NovelToon NovelToon
Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: S.Lioré

Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.

Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.

Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.

Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahan… atau melepaskan?

Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ide Gila Seorang Sahabat

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 “Alea?” panggil Aluna saat memasuki ruang kesehatan dengan bibir mengerucut juga muka masam. Satu-satunya insan dalam ruangan itu memandang heran setelah fokusnya beralih dari beberapa jenis obat-obatan yang sedang ia kemas.

 “Kenapa?” tanya siswi bernama Alea itu dengan senyum tipis hiasi bibir.

 “Aku lelah!” dengus Aluna selagi menghempaskan pantat pada tepian bangsal.

 “Apa karena Bintang lagi?” tebak Alea.

 Namun pada kenyataannya, ia tahu pasti apa alasan sang sahabat bisa berubah sifat dari aslinya yang terkesan dewasa—bijaksana—dan kalem menjadi layaknya anak kecil seperti ini. Yaitu, Bintang si kapten basket sekolah yang berhasil menghipnotis Aluna dengan senyuman yang Aluna sendiri namai ‘bunny smile’ dan tatapan penuh karisma kala lelaki itu tengah mengamati tanpa bersuara.

 Aluna pun menghembuskan napas berat dengan kasar. “Iya. Kamu tahu, aku tadi lihat dia dan Kaila jalan berdua?!” adunya.

 Alea mengambil posisi di sebelah Aluna yang menunduk. Masih dengan simpulan senyuman yang sama, ia memandang sekilas persona Aluna. “Kenapa kamu nggak bilang aja, sih, kalau kamu suka dia?”

 Tentu, siapa pun akan terkejut mendengar ide itu. Apalagi Aluna sadar bahwa banyak saingan di luar sana. Dan yang paling membuatnya tidak mungkin melakukannya adalah ketidaktahuannya mengenai apakah Bintang mengenalnya seperti dirinya mengenal lelaki bernama keluarga Atmadja tersebut.

 “Apa kamu gila?!” protes Aluna tidak terima. “Kalau dia nolak, mau ditaruh dimana mukaku, Lea?!”

 Mendengarnya Alea tertawa. Namun tidak dengan Aluna, dia semakin memamerkan bibir bebeknya.

“Daripada kamu terus seperti ini. Katanya lelah. ‘Kan lebih baik kasih tahu, biar cepat lega.”

 “Apa itu akan berhasil?” Berbinar, sorot mata Aluna menggambarkan keraguan. “Bagaimana kalau dia sudah punya pacar dan dia sekolah di sini juga? ‘Kan jadinya seram.”

Aluna bergidik ngeri kala halusinasi seorang siswi yang diam-diam menjadi pacar sang topik diskusi melabraknya penuh murka.

 “Dia single, kok,” sahut Alea yang membuat Aluna segera menoleh kepadanya.

 “Apa iya? Tapi, gimana kamu tahu?”

 “Biru yang bilang.” Jawaban itu malah membuat Aluna langsung tersenyum penuh goda. Lengkap dengan lirikan dan sikutan kecil pada lengan Alea.

Sang lawan kini menatap Aluna dengan alis bertaut. “Apa, sih?” ketusnya.

 “Apanya yang apa?” timpal Aluna makin menggoda.

 “Ih, jangan mulai, deh!” ingat Alea.

 “Iya, iya.” Aluna memilih untuk mengalah. Dia membenarkan duduknya agar lebih nyaman. “Menurutmu, bagaimana dengan Biru?”

 “Alunaaa?!” geram Alea. Jangan lupakan ekspresi datar nan mengintimidasi tersebut. Menyeramkan untuk yang lain, tetapi tidak untuk Aluna.

 “Aku serius, Lea! Aku hanya ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang dia.”

 Alea memutar malas bola matanya bersamaan napas terbebani berembus. “Dia itu berisik,” singkat tanpa tambahan.

 “Itu saja?” heran Aluna.

 “Hei! Apa yang kamu ekspektasikan, hm?” Gapitan ibu jari dan telunjuk itu berhasil menarik kedua pipi Aluna, gemas. Sang korban terus berusaha melepaskan selagi rintihan berulang kali terucap.

 Merasa puas, Alea akhirnya mengakhiri aksinya. Tentu kedua pipi Aluna memerah bak tomat akibat ulahnya. Melihatnya demikian, Alea tersenyum puas, sedangkan Aluna hanya pasrah selagi mengelus pipi-pipinya dengan muka yang semakin ditekuk.

 “Ah, sudahlah.” Alea bangkit, lalu mendekati kembali meja yang masih dipenuhi alat kesehatan. “Aluna?” panggilnya setelah hening beberapa saat.

 Aluna yang hanyut dalam pikirannya sedikit tersentak, lalu kembali menitikkan atensi pada lawan bicara.

 Derit pintu penyimpanan obat kemudian mengalun di antara mereka sebelum suara Alea terdengar.

 “Katakan saja pada Bintang, daripada kamu terus memendamnya. Sudah lama, ‘kan, kamu jadi penggemarnya? Nanti kamu makin sakit hati sendiri, lho. Lebih cepat, lebih baik, bukan?”

 Mendengarnya, Aluna kembali termenung. Otaknya pun memutar kembali cuplikan-cuplikan kala dia merasa menjadi penggemar yang tak beruntung. Menyedihkan. Hanya sebatas melihat Bintang bercengkrama dengan teman sekelas berjenis kelamin perempuan pun sudah berhasil membuat hari Aluna dibayangi awan kelabu.

 Kendati demikian, setelah mendengar saran dari Alea, Aluna merasakan firasat aneh. Alea memang mengatakan sesuatu yang terdengar seperti bercanda … tapi terasa salah dan benar dalam waktu bersamaan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!