NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Pulpen di Urat Nadi

​​"Lepasin tangan kotor lo dari kerah baju gue, Gideon."

​Suara Riana terdengar sangat datar dan dingin. Posisi kakinya yang sedikit terangkat dari lantai marmer sama sekali tidak membuatnya panik. Ujung sepatu hak tingginya masih menapak ringan. Dia tidak meronta-ronta apalagi menangis minta ampun seperti perempuan kantoran pada umumnya saat berhadapan dengan monster raksasa dari dunia bawah tanah.

​"Kalau gue nggak mau, lo mau apa?" Gideon menyeringai lebar. Bau cerutu dan kopi murahan menguar tajam dari mulutnya. "Lo cuma kutu buku culun. Tinggal gue patahin leher lo sekarang juga, lalu gue buang mayat lo ke laut. Aegis Corp nggak akan peduli sama Manajer HRD bawel kayak lo. Perusahaan ini dijalankan oleh darah dan peluru, bukan kertas laporan."

​Gideon berniat mempererat cengkeramannya, tapi gerakannya mendadak terhenti total. Tubuh raksasa pria bertato kalajengking itu kaku seketika.

​Sesuatu yang dingin, keras, dan sangat runcing menekan kuat tepat di pangkal leher Gideon, persis di atas urat nadi besarnya yang sedang berdenyut-denyut.

​Riana tidak tahu sejak kapan tangan kanannya bergerak. Gerakan mantan algojo pencabut nyawa terbaik itu terlalu cepat untuk ditangkap mata telanjang. 

Tahu-tahu saja, sebuah pulpen besi berwarna perak solid yang tadi tergeletak manis di atas meja, kini sudah berubah menjadi senjata mematikan di genggaman Riana. Ujung tajam pulpen itu menekan kulit leher Gideon hingga menembus lapisan epidermis pertama.

​Satu tetes darah segar berwarna merah pekat menetes pelan-pelan dari leher Gideon, menuruni urat lehernya dan membasahi kerah kemeja pria itu.

​"Lo mau bunuh gue pakai pulpen?" Gideon mendecih kasar, walau matanya mulai memancarkan keraguan luar biasa. Dia bisa merasakan ujung tajam itu sama sekali tidak main-main. Satu dorongan kecil lagi, urat nadinya akan robek parah dan dia akan mati kehabisan darah dalam hitungan menit di atas karpet mahal ruangan ini.

​"Sesuai buku pedoman karyawan pasal empat puluh dua," Riana mulai bersuara lagi, sama sekali tidak memedulikan tatapan membunuh dari pria di depannya. "Kekerasan fisik di tempat kerja yang dilakukan oleh karyawan kepada staf HRD merupakan pelanggaran berat tingkat satu. Sanksinya adalah pemecatan secara tidak terhormat detik ini juga."

​Riana mencondongkan wajahnya ke depan. Jarak mereka sangat dekat. Dia menatap tajam langsung ke pupil mata Gideon dari balik lensa kacamata tebalnya. Tidak ada rasa takut di sana, yang ada hanya kekosongan absolut yang jauh lebih menyeramkan daripada ancaman kematian itu sendiri.

​"Kalau lo berani menekan leher gue satu senti lagi, pulpen ini akan merobek urat nadi lo sampai putus. Lo mati di sini, lalu mayat lo akan gue pecat secara resmi karena mencoba melecehkan wanita." Riana memiringkan kepalanya sedikit. "Hak asuransi lo hangus, dan keluarga lo tidak akan dapat pesangon sepeserpun dari perusahaan. Pilih jalur mana yang lo suka, Gideon."

​Gideon menelan ludah dengan susah payah. Ujung pulpen besi itu bergesekan dengan kulitnya saat jakunnya naik turun. Jantung pria raksasa itu berdebar-debar kencang tanpa bisa dikendalikan. Dia adalah pembunuh bayaran veteran, instingnya mengatakan dengan sangat jelas bahwa perempuan berkacamata di depannya ini sama sekali tidak sedang menggertak.

​Itu adalah mata seorang pembunuh berdarah dingin yang sudah kelewat sering melihat mayat bergelimpangan.

​"Lo gila," desis Gideon tertahan.

​"Gue Manajer HRD lo," balas Riana mutlak. "Sekarang, lepasin tangan kotor lo, mundur tiga langkah, dan keluar dari ruangan gue. Waktu lo lima detik sebelum gue kirim lo ke neraka murni lewat jalur administrasi."

​Suasana di dalam ruangan itu mendadak terasa hampa udara. Gideon menimbang-nimbang egonya melawan insting bertahan hidup yang menjerit-jerit di dalam kepalanya. Darah masih mengalir kecil dari goresan luka di lehernya, terasa perih dan panas. Dia sadar betul, mati konyol ditusuk pulpen oleh HRD culun di hari kerja adalah hal paling memalukan bagi seorang kepala divisi logistik Aegis Corp. Reputasinya akan hancur lebur.

​Dengan gerakan sangat kasar, Gideon melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja putih Riana. Tubuh Riana kembali menapak sempurna di atas lantai marmer. 

Perempuan itu tidak terhuyung sama sekali. Dia berdiri tegak lurus, merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih memegang erat pulpen besi berlumur darah itu dengan posisi siaga penuh.

​Gideon mundur perlahan-lahan. Tangannya meraba lehernya sendiri dan melihat bercak darah merah di ujung telunjuknya. Wajahnya merah padam karena amarah yang meledak-ledak dan rasa malu yang luar biasa tidak tertahankan.

​"Urusan kita belum selesai, Nona Kacamata," ancam Gideon sambil menunjuk wajah Riana dengan jari gemetar. "Lo mungkin merasa menang adu mulut di ruangan ber-AC ini karena bawa-bawa aturan perusahaan sialan itu. Tapi di luar gedung ini, aturan lo sama sekali nggak berlaku. Lo mending hati-hati kalau jalan sendirian di tempat sepi."

​"Terima kasih atas masukannya," jawab Riana datar, mengambil selembar tisu dari kotak di atas meja dan mulai mengelap pulpen besinya dengan gerakan telaten. "Jangan lupa sampaikan pada tiga algojo kesayangan lo itu, mereka sudah resmi jadi pengangguran. Kartu akses masuk mereka akan gue blokir dari sistem dalam waktu lima menit. Kalau mereka berani menginjakkan kaki ke gedung ini lagi, gue anggap sebagai penyusup liar dan gue suruh sekuriti tembak di tempat."

​Gideon tidak menjawab lagi karena urat di kepalanya rasanya mau pecah. Pria raksasa itu berbalik badan dan berjalan sangat cepat menuju pintu keluar. Tangannya memutar kenop pintu dari kuningan itu dengan kasar lalu menariknya hingga terbuka lebar. Dia melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi.

​Brak!

​Pintu kayu mahoni itu dibanting tertutup dengan tenaga penuh hingga kaca jendela buram di sebelahnya bergetar hebat.

​Di dalam ruangan, Riana menghela napas pendek. Dia melempar tisu bekas noda darah Gideon itu ke dalam tempat sampah plastik di bawah meja kerjanya. Matanya melirik tajam ke arah pintu kaca di sisi kanannya. Bayangan seseorang yang berdiri diam di luar sana terlihat samar-samar. Riana tahu ada yang mengawasinya sejak tadi.

​Di lorong lantai lima belas yang sepi, Jace berdiri bersandar santai pada gagang alat pel lantai miliknya. Pria tampan berseragam petugas kebersihan berwarna biru muda itu baru saja menyaksikan seluruh pertunjukan mematikan di dalam ruangan HRD dari celah tirai kaca yang belum tertutup rapat.

​Jace mengusap rahangnya yang tegas. Rambutnya yang sedikit berantakan sengaja dibiarkan menutupi sorot matanya yang tajam menelusuri sosok Riana. Senyum miring tercetak sangat jelas di sudut bibir pria itu. 

Sebagai pewaris tunggal Diwantara Group yang sedang menyamar diam-diam untuk mencari kelemahan Aegis Corp dari dalam, Jace tahu persis cara mengenali orang-orang berbahaya di dunia bawah tanah.

​"Menarik sekali," gumam Jace pelan nyaris terdengar seperti bisikan angin di lorong kosong. "Cara dia memegang ujung pulpen, cara dia mengunci titik saraf mematikan tanpa ragu-ragu sedikitpun. Perempuan culun itu jelas bukan lulusan manajemen sumber daya manusia biasa. Insting bertarungnya terlalu rapi."

​Jace kembali menggerakkan alat pelnya ke kanan dan ke kiri secara asal-asalan, berpura-pura sibuk bekerja layaknya petugas kebersihan pada umumnya saat mendengar suara langkah kaki menjauh. Otak cerdasnya mulai menyusun rencana baru. Manager HRD baru berkacamata tebal ini bisa menjadi ancaman besar bagi rencana penyusupannya, atau justru menjadi senjata birokrasi paling mematikan yang bisa dia manfaatkan untuk meruntuhkan CEO Aegis Corp hingga ke akar-akarnya.

​Sementara itu, di ujung lorong dekat area lift khusus eksekutif, Gideon berdiri gelisah sambil menempelkan sapu tangan kumal ke lehernya yang masih mengeluarkan darah. Urat di pelipisnya berkedut-kedut hebat. Dia sama sekali tidak bisa menerima penghinaan murahan ini. Dipecatnya tiga anak buah andalan berarti hilangnya kekuatan utama faksi logistik di mata bos besar. Gideon harus memberi pelajaran pada perempuan sombong itu.

​Gideon mengeluarkan ponsel pintar dari saku celana kargonya. Tangannya bergerak cepat menekan deretan nomor kontak rahasia yang sengaja tidak didaftarkan di sistem server komunikasi kantor Aegis Corp. Panggilan itu langsung tersambung pada dering kedua.

​"Halo, Bos Gideon." Suara serak seorang pria terdengar dari seberang telepon.

​"Kumpulkan empat orang paling brutal yang lo punya sekarang juga," perintah Gideon dengan suara merendah yang sarat akan niat membunuh tingkat tinggi. Mata Gideon menatap penuh kebencian ke arah pintu kayu ruangan HRD di ujung lorong.

​"Ada target baru, Bos? Siapa yang harus kita bereskan hari ini?"

​"Manajer HRD baru di lantai lima belas," desis Gideon penuh dendam. "Tunggu perempuan itu di area parkir bawah tanah. Gue nggak peduli gimana caranya, pokoknya kirim orang ke parkiran nanti saat jam pulang kantor. Patahkan kedua kaki HRD baru itu sampai dia nggak bisa jalan lagi seumur hidupnya."

1
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Muft Smoker: yuuuuuk ,, sbntaar yx aq ambil Pisang goreng sama teh anget dluuu ,, 😁😁😁
total 5 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
Susilawati
hiii sadis banget perintahnya, digiling sampai habis semua badan nya si Frans.
Savana Liora: iyak. jadi pakan ikan
total 1 replies
Susilawati
wah senangnya author up lagi 👍👍👍
FHR
Apakah Bramantyo akan curiga siapa Riana sebenarnya?
Savana Liora: suatu saat akan curiga
total 1 replies
hana
makasih thor akhir nya up juga🙏🙏🙏🙏
Susilawati
jaga kesehatan dan terus semangat Thor 💪, di tunggu kelanjutannya 👍
Savana Liora: siapp kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!