Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 02
Pagi pertama setelah pernikahan itu datang dengan tenang, seolah dunia sengaja memberi jeda setelah gemerlap yang begitu melelahkan semalam. Cahaya matahari pagi menyusup perlahan melalui celah tirai kamar pengantin mereka, jatuh lembut di atas lantai dan menyentuh ujung ranjang tempat dua insan yang kini telah resmi menjadi suami istri itu terlelap.
Shaka terbangun lebih dulu. Matanya berkedip pelan, menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk. Beberapa detik ia hanya berbaring diam, seperti sedang memastikan bahwa semua yang terjadi kemarin bukanlah mimpi panjang yang terlalu indah untuk jadi nyata. Lalu ia menoleh ke samping, menatap wajah Gayatri yanh masih tertidur lelap.
Wanita itu berbaring membelakanginya, rambut panjangnya terurai menutupi sebagian wajah. Nafasnya teratur, tenang, seolah tak ada beban yang mengganggu tidurnya.
Shaka tersenyum. “Aku masih merasa tidak percaya, kini kau benar-benar menjadi milikku,” gumamnya.
Perlahan, ia mengangkat tangannya, ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh ujung rambut Gayatri dengan hati-hati, seolah takut jika sentuhan itu akan membuat semua ini menghilang.
“Selamat pagi,” gumamnya pelan, lebih seperti bisikan untuk dirinya sendiri.
Tak ada jawaban, Gayatri masih terlelap. Namun justru keheningan itu terasa begitu hangat dan membahagiakan bagi Shaka.
“Aku akan membiarkanmu terlelap lebih lama, kau pasti sangat kelelahan semalam.” Ia bangkit perlahan, berusaha tidak mengganggu tidur Gayatri.
Langkahnya terasa ringan saat berjalan menuju jendela, membuka tirai sedikit lebih lebar. Dari lantai dua kamarnya itu, Shaka melihat lalu-lalang orang-orang yang kembali beraktivitas seperti biasa.
Namun berbeda dengan dirinya. Dunianya baru saja berubah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak lagi terbangun seorang diri dan menatap pagi dengan perasaan sepi. Kini semuanya terasa berbeda.
Ia merentangkan tubuh, memeluk dirinya sendiri dengan gemas. Shaka masih belum bisa melupakan momen terindah dalam hidupnya semalam.
***
Ketika Gayatri akhirnya membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah sunyi. Ia mengerjap pelan, menatap langit-langit kamar yang bukan miliknya. Butuh beberapa detik sebelum ingatannya kembali utuh, bahwa statusnya kini bukan lagi Gayatri, melainkan istri seseorang.
Gayatri duduk perlahan. Tangannya refleks meraih sisi ranjang yang kosong, lalu berhenti di sana, seolah menyadari sesuatu. Ia tidak sendiri lagi.
Pintu kamar mandi terbuka, dan Shaka keluar dengan kemeja santai yang belum sepenuhnya dikancingkan. Rambutnya masih sedikit basah, memberikan kesan yang jauh lebih kasual dibandingkan sosok rapi yang berdiri antara kerumunan orang semalam.
“Kau sudah bangun rupanya,” sapa Shaka ringan, senyumnya muncul begitu lebar. “Kau mandilah dulu, aku akan membuat sarapan untukmu hari ini.”
Gayatri menatapnya beberapa detik, sebelum akhirnya membalas, “Pagi. Kenapa kau tidak membangunkan aku?”
Shaka mendekat, mengecup kening Gayatri lembut lalu berkata, “Mana mungkin aku tega membangunkan istriku? Kau tidur begitu lelap.”
“Sepertinya aku benar-benar kelelahan. Kau tunggu di bawah, aku akan membersihkan diri sebentar lalu membuat sarapan,” kata Gayatri sambil bangkit berdiri.
Namun Shaka mencekal tangannya. “Tidak perlu terburu-buru. Dan jangan khawatir, aku yang akan membuat sarapan pagi ini. Kau mandilah dengan tenang, oke? Serahkan tugas ini kepadaku,” katanya sambil mencuri satu kecupan singkat di pipi Gayatri.
Gayatri tersenyum malu-malu selepas kepergian Shaka, kemudian ia merapikan rambutnya dengan gerakan sederhana, lalu berjalan menuju jendela.
Pemandangan kota yang terbentang di hadapannya membuatnya terdiam sejenak. “Aku benar-benar tak menyangka, apakah ini nyata? Kenapa rasanya aku masih berada di mimpi?” gumamnya tak percaya sambil menatap jari manisnya.
***
Shaka menata semua masakan yang berhasil dibuatnya di atas meja makan. “Oke, sudah siap. Kuharap dia akan menyukainya.”
Baru saja Shaka hendak memanggil Gayatri saat istrinya terlihat menuruni tangga dengan mengenakan dress sederhana dan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai.
Selama beberapa detik, Shaka merasa tersihir, ia belum pernah melihat sisi diri Gayatri yang tampak anggun.
“Istriku cantik sekali,” gumamnya tanpa sadar.
Gayatri yang tak sengaja mendengar pujian itu sontak pipinya merona merah. “K-kau yang memasak semua ini?” tanyanya mencoba mengalihkan perhatian Shaka.
Shaka kemudian menarik kursi untuk Gayatri duduk. “Iya, ayo duduklah dan coba masakanku. Yah, mungkin tidak seenak masakanmu, tapi kurasa masih bisa dimakan,” kelakar Shaka.
***
Sementara di lain tempat, Mahesa berdiri terpaku membaca laporan medis Wira beserta tagihan yang lainnya. Ia memijat pelipisnya pelan, merasa pusing memikirkan semua biaya kebutuhan rumah tangga yang kian membengkak hari demi hari. Belum lagi biaya pengobatan ayah dan ibunya yang membutuhkan terapi untuk kakinya.
“Astaga, kenapa biayanya sebanyak ini?” gumamnya tertegun setelah membaca rincian biaya di atas kertas itu.
Nadya yang kebetulan melewati ruang tamu, tak sengaja melihat Mahesa. “Ada apa? Surat apa itu?” tanyanya penasaran lalu mengambil kertas-kertas berisi tagihan itu dengan paksa.
“Nadya, tak bisakah kau lembut sedikit?” protes Mahesa dengan wajah yang lelah dan pusing.
“Kau lihat ini, Mahesa? Lihatlah semua biaya yang harus kita bayarkan bulan ini!” seru Nadya mendadak kesal melihat kertas tagihan itu. Sudah tiga bulan ini mereka mengalami krisis keuangan.
“Sudah berapa kali harus kukatakan, cari pekerjaan lain yang lebih bagus! Gajimu itu tidak akan bisa menutupi semua kebutuhan kita!” sentaknya lagi, mengungkit masalah yang sama terus-menerus.
“Nadya, tolong. Berhenti mengoceh, bukannya memberi solusi, kau justru menambah beban pikiranku!” balas Mahesa, suaranya meninggi.
Namun, bukannya berhenti atau mencoba menenangkan Mahesa, Nadya justru kembali menantang. “Apa katamu? Mengoceh? Aku seperti ini juga demi kebaikanmu, Mahesa! Tapi apa? Kau tidak pernah mau mendengarkan saranku.”
Mahesa memilih diam, jika Nadya sudah mengoceh seperti itu, maka ia tak akan mendapatkan kesempatan untuk berbicara meski hanya untuk membela dirinya.
“Jangan kau pikir aku tidak membantumu, ya. Aku juga bekerja di sini, aku sudah membantu semua kebutuhan di rumah ini, bahkan ikut membantu biaya pengobatan ayahmu!” Nadya kembali mengungkit semua jasanya untuk keluarga Mahesa.
Suaranya yang keras itu tanpa sengaja terdengar oleh Wira dan Sarita yang berada di kamar mereka.
“Mereka bertengkar lagi, Sarita,” kata Wira dengan lemah. Sudah 3 bulan ini ia hanya bisa berbaring di tempat tidur dan tak bisa melakukan aktivitas lain, kesehatannya benar-benar sudah menurun.
Sarita yang tengah memijat tangan Wira pun mengangguk, turut sedih mendengar pertengkaran anak dan menantunya. “Aku juga sedih mendengarnya, tapi apa yang bisa kita lakukan?”
Wira tampak menunduk lemah. “Entahlah, Sarita. Mengapa kini kita menjadi beban bagi anak kita?”