NovelToon NovelToon
Bidadari Di Balik Dosa

Bidadari Di Balik Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Suami Tak Berguna
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: triani

Ini kelanjutan kisah aku istri Gus Zidan ya, semoga kalau. suka🥰🥰🥰

****

"Mas, saya mau menikah dengan Anda."

Gus Syakil tercengang, matanya membesar sempurna, ia ingin sekali beranjak dari tempatnya tapi kakinya untuk saat itu belum mampu ia gerakkan,

"Apa?" Ia duduk lebih tegap, mencoba memastikan ia tidak salah dengar.

Gadis itu menganggukan kepalanya pelan, kemudian menatap Gus Syakil dengan wajah serius. "Saya bilang, saya mau menikah dengan Anda."

Gus Syakil menelan ludah, merasa percakapan ini terlalu mendadak. "Tunggu... tunggu sebentar. mbak ini... siapa? Saya bahkan tidak tahu siapa Anda, dan... apa yang membuat Anda berpikir saya akan setuju?"

Gadis itu tersenyum tipis, meski sorot matanya tetap serius. "Nama saya Sifa. Saya bukan orang sembarangan, dan saya tahu apa yang saya inginkan. Anda adalah Syakil, bukan? Anak dari Bu Chusna? Saya tahu siapa Anda."

Gus Syakil mengusap wajahnya dengan tangan, mencoba memahami situasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Ancaman Sifa

Pria paruh baya itu menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Raut wajahnya menunjukkan amarah bercampur kecewa. Di hadapannya, Sifa, putrinya yang berusia 24 tahun, berdiri dengan ekspresi keras kepala. Mereka baru saja selesai makan malam yang berubah menjadi ajang debat panas.

Pria itu masih tidak percaya atas keputusan putrinya. Bagi seorang pengusaha sukses seperti dirinya, reputasi adalah segalanya. Namun, apa yang dilakukan Sifa benar-benar di luar logika. Menikahi pria yang baru saja dia tabrak? Itu seperti memancing badai di tengah samudra.

Sifa, dengan tangan terlipat di dada, mencoba menenangkan diri. Ia tahu keputusannya tidak mudah diterima, tapi hatinya sudah bulat. Pria bernama Syakil yang ia tabrak minggu lalu adalah pria yang baru saja ditinggalkan calon istrinya karena insiden itu hingga membuat kakinya lumpuh. Setelah beberapa kali mengamatinya dari jauh, ia tahu jika pria itu tengah begitu terpuruk, meskipun begitu Sifa justru merasa ada sesuatu yang spesial dari Syakil—meskipun tengah terpuruk, ia selalu tanpa bahagia di depan orang lain. Tidak ada gurat kekecewaan atau kesedihan setiap kali bersama orang lain, berbeda sekali saat ia tengah sendiri.

"Papa, aku sudah bilang. Aku ingin menikah dengannya. Itu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini," Sifa memulai lagi dengan nada tegas.

Pria paruh baya itu menghela napas panjang, menekan emosi yang hampir meledak. "Sifa, ini bukan tentang menyelesaikan masalah. Kamu tidak bisa menikahi seseorang hanya karena merasa bersalah!"

"Papa, aku tahu apa yang aku lakukan. Aku sudah bicara dengan pemuda itu, dan dia setuju. Dan aku

berjanji akan datang lagi sama papa dan penghulu."

"Dengan penghulu? Kamu bahkan baru mengenalnya seminggu! Sifa, ini gila!"

"Memang, Papa, tapi aku yakin. Syakil bukan hanya korban yang aku tabrak. Dia... dia orang yang baik. Aku merasa cocok bersamanya." ucap Sifa beralibi.

Pria itu menatap tajam ke arah putrinya, "Sifa, Papa hanya ingin kamu bertanggung jawab sesuai logika. Berikan saja uang ganti rugi yang dia butuhkan. Tidak perlu menikah."

Sifa menggeleng keras, "Papa tidak tahu apa yang terjadi. Aku yang menawarkan solusi ini karena aku tidak mau ada rasa bersalah seumur hidup!"

Pria itu menghela napas panjang, "Dan kamu pikir menikahinya adalah solusi? Bagaimana dengan masa depanmu? Reputasi keluarga kita?"

Sifa mendekat ke arah sang papa, "Papa, aku tidak peduli lagi soal reputasi. Kalau Papa terus memaksa, aku akan bicara di media sosial. Aku akan meminta maaf secara terbuka dan mengungkapkan semua yang terjadi!"

Pria paruh baya itu terperangah, "Kamu gila, Sifa? Apa kamu ingin keluarga kita jadi bahan pembicaraan semua orang?"

"Papa, aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku bertanggung jawab. Papa selalu mengajarkan aku untuk tidak lari dari masalah. Inilah tanggung jawabku."

Pria itu terdiam lama, menundukkan kepala, "Sifa, kamu tahu apa risiko dari semua ini?"

"Aku tahu, Papa. Tapi aku yakin ini jalan yang benar. Aku sudah memikirkannya matang-matang."

Pria itu menghela napas berat, "Baiklah, kalau itu keputusanmu. Tapi ingat, kamu harus siap dengan konsekuensi. Papa akan mendukungmu, tapi jangan pernah menyalahkan Papa jika sesuatu terjadi."

Sifa tersenyum tipis, "Terima kasih, Papa. Aku tahu ini berat untuk Papa, tapi aku benar-benar menghargainya."

Pria itu bangkit dari sofa dan berjalan ke arah jendela. Ia menatap keluar dengan pikiran berkecamuk. Sifa, di sisi lain, merasa lega meski tahu tantangan ke depannya tidak akan mudah. Ia yakin bahwa keputusannya adalah bentuk tanggung jawab sejati, bukan sekadar pelarian dari rasa bersalah.

****

Siang itu, suasana di rumah sakit yang biasanya tenang mendadak berubah. Gus Syakil, yang masih terbaring lemah di ruang rawat karena kecelakaan beberapa waktu lalu, tidak menyangka akan menghadapi kejutan besar. Di dalam ruangan, Ning Chusna—ibunda Syakil—sedang menemani sambil membacakan buku. Namun, ketenangan itu buyar ketika pintu kamar didorong terbuka.

Masuklah dua pria berjas rapi—yang satu sudah paruh baya dengan rambut yang mulai memutih, sementara yang satu lagi lebih muda dan berpenampilan tegas. Bersama mereka, seorang pria bersorban lengkap membawa map cokelat. Wajah mereka serius, seperti tengah membawa kabar penting.

Sebelum Gus Syakil dan Ning Chusna sempat bertanya, langkah-langkah halus terdengar dari belakang. Semua kepala menoleh, dan di sana berdiri seorang wanita muda dengan gaun putih khas pengantin. Itu Sifa.

Dengan senyum tipis namun penuh tekad, Sifa melangkah masuk. "Mas Syakil," katanya dengan suara tegas dan jelas, "aku sudah menepati janjiku. Aku akan menikahimu hari ini, di sini, di rumah sakit ini juga."

Ning Chusna membelalakkan mata, terkejut hingga tak mampu berkata-kata. "Apa maksudnya ini?" gumamnya perlahan. Tapi sebelum sempat protes, Gus Syakil mengangkat tangan, meminta semua diam.

Pria bersorban itu, yang ternyata adalah penghulu, membuka map cokelatnya dan mengeluarkan dokumen berisi surat-surat yang dibutuhkan untuk pernikahan atas nama Sifa

Gus Syakil terdiam sejenak, lalu menatap Sifa dengan sorot mata yang sulit ditebak. "Kalau ini yang terbaik," katanya pelan, "saya terima."

Ning Chusna berbisik tajam, "Syakil, apa-apaan ini? Kamu tidak bisa langsung setuju begitu saja!"

Gus Syakil tersenyum tipis, "Bunda, Syakil tidak tahu apa tujuan gadis ini menikah dengan ku, tapi untuk saat ini saya tidak punya alasan untuk menolak. Mungkin ini cara Allah buat tunjukin cara Syakil untuk berjihad di tengah keterbatasan yang Syakil miliki saat ini. Bunda terima ya."

Sifa mendekat, "Mas Syakil, aku tahu kamu punya keputusan bijak. Terimakasih ."

Ning Chusna menatap tajam ke arah Sifa, "Tapi menikah? Di rumah sakit? Bukankah ini terlalu tergesa-gesa?"

Pak Ahsan menengahi, "Bu, saya memahami kekhawatiran Anda. Tapi putri saya sudah mengambil keputusan ini dengan penuh kesadaran. Jadi saya harap anda tidak akan keberatan."

Gus Syakil menghela napas, "Bunda, aku sudah bilang, aku menerima ini. Kalau memang ini kehendak Allah, aku tidak akan menolaknya."

Penghulu membuka map, "Baiklah, kalau semua sudah setuju, kita bisa langsung melangsungkan akad nikah di sini."

Ning Chusna hanya bisa menatap dengan perasaan campur aduk. Sebagai seorang ibu, ia ingin melindungi putranya dari keputusan yang tergesa-gesa. Namun, melihat keteguhan hati Gus Syakil dan Sifa, ia memilih diam dan menyaksikan.

Penghulu mulai mempersiapkan dokumen, sementara Gus Syakil melepaskan cincin peraknya sebagai mahar dan uang lima ratus ribu dari dalam dompetnya sebagai mahar, karena terlalu mendadak bahkan ia tidak punya uang lebih do dompetnya selain itu.

Sifa berdiri di samping tempat tidur Gus Syakil, dengan tangan bergetar namun mata yang memancarkan keyakinan.

Akhirnya, momen itu tiba. Dengan suara lemah namun jelas, Gus Syakil mengucapkan ijab qabul:

"Aku terima nikahnya Sifa Eliana binti Ahsan Bahtiar dengan mahar tersebut, tunai."

Semua yang hadir terdiam sesaat, sebelum saksi mengiyakan dengan lantang. Pernikahan itu resmi. Dan penghulu pun membacakan doa untuk mereka, meskipun sederhana tapi terasa sakral ya. Pria muda yang ternyata asisten pribadi pak Ahsan tengah mengabadikan moment itu. Selain mereka ada dua perawat yang sengaja dipanggil untuk menjadi saksi.

Ning Chusna mendekati Gus Syakil, "Syakil, bunda masih belum paham kenapa kamu setuju begitu saja."

Gus Syakil tersenyum, "Bunda, aku percaya ini adalah takdir. Kadang kita tidak tahu rencana Allah, tapi aku yakin ini jalan yang benar."

Setelah semua urusan tanda tangan selesai, Gus Syakil pun menoleh pada Sifa dan pak Ahsan, sebelum pak Ahsan pergi.

"Maaf, ijinkan saya bicara sebentar." ucap gsi Syakil dan pak Ahsan tanpa menatap Gus Syakil dengan enggan, sambil melihat jam di pergelangan tangannya.

"Saya tidak punya banyak waktu," ucap ya dingin.

"Saya hanya sebentar." ucap Gus Syakil dengan tenang, meskipun Ning Chusna tampak muali berapi-api melihat sikap papa Sifa.

"Katakan!" ucap pak Ahsan singkat.

"Putri anda sekarang sudah sah menjadi istri saya, jadi tanggung jawab atasnya sudah berpindah pada saya. Mulai saat ini, tolong ijinkan Sifa tinggal bersama kami."

Pak Ahsan menatap tajam pada Gus Syakil, kemudian beralih ke arah Sifa, "Kamu dengan sendiri kan buah dari keputusanmu!?" keluhnya pada sang putri.

"Mas, nggak gitu dong konsepnya. Lihat aku ke sini nggak bawa apa-apa, aku hanya bawa ponsel sama baju ini, yang aku pakek." protes Sifa.

"Baiklah, besok saya sudah diijinkan pulang, jadi silahkan datang kembali besok dan kita akan pulang ke rumah saya." ucap Gus Syakil dengan tegas. Meskipun tampak keberatan tapi Sifa tidak memberi protes apapun.

Bersambung

Happy reading

1
Entin Fatkurina
so sweet
yuning
jangan berfikir perceraian Sifa karena suami kamu adalah salah satu manusia bijak dan hebat
Entin Fatkurina
jadi penasaran, reaksi sifa ketika tau siapa Farah.
yuning
apa kamu akan baik sama Farah kalau tau siapa Farah? sifa
Entin Fatkurina
terimakasih upnya, kak triani.
Tri Ani: sama2 kak🥰
total 1 replies
yuning
syakil
yuning
kejujuran itu lebih baik Sifa dari pada bohong,tapi boleh saja kita menutupi aib kalau untuk kebaikan
Jamil Azhari
Sifa2 aku harap jika syakil tahu biarlah dari sifa biar ngak terlalu sakit kalaupun kata cerai akan di ucapkan nanti
fee2
sifa lum tahu ya calon suami darah ya syakil yang sekarang jadi suami kamu sifa...
Adhen Idho
Kalian sudah saling cinta😁
malu 2 tapi mau🤭
saranku ya sif jujur saja kalau kamu yg nabrak syakil biar gak terlalu kecewa syakil nya
yuning
akh Sifa suami kamu butuh itu, yg peka dong
yuning
suamiku calon suami temanku yg gagal nikah wkwk
yuning: 😁😁😁😁😁
Tri Ani: mantul judulnya
total 2 replies
yuning
gak usah memaksa om, karena segala yang dipaksakan tidak akan berakhir baik
yuning
Miss you ustadz Zaki
fee2
ternyata papa sifa ada di balik semua ini... bagaimana ya sifa....
fee2
jadi zahra setiap hari dapat petuah bijak ustadz Zaki..
fee2
ustadz zaki bijak sekali....
Sri Murtini
kenapa papa jadi provokator😇😇😇
Sri Murtini: emang betul kan seharusnya didoa kan biar samawa ini nggk ,belum tahu gmn Syakil mendidik istrinya. lihat besuk hasilnya jd istri solekhah
total 1 replies
fee2
sakitnya sifa jatuh cinta kedebug love ya sifa....
yuning
luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!