perempuan yang melangkah dengan penuh percaya diri, dengan senyum menawan yang membuat beberapa mahasiswa pria di sekitarnya rela menghentikan langkah hanya untuk memandangnya. Perempuan berambut panjang hitam legam yang mengenakan blus krem.
Tiba-tiba, Rahmi merasa ada sebuah tangan tak kasatmata yang meremas jantungnya dengan sangat kuat. Dadanya mendadak terasa nyeri, sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya tersedot habis. Rahmi terdiam, mematung di pinggir koridor sementara Randi sudah mendahuluinya menyusul Alan.
Rahmi adalah perempuan yang cerdas. Ia bukanlah orang yang naif. Ia telah menghabiskan hampir satu setengah tahun bersama Alan. Ia hafal betul setiap perubahan mikro dari ekspresi wajah pemuda itu. Ia tahu kapan Alan sedang pusing memikirkan biaya rumah sakit ayahnya, ia tahu kapan Alan sedang kelelahan setelah bekerja shift ganda di kafe, dan ia tahu betul bagaimana tatapan Alan ketika menghadapi perempuan-perempuan cantik di kampus yang setiap hari mencoba mencari perhatiannya. Alan yang selama ini ia kenal adalah perwujudan dari "kulkas dua pintu". Dingin, tak tersentuh, dan selalu menatap wanita dengan pandangan netral tanpa minat sedikit pun.
Namun tadi... tatapan itu berbeda. Sangat berbeda.
Rahmi belum pernah melihat Alan menatap seorang wanita dengan sorot mata yang begitu intens, penuh kerinduan yang ditahan, dan binar keterkejutan yang tulus. Bukan tatapan seorang pemuda nakal yang sedang mengagumi fisik, melainkan tatapan seorang pria yang menemukan kembali sesuatu yang amat berharga yang pernah hilang dari hidupnya.
Rahmi meremas ujung kemeja flanelnya. Matanya tak lepas dari sosok Bunga di kejauhan sana, hingga akhirnya perempuan itu menghilang masuk ke dalam kantin gedung fakultas seberang.
'Siapa wanita itu?' batin Rahmi menjerit dalam kesunyian. 'Kenapa Alan sampai melihat begitu tajam kepadanya? Apa yang membuat seorang Alan yang tak pernah mempedulikan siapa pun, bisa kehilangan kendali hanya karena melihatnya dari jauh?'
Rasa nyeri di dada Rahmi semakin menjadi-jadi. Ada ketakutan besar yang tiba-tiba menyusup ke relung hatinya, merayap perlahan menyebarkan teror kengerian. Selama ini, Rahmi selalu merasa aman dengan posisinya. Ia memilih menjadi sahabat, berada di zona pertemanan ('friendzone') yang paling mutlak, karena dengan begitu ia bisa selalu berada di sisi Alan. Ia rela menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri pengusaha properti raksasa, rela memakai baju-baju sederhana dan bersikap tomboy, asalkan ia bisa diterima dalam lingkaran Alan tanpa ada rasa canggung. Ia percaya, selama hati Alan belum berlabuh pada siapa-siapa, ia selalu punya kesempatan. Kesabaran adalah senjata utamanya.
Namun hari ini, melihat retaknya gunung es di mata Alan hanya karena sosok perempuan asing di seberang sana, fondasi keyakinan Rahmi runtuh tak bersisa. Ia merasa terancam oleh eksistensi wanita yang namanya pun belum ia ketahui.
"Woi, Mi! Ngapain lo malah semedi di situ? Ayok!" teriakan Randi dari ujung bawah tangga menyadarkan Rahmi dari lamunan pahitnya.
Rahmi menarik napas panjang, sangat panjang, mencoba menelan kembali rasa sakit yang menyumbat tenggorokannya. Ia memaksakan otot-otot wajahnya untuk membentuk senyuman manis andalannya. "Iya, sabar napa! Bawel banget lo kayak ibu kos nagih tunggakan!" balasnya setengah berteriak, lalu setengah berlari menuruni tangga menyusul dua sahabatnya.
Sesampainya di kantin Fakultas Ekonomi, suasana sudah riuh rendah tak karuan. Bunyi dentingan sendok beradu dengan piring kaca, desis kompor penjual nasi goreng, dan tawa keras para mahasiswa menciptakan harmoni chaos yang khas.
Di sudut kantin, dekat dengan kipas angin besar yang sedikit berdebu, Ardi terlihat duduk mengangkang di kursi panjang. Tangannya terentang lebar di atas meja kosong, seperti seekor elang yang sedang menjaga wilayah teritorialnya dari ancaman predator lain. Wajahnya garang, menatap sinis ke arah beberapa mahasiswa tingkat awal yang tadi mencoba meminta izin untuk berbagi meja.
"Gila lo, Di. Udah kayak preman pasar lo ngetag meja," komentar Randi saat mereka tiba di meja tersebut. Ia langsung melempar tas selempangnya dan menjatuhkan diri ke kursi.
"Biarin, anjir. Telat sedetik aja lo pada bakal makan sambil jongkok di pinggir got," rutuk Ardi sambil menurunkan tangannya. "Gue udah pesenin siomay Mang Udin sama es teh manis buat kita berempat. Duitnya talangin dulu ya, Lan. Dompet gue ketinggalan di kosan."
Alan yang baru saja duduk di hadapan Ardi mendengus pelan, memutar bola matanya. "Alasan lo basi, Di. Bilang aja duit lo abis buat top up game semalem." Meskipun mengomel, Alan tetap merogoh saku jeans-nya, mengeluarkan selembar pecahan lima puluh ribu yang sudah lecek, dan meletakkannya di atas meja. "Tuh, awas aja kalo besok gak lo ganti."
Ardi nyengir kuda, dengan sigap menyambar uang tersebut sebelum Alan berubah pikiran. "Tenang, Bosku. Besok gue ganti pas kiriman nyokap turun. Nah, itu dia pesanan kita!"
Mang Udin, pria paruh baya yang selalu memakai peci putih, datang membawa nampan berisi empat piring siomay bumbu kacang yang uapnya masih mengepul menggugah selera, disusul empat gelas besar es teh manis. Bau khas bumbu kacang dan perasan jeruk limau seketika menetralisir aroma tak sedap di kantin.
Mereka berempat mulai makan dengan lahap. Randi dan Ardi seperti biasa, makan dengan kecepatan brutal bak orang yang belum melihat makanan seminggu penuh. Mereka terus berceloteh tentang segala hal yang tidak penting; mulai dari dosen yang pelit nilai, mahasiswi baru yang cantik di jurusan sebelah, hingga analisis taktik game online yang absurd.
Alan makan dalam diam. Meski raganya berada di kantin riuh ini, pikirannya masih tertinggal di koridor lantai dua tadi. Otaknya terus memutar ulang siluet Bunga. Ada dorongan gila dalam dirinya untuk beranjak dari kursi, menyeberang ke gedung Manajemen Informatika, dan memastikannya sendiri. Namun logika sadarnya segera memukul mundur dorongan tersebut. Untuk apa? tanyanya pada diri sendiri. Apa yang akan kau katakan padanya, Alan? 'Hai Bunga, ini aku, cowok miskin dari sekolah kita yang dulu cuma berani ngeliatin kamu dari jauh?' Alan menelan siomay-nya dengan susah payah, mendadak rasanya seperti mengunyah serbuk gergaji. Tembok realita yang selama ini ia bangun kembali tegak berdiri, mengingatkannya pada posisinya saat ini: seorang pelayan kafe dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Di seberang meja, Rahmi mengunyah makanannya perlahan. Matanya tak henti mencuri pandang ke arah Alan. Ia bisa melihat dengan jelas ada awan mendung yang menggantung di wajah sahabat prianya itu. Rahmi tidak tahan melihat Alan murung seperti ini. Ia harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan pikiran Alan, dan mungkin, menghibur hatinya sendiri yang sedang resah.
"Eh, nanti sore habis beres kelas terakhir jam empat, ke kafenya Bang Hendri lagi yuk?" cetus Rahmi tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka berempat. Suaranya sengaja dibuat ceria dan antusias. "Sumpah, gue kangen banget sama Americano racikannya Bang Hendri. Kayaknya cuma di Cafe Nuansa doang Americano yang rasanya pas, nggak bikin lambung perih."
Mendengar kata 'Cafe Nuansa', mata Randi dan Ardi seketika berbinar terang benderang.
"Wah, setuju banget gue, Mi!" seru Randi menggebu-gebu, sampai-sampai sebutir kentang nyaris melompat keluar dari mulutnya. "Udah lama kita nggak kongkow di sana. Lagian wi-fi di sana kenceng banget, lumayan buat numpang download film."
"Bener tuh! Gue juga mau numpang nge-charge laptop. Kosan gue listriknya lagi mati," timpal Ardi tak kalah bersemangat.
Tentu saja mereka berdua antusias. Cafe Nuansa adalah surga dunia bagi mahasiswa berdompet tipis seperti mereka. Bukan karena harga menunya murah, melainkan karena mereka memiliki 'cheat code' bernama Alan. Sebagai karyawan kepercayaan Bang Hendri si pemilik kafe, kehadiran Alan seringkali membawa berkah berupa diskon karyawan, minuman komplementer, atau bahkan makan malam gratis sisa display yang masih sangat layak konsumsi.
Alan menatap ketiga sahabatnya itu secara bergantian. Ia mendengus panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi besi sandaran dengan gaya yang sangat khas: jidat berkerut, mata memicing, namun ujung bibirnya sedikit terangkat. Ia mengangkat sebelah tangannya, menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangan, berpura-pura frustrasi.
"Hadeh... sedekah lagi dah gue hari ini," gumam Alan dengan nada pasrah yang dibuat-buat. "Muka lu berdua tuh kalau denger Cafe Nuansa udah kayak denger pengumuman pembagian sembako gratis tau gak? Ingat ya, hari ini gue lagi nggak ada jatah voucher diskon. Kalau mau ke sana, pesen dan bayar sendiri pakai duit masing-masing. Jangan pada pesen makanan mahal terus tiba-tiba kabur ngilang ke toilet pas tagihannya dateng."
"Yaelah, Lan, perhitungan amat lo sama bestie sendiri," rengek Randi sambil memasang wajah memelas. "Satu sandwich sisa semalam juga gapapa dah, yang penting perut keisi."
Rahmi tertawa renyah, sebuah tawa yang sejenak melupakan rasa sesak di dadanya. "Udah, Lan, tenang aja. Hari ini gue yang traktir kalian deh. Itung-itung syukuran gue dapet nilai A di mata kuliahnya Bu Ratna kemarin. Bebas kalian mau pesen apa aja."
"Alhamdulillah! Panjang umur orang baik!" seru Ardi dan Randi serempak sambil mengangkat gelas es teh mereka tinggi-tinggi, bertingkah layaknya mendapat lotre miliaran rupiah.
Alan menurunkan tangannya, menatap Rahmi dengan tatapan lembut yang penuh kehangatan persahabatan. "Lo jangan biasain manjain dua anak ilang ini, Mi. Makin ngelunjak nanti mereka. Biar gue aja ntar yang ngomong ke Bang Hendri buat ngasih kalian kentang goreng porsi jumbo."
Rahmi tersenyum manis membalas tatapan Alan. "Gak apa-apa, Lan. Sekali-sekali." Dalam hatinya, Rahmi berbisik pedih, 'Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membelimu agar tetap di sisiku, Lan. Menggunakan fasilitas dan uangku tanpa membuatmu merasa direndahkan. Karena jika aku maju sebagai Rahmi sang pewaris, aku tahu kau akan mundur seribu langkah.'
Sisa waktu istirahat dihabiskan dengan obrolan ringan dan canda tawa yang menutupi kecamuk pikiran dua manusia di meja tersebut. Tak lama kemudian, bel masuk kelas berbunyi, memaksa mereka kembali menelan kenyataan berupa rentetan mata kuliah hingga sore hari.
Waktu berlalu tanpa terasa, dan matahari perlahan mulai condong ke arah barat, mengubah warna langit Kota Bandung menjadi jingga keemasan yang menawan. Hembusan angin sore membawa kesejukan yang menggantikan hawa panas sepanjang hari. Bel tanda berakhirnya perkuliahan harian akhirnya berbunyi, menghembuskan napas lega dari ribuan dada mahasiswa.
Gedung-gedung fakultas mulai memuntahkan isinya. Kerumunan mahasiswa mengalir keluar seperti semut pekerja yang kembali ke sarang, menuju area parkir yang luas. Alan, Rahmi, Ardi, dan Randi berjalan bersisian, langkah mereka terasa lebih ringan karena beban hari ini telah selesai, ditambah antisipasi nongkrong di Cafe Nuansa.
Sesampainya di area parkiran utama, mereka berpisah sejenak untuk menuju kendaraan masing-masing. Ardi berjalan menuju motor matic-nya yang dipenuhi stiker grup band metal, sementara Randi menuju motor bebek legendarisnya yang knalpotnya selalu berbunyi lebih nyaring daripada klaksonnya.
Alan berjalan menuju sudut parkiran tempat motor sport bekasnya yang berwarna hitam doff terparkir dengan gagah. Ia baru saja mengeluarkan kunci dari saku jaket denim-nya saat sebuah suara menghentikan gerakannya.
"Lan."
Alan menoleh. Di belakangnya, Rahmi berdiri dengan senyum canggung, memegang tali tas selempangnya dengan kedua tangan. Angin sore meniup pelan anak rambutnya, membuatnya terlihat lebih rapuh dari biasanya.
"Kenapa, Mi?" tanya Alan.
"Gue... gue ikut ke motor lu ya berangkat ke kafenya?" pinta Rahmi dengan nada yang terdengar seperti ia sedang meminta izin untuk meminjam uang jutaan rupiah. Matanya menatap lurus ke arah kemudi motor Alan.
Alan seketika mengerutkan alis tebalnya. Ekspresi bingung tergambar jelas di wajahnya. Ia menoleh ke arah gedung fakultas, lalu kembali menatap Rahmi. "Lah? Terus mobil lu mau digade?" tanyanya dengan nada retoris yang sedikit tajam.
Alan sangat tahu, meski Rahmi selalu berpenampilan low profile, perempuan itu mengendarai sebuah city car putih keluaran terbaru—yang diakui Rahmi sebagai 'mobil cicilan hasil patungan dengan kakaknya', kebohongan yang sengaja Rahmi buat agar teman-temannya tidak curiga.
Rahmi mengibaskan tangannya santai, berpura-pura tidak peduli. "Yaelah, lebay amat lo pakai bahasa digadai segala. Simpan aja di sini, aman kok parkiran kampus kalau malam. Lagian gue males nyetir, jalanan ke arah Dago jam segini macetnya minta ampun. Kaki gue pegel neken kopling terus." Rahmi berbohong dengan lancar. Mobilnya itu bertransmisi matic, tidak ada urusannya dengan menginjak kopling. "Tinggal kasih rokok dua bungkus sama Pak Satpam depan yang jaga shift malam, beres deh. Mobil gue aman sentosa sampai besok pagi."
Alan terdiam sejenak, matanya memindai wajah Rahmi mencoba mencari kebohongan di sana. Namun Rahmi membalas tatapannya dengan senyum polos tak berdosa. Pemuda itu akhirnya menghela napas panjang, menyerah pada kekeraskepalaan sahabatnya itu. Ia tahu, berdebat dengan Rahmi adalah hal yang sia-sia.
"Terserah lu lah, Mi. Duit lu ini yang buat beli rokok satpam," gerutu Alan pasrah. Ia naik ke atas motornya, menegakkan kendaraan berat itu dari standarnya dengan satu gerakan mulus yang entah kenapa selalu terlihat sangat keren di mata Rahmi. Alan mengambil helm cadangan berwarna hitam polos yang selalu ia gantung di jok belakang, lalu menyodorkannya ke arah Rahmi. "Nih, pakai. Jangan sampai rambut lo terbang-terbang nutupin spion gue."
Senyum Rahmi mengembang seketika, cerah menyamai indahnya langit jingga di atas sana. "Siap, Bos!" sahutnya dengan riang.
Dengan sigap, Rahmi memakai helm tersebut, mengaitkan tali pengamannya hingga berbunyi 'klik'. Ia melangkah mendekati sisi kiri motor. Jok motor sport memang dirancang cukup tinggi dan menungging di bagian belakang, membuat siapa pun yang membonceng harus naik dengan sedikit usaha ekstra dan duduk condong ke depan. Rahmi meletakkan sebelah tangannya secara ringan di pundak Alan sebagai tumpuan, lalu mengayunkan kaki kanannya menaiki jok belakang.
Saat tubuh Rahmi duduk manis di belakang Alan, jarak di antara mereka menyusut drastis. Begitu dekat, hingga Rahmi bisa mencium aroma khas tubuh Alan yang selalu menenangkannya: campuran wangi sabun mandi yang sederhana, aroma kopi sisa shift semalam, dan maskulinitas yang tertahan.
Alan menyalakan mesin. Suara deru bertenaga dari knalpot 250cc menggema di area parkiran, memancing perhatian beberapa pasang mata. Ardi dan Randi yang sudah bersiap di atas motor mereka hanya mengacungkan jempol ke arah Alan, tanda mereka siap berangkat.
"Pegangan yang bener, Mi. Helm gue suka nyundul kalau direm mendadak," peringat Alan sambil menolehkan kepalanya sedikit ke belakang, suaranya teredam oleh helm full-face-nya.
Rahmi tidak menjawab dengan kata-kata. Perlahan, namun pasti, ia memajukan tubuhnya. Kedua tangannya terulur ke depan, meraih sisi jaket denim Alan di area pinggangnya, lalu menggenggam material kasar itu dengan sangat erat, seolah jaket itu adalah tali keselamatannya di pinggir jurang. Ia menyandarkan sisi kiri wajahnya—yang terhalang kaca helm—ke punggung tegap pemuda itu.
Alan tidak protes. Ia sudah terbiasa dengan kedekatan fisik mereka yang murni platonik. Baginya, Rahmi adalah sahabat, 'bro', tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu repot-repot membangun tembok gunung es atau menyembunyikan kelelahannya.
Alan memasukkan gigi satu, melepas kopling perlahan, dan motor hitam pekat itu pun melaju membelah gerbang kampus, bergabung dengan lautan kendaraan di jalanan Kota Bandung yang mulai diwarnai lampu-lampu jalan kekuningan. Di belakangnya, Ardi dan Randi mengekor seperti pengawal setia.
Angin sore yang sejuk menampar-nampar jaket mereka. Di sepanjang jalanan yang padat, di tengah hiruk-pikuk suara klakson dan deru mesin kota, Rahmi memejamkan matanya di balik kaca helm hitam. Punggung Alan di hadapannya terasa hangat, kokoh, seperti sebuah benteng perlindungan yang melindunginya dari kerasnya dunia. Namun di saat yang sama, punggung itu juga terasa sangat jauh, tak tersentuh oleh emosi romansa yang ia harapkan.
Rahmi mengeratkan genggamannya pada jaket Alan. Hatinya kembali berbisik pedih, menyuarakan realita yang selama ini ia coba sangkal, terutama setelah kejadian siang tadi di koridor.
'Dibonceng sama kamu seperti ini, memeluk punggungmu dan mencium aromamu... itu ibarat impian yang tak pernah benar-benar terwujud, Lan,' batin Rahmi melirih getir bersamaan dengan sapuan angin. 'Fisik kita mungkin begitu dekat, hanya terhalang beberapa lapis kain pakaian. Tapi hatimu... hatimu berada di dimensi yang sama sekali tidak bisa kuakses. Momen ini... kedekatan ini... memang terwujud, tapi terwujud dalam ikatan persahabatan yang paling membelenggu hatiku. Ikatan yang membuatku tak bisa maju mendekat, namun juga tak sanggup untuk melangkah mundur.'
Dan di antara bisingnya jalanan menuju Cafe Nuansa, air mata Rahmi menetes setetes, jatuh membasahi kerah jaket denim Alan, hilang tersapu angin tanpa pernah disadari oleh sang pemilik punggung yang pikirannya saat itu masih terpenjara oleh satu nama: Bunga. Tangan takdir perlahan mulai memutar dadu permainannya, bersiap menghancurkan batas aman persahabatan yang selama ini mati-matian Rahmi pertahankan.
Lampu lalu lintas di depan mereka berubah merah, menghentikan laju motor Alan sejenak. Namun di dalam hati ketiga insan—Alan, Rahmi, dan Bunga yang berada entah di mana—sebuah lampu hijau pertanda dimulainya badai emosi yang panjang, baru saja menyala terang benderang. Perjalanan kehidupan ini, baru saja dimulai dari sebuah putaran gas di jalanan kota Bandung.